
"Pa, aku mohon.. Boleh ya aku ikut. Aku mau bertemu mbak Ratna udah lama aku tidak bertemu dia. Boleh ya Kak. Aku tidak mau di rumah sendirian." Kasih terus mendesak Aryo dan Alvin agar dirinya diajak menemui Ratna.
Sebenarnya bukan itu saja alasannya. Dia begitu enggan sendirian. Dia ingin merehatkan sejenak pikirannya dari Arga.
Sudah dua minggu berlalu Kasih sama sekali tak pernah mendapatkan kabar dari Arga. Padahal biasanya setiap hari mereka selalu bertemu.
Rumah Aryo seolah seperti sangkar emas untuknya. Rumah itu selalu dijaga ketat oleh pengawal papanya. Memang orang berpengaruh seperti Aryo sangat rawan akan kejahatan.
Tapi Kasih merasa tidak nyaman saja. Biasanya dia bebas pergi kemana saja tapi kali ini tidak bisa.
Jika pergi keluar Kasih harus dijaga oleh dua pengawal. Bahkan sekedar bertemu temannya saja rasanya sangat tidak nyaman.
Memang semua kebutuhannya bahkan apapun yang dia inginkan semua terpenuhi. Dia seperti ratu di rumah itu.
Bahkan Aryo memberikan asisten khusus untuk menemani dan menyiapkan segala kebutuhan Kasih.
"Tapi kan ada Wulan yang menemani kamu." ujar Aryo.
"nggak mau pa, aku mau ikut pokoknya." Akhirnya Kasih harus mengeluarkan jurus ngambeknya. Dengan begitu Aryo tak mampu lagi menolaknya.
"Ya sudah iya, nanti Papa konsultasikan ke dokter kandungan kamu dulu. Papa takut nanti mengganggu kehamilan kamu." ujar Aryo.
Kasih sempat tertegun sejenak. Rupanya Aryo begitu perhatian terhadap kandungannya. Apa yang dia takutkan selama ini nyatanya tak terjadi.
"Iya Pa, makasih ya." Kasih sedikit lega. Setidaknya Aryo mengijinkan dirinya untuk ikut.
Setelah berkonsultasi kepada dokter dan Kasih diijinkan untuk ikut kini ketiganya telah bersiap dan mereka langsung menuju ke bandara.
Aryo sudah menyiapkan jet pribadinya untuk penerbangan ini. Pertama kalinya Kasih menumpangi pesawat se mewah ini. Bahkan dalam bayangannya dia akan mual selama perjalanan ternyata sama sekali tidak.
Kurang dari satu jam mereka pun sampai di bandara. Tinggal perjalanan darat menuju kediaman Ratna.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah sampai. Sebuah rumah dengan arsitektur jawa kuno dengan halaman begitu luas dan rindang.
Rumah itu tampak sepi. Tampak beberapa dekorasi bekas pernikahan yang tertumpuk tak terurus di sebelah rumah.
Aryo mengetuk pintu itu. Lama tak ada jawaban. Kemudian tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"Maaf, ada perlu apa ya?" wanita itu tampak melihat ketiga orang yang berdiri di hadapannya dengan bergantian.
"Apa benar ini kediaman Ratna?" tanya Alvin.
"Benar, kalian siapa?" tanya wanita itu lagi.
"Saya Alvin, bisa saya bertemu Ratna?" ujar Alvin.
Wanita itu hanya mengangguk. Kemudian mempersilahkan untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tampak sekali di wajah wanita itu yang sangat murung.
Di dalam kamar Ratna tampak sedang duduk melamun dengan tatapan kosong.
"Ratna, ada yang mencari kamu" ujar Mama Ratna.
"Siapa ma?" Ratna masih dengan tatapan yang sama tanpa menoleh sedikitpun.
"Alvin."
Seketika Ratna menoleh. Dia bertanya sekali lagi kepada mamanya. Bahwa seseorang yang mencarinya adalah Alvin.
Ratna langsung berdiri. Dia berjalan keluar kamar dengan tergesa. Seolah memastikan bahwa apa yang didengarnya hanyalah khayalannya saja.
Saat berada di ruang tamu dia melihat pria itu tengah duduk dengan gelisah. Tampak juga Kasih dan seorang pria paruh baya diantara mereka.
Alvin menyadari kedatangan Ratna. Dia langsung berdiri dan menghampiri Ratna.
Wajah pucat tanpa riasan serta lingkar hitam di bawah matanya. Dengan pakaian rumahan alakadarnya serta rambut tergerai berantakan. Penampilan Ratna benar-benar kacau. Sangat jauh dengan penampilannya yang biasanya tampak cantik dan memukau.
"Ratna, maafkan aku.." Alvin menghampiri Ratna. Mencoba untuk meraih tangannya.
PLAKK..
Tanpa di duga Ratna malah menampar wajah Alvin. Rasa kesal dan sakit hati yang telah menumpuk membuatnya semakin membuncah.
Alvin langsung memeluk Ratna mencoba untuk memberi sedikit ketenangan untuknya.
Kedua orang tua Ratna hanya bisa tertegun. Sekaligus penasaran siapa sebenarnya Alvin.
