Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 30. Cemburu


__ADS_3

Sejak tadi Arga bolak balik mengubah posisi tidurnya. Bahkan mengganti bantalnya namun tetap saja pria itu sulit untuk tidur.


Memang yang membuatnya nyaman adalah guling, namun guling hidupnya yaitu Kasih.


Sejak memutuskan tinggal dengan gadis itu Arga nyaris tak pernah pisah kamar. Mereka sudah seperti suami istri.


Dan puncaknya sekarang dia begitu memikirkan Kasih. Ini sudah jam satu dini hari namun Arga masih saja gelisah.


Arga pun akhirnya memutuskan untuk meneleponnya semoga saja dia masih terjaga.


Namun panggilan itu tak tersambung. Rupanya Kasih mematikan ponselnya. Semakin membuat Arga frustasi saja.


"Aarrgghh.." Arga menelungkupkan kepalanya sembari menutup dengan bantal.


...****************...


Pagi harinya dengan mata masih sembab Kasih mulai bangun dan dengan malas pergi ke kamar mandi.


Rutinitas yang selalu dia lakukan setiap hari. Meski biasanya dia selalu bermanja-manja dengan Arga dulu.


Namun tidak ada Arga di apartemen membuat Kasih merasa sepi. Cepat-cepat dia memulai aktivitas agar tidak memikirkan Arga terus.


Kasih baru mengingat bahwa semalam dia mematikan ponselnya. Cepat-cepat dia menyalakan ponselnya.


Beberapa pesan masuk, namun tak ada satupun balasan pesan dari Arga. Hanya sebuah panggilan tak terjawab darinya pukul satu dini hari.


"Hah, Mas Arga menelepon. Aku tidak tahu" cepat-cepat Kasih menghubungi Arga.


Namun panggilan itu tidak diangkat oleh Arga. Lagi-lagi Kasih menjadi bersalah akan hal itu.


"Ah, nggak apa-apa. Nanti siang kan Mas Arga mengajakku bertemu" Kasih berusaha menenangkan hatinya.


Dia benar-benar tak sabar menunggu siang cepat datang. Padahal sekarang masih jam enam pagi.


Karena merasa bosan tak ada teman akhirnya Kasih memutuskan untuk pergi olah raga jogging di taman dekat apartemen.


Taman itu memang terletak di pinggir jalan raya sehingga selalu ramai. Kasih mulai berlari mengitari pinggiran taman. Tepatnya di trotoar pinggir jalan.


Saat mendapat dua putaran tiba-tiba dia tersentak saat sebuah tangan menarik tangannya.


"Kasih.." rupanya Felix yang menarik tangan Kasih.


"K-kamu.. Ngapain?" debaran jantung akibat berlari kini bertambah cepat karena terkejut.


"Tolong Kasih aku minta waktunya sebentar saja. Ku mohon" Felix tetap memegang lengan Kasih.


"Untuk apa?" Kasih masih belum bisa berucap panjang lebar. Tenggorokannya seakan tercekat.

__ADS_1


"Untuk menjelaskan sesuatu. Please Kasih sebentar saja" Felix terus memohon.


Kasih terdiam sesaat. Dia masih bingung mau menuruti Felix atau tidak. Namun jika dia terus menghindar maka Felix akan semakin mengejarnya.


Akhirnya Kasih menuruti Felix. Mereka berdua duduk di kursi taman. Letaknya di pinggir trotoar.


"Cepat katakan" ujar Kasih sedikit sewot. Dia sama sekali tak menatap Felix.


"Aku hanya ingin tahu kabarmu Kasih. Aku.. Aku benar-benar terkejut kemarin bertemu denganmu di Bali. Rupanya kamu banyak berubah ya?" ujar Felix.


Kasih hanya menghela nafas mendengar ucapan Felix.


"Dan soal Arga Wijaya, apa sungguh kamu akan menikah dengannya?" tanya Felix hati-hati.


Kini Kasih sedikit sulit menjawab. Dia tahu bahwa Arga kemarin hanya asal bicara.


"I-iya tentu. Kenapa memangnya?" Kasih mengernyitkan dahinya.


"Kasih, apa kamu sudah mengenal betul pria itu? Aku mencari tahu di internet bahwa dia sudah menikah. Dan kabar perceraiannya bahkan belum diketahui. Itu artinya dia masih berstatus suami orang. Aku tidak ingin kamu disakiti pria" ujar Felix.


Kini Kasih langsung menoleh ke arahnya. Menatap tajam pria itu, padahal sedari tadi dia tak mampu melakukan itu.


