
"M-maaf.." hanya kata itu yang busa Kasih ucapkan. Sejak tadi Alvin berdiri menatapnya dengan tajam. Kedua tangannya mengacak pinggang seolah siap untuk memarahi Kasih.
Berulang kali Ratna pun mencoba untuk menenangkan Alvin agar dia tidak memarahi Kasih. Namun Alvin terus menyuruh Ratna untuk diam.
"Sejak kapan kamu pakai HP Ratna buat hubungi Arga?" pertanyaan pertama akhirnya keluar dari mulut Alvin.
"S-sehari setelah kesini Kak." Kasih tak berani menatap wajah Alvin.
"Sayang sudah aku tidak apa-apa. Dia lagi butuh." Ratna mengelus lengan Alvin agar tak terbakar emosi.
"Nggak bisa Ratna. Dia sudah bohong. Diam-diam kalian bersekongkol di belakangku." elak Alvin.
"Kak, ku mohon maafkan aku. Aku yang salah disini. Jangan marahi mbak Ratna. Aku cuma ingin tahu kabar Mas Arga. Aku butuh dia kak. Bagaimanapun Mas Arga adalah ayah dari anak didalam perutku. Dan hanya mbak Ratna yang bis membantuku. Hiks.." Kasih tak kuasa menahan air matanya.
"Tolong jangan beri tahu papa ya kak." mohon Kasih lagi.
"Tapi kenapa tidak bilang kakak? Tahu begitu kakak akan belikan hp baru buat kamu. Jadi nggak nyusahin Ratna. Kasian juga kan Ratna nggak pegang ponsel. Kalau dia butuh apa-apa gimana?" Alvin berjalan mendekati Kasih.
"Kak Alvin nggak marah aku berhubungan dengan Mas Arga lagi?" Kasih meras heran.
"Kenapa harus marah? Kakak akan lakukan apapun demi kebahagiaan kamu Kasih. Memangnya sejak kapan kakak tidak memihakmu?" Alvin mengusap air mata yang ada di pipi Kasih.
"Aku pikir kakak dan papa, kalian bersekongkol."
Alvin pun langsung tertawa. Melihat wajah polos nan panik adiknya tersebut.
"Kakak akan selalu membuatmu bahagia Kasih. Itu janji kakak. Sekarang berikan HP kakak iparmu itu nanti Kakak akan belikan yang baru, mengerti?" ujar Alvin.
"Iya Kak, maaf ya mbak Ratna aku udah ngrepotin banget. Makasih sudah membantuku." Kasih menyerahkan ponsel Ratna.
"Nah gitu kan enak, tahu nggak gara-gara Ratna nggak pegang HP dia terus mengganggu kakak." ujar Alvin sedikit berbisik kepada Kasih.
"Heh ganggu apa maksudnya? Mau kasih hukuman lagi?" Ratna dengan wajah garangnya langsung memprotes Alvin.
"Ampun Nyai.. Ampun." Alvin seketika meringis minta ampun.
Kasih hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pasangan pengantin baru ini.
"Udah-udah.. Urusan pribadi jangan diomongin disini ya." ledek Kasih sebelum dia pergi meninggalkan dua orang itu.
...****************...
"Nova, besok saya harus cek kerjaan ke luar kota. nggak apa-apa kan kalau sementara kita terpisah dulu. Nanti setelah selesai saya akan kesini dan kita akan selesaikan semuanya."
__ADS_1
Meskipun Jody tampaknya selalu baik namun hati kecil Nova masih merasa ragu dia belum mengenal Jody sepenuhnya. Bisa saja ini hanya alasan dia untuk menghindari Nova.
"Ini credit card buat kebutuhan kamu selama saya pergi. Beli apapun yang kamu mau. Pakaian, skincare, apapun lah terserah kamu." Jody menyodorkan sebuah kartu kredit untuk Nova.
"Tapi kak, nggak perlu repot-repot begini. Aku bisa cukupi kebutuhanku sendiri kok." Nova hendak menolak kartu itu.
"Ayolah Nova, jangan ditolak. Saya cuma nggak tega kamu kerja part time dengan gaji kecil begitu. Kamu fokus belajar saja mempersiapkan kuliah kamu. oh ya, ngomong-ngomong sudah memutuskan kuliah dimana?" Jody tetap menggenggam kan kartu kredit itu kepada Nova.
Selama ini Nova memang mencukupi kebutuhannya dengan bekerja paruh waktu. Setelah lulus SMA Nova tak langsung kuliah karena terkendala biaya.
Keluarga Nova adalah keluarga sederhana tidak seberada keluarga Ratna. Sehingga dia harus lebih mandiri dan tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya.
"Ada sih kak, beberapa kampus pilihan Nova. Tapi itu pun kalau Kak Jody berkenan." ujar Nova.
