
Nova hanya bisa diam mematung sembari meremas tangan Jody. Benar-benar tak disangka dirinya bertemu dengan Ratna, kakak sepupunya sendiri.
"Aku akan menikahi Nova." ucapan Jody seketika membuat semua orang terkejut.
Tak terkecuali Nova yang semakin meremas tangan Jody. Wajahnya sudah pucat pasi membayangkan reaksi Ratna. Nova hanya bisa menunduk pasrah.
"hah? Nikah sama Nova? Kamu sudah yakin Jody?" tanya Ratna tak percaya.
"iya lah, buktinya dia bersamaku sekarang." ujar Jody santai.
Tak disangka Ratna langsung tertawa. Tak Menyangka Jody menjatuhkan pilihannya kepada Nova.
"ah, lega sekali aku. Akhirnya nggak capek-capek buat nyariin calon istri buat kamu Jody." ucap Ratna tanpa beban.
"Calon istri? Mbak Ratna nggak marah?" Nova pun masih tak mengerti.
"Kenapa marah Nova sayang? Justru aku senang kalau kalian sampai jadi menikah. Dengan begini bebanku sedikit berkurang. Udah pusing ini mikir siapa yang cocok buat calon istrinya Jody." ujar Ratna dengan perasaan senangnya.
Tampak Jody juga tak menunjukkan rasa kesal ataupun kecewa.
Entah apa yang sedang mereka rencanakan Nova benar-benar tidak mengerti.
"Tapi masalahnya aku belum bicara kepada orang tua Nova. Ratna untuk ini bisa bantu aku kan?" ucap Jody.
"it's okay, serahkan itu padaku. Aku akan bicara kepada tante pasti mereka setuju." jawab Ratna.
Tampak senyum terulas di wajah Jody. Nova yang memperhatikan pria itu pun sempat tertegun sejenak. Kenapa ada pria setampan ini?
Karena semuanya berkumpul akhirnya mereka melakukan Dinner bersama dalam datu meja.
Di situ pula akhirnya Nova mengetahui Arga, pria yang telah membuat Kasih jatuh hati setiap hari.
"Mbak Kasih dan Mas Arga kelihatan sangat serasi ya." puji Nova.
"Terus aku sama Alvin nggak serasi gitu?" protes Ratna, yang sebenarnya hanya sebagai candaan untuk mencairkan suasana.
"iya-iya si paling pengantin baru." cibir Nova.
__ADS_1
Mereka pun larut dalam suasana canda tawa. Terkadang beberapa kali ada obrolan yang lebih serius juga.
Jody mengutarakan niatannya untuk segera menikahi Nova setelah itu akan memboyongnya ke Jakarta untuk kuliah juga.
"Wah seneng banget kalau Nova pindah ke Jakarta. Jadi kita bisa sering ketemuan. Eh, tapi kalau boleh sih sama Kak Jody nya." celetuk Kasih.
Jody pun langsung tersenyum seraya memandangi Nova yang sejak tadi masih merasa malu-malu.
"Aku tidak akan membatasi Nova selagi itu buat dia senang." ucap Jody dengan senyum lembutnya.
"Tuh kan Nova, udah gass aja. Jody itu baik banget kok. Kalian akan serasi." puji Ratna.
"Kalau kak Jody baik kenapa mbak Ratna nolak Kak Jody?" tiba-tiba pertanyaan Nova itu membuat mereka sedikit diam.
Sadar akan suasana yang mulai canggung Arga yang sejak tadi hanya memperhatikan pun ikut ambil alih.
"ya karena Ratna udah kebelet bucin sama Alvin. Tapi kasian juga sih ntar Jody kena semprot terus sama Nyai. Biar Alvin aja jadi tumbalnya." celetuk Arga.
Seketika semua orang terkekeh. Ratna hanya bisa nyengir tanpa Arti. Andai saja Arga bukan mantan Bosnya pasti dia akan menggapraknya.
Tak terasa waktu sudah semakin larut. Kasih juga mulai merasa tidak nyaman. Bawaan hamil muda membuatnya gampang merasa lelah.
Mereka berjalan beriringan dengan masing-masing pasangannya. Tampak Kasih paling lengket sejak tadi. Maklum dirinya begitu merindukan Arga.
"Sayang, kamu pulang dulu sama Alvin ya. Besok pagi kita ketemu lagi, mas mau balik ke hotel dulu." Arga mengecup kening Kasih. Meski terasa berat meninggalkan Kasih namun Arga tak mau menambah masalah.
