
Sejak pagi mentari sama sekali tak menampakkan sinarnya. Langit mendung berwarna abu-abu itu seolah mewakilkan isi hati orang-orang yang sedang berduka.
Kisah pilu yang dialami Olivia menorehkan luka cukup dalam di hatinya. Belum sehari menyandang gelar sebagai istri seorang Felix namun kini harus menerima kenyataan bahwa dirinya sudah menjanda.
Isak tangis itu terus terdengar tanpa peduli dengan banyaknya pelayat yang tengah mengelilingi pusara.
Kedatangan Arga dan Kasih langsung menjadi pusat perhatian orang-orang tersebut. Sebagian besar orang-orang mengatakan bahwa Kasih dan Arga lah yang menyebabkan semua ini.
Berbagai macam tatapan tidak suka itu dilontarkan oleh sebagian besar orang-orang disana.
Arga dan Kasih tetap berusaha tenang dan mengikuti upacara pemakaman tersebut.
Hingga acara usai para pelayat akhirnya berbondong-bondong meninggalkan tempat itu. Kini menyisakan Kasih dan Arga serta Olivia dan kedua orang tuanya.
Kasih sengaja tinggal dengan niat ingin meminta maaf secara langsung kepada Olivia.
Wanita itu masih bersimpuh di dekat pusara Felix. Aroma bunga yang bertabur di atasnya tercium begitu harum.
"Aku tidak menyangka kita akan berpisah secepat ini Felix, kenapa kamu meninggalkanku? Sebenci itukah kamu kepadaku?" keluh kesah itu tak henti-hentinya dirapalkan oleh Olivia.
Kasih berjalan dan menunduk di samping Olivia. Dia mengusap lembut bahu wanita itu.
"Olivia, aku turut berduka cita. Aku benar-benar meminta maaf." Kasih memberanikan diri untuk berbicara dengan Olivia.
Kasih pasrah jika Olivia akan marah dan membencinya. Semua ini salah Kasih dan dia akan terima apapun konsekuensi yang akan didapatkan dari Olivia.
Olivia yang sedari tadi fokus menatap makam Felix kini menoleh ke arah Kasih. Tanpa di duga dia langsung berhambur ke pelukan Kasih.
Kasih sedikit tersentak namun dia paham dan mengusap lembut punggung Olivia. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Kasih.
Ada rasa pilu yang mendalam di benak Kasih. dimana dia pernah merasakan tangis itu saat kehilangan bayinya.
Arga dan kedua orang tua Olivia hanya bisa diam memperhatikan dua wanita itu. Memberi ruang untuk mereka berbagi duka.
"Kasih, maafkan aku.. Aku minta maaf. Ini semua salahku" suara Olivia disela tangisannya.
"i-ini bukan salahmu Oliv, justru aku yang menyebabkan semua ini." jawab Kasih.
Kasih melihat Olivia yang tampak memucat kemudian dia membawanya ke tempat teduh dan mencarikan tempat duduk untuk Wanita itu.
Ada jeda di antara keduanya saling diam. Memikirkan kata-kata apa yang tepat untuk diucapkan keduanya.
"Kasih, jujur dulu aku sangat kesal kepadamu. Aku penasaran seperti apa dirimu hingga membuat Felix sangat sulit melupakanmu." Olivia mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya.
"Tapi saat aku bertemu denganmu aku langsung paham. Rupanya benar juga Felix sangat mencintaimu. Kamu wanita luar biasa yang sangat baik dan sabar. Setelah Mendengar semua kisah kelammu yang terus dibenci dan diperlakukan tidak adil oleh Om Bramantyo. Aku belum tentu mampu menjalani sebuah kehidupan semacam itu."
Kasih merasa panas kedua netranya setelah mendengar ucapan Olivia. Kenangan kelam itu kembali muncul di benaknya. Sekuat tenaga Kasih menahan air mata yang hampir terjatuh itu.
"Oliv, kamu tidak marah kepadaku?" Kasih memastikan.
__ADS_1
Olivia pun sedikit menyunggingkan senyuman. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Justru aku yang takut kamu marah kepadaku Kasih, jujur dulu aku sangat terobsesi dan menginginkan Felix sampai menghalalkan segala cara. Sebenarnya Felix ingin rujuk denganmu tapi justru aku yang menjebaknya hingga aku hamil." Olivia tersenyum miris.
"Tapi tetap saja hanya kamu yang memenangkan cintanya. Bahkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dia tetap menyatakan cintanya kepadamu." Olivia kini menghapus air matanya.
"Sudah Oliv, jangan diteruskan. Aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Semuanya sudah berlalu dan aku sudah merelakan semuanya. Hanya saja kemarin di pernikahanmu itu aku ingin memberi pelajaran Pak Bramantyo. Tapi aku tidak menyangka bahwa akhirnya akan jadi begini. Jujur aku sangat menyesal dan minta maaf Oliv" Kasih tak henti-hentinya meminta maaf kepada Oliv.
"Sudahlah Kasih, semua ini sudah terjadi. Mau bagaimana lagi?" ujar Olivia.
"Oliv, jika kamu butuh bantuan apapun aku siap membantumu. Anggap saja aku apapun yang kau mau." ujar Kasih penuh pengertian.
"Aku akan sangat senang jika menganggap dirimu saudaraku, Kasih" ucapan yang terlontar dari Olivia itu seolah menjadi energi baru untuk Kasih. Mereka kembali berpelukan sebelum Kasih berpamitan untuk pulang.
Saat berpamitan dengan Kedua orang tua Olivia mereka juga menyambut Kasih dan Arga dengan baik. Bahkan jauh sekali dengan orang-orang yang memandangnya sebelah mata.
