
Flashback:
Kebakaran besar menghanguskan sebuah rumah beserta isinya hingga tak tersisa. Bahkan salah satu anggota keluarga pemilik rumah tersebut ikut menjadi korban.
Hanya tersisa seorang anak laki - laki berumur lima tahun serta bayi perempuan yang masih berumur empat bulan selamat dari kebakaran tersebut. Karena ayahnya yang berhasil menyelamatkannya.
Namun naas sang ibu tak terselamatkan dalam kebakaran tersebut.
Dengan sisa-sisa perasaan yang terkuras karena dilanda duka. Sang ayah berusaha menghidupi dan merawat kedua anaknya.
Satu bulan berlalu kesehatan pria tersebut semakin memburuk. Pada akhirnya dia meninggal karena sakit jantung yang diