
FLASHBACK...
"Om, kok kelihatannya akrab banget sama sekretaris Arga tadi. Pake manggil papa lagi dia" ujar Laura dengan mimik wajah ketus.
"Iya, dia kan tunangan Arga. Calon mantu om jadi ya biar terbiasa nanti manggil papa" jawab Wijaya santai.
"Apa? Arga sudah tunangan? bagaimana secepat itu? Bukannya dia belum lama bercerai dengan Felicia." Nenek Arga terus menyerocos ketika tahu status Arga sekarang.
"Iya Ma, tapi mau bagaimana lagi? Ini kemauan Arga. Kalau keduanya sudah jatuh cinta mau bagaimana lagi?" ujar Wijaya.
"Tapi Wijaya, kamu sudah tahu betul siapa dia? Bagaimana keluarganya?" ucap nenek Arga lagi.
Namun pembicaraan itu terhenti ketika Arga kembali memasuki ruangan setelah mengantar Kasih.
"Ada apa ini kok mukanya pada tegang semua?" tanya Arga.
"Ga, kamu tunangan kok nggak bilang-bilang sih?" protes Laura.
"Arga, kamu sudah lupa nenek nak? Mentang-mentang nenek tinggal di luar negeri tapi juga berhak tahu. Kamu itu cucu tertua jadi harus seizin nenek dulu" baik Laura maupun nenek Arga keduanya sama-sama memprotes.
"Ma, udah fong jangan ganggu urusan Arga" sanggah Wijaya.
Arga mulai menghela nafas kasar sembari mengepalkan tangannya.
"Kenapa nek? Kenapa harus ijin nenek dulu? Supaya nenek bisa merecoki hubungan Arga seperti yang nenek lakukan kepada Mama?" Arga mulai tidak tahan dan akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya.
"Arga, kok kamu bicara seperti itu sama nenek kamu sendiri?" putus Laura.
*"Lo nggak usah ikut campur kalau nggak tau apa-apa" ujar Arga dengan menunjuk Laura. *
"Nenek tetap harus tahu siapa calon mantu nenek, dia harus memenuhi kriteria keluarga ini. Bibit, bebet dan bobot harus mumpuni. Jangan mudah terperdaya dengan bujuk rayu wanita saja Arga." ucapan neneknya sambil melirik Wijaya. Seolah mengingatkan kejadian masa lalu.
"Stop urusi aku nek, cukup Papa dan Mama yang jadi korban. Aku akan tetap menikahi Kasih, apapun yang terjadi. Bahkan tanpa restu nenek aku bisa melakukannya." Arga yang geram langsung berjalan meninggalkan ruangannya.
"Arga.. Melawan ya kamu.." ucapan neneknya bahkan seperti menguap begitu saja.
Ada perasaan kesal juga kecewa ketika neneknya terus mengusik hubungannya. Dan yang membuat semakin jengkel adalah ketika Wijaya, papanya sendiri seolah tak bisa tegas dalam mengambil sikap.
Masa lalu Wijaya sebagai anak pungut dan dibesarkan oleh wanita itu tentu membuatnya merasa berhutang budi seumur hidup. Meski harus menahan perasaannya oleh perkataan ibu angkatnya.
...****************...
__ADS_1
Ucapan neneknya siang tadi masih terngiang di kepala Arga. Susah payah dirinya berjuang sampai di titik ini demi bisa bersama Kasih lagi-lagi harus menghadapi ujian.
Arga tahu bagaimana sikap Neneknya yang suka bertindak nekad apalagi dengan seseorang yang tidak dia sukai.
Dia tahu betul sejujurnya niatan neneknya adalah menjodohkan dirinya dengan Laura. Karena sejak dulu Arga berusaha dijodohkan dengan Laura namun keburu dia menikah dengan Felicia.
Sementara Laura sebenarnya memiliki sifat hampir mirip Felicia. Dia hanya ingin sesuatu berdasarkan kemauannya saja.
"Mas, bajuku kemana semua? Kok nggak ada di kamar?" pertanyaan Kasih itu seketika membuyarkan lamunannya.
Arga begitu terpana akan sosok yang berdiri di depannya. Kasih tampak begitu cantik dan sexy saat hanya memakai kaos oblong milik Arga tanpa celana. Sehingga paha putih mulusnya terekspos sempurna.
Arga bahkan sampai tak fokus hingga pertanyaan Kasih tadi menguap begitu saja.