Kasih dan Arga kembali pulang. Di mobil Kasih senyum-senyum sendiri. Tak setegang saat berangkat tadi.
"Kenapa sih kok senyum-senyum sendiri?" tanya Arga.
"Nggak sih, aku cuma nggak nyangka respon Oliv dan keluarganya. Padahal tadi aku sudah ketakutan setengah mati Mas membayangkan respon mereka." ujar Kasih dengan senyum yang terpancar.
Arga meraih tangan Kasih kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Itu karena kamu orang baik sayang, dia tahu kamu tidak salah" ujar Arga dengan jujur.
Alvin sedang duduk termenung di meja Bar. Entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang dia pikirkan. Mulai dari masalah pekerjaan hingga masalah keluarganya.
Tak ada yang bisa diajak bicara. Biasanya Ratna selalu menjadi tempat curhatnya namun gadis itu kini telah jauh darinya.
Jika boleh jujur Alvin sangat rindu kepada Ratna. Pelukan serta sentuhan lembutnya mampu menjadi penenang untuk Alvin.
Dia terus menatap foto dirinya bersama Ratna di ponselnya. Banyak sekali kenangan bersama dirinya terutama saat berlibur di villa waktu itu.
Foto-foto Ratna itu tampak cantik saat berpose. Saat dia menggeser gambar-gambar itu Alvin tertuju pada satu foto saat dirinya dan Ratna berciuman begitu mesra.
Alvin menghela nafas, memikirkan apakah hubungannya dengan Ratna akan kembali dekat seperti ini.
Hampir saja Alvin hendak menghubungi Ratna namun tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Alvin mengusap wajahnya dengan kasar ketika membaca siapa yang meneleponnya.
"H-halo.. Iya Om?" jawab Alvin.
"Alvin, dimana kamu? Bisa ke tempat om sekarang?" ucap Pria itu.
"O-oke om.." Alvin menghela nafasnya kasar sebelum akhirnya menuruti pria yang meneleponnya tadi.
Dia pergi ke sebuah mansion mewah dengan dominasi warna putih tersebut. Tempat itu selalu sama seperti saat dia mengunjunginya. Selalu banyak pengawal yang berjaga.
__ADS_1
Pintu terbuka dan Alvin langsung di sambut oleh beberapa asisten.
"Tuan sudah menunggu di atas." ujar asisten itu.
Alvin menuju ruangan dimana pria itu berada. Sebuah ruangan dengan furnitur yang serba mewah. Terdapat sofa tunggal di tengah ruangan itu.
"Selamat datang Alvin. Lama ya kita tidak bertemu" ujar pria itu.
"Om Aryo, apa kabar om?" sapa Alvin.
"Kabarku baik Alvin, aku lihat kamu semakin kurus, sepertinya pekerjaan kamu semakin banyak ya?" ujar pria itu.
Alvin hanya tersenyum simpul.
"Bagaimana Alvin, kau sudah menemukan putriku? Bagaimana dia? Pasti cantik sekali seperti ibumu." ujar pria itu.
"i-iya Om.." jawab Alvin cemas.
"Alvin, kapan kamu mempertemukan aku dengan putriku?" pria paruh baya itu tampak duduk di kursi kebesarannya.
"i-iya Om.. Tunggu sebentar ya, jangan sekarang. Kasih masih banyak masalah sekarang jadi saya minta waktunya sebentar." ujar Alvin dengan suara terbata.
"Aku sudah menunggu terlalu lama Alvin. Jangan terus-terusan kau membuatku menunggu lagi"
"i-iya Om..."
Alvin menjadi semakin pusing jika dihadapkan dengan pria itu. Baru saja dia bertemu Kasih kini harus bersiap untuk pisah lagi.
Aryo, pria itu adalah ayah kandung Kasih. Dimana kejadian tragis orang tuanya bermula dari situ.
Alvin memang saudara satu kandung dengan Kasih namun ayah mereka berbeda.
Ayah kandung Alvin selalu membuat masalah dengan mabuk dan berjudi. Saat Alvin berusia empat tahun ayahnya memiliki hutang yang besar kepada Aryo.
Dia menyerahkan istrinya, yaitu ibu Alvin untuk dijual kepada Aryo. Awalnya Aryo tak pernah menaruh hati kepada ibu Alvin. Namun seiring berjalannya waktu Aryo merasa iba melihat wanita itu terus mendapat perlakuan kasar dari ayah Alvin.
Hingga hubungan itu mulai melibatkan perasaan dan ibu Alvin hamil. Pada mulanya ayah Alvin tak begitu mempermasalahkan kehamilan istrinya. Namun saat bayi itu lahir dan memiliki wajah yang sangat mirip dengan Aryo akhirnya dia murka.
Setiap hari pertengkaran terus terjadi hingga puncaknya ayah Alvin yang murka mengurung ibu Alvin di dalam kamar dan membakar rumah itu.
Beruntung saat itu Alvin dan Kasih yang masih bayi sedang berada di rumah tetangganya.
Alvin kecil yang malang mulai menyadari bahwa ayahnya lah dalang di balik kematian sang ibu. Sejak saat itu dia sangat membenci ayahnya dan menganggap pernikahan itu adalah sebuah mala petaka.
Kini Alvin tak punya siapa-siapa lagi selain Kasih. Dan Aryo yang menyadari bahwa memiliki seorang anak dari ibunya Alvin mulai mencarinya juga.
Dia meminta Alvin menemukan adiknya itu dan Aryo ingin putrinya itu hidup bersamanya.
Meski begitu Alvin tetap ingin mempertahankan Kasih agar terus bersamanya.
__ADS_1