
Ratna berdiam diri cukup lama di toilet. Dia menatap wajahnya sendiri di cermin wastafel sambil membayangkan wajah-wajah wanita tadi.
Ada perasaan kesal juga cemburu saat Alvin di dekati banyak wanita begitu. Belum apa-apa perasaan Ratna sudah campur aduk begini.
Bagaimana jika dia benar-benar menempatkan perasaannya kepada Alvin? Bisa-bisa makan hati terus setiap hari melihat pria itu selalu dikelilingi wanita cantik.
Sementara Alvin yang menunggu Ratna cukup lama. Akhirnya dia mencoba untuk menghubungi Ratna. Dan benar saja tak berselang lama akhirnya wanita itu datang.
"Kenapa lama sekali? Ada masalah ya?" tanya Alvin hati-hati.
"lagi males aja sama temen lo tadi. Berisik banget." jawab Ratna ketus.
"Mereka udah pergi kok, Ratna jangan marah ya, please" Alvin meraih tangan Ratna kemudian mengecupnya lembut.
Sontak saja Ratna langsung terkejut dan hampir memekik.
"Eh, ini tempat umum Vin, jangan aneh-aneh deh lo" protes Ratna.
Apa-apaan ini? Sikap Alvin itu benar-benar membuat Ratna salah tingkah sendiri. Sikap manis pria itu bahkan sudah menjadi candu untuknya. Ratna harus benar-benar membentengi hati agar tak terbawa perasaan terhadap Alvin.
Akhirnya Alvin dan Ratna pun kembali ke kantor karena pekerjaan masih menumpuk.
Mereka berpisah di basemen namun sebelum itu Alvin menahan Ratna sejenak.
"Nanti malam menginap di tempatku ya" ucap Alvin sambil mengecup pipi Ratna.
"Nggak bisa, kerjaan gue banyak di rumah" tolak Ratna.
"Yaudah kalau begitu gue yang ke tempat lo, sekalian gue bantu kerjaan lo" ucap Alvin lagi.
Ratna pun berdecak, kali ini sikap Alvin entah kenapa membuatnya kesal.
"Udah deh Vin, lo pergi aja party sama temen-temen lo itu." Ratna beranjak pergi dari mobil Alvin tanpa menoleh sedikitpun.
Entah kenapa penolakan dari Ratna membuat Alvin merasa kecewa. Padahal sebelumnya dia yang selalu menolak para wanita, namun dengan Ratna kenapa rasanya se kesal ini.
...****************...
Seperti biasa, Arga selalu mengunjungi Wijaya dan melihat keadaannya. Meski sejak kejadian itu baik Arga maupun Wijaya sama-sama lebih banyak diam.
__ADS_1
Wijaya masih saja kekeuh untuk meminta Arga meninggalkan Kasih, sementara Arga justru semakin melangkahkan hubungannya ke jenjang yang lebih jauh.
Malam ini keduanya tampak menikmati makan malam di kediaman Wijaya. Ruang makan dengan meja cukup besar itu hanya diisi oleh dua orang pria. Pun tempat mereka duduk sangat berjauhan.
Wijaya tampak cuek menikmati makanannya. Begitupun juga Arga.
"Pa, ada yang ingin Arga sampaikan kepada Papa" Arga mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Ada apa? Kamu sudah pisah dengan wanita itu?" jawab Wijaya.
Arga meletakkan sendok yang sejak tadi di pegangnya. Kemudian meletakkan tangannya di atas meja.
"Aku sudah melamar Kasih Pa, sekarang dia resmi menjadi tunanganku." jawab Aega datar tapi dengan sorot mata mengintimidasinya.
Wijaya yang mulanya duduk santai langsung menegakkan tubuhnya seketika sambil melototkan kedua netranya.
"Apa? Tunangan? Nggak bisa Arga, Papa nggak akan setuju dengan hubungan kalian." suara Wijaya yang meninggi langsung menggema di setiap sudut ruangan itu.
"Terserah Papa mau merestuiku atau tidak. Aku akan tetap menikahi Kasih." untuk pertama kali dalam hidupnya Arga bersitegang dengan papanya.
"Kamu membangkang sekarang sama Papa?" Wijaya tampak emosi dan langsung berdiri sambil menatap tajam Arga.
"Pa, selama ini aku selalu menurut dengan Papa, aku selalu melakukan apa yang Papa minta. Sampai aku harus menerima perjodohan sialan itu juga demi papa. Tolong sekali ini saja biarkan aku bahagia dengan pilihanku sendiri Pa. Kan papa bilang terserah padaku sekarang?" protes Arga.
"Tapi kenapa harus Kasih? Apa tidak ada wanita lain diluar sana?" protes Wijaya lagi.