"Lalu, apa urusanmu? Bukannya kamu pria yang menyakitiku? Belum sadar ya kamu mengusirku sampai aku celaka di jalan dan kehilangan janinku?" Kasih keceplosan mengatakan hal itu.


Felix langsung terkejut dengan ucapan Kasih.


Kini Kasih tak mampu menahannya lagi. Hatinya sudah terlanjur sakit.


"Iya, aku keguguran. Bagaimana tidak? Seorang wanita hamil muda diusir tanpa membawa apapun. Terlantar di jalanan tak tahu arah. Tak ada yang peduli" ujar Kasih berusaha menguatkan dirinya agar tak menangis di depan Felix.


"Dan hanya Mas Arga yang peduli padaku. Dia juga yang telah merawatku. Jadi jangan pernah kamu menilainya buruk. Karena pria yang buruk itu hanya kamu" Kasih tak tahan lagi. Dia menumpahkan emosinya kepada Felix.


"Kasih. Maafkan aku" ujar Felix kehabisan kata-kata.


Kasih berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap miris Felix dan menggelengkan kepalanya.


"Mulai sekarang jangan pernah menemui ku lagi seperti ini. Aku tidak ingin orang lain salah paham akan hal ini" setelah mengatakan hal itu Kasih langsung pergi dengan berlari menjauh.


Sementara di seberang jalan sejak tadi ada pasang mata yang terus mengawasinya.


Arga yang kebetulan lewat jalan itu hendak mampir ke apartemen namun dia tak sengaja melihat Kasih.


Awalnya dia ingin menghampiri namun saat melihat sosok Felix hati Arga seperti terbakar.


Meski sebal namun Arga tetap mengawasi mereka dari jauh. Biar bagaimanapun dia tak ingin terjadi sesuatu pada Kasih.


Entah apa yang telah mereka bicarakan yang pasti Arga merasa begitu cemburu melihat mereka berdua.

__ADS_1


Pikiran-pikiran negatif tentang Kasih mulai bermunculan di benaknya. Tapi sekali lagi dia berusaha setenang mungkin.


"Tunggu saja nanti siang" gumam Arga.


Sementara Kasih kini telah kembali ke apartemennya. Dia mengatur nafas serta pacuan jantungnya agar normal kembali.


Dia sudah lelah menangis sehingga kali ini dia berusaha kuat. Namun menumpahkan semua unek-unek di hatinya kepada Felix membuat dirinya lebih lega.


Dengan begini Kasih berharap Felix tak lagi menemuinya. Kasih sudah mantab untuk move on.


Sementara siang yang ditunggu-tunggu Kasih kini sudah tiba. Arga pun meminta Alvin menghubungi Kasih. Mereka janjian di salah satu restoran dekat kantor Arga.


Kasih sudah bersiap dan dia berangkat lebih dulu supaya Arga tidak menunggunya.


Kasih berdandan dengan cantik, memakai gaun berwarna putih dengan motif bunga-bunga se paha.


Dia mulai paham selera Arga akan penampilan yang seksi. Namun tetap terlihat anggun.


Tak lama kemudian Arga dan Alvin sampai di restoran tersebut. Saat melihat Kasih, Arga langsung terpana oleh kecantikan gadisnya itu.


Namun pria itu pandai sekali menyembunyikan ekspresinya. Seolah dia tak terpengaruh olehnya.


Arga langsung duduk di kursi depan Kasih. Sementara Kasih sudah berdiri hendak menyambutnya. Padahal biasanya mereka akan berpelukan mesra dan mencium pipi meskipun ada Alvin.


Alvin pun juga mulai menyadari kejanggalan sikap bosnya itu. Namun tak ingin ikut campur dia hanya diam menyaksikan.


"Mas Arga gimana pekerjaannya hari ini?" tanya Kasih membuka obrolan.


"hmm.. Baik" jawab Arga cuek.


"Kasih, kamu terlihat cantik hari ini" puji Alvin.


Kasih pun tersenyum mendengar pujian itu. "Terimakasih Kak"


Lagi-lagi Arga tampak cuek. Padahal biasanya dia langsung bereaksi saat Alvin menggoda Kasih.


Entah menoyor kepalanya, menginjak kakinya atau hanya pelototan matanya namun kali ini, Arga sama sekali tak peduli.


"Ada yang ingin saya sampaikan." Arga akhirnya membuka mulutnya.


"Iya mas ada apa?" tanya Kasih antusias.


"Saya memutuskan untuk menunda perceraian dengan Felicia" ujar Arga.


Kasih dan Alvin langsung terkejut. Mereka pun saling menoleh lalu menatap Arga.


Dan Kasih, entah kenapa hatinya terasa begitu ngilu.

__ADS_1


__ADS_2