"Mas.. Dimana bajuku? Jangan bilang sengaja disembunyiin." protes Kasih.
Tanpa menjawab tiba-tiba Arga langsung memeluk dan menciumi wajah Kasih.
"Kok cantik banget sih, nggak usah masak ya." Sudah jelas sekali arah pembicaraannya kemana.
"Nggak bisa. Nanti lapar mas.." tolak Kasih.
Mendengar Arga yang mulai uring-uringan Kasih pun beringsut dan berjalan entah kemana.
Tau-tau saja dia sudah melapisi pakaiannya dengan bathrobe.
"Apa-apaan ini. Kok malah begini?" protes Arga yang merasa kecewa melihat penampilan Kasih tak se'hot' tadi.
"Biar Mas fokus masak. Nggak macem-macem dulu" ujar Kasih sambil memegangi spatula.
Arga hanya bisa berdecak. Awas saja habis ini gak ada ampun, harus secepatnya ada bayi di perutmu. Batin Arga.
...****************...
Ratna terus menangis di dalam pelukan Alvin. Berbagai cara Alvin mencoba untuk membuat wanita itu tenang namun tetap saja dia masih terisak.
"Ratna, sudah ya nanti mata kamu bengkak. Aku berjanji akan memperjuangkan hubungan kita sampai bisa menikah." Ujar Alvin sambil mengusap air mata di pipi Ratna.
"Beneran ya Vin, aku nggak mau nikah selain sama kamu" rengek Ratna.
"Iya sayang, aku janji. Aku akan bicara dengan orang tua kamu. Apapun akan aku lakukan demi kamu" barulah saat itu Ratna berhenti menangis.
__ADS_1
Dia menatap Alvin dengan penuh harap. Sejujurnya tak ada yang lebih membahagiakan dari hal ini. Ratna menggenggam tangan Alvin dengan erat.
"Terimakasih Alvin. Aku mencintaimu" ucap Ratna dengan mengulas senyumnya.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang." Alvin mengecup kening Ratna.
Semua sudah Ratna ceritakan tentang dirinya yang sudah bertunangan dengan Jody maupun penolakan dari orang tua Ratna.
Tapi perjuangan memang tak lepas dari tantangan. Jika Alvin dengan mudah memenangkan hati Ratna kini dia harus bisa memenangkan hati orang tua Ratna.
Apalagi saingannya adalah Jody yang notabennya bukanlah pria sembarangan juga.
Jody adalah pengusaha muda yang terbilang sukses. Dia bahkan memiliki perusahaan tambang batubara di Kalimantan serta ratusan hektar perkebunan sawit.
Tentu saja hal itu kalah jauh dari Alvin yang masih menjadi karyawan Arga serta usaha yang masih dirintisnya.
Tapi Alvin percaya, dengan tekad yang kuat pasti dia bisa membuat keluarga Ratna memilihnya. Apapun yang terjadi dia akan berusaha sekuat tenaga.
Untuk sementara ini Alvin dan Ratna ingin menikmati sedikit waktunya dengan saling bermanja sebelum peperangan dimulai.
Tiba-tiba saja bel pintu apartemen Ratna berbunyi. Ratna hendak membukanya namun Alvin justru yang lebih dahulu berjalan menghampiri pintu.
Tanpa melihat layar monitor Alvin langsung saja membuka pintu itu. Dia lupa bahwa saat ini berada di apartemen Ratna.
Betapa terkejutnya Alvin akan seseorang yang berdiri di depannya. Rupanya Jody yang datang. Dan sama seperti Alvin, Jody pun juga tak kalah terkejutnya.
"Alvin?"
"Jody?"
Keduanya saling menatap dengan sorot mata yang sama-sama tajam.
Namun suara yang datang dari dalam apartemen itu langsung memecah keheningan diantara keduanya.
"Alvin sayang, siapa yang datang?" suara Ratna terdengar saat dia berjalan menuju pintu.
"J-Jody.." Ratna sangat terkejut saat melihat Jody berada di depan pintu.
Sementara Jody yang sejak tadi memegang buket bunga langsung terhempas ke lantai.
Tergambar jelas bagaimana hancurnya perasaan Jody saat ini. Melihat tunangan yang begitu dicintainya justru berada di dalam apartemen bersama pria lain. Bahkan tak salah dengar Jody melihat sendiri bagaimana Ratna memanggil Alvin dengan sebutan 'sayang', panggilan yang selama ini didambakan Jody.
__ADS_1