
"Nggak bisa gitu dong mas" Kasih memprotes dan hendak bangkit dari pangkuan Arga. Namun tangan pria itu kokoh menahannya.
"Kenapa?" tanya Arga keheranan.
"Mas Arga harusnya tanya dulu. Aku mau nggak jadi pacar Mas, lagian di kontrak kan nggak nyebutin harus jadi pacar Mas. Cuman afeksi, saling perhatian tanpa melibatkan perasaan" ujar Kasih apa adanya.
Arga terdiam. Menatap Kasih dengan tajam.
"Bagaimana jika aku melanggar kontrak itu? Bullshit kalau laki-laki dan perempuan sudah bersama tak melibatkan perasaan." ucap Arga jujur.
Kasih pun hanya bisa menunduk. Tak dipungkiri bahwa dalam hatinya juga sudah mulai tumbuh perasaan suka terhadap Arga. Namun dia juga takut terlibat perasaan lebih dalam dengan Arga sebab statusnya yang masih suami orang.
"Tapi mas," ucapan Kasih tertahan.
"Apa Baby?" suara Arga menjadi lembut.
"Aku takut, Mas Arga itu orang berpengaruh. Mas Arga sudah menjadi suami orang. Aku takut dengan hubungan ini semakin menyulitkan Mas Arga, aku tidak mau jadi perusak rumah tangga orang" Kasih menundukkan pandangannya.
Arga menghela nafas, kemudian meraih dagu Kasih dan mengangkatnya agar sejajar menatapnya.
"Rumah tanggaku sudah rusak sebelum adanya kamu Kasih, dan sungguh sejak aku mengenalmu aku jadi lebih bersemangat menjalani hidup. Jadi, jangan pernah pergi meninggalkanku. Karena aku sangat membutuhkanmu" ucapan Arga kali ini benar-benar keluar dari dalam lubuk hatinya. Kasih bisa merasakan hal itu.
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu, sementara kamu adalah tempatku untuk pulang Mas," batin Kasih dalam hati.
Namun Kasih tak ingin mengungkapkan hal ini langsung kepada Arga. Baginya hal ini terlalu dini untuk dikatakan, belum lagi trauma masa lalunya yang masih membekas di hatinya membuat Kasih takut memulai hubungan lagi dengan pria.
"why?" Arga menegur Kasih yang sedari tadi hanya diam melamun.
"Emm. Enggak Mas., " jawab Kasih sedikit gelagapan.
"Jadi gimana nih? Kita pacaran ya?" tanya Arga masih santai.
"Nggak mau" ujar Kasih tegas.
Arga seketika tercenung dengan penolakan Kasih.
"Kenapa Baby? Aku kurang apa?"
__ADS_1
Kasih menghela nafas. Berusaha menjelaskan kepada Arga.
"Aku nggak mau pacaran sama orang yang gampang emosian dan suka marah-marah. Aku takut" ujar Kasih.
"Yaudah, saya akan berubah demi kamu" ujar Arga dengan tenangnya.
"Mas, ini nggak bercanda loh. Mas Arga kok seenteng itu sih ngomongnya" protes Kasih.
"Ya trus gimana dong Baby, kan katanya minta saya berubah. Yaudah berubah nih" ujar Arga.
"Maksud aku tuh Mas Arga harusnya lebih sabar, kalau apa-apa jangan pake emosi dulu. Diomongin baik-baik kan bisa. Aku lebih nyaman kalau Mas Arga bicara dengan lembut tanpa marah-marah. Dan juga aku punya hak buat menentukan apapun yang aku mau mas, selama itu tidak merugikan kita" ujar Kasih sedikit menekan.
"hmm.. Iya-iya, saya ngerti. Tapi kenapa ya kalau soal kamu tuh saya gak bisa sabar. Saya terlalu takut kamu pergi meninggalkan saya"
Kasih memberanikan diri mengusap lembut pipi Arga.
"Mas, aku nggak pergi kemana-mana kok, cuma aku masih belum siap menjalin hubungan kembali. Aku masih trauma sama yang dulu. Kasih aku waktu ya mas" lebih baik kali ini Kasih jujur kepada Arga. Dia tidak mau melukai perasaan Arga dengan pura-pura.
