
"Papa?" Arga terkejut saat melihat kedatangan papanya.
"Kamu ngapain Arga? Ini.. Ini bukannya adik Alvin?" Pak Wijaya menunjuk Kasih.
Kasih pun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum samar. Dia bingung harus berbuat apa.
"Emm.. Iya Pa, Kasih ini sekarang jadi sekretaris Arga. Kami baru saja selesai bertemu klien di dekat sini. Karena lapar jadi kami mau makan dulu." ucap Arga mencari-cari alasan.
"Benar begitu? Kalian tidak sedang memiliki hubungan apa-apa kan?" tanya Wijaya kembali.
Baik Arga maupun Kasih sama-sama tersentak. Namun beruntung Arga pandai memainkan ekspresi dan berusaha setenang mungkin agar Papanya tidak curiga.
"Oh, tidak kok Pa, kami hanya makan malam biasa. Kebetulan Arga kangen menu di restoran ini. Papa sendiri mau makan malam?" ucap Arga.
"Iya, papa kebetulan lewat sini entah kenapa pengen saja mampir. Bolehkan papa gabung dengan kalian?" tanya Wijaya.
"Tentu saja pa, silahkan" ujar Arga mempersilahkan papanya duduk.
Keduanya sedikit kikuk namun Kasih dan Wijaya cepat akrab dan saling mengobrol berdua.
Arga memperhatikan mereka yang sedang bercengkrama. Entah kenapa tiba-tiba dia membayangkan bahwa Kasih dan Wijaya adalah seorang menantu dan mertua. Betapa bahagia hati Arga jika hal itu sampai terjadi.
Namun lamunan itu segera buyar saat Felicia dan kedua orang tuanya tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Loh, rupanya Mas Arga dan Papa dinner disini? Kok nggak bilang-bilang sih" ucap Felicia tiba-tiba.
Namun perhatian Felicia tertuju pada sosok Kasih yang juga duduk di samping Arga.
"Terus kenapa ada sekretaris Mas Arga juga? Oh, pasti lagi bahas bisnis" Felicia terus menyerocos sementara Arga yang mulai jengah hanya diam menatapnya dengan tajam.
"Boleh kami gabung?" tanya Felicia lagi.
"Silahkan" jawab Arga singkat.
Sebenarnya Arga sangat tidak sudi jika harus makan satu meja dengan Felicia. Namun karena ada kedua orang tua Felicia juga papanya dia jadu sedikit sungkan.
__ADS_1
Felicia pun memanggil pelayan untuk menggabung mejanya dengan Arga. Dia langsung duduk di sisi kiri Arga yang kebetulan sisi kanannya sudah ditempati Kasih.
Mereka saling mengobrol satu sama lain. Begitu juga kedua orang tua Felicia yang ikut nimbrung dengan Wijaya.
Dengan penuh semangat Felicia membicarakan banyak hal dan sesekali bertingkah manja kepada Arga.
Arga sejak tadi hanya diam dan sesekali menimpali jika perlu. Di dalam hati Arga merasa begitu jengkel. Acara makan malamnya dengan Kasih yang seharusnya berjalan romantis kini malah jadi berantakan.
Tampak Kasih yang sejak tadi diam melihat pertemuan keluarga itu. Ayah dan ibu Felicia membahas tentang perkembangan bisnis dengan Wijaya. Sementara Felicia sejak tadi membicarakan tentang keunggulan dirinya dan sesekali merayu Arga.
Kasih seperti orang lain yang keberadaannya sama sekali tak dianggap. Ingin sekali dia memprotes tapi Kasih sadar diri siapa dia?
Bahkan meski Arga terang-terangan mencintainya namun statusnya tak lain hanyalah wanita simpanan alias selingkuhan pria itu.
Betapa hina dan rendah diri yang saat ini Kasih rasakan. Menjadi benalu sebuah keluarga yang terlihat begitu harmonis meskipun tak tahu apa yang sedang terjadi di dalamnya.
Kenapa takdir tak pernah berpihak dengan baik kepada Kasih. Hanya karena ingin bahagia saja apakah harus mengais seperti pencuri begini.
Arga menyadari posisi Kasih saat ini. Diam-diam tangannya turun ke bawah meja, meremas dan menggenggam erat tangan Kasih. Berharap dengan begitu dirinya mampu membuat hati Kasih sedikit tenang.