Kali ini Arga mendekati Papanya. Dia menundukkan tubuhnya hingga bersimpuh di kaki Wijaya.
"Pa, Ku mohon beri kesempatan untukku. Aku sangat menyayangi Papa tapi aku juga mencintai Kasih, hanya dia yang bisa membuatku nyaman dan bahagia. Beri kesempatan untukku menunjukkan bahwa Kasih adalah pilihan yang terbaik. Kami akan baik-baik saja." Arga memegang kedua kaki Wijaya dan menolak permintaan Wijaya untuk berdiri.
Tanpa sadar air mata Arga keluar dari netranya. Dia sangat berharap bahwa Wijaya mau merestui dirinya.
Wijaya yang melihat Arga menangis di kakinya tentu saja ikut merasa sesak.
"Bangun Arga, bagaimana Papa bisa bicara jika kamu tak mau menatap Papa" ujar Wijaya.
Akhirnya Arga pun beranjak bangun. Dia menatap Papanya dengan sendu. Matanya tampak memerah dengan bulu mata yang masih basah.
"Kenapa kamu lakukan ini nak? Papa hanya tidak ingin nasibmu seperti Papa. Papa ingin kamu selalu bahagia Arga." Wijaya mengusap lembut kepala Arga.
__ADS_1
"Pa, aku akan buktikan kalau aku akan bahagia. Asalkan Papa merestui hubungan kami." mohon Arga.
Wijaya menghela nafas Kasar. "Apa kamu benar-benar sangat mencintai Kasih?" tanya Wijaya memastikan.
Aega pun mengangguk dengan penuh kemantapan.
"Iya Pa, aku sangat mencintainya." ucap Arga.
Wijaya pun mengangguk pelan. Ada senyum simpul di sudut bibirnya.
"Baiklah, papa akan merestui hubungan kalian. Tapi jika sampai terjadi sesuatu denganmu maka Papa tak akan tinggal diam" ujar Wijaya.
Arga yang mendengar ucapan Wijaya menjadi sangat bahagia. Sempat tak percaya namun setelah melihat lengkung senyum Wijaya membuatnya yakin. Aega langsung memeluk erat Wijaya dan tak henti-hentinya mengucap terima kasih.
"Besok aku akan bawa Kasih kesini ketemu Papa. Biar papa bisa kenal lebih dekat dengannya. Sekali lagi terima kasih ya Pa" ucap Arga masih memeluk Wijaya.
Meski masih ada keraguan di benak Wijaya namun Arga mengerti dan bertekad untuk menunjukkan bahwa Dia dan Kasih bisa menjadi pasangan yang seperti diharapkan Papanya.
...****************...
Sejak tadi Alvin di buat gelisah sendiri. Setelah makan siang tadi Ratna sangat sulit di hubungi. Dia terus mondar-mandir di balkon membuat Kasih merasa heran.
"Kakak kenapa sih? Kelihatannya gelisah banget." tanya Kasih sambil memberikan secangkir kopi kepada Alvin.
"Nggak papa Kasih, cuma heran aja dari tadi Ratna sulit banget dihubungi. Sejak siang tadi." Alvin mengerang sebal.
"Memangnya kakak buat kesalahan sama mbak Ratna?" tanya Kasih lagi.
Akhirnya Alvin menceritakan kejadian saat makan siang tadi. Kasih pun langsung paham dan menarik kesimpulan.
"Berarti Mbak Ratna itu cemburu. Masak Kakak nggak peka sih?" ujar Kasih.
"lah, tapi di antara kita kan nggak ada status hubungan apapun. Kenapa dia harus cemburu padaku?" elak Alvin.
"Memangnya cemburu harus mempunyai status dulu? Ini masalah hati kak. Kalau mbak Ratna nggak ada perasaan apapun nggak mungkin dia mau pergi sama kakak. Aku lihat sendiri gimana tatapan dia sama Kakak."
Mendengar ucapan Kasih perlahan membuat Alvin mulai menyadari. Ratna memang sosok yang introvert dan jarang mau berinteraksi dengan banyak orang, namun dengan Alvin selalu terbuka. Bahkan dia dengan suka rela memberikan kesuciannya untuk Alvin.
"Apa kak Alvin tak pernah memiliki perasaan untuknya?" ucapan Kasih tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"aku.. Aku tidak tahu Kasih. Tapi aku takut jika aku memulai hubungan dengannya akan menyakiti dirinya." gumam Alvin.
Kasih melihat ekspresi kegundahan yang ada pada diri Alvin. Trauma masa kecilnya membuat Alvin merasa tak percaya diri dalam menjalin hubungan serius. Dia begitu takut akan kepergian orang-orang yang dia cintai dan Alvin tak mau itu terulang kembali.