Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 90 pertemuan pertama


__ADS_3

Seorang pria paruh baya keluar dari mobil dengan menggunakan setelan kemeja warna navy. Badan tegap atletis meski sudah berumur. Serta kaca mata hitam yang bertengger menutupi kedua netranya. Terpancar jelas kharisma pria itu.


"Selamat Pagi Pak Aryo, lama kita tidak bertemu" sapa Arga langsung menghampiri pria itu serta menjulurkan tangannya.


"Selamat pagi Arga. Benar juga, sejak pulang ke Indonesia kita baru bertemu sekarang." alih-alih menjabat tangan Arga justru pria itu langsung memeluk dan mendekap bahunya.


Jelas sekali terlihat bahwa keduanya begitu akrab. Kasih hanya bisa mengulas senyum melihat kedua orang tersebut. Dia berpikir bahwa sepertinya Pak Aryo ini orang yang baik.


Namun saat melihat Pak Aryo melepas kacamata hitamnya Kasih sedikit terkejut. Entah kenapa melihat tatapan pria itu ada desiran aneh yang tak dapat diartikan.


"Kasih, kenalkan ini Pak Aryo." Arga mengajak Kasih untuk berkenalan langsung.


"Siapa ini Arga?" tanya Aryo yang sedikit terkejut juga.


"Kasih Pak, saya sekretaris Pak Arga."


Wajah Kasih mengingatkannya pada seseorang. Apalagi nama itu pernah disebut oleh Alvin.


"Kasih? Mungkinkah Kasih yang ini?" batin Aryo.


Sempat terdiam kemudian Aryo merespon dengan senyuman. Dia membalas ucapan Kasih dengan memperkenalkan namanya.


Kegiatan mereka hari ini adalah meninjau proses pembangunan hotel yang diperkirakan akan menjadi salah satu hotel bintang lima terbesar di kota ini.


Banyak yang dibahas sehingga tak sadar sudah waktunya makan siang. Akhirnya Arga memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran dekat lokasi tersebut.


Kasih dengan setia mendampingi Arga. Namun satu hal yang membuat Aryo sedikit heran adalah perlakuan manis Arga terhadap Kasih.


Pada saat mereka memasuki Restoran Arga memundurkan kursi yang hendak dipakai Kasih untuk duduk. Serta memotongkan daging steak untuk Kasih.


"Sebenarnya kalian ini sungguh hanya sekretaris atau..?" tanya Aryo heran.


Arga tersenyum malu, kemudian meraih tangan Kasih dan menggenggamnya. Kasih pun sedikit terkejut dengan perlakuan pria itu.


"Sebenarnya dia tunangan saya, calon istri saya" ucap Arga sambil memandang Kasih dengan penuh cinta.


Kasih pun tersipu malu dibuatnya. Tak menyangka bahwa Arga begitu antusias untuk mengabarkan hubungannya.


"Ah.. Begitu. Baiklah semoga selalu bahagia untuk kalian" ucap Aryo senang.


Setelah selesai menyantap makan siangnya Arga sedang menerima telepon. Saat itulah Aryo mengambil kesempatan untu mencari tahu tentang Kasih.


"Kasih sudah lama mengenal Arga?" tanya Aryo.

__ADS_1


"Belum setahun Pak, tapi Pak Arga sangat baik kepada saya" jawab Kasih dengan santun.


"oh begitu, Kasih punya saudara juga?" tanya Aryo kembali.


"Saya punya seorang kakak laki-laki. Usianya tak jauh berbeda dengan Pak Arga." balas Kasih.


"Oh,. Disini tinggal dimana? Dengan orang tua?"


"Saya tinggal dengan kakak saya. Kedua orang tua saya sudah meninggal sejak saya masih bayi?" ujar Kasih dengan suara sedikit sendu.


Hal itu semakin memancing Aryo untuk bertanya lagi.


"Maaf Kasih, bukan maksud saya menyinggung kamu. Tapi sungguh kedua orang tua kamu sudah tiada?" tanya Aryo lagi.


"Iya Pak, tidak apa-apa. Kata Kakak kedua orang tua saya sudah tiada semua bahkan saya sempat berkunjung ke makamnya." Kasih menghela nafas.


"Sebenarnya saya juga baru menemukan saudara kandung saya belum lama ini. Tapi Kak Alvin sangat baik dan menyayangi saya. Karena dia adalah satu-satunya keluarga saya."


DEGG!!