Akhirnya setelah beberapa saat Ratna tenang Alvin pun menceritakan semuanya kepada orang tua Ratna. Serta niatan dirinya untuk menikahi Ratna.
Awalnya kedua orang tua Ratna sangat terkejut. Sebab putrinya tak pernah menceritakan tentang dirinya.
Tapi Alvin terus meyakinkan orang tua Ratna hingga akhirnya pun mereka mulai merestui hubungan keduanya.
"Ratna, apa benar kamu mencintai pria ini?" tanya Ayah Ratna.
Ratna pun mengangguk. Air matanya masih mengalir di kedua netranya. Seolah tak percaya dengan kedatangan Alvin saat ini.
"Aku mencintai Alvin ayah, sangat mencintainya." ujar Ratna sembari mengusap air matanya.
"Kalau memang kalian saling mencintai maka ayah bisa apa? Ayah hanya ingin kebahagiaanmu nak." ujar Ayah Ratna tampak pasrah.
Tak dipungkiri setelah kejadian pernikahan Ratna yang gagal kemarin keluarganya masih tampak syok.
Mereka harus menghadapi hujatan para tamu undangan serta lingkungan sekitarnya.
__ADS_1
"kalau memang keduanya berkenan maka sebaiknya segera kita nikahkan saja. Itu akan lebih baik, bagaimana Alvin? Ratna?" ujar Aryo.
"Alvin nurut saja bagaimana baiknya." ujar Alvin. Ratna pun mengangguk.
"Baiklah bagaimana jika minggu depan." ujar Aryo.
"Minggu depan? Tapi apakah tidak terlalu cepat untuk persiapannya?" ujar orang tua Ratna.
"Anda tidak perlu mencemaskan persiapannya. Saya yang akan mempersiapkan semuanya. Sebutkan saja bagaimana konsep yang diinginkan." ujar Aryo dengan tenang.
Kasih yang sejak tadi memperhatikan mereka pun ikut senang. Setelah semua pembahasan pernikahan Alvin dan Ratna berjalan lancar mereka akan tinggal selama seminggu sampai pernikahan mereka berlangsung. Bahkan kedua orang tua Ratna meminta Alvin beserta keluarganya menginap di kediamannya. Mereka ingin saling mengenal lebih jauh sebelum sah menjadi menantunya. Sejenak Kasih terhanyut dalam pikirannya. Lagi-lagi tentang Arga. Tentang rencana mereka berdua yang sudah dirancang jauh-jauh hari.
Akankah dia bisa mewujudkan segala impian yang telah mereka rajut bersama.
Kini Kasih hanya bisa merenung di teras rumah Ratna sambil pikirannya yang menerawang jauh.
"Kasih, kamu baik-baik saja?" Ratna seolah tahu bahwa ada sesuatu yang dipendam Kasih.
Kasih menoleh dan memandang Ratna. Entah kenapa saat melihat Ratna rasanya Kasih ingin menangis saja. Mengingat dirinya cukup dekat dengan Ratna, mereka selalu berbagi cerita satu sama lain.
Akhirnya tangsi Kasih pun pecah. Ratna segera memeluk Kasih dan membawanya ke kamar.
"Kasih, ceritakan apa yang terjadi." ujar Ratna sembari mengusap lembut kepala Kasih.
"A-aku.. Mas Arga.. Aku hamil.." sambil terisak Kasih berusaha mengatakannya.
"Kasih, kamu hamil? Lalu Pak Arga tahu?" tanya Ratna. Dia terkejut tapi berusaha tetap tenang.
Kasih hanya menggeleng. "Dia tak ada kabar selama dua minggu ini." ujar Kasih.
Kemudian Kasih menceritakan semua awal masalahnya. Saat kejadian di racun tersebut. Hingga dia rak sadarkan diri sampai saat itu Arga seolah tak pernah muncul sama sekali.
"Sudah minta tolong kepada kakakmu?" tanya Ratna lagi.
"Kakak hanya menurut kepada Papa. Aku benar-benar bingung. Sebenarnya Mas Arga itu memang ingin menghindari aku atau ada hal lain. Aku bahkan tak bisa menghubunginya." ujar Kasih.
...****************...
Arga terus termenung memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi jingga. Menunggu kapan datangnya harapan.
Dia terus berpikir bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Kasih. Sudah berkali-kali dia mencoba untuk menerobos kediaman Aryo namun sama sekali tak ada celah untuknya bertemu.
Bahkan kini Aryo semakin memperketat keamanannya. Ponsel Kasih tak bisa dihubungi dan Alvin pun sulit sekali dihubungi.
Dia begitu merindukan pujaan hatinya. Hatinya terasa kosong dan sepi. Dunianya seolah tak bisa bergerak tanpa adanya sosok Kasih di sampingnya.
Kenapa lagi-lagi mereka harus mendapatkan ujian. Arga hanya ingin bahagia bersama Kasih. Tapi dia tahu tak ada kata menyerah untuk ini. Arga pasti bisa melewatinya. Dia pasti bisa bertemu dengan Kasih kembali.
__ADS_1
...****************...