Namun sebenarnya justru hal itu membuat hati Kasih semakin terasa sakit. Sentuhan Arga yang diam-diam begini malah mencerminkan bahwa Kasih tampak nyata sebagai selingkuhannya.
"Maaf, Pak Arga, semuanya. Saya pamit pulang dahulu karena sudah malam." ucap Kasih sambil berdiri untuk berpamitan.
Arga terkejut saat Kasih tiba-tiba ingin pergi.
"Tapi kenapa buru-buru? Pulang dengan siapa nak?" tanya Pak Wijaya.
"Besok saya harus kerja pak, saya akan naik taksi." ucap Kasih sambil melirik Arga sekilas.
"Saya antar kamu ya?" ucap Arga tiba-tiba. Tentu saja Felicia dan kedua orang tuanya langsung terkejut.
"Tidak Pak terimakasih. Saya bisa pulang sendiri." sanggah Kasih.
"Tapi naik taksi sendirian malam-malam begini bahaya, apa perlu saya panggilkan Alvin supaya jemput kamu?" ucap Arga.
__ADS_1
Kasih pun masih mengelak. Akhirnya dia tetap ngotot pergi sekeras apapun Arga menahannya.
"Baiklah kalau begitu saya antar kamu ke depan" tak peduli dengan keberadaan Felicia dan orang tuanya Arga tetap pergi mengantar Kasih ke depan restoran.
Saat mereka sampai depan restoran Arga mencoba untuk meraih tangan Kasih.
"Sayang, maaf aku benar-benar tidak menyangka hal ini bisa terjadi" ucap Arga dengan penuh penyesalan.
"Mas, jika aku tahu akan begini lebih baik kita tidak usah melanjutkan hubungan ini. Aku tidak bisa Mas, aku hanya duri dalam rumah tangga kalian. Aku malu, aku merasa sangat berdosa berada di antara keluarga Mas." Kasih meluapkan segala unek-unek di hatinya.
"Sayang, jangan katakan seperti itu, aku tidak bisa berpisah denganmu. Ku mohon jangan begitu. Bersabarlah sebentar." Arga begitu kalut saat Kasih mengatakan perpisahan.
"Tapi aku tidak bisa mas terus-terusan begini. Harus ada salah satu yang mengalah. Dan aku rela melakukan hal itu asalkan semua akan baik-baik saja." Kasih tak mampu lagi menahan tangisannya.
Arga merasa lemas saat Kasih berucap seperti itu. Hatinya remuk redam dan dia tak mampu lagi untuk mengatakan apapun.
"Pikirkan lagi Mas, jika aku hanya kesenangan untuk melampiaskan masalah Mas lebih baik kita berpisah. Selesaikan semua urusanmu dulu." Kasih berlalu meninggalkan Arga saat taksi online pesanannya sudah datang.
Arga menatap nanar kepergian Kasih yang entah kenapa membuat hatinya terasa dihujam ribuan pisau.
Memang apa yang dikatakan Kasih ada benarnya. Arga terlalu terobsesi terhadap Kasih hingga dia tak sadar telah menyeret Kasih ke dalam pusaran masalahnya.
Sekali lagi Kasih menjadi korban keegoisan Arga. Sebagai seorang yang tak berdaya Kasih bisa apa? Dia hanya gadis sebatang kara yang tak tahu arah tujuan setelah orang-orang yang dia sayangan ternyata malah menendangnya ke jalanan.
Dengan langkah gontainya Arga kembali ke dalam restoran. Dia tak ingin menambah curiga ayahnya tentang hubungan dirinya dengan Kasih.
"Mas Arga kayaknya perhatian sekali dengan sekretarisnya" ucap mama Felicia sedikit menyindir.
"Dia sekretaris saya, setiap hari membantu saya bekerja jadi sudah sepatutnya saya memperlakukan dengan baik" ujar Arga dengan nada menohok.
Sadar akan situasi yang kurang mendukung akhirnya mereka segera menyelesaikan makan malamnya.
"Mas Arga pulang sama ku ya, mama sama ayah naik mobil sendiri kok" ucap Felicia sembari menggelendot mesra di lengan Arga.
"Iya Arga, lebih baik kalian pulang berdua" ujar Wijaya.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau arga harus menurut.
Keduanya kini memasuki mobil Arga. Tak menyangka bahwa wanita yang duduk di mobil sebelahnya adalah Felicia, bukan Kasih.