Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 49 Hangat pelukan ibu


__ADS_3

"Kasih, jangan lupa nanti kabari kalau sudah sampai ya, jangan telat makan. Terus kalau saya nelpon cepet diangkat. Dan juga jangan sembarangan berbicara dengan orang asing terutama pria." rentetan permintaan itu hanyalah beberapa saja. Bahkan Arga mengajukan banyak sekali permintaan sebelum Kasih berangkat.


"Iya mas.. Iya.. Aku cuma pergi tiga hari aja kok. Lagian kan sama Kak Alvin juga" ucap Kasih.


Kemudian Arga mengusap pipi Kasih, entah kenapa wajahnya kini terlihat sendu, seolah akan ditinggal lama. Konyol sekali.


"Tiga hari buatku seperti sebulan Baby. Makanya aku tidak mau ditinggal lama-lama. Nggak sanggup" Arga memeluk Kasih dengan erat.


Sementara di luar Alvin sudah menekan bel pintu. Dia sudah datang untuk menjemput Kasih.


"Bagaimana kamu sudah siap Kasih?" tanya Alvin.


"Sudah kak, ayo kita berangkat" ucap Kasih.


Keduanya pun berpamitan dengan Arga sebelum berangkat. Alvin menyalami Arga seperti biasa. Sedangkan Kasih langsung dipeluk dan dicium bibirnya oleh Arga.


"Ck, dasar bucin" gumam Alvin.


Alvin dan Kasih kini berangkat menuju bandara. Dia akan pergi ke Surabaya sesuai janji Alvin sebelumnya.


Yaitu menemui kedua orang tua angkatnya serta menunjukkan makam orang tua kandungnya kepada Kasih.


Arga sebenarnya ingin sekali ikut mereka namun dia sangat sibuk sehingga mau tidak mau harus berpisah dengan pujaan hatinya.


Selama di perjalanan Kasih terlihat gelisah. Bukan apa-apa, dia hanya terus memikirkan bagaimana rupa kedua orang tua kandungnya namun tau-tau dirinya mendapati fakta bahwa mereka telah tiada.


Alvin menyadari bahwa Kasih saat ini sedang gelisah. Kemudian dia meraih tangan Kasih dan menggenggamnya erat.


"Jangan khawatir. Kita hadapi sama-sama ya. Ayah dan mama pasti sangat senang." ujar Alvin.


Kasih pun menatap Alvin dengan mata berkaca-kaca dan hampir saja tumpah.


"Makasih ya Kak"


Alvin menarik kedua sudut bibirnya hingga membuat senyuman yang sangat berarti untuk Kasih. Senyuman itu mampu meneduhkan kegundahan hatinya saat ini.


Perjalanan Jakarta-Surabaya terbilang cukup singkat menggunakan pesawat. Seolah baru saja mereka duduk santai tiba-tiba sudah hampir tiba di bandara Juanda.


Alvin langsung disambut oleh sepupunya yang sejak tadi menunggu kedatangannya. Sepupunya itu bernama Tio, dia juga seumuran dengannya.


"Mas Alvin.." teriak Tio.

__ADS_1


"Hey Tio, sudah menunggu lama ya?" tanya Alvin.


"Tidak juga, aku baru sampai. Eh ini ya Mas? Cantik banget." Tio melihat Kasih yang berjalan dibelakang Alvin. Dia langsung tahu bahwa itu adik yang dimaksud Alvin.


"Iya ini Kasih, adikku. Kasih, ini Tio sepupu Kakak" Alvin mengenalkan Tio kepada Kasih.


Kasih pun langsung menjabat tangan Tio.


Sebelumnya Alvin memang sudah menceritakan semua kepada Tio tentang Kasih. Bahkan kedatangannya ke Surabaya ini hanya Tio yang tahu.


Alvin sengaja merahasiakannya untuk memberi kejutan kedua orang tua angkatnya.


Alvin dan Kasih memasuki mobil Tio. Mereka langsung menuju kediaman orang tua Alvin. Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol banyak hal.


Kasih yang duduk di kursi belakang hanya diam menyimak obrolan keduanya.


Sampai juga mereka di sebuah rumah dengan arsitektur klasik khas Belanda. Rumah tersebut tampak megah dengan dominasi warna putih tulang.