Kasih pun menyetujuinya. Dia beranjak ke mobil Alvin. Sembari melihat pria pujaan hatinya itu menaiki taksi.
"Kakak sengaja ya tadi buat ngasih kejutan?" ucap Kasih dengan wajah berseri-seri.
"Ya itu sebenarnya udah direncana dari beberapa hari yang lalu. Nunggu Papa balik. Habis Kakak sebel lihat wajah kamu yang terus-terusan kayak amplop kusut gitu." jawab Alvin.
"ish, muka cantik gini kok disamain amplop." protes Kasih. Tapi meski begitu Kasih tetap menyatakan terimakasih kepada Alvin karena sudah mendukung hubungannya dengan Arga.
Sementara di mobil Jody kini ada Nova disampingnya. Dia masih berpikir keras kenapa Ratna begitu santai menanggapi hubungan dirinya dengan Jody.
"Mikirin apa Nova?" suara Jody perlahan membuyarkan lamunan Nova.
__ADS_1
"Eh, enggak kok Kak, cuman heran aja sama sikap Mbak Ratna. Kok dia nggak marah sama sekali ya?" ucap Nova.
"Kamu mau tahu ceritanya?" ucap Jody.
Nova pun mengangguk. Dia harus segera tahu daripada terus dihantui rasa penasaran begini.
Jody pun menepikan mobilnya. Dia mulai menceritakan secara detail bagaimana hubungan Ratna yang sebenarnya.
Nova memperhatikan betul cerita Jody. Dia juga sempat kaget saat Jody mengetahui hubungan Alvin dengan Ratna. Nova pun teringat saat dia menemui Jody untuk pertama kalinya.
Pria itu sedang mabuk dan menangis. Mengatakan jika Ratna mengkhianatinya.
"K-kak Jody nggak marah sama mbak Ratna?" tanya Nova setelah Jody bercerita.
"awalnya marah, juga kecewa. Tapi itu semua nggak ada gunanya. Toh memaksakan kehendak juga tidak baik. Melihat Ratna kini tampak bahagia bersama Alvin aja aku sudah lega. Belum tentu dia akan sebahagia itu jika menikah denganku." ujar Jody.
Entah kenapa mendengar penuturan Jody membuat hati Nova terenyuh. Tanpa sadar tangannya kini meraih tangan Jody. Mengusapnya lembut seolah ingin memberi ketenangan untuk pria itu.
"Kaka Jody sudah memberikan yang terbaik. Aku yakin akan ada kebahagiaan lain yang menunggu kakak suatu saat nanti." ujar Nova lembut.
Jody menatap wajah Nova. Gadis itu rupanya menjadi semakin cantik. Apalagi dengan tutur kata dan sikapnya yang lembut membuat Jody mulai tersentuh.
"Kalau kamu sendiri, apa siap jika menikah denganku Nova? Aku harus kembali memastikannya agar tidak ada lagi alasan meninggalkan altar pernikahanku." ujar Jody dengan sorot mata yang dalam.
Nova pun mengangguk. Dia membalas tatapan Jody. Entah kenapa melihat Jody membuatnya yakin. Di usianya yang masih sangat muda dirinya akan membina rumah tangga dengan seorang pria yang usianya terpaut sebelas tahun dengannya.
"Aku siap Kak, mungkin tak ada pilihan lain. Tapi saat ini memang tidak ada pria yang dekat denganku. Jadi Kak Jody tak perlu khawatir." ucap Nova dengan senyum manis terulas di wajahnya.
Jody semakin terpana. Seolah terhipnotis dengan senyuman Nova yang beberapa hari ini mulai merasuki pikirannya.
Jody mendekatkan wajahnya kepada Nova. Dibelainya pipi mulus gadis itu. Tatapan mereka saling beradu seolah ingin melakukan sesuatu yang lebih.
"Nova, aku janji aku akan membahagiakanmu. Jadilah istriku, lahirkan anak untukku. Karena aku sudah menitipkan benihku padamu." ucapan Jody seolah menjadi sebuah peringatan. Jantung Nova berdebar kencang saat Jody membahas soal anak. Dia akan terus mengingat hubungannya dengan Jody adalah karena kecelakaan itu. Jody menginginkan Nova hanya karena benih dalam rahimnya.
Hati Nova terasa miris namun dia juga tak bisa berbuat banyak. Itulah kenyataannya.
Namun lamunan itu seketika buyar saat Jody sudah menempelkan bibirnya untuk memagut bibir Nova.
__ADS_1
...****************...