Arga menghela nafas, sekilas tampak ada guratan kecewa di wajahnya.
"Oke, nggak papa Kasih. Untuk hal ini saya akan bersabar. Sabar buat memenangkan hati kamu. Bahwa saya sangat ingin bersamamu setiap saat"
"Maafkan aku mas, aku hanya tidak ingin membuat Mas Arga kecewa."
Arga meremas pinggang Kasih dan merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan.
"it's okay, i'm totally fine. Nggak usah merasa bersalah begitu." ujar Arga sembari mengulas senyum.
Arga menyadari bahwa perasaan Kasih tak bisa dianggap remeh. Gadis itu telah melalui banyak hal pahit di hidupnya.
Jika dahulu dia merasa iba melihat Kasih, kini perasaan itu berubah menjadi rasa cinta dan obsesi, rasa ingin memiliki dan melindungi Kasih sepenuhnya.
"Kita sama-sama belajar ya, jika saya ada kesalahan maka jangan lupa untuk mengingatkanku. Dan kalau kamu butuh apapun saya siap Kasih, minta apapun dariku, manfaatkan saja saya," ucap Arga lembut.
Kasih pun hanya bisa mengangguk, merasa heran sendiri dengan sikap Arga yang sama sekali berbeda. Seolah pria itu memiliki banyak kepribadian. Kadang kasar, kadang emosian, kadang serius, dan kini berubah menjadi sosok yang lembut.
Entahlah mungkin itu pula sejuta pesona yang dimiliki Arga sehingga banyak orang yang jatuh hati padanya.
__ADS_1
****************
Felicia berjalan menyusuri setiap ruangan yang tampak para karyawan yang begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Beberapa orang menyapanya dan tak sedikit yang heran kenapa wanita itu datang ke kantor Wijaya Corp. Hanya sebagian yang tahu bahwa Felicia adalah menantu dari CEO nya.
Tiba di depan ruangan direktur utama Felicia segera mengetuk pintu.
"Masuk" suara seorang pria terdengar dari dalam.
Felicia segera membetulkan pakaiannya dan memasuki ruangan tersebut.
"Selamat siang Pa" sapa Felicia.
"Felicia, tumben datang ke sini" ujar Wijaya.
"Kebetulan tadi lewat sini Pa, trus mampir. Papa sibuk ya? Feli jadi ganggu nih" ujar Felicia.
"Tidak kok, Papa tidak sibuk. Cuma heran saja kamu tumben datang kemari" ujar Wijaya.
"tapi papa senang kamu mampir" imbuhnya.
"Sebenarnya Feli kangen Papa, maaf banget ya Pa, akhir-akhir ini Feli sibuk banget jadi nggak sempat makan malam sama Papa" ujar Felicia dengan wajah sok sendu.
"Oh iya Pa, ini Feli bawakan kue kesukaan Papa. Dimakan ya Pa" Felicia membuka sebuah kotak yang dibawanya sedari tadi. Berisi kue Cheese Tart kesukaan Wijaya.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Arga? Apakah sudah baikan?" pertanyaan yang ditunggu Felicia itu akhirnya muncul juga.
Felicia dengan luwesnya berpura-pura sedih. Dia langsung menunduk sambil menitikkan air matanya.
"Itu dia Pa, sepertinya Mas Arga masih marah sama aku. Ya aku tahu ini semua salahku, tapi sungguh aku ingin memperbaiki hubungan ini Pa" ujar Felicia mulai terisak.
"Aku nggak ingin pisah sama Mas Arga Pa, tolong bantu aku ya Pa.. Bujuk Mas Arga supaya mau maafin aku. Aku janji akan berubah untuk mas Arga" mohon Felicia.
Wijaya terdiam sejenak. Mencerna ucapan Felicia yang sepertinya terlihat meyakinkan.
"Begini Feli, Papa memang sangat berharap kalian kembali berbaikan dan memperbaiki rumah tangga kalian. Tapi Papa tidak bisa berbuat banyak karena ini kan urusan rumah tangga kalian. Papa bisa bantu bicara pada Arga, tapi keputusan ada padanya" ungkap Wijaya.
__ADS_1
"Iya Pa, Feli mengerti" Setidaknya dengan begini Felicia sedikit tenang. Papa mertuanya tidak marah padanya.