Halamannya cukup luas. Terdapat sebuah pohon mangga yang rindang serta berbagai macam tanaman bunga yang sebagian besar adalah Anggrek.


Jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, kediaman ini yang paling asri padahal terletak di tengah kota.


Alvin dan Tio segera turun dari mobil disusul Kasih belakangnya.


"Bu.. Ibu.. Cepat kedepan. Anak kita pulang" suara pria itu dengan antusias.


Dia langsung berjalan cepat menuju halaman.


"Bapak.."


"Alvin.." keduanya berpelukan erat saling melepas kerinduan.


Kasih melihat air mata merembes di sudut netra pria tua itu. Jelas sekali bahwa Pria yang disebut Bapak oleh Alvin sangat menyayanginya.


Tak berselang lama keluarlah seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Sepertinya akan ikut menyambut Alvin dengan memeluknya namun tidak.


Wanita itu justru langsung memukul pantat Alvin dengan tangannya.


"Dasar anak nakal, pulang selalu nggak ngabari ibu dulu." ucap wanita itu.


"Aduh, iya-iya bu maaf. Kan Alvin maunya kasih kejutan buat ibuku tersayang." ucap Alvin sembari menghalau pukulan ibunya.

__ADS_1


Tio tampak terkekeh karena Alvin saat ini benar-benar seperti anak kecil.


"Kamu juga Tio. Kalian bersekongkol ya" ucap wanita itu.


"Loh kok jadi nyalahin aku sih budhe" protes Tio.


"Habisnya kalau ngabari dulu pasti ibu langsung repot masak-masak. Alvin nggak mau ibu capek" Alvin meraih tangan ibunya dan mengecup ya lembut.


"Memang anak ibu ini paling top" balasnya.


Kemudian fokus wanita itu teralihkan kepada Kasih yang sejak tadi hanya diam di sebelah mobil.


"Siapa gadis cantik itu Vin? Calon istri kamu?" tanya Ibunya dengan berbinar.


"Sudah ayo masuk dulu. Kita mengobrol di dalam" bapak Alvin langsung mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah.


Ibu Alvin langsung menghilang menuju dapur sementara semua orang duduk di kursi ruang tamu.


Kasih yang memasuki rumah tersebut masih dibuat kagum dengan suasana di dalamnya.


Sampai akhirnya ibu Alvin menghampiri mereka. Alvin langsung mengenalkan Kasih kepada orang tuanya.


"Kasih, ini adalah ibuku, Ibu Dewi. Dan ini ayahku. Bapak Tono." ucap Alvin.


"Perkenalkan, nama saya Kasih. Pak, Bu" dengan santunnya Kasih memperkenalkan dirinya sembari mencium tangan masing-masing orang tua Alvin.


"Sudah cantik, sopan sekali kamu nak" puji ibu Alvin.


Kini giliran Alvin yang menjelaskan siapa Kasih. Sebelumnya dia mengeluarkan selembar kertas. Yaitu berisi hasil tes DNA Kasih dan Alvin untuk memperjelas.


"Bapak, ibu.. Kasih ini adalah adikku. Saudara yang selama ini Alvin cari" tampak Alvin berkaca-kaca mengatakannya.


"A-apa? Adik kamu nak?" Ibu Alvin awalnya tak percaya. Namun saat melihat Alvin yang tengah meneteskan air matanya langsung percaya.


Dia langsung memeluk Alvin lalu meraih tangan Kasih.


"Kasih, jika kamu adalah adiknya Alvin maka biarkan saya jadi ibu kamu juga, boleh kan?" ibu Dewi.


Kasih yang merasa sangat bahagia ketika ibu Alvin juga ingin mengakui dirinya sebagai putrinya. Dia langsung mengangguk bahagia.


Ibu Dewi dan Kasih langsung berpelukan. Kasih tak kuasa menahan tangisannya karena saking bahagianya. Untuk pertama kalinya dia merasakan hangatnya pelukan seorang ibu yang selama ini begitu dia rindukan.

__ADS_1


Nasib seorang yatim piatu seperti dirinya hanya bisa mengais kasih sayang dari orang lain. Beruntung jika bertemu orang yang tulus menyayanginya. Namun jika tidak, ia hanya akan dimanfaatkan dan dibenci. Jangankan sebuah pelukan. Senyuman saja tampaknya tak pernah Kasih dapatkan dari ibu angkatnya.


__ADS_2