Alvin? Kasih yang tak sengaja mengucapkan nama Alvin membuat Aryo semakin yakin bahwa wanita yang ada di depannya adalah putrinya yang selama ini dia cari. Bahkan wajah Kasih begitu mirip dengan Hana, ibu kandung Kasih.


"Pak? Pak Aryo baik-baik saja?" tanya Kasih saat melihat Aryo yang melamun.


"Terimakasih Pak, Pak Aryo sendiri apakah memiliki seorang putra dan putri?" tanya Kasih.


"Ada, saya memiliki seorang putri yang sangat cantik, dia seumuran mu. Dan katanya dia akan segera menikah." ucap Aryo dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Sungguh selama ini baik Kasih dan Aryo sama-sama tak pernah bercerita selepas ini dengan orang yang baru di kenalnya.


Kasih merasa begitu nyaman mengobrol dengan Aryo. Dan hal itu pula yang membuatnya yakin bahwa Arga berhubungan baik sebab Aryo juga orang yang baik.


Sampai akhirnya Arga datang. Keduanya masih mengobrol santai. Arga pun merasa senang sebab Kasih begitu ramah dan baik dalam menyambut orang lain.


"Wah, sepertinya lagi mengobrol seru ini?" ujar Arga sambil kembali di tempat duduknya.


"Biasa aja kok Mas, udah sudah selesai urusannya?" tanya Kasih.


"Sudah sayang, maaf..capek ya?" Arga mengusap lembut pipi Kasih.


"Ehhemm.." suara deheman itu langsung saja menyadarkan Arga bahwa dirinya sedang didepan siapa sekarang.


Arga hanya bisa tersenyum malu ketika Aryo terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf Pak, kelepasan." ujar Arga jujur.


Setelah urusan selesai akhirnya mereka kembali ke tempat masing-masing. Arga dan Kasih kembali ke kantor sedangkan Aryo juga.


Namun satu hal yang membuatnya kepikiran adalah pengakuan Kasih yang menyebutkan bahwa ayahnya telah meninggal.


Berarti selama ini Alvin belum pernah menceritakan tentang dirinya. Ada perasaan sedih yang tal bisa diartikan dengan kata-kata.


Ingin sekali Aryo memeluk Kasih dan melepas kerinduannya sebagai seorang ayah. Membayangkan senyuman indah gadis itu bahkan menjadi obat tersendiri yang selama ini dia cari.


...****************...


Sejak malam panasnya kembali terulang kini Ratna berusaha untuk lebih berhati-hati dan menghindari Alvin.


Namun tidak dengan Alvin. Setelah apa yang dilakukannya dengan Ratna semakin membuat Alvin yakin bahwa dia mencintai Ratna.


Ya, Ratna adalah sosok yang dia cari selama ini. Wanita yang membuatnya merasa tenang dan nyaman saat bersamanya.


Alvin tak ingin meragukannya lagi. Hatinya betul-betul sudah jatuh cinta kepada Ratna.


Tanpa pikir panjang Alvin pun segera pergi keluar. Dia menuju sebuah toko perhiasan. Dipilihnya salah satu koleksi cincin berlian yang indah itu.


Dengan tekad yang kuat Alvin ingin melamar Ratna malam ini juga. Dia yakin Kasih akan menyetujui hal ini.


Alvin sudah membawa sebuah buket bunga mawar merah yang cantik. Dia memencet bel pintu apartemen Ratna. Dia yakin Ratna ada di dalam sana walaupun berkali-kali wanita itu tak menjawab teleponnya.


Tak berselang lama Ratna pun membuka pintunya. Dia sangat terkejut saat melihat Alvin yang tengah berdiri sambil membawa sebuah buket bunga.


"Alvin?" ucap Ratna dengan wajah terkejutnya.


Alvin hanya tersenyum manis sambil menyodorkan buket bunga itu kepada Ratna.


Ada rasa yang sulit diartikan saat Ratna menerima buket bunga itu. Namun dia buru-buru membawa Alvin masuk ke dalam apartemennya karena tak ingin ada yang curiga.


Ratna mengunci pintu apartemennya dan saat berbalik tiba-tiba saja Alvin langsung memeluknya sambil mencium bibir Ratna.


Ciuman mereka terjadi cukup dalam dan lama hingga keduanya sama-sama berhenti saat sudah kehabisan nafas.


Namun Alvin tiba-tiba berjongkok di depannya sembari mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin.


"Ratna, will you marry me?"


Ratna begitu terkejut hingga dia hanya bisa terbengong beberapa detik.

__ADS_1


"A-Alvin?.."


__ADS_2