"Kalau saya terserah kamu saja. Yang penting kalau bisa di Jakarta ya. Saya nggak mau jauh-jauhan sama kamu. Apalagi kalau kita sudah menikah nanti." Jody tampak datar mengatakannya.
Namun tidak dengan Nova. Melihat bagaimana keseriusan Jody membuat hatinya semakin meleleh. Jody sangat baik kepadanya tapi kenapa Ratna tak pernah mencintainya. Memang urusan hati tidak ada yang bisa menebak.
"Yaudah, nanti malam kita dinner ya. Ada restoran yang sepertinya bagus." ujar Jody.
Nova pun hanya menyanggupinya. Setelah itu Jody mengantar Nova untuk pulang. Beberapa hari terakhir ini memang Jody dan Nova sering bertemu. Jody merasa bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak ingin membuat Nova merasa sedih.
Sementara di kediaman Ratna tampak pasangan pengantin baru itu sibuk merias diri.
"Sayang Kasih udah siap belum?" tanya Ratna.
Kemudian mereka menghampiri Kasih yang ternyata sudah siap. Kasih tampak cantik mengenakan dress putih.
Entah kenapa perasaannya terus membayangkan Arga. Dia memakai semua yang Arga suka.
Mobil pun melaju ke sebuah restoran bintang lima. Dimana mereka akan menikmati makan malam bertiga.
Sebenarnya Kasih sedikit keberatan jika hanya bertiga begini. Dia kadang galau sendiri melihat kakaknya sedang bermesraan. Walaupun itu wajar sebab mereka sedang bahagia dengan pernikahan barunya.
Nova yang ingin diajak Kawih justru tidak bisa, mengatakan bahwa dia ada urusan.
Jadilah Kasih sejak tadi mengecek ponselnya. Entah kenapa Arga sama sekali tak menghubunginya. Padahal biasanya pria itu selalu memberi kabar Kasih. Jadi senewen sendiri kalau begini.
Namun sedetik kemudian senyum Kasih membuncah. Dia melihat ponselnya yang berdering. Terlihat Arga meneleponnya.
Kasih langsung mengangkatnya dengan perasaan bahagia.
"Halo sayang, kemana saja kok baru mengabari." ucap Kasih tidak sabaran.
__ADS_1
"iya maaf sayang, aku sibuk sekali tadi. Ini juga baru sempat pegang Hp." jawab Arga melalui panggilan teleponnya.
"Oh, yaudah. Mas Arga lagi apa?" tanya Kasih lagi.
"Ini lagi.. Eh maaf mbak." tiba-tiba suara Arga terputus.
"Sayang, ada apa?" Kasih tampak bingung.
"Maaf sayang. Maaf ya..." namun suara Arga seolah seperti di dekatnya.
Kasih sangat terkejut saat tiba-tiba seorang mengecup pipinya. dan ketika menoleh dia semakin terkejut sekaligus tidak percaya.
"Mas Arga" pekik Kasih.
Arga berdiri sembari memegang sebuah buket bunga langsung merentangkan tangannya.
Kasih yang tak percaya masih menepuk pipinya. Berharap ini bukan mimpi.
"Sayang ini sungguhan. Aku benar-benar disini." ucap Arga dengan senyum lebarnya.
Kasih langsung beranjak dari duduknya. Memeluk Arga dengan erat. Begitu erat karena saking rindunya dengan pria itu.
Alvin dan Ratna pun ikut bahagia melihat pertemuan dua insan tersebut.
Arga mengusap lembut punggung Kasih juga berkali-kali menciumi puncak kepalanya.
"Sayang, aku senang sekali akhirnya kita bertemu." ujar Arga dengan suaranya yang begitu lembut.
Kasih yang sejak tadi membenamkan wajahnya di dada bidang Arga pun tak bergeming.
"Aku juga sangat senang. Saking senangnya sampai tidak percaya. Kalau mas Arga sekarang bersamaku." suara Kasih tampak mengecil sebab terhalang oleh dada bidang Arga.
Keduanya tak mampu lagi menyembunyikan rindu yang sudah bertumpuk. Sebuah kejutan yang sangat luar biasa untuk hari ini.
Saat mereka berempat asyik mengobrol dan melepas rindu tiba-tiba Kasih menangkap sosok yang sangat dia kenal.
"Kak bukannya itu Nova?" Kasih menunjuk salah satu sisi meja.
"Jody?" tiba-tiba Ratna menyeletuk.
Alhasil Nova dan Jody pun langsung menoleh. Sungguh kebetulan atau memang ini waktunya orang lain mengetahui hubungan mereka.
"M-mbak Ratna.." Nova begitu deg-deg an saking nervous nya sampai tangannya bergetar.
__ADS_1
Tanpa disangka Jody langsung menggenggam jemari Nova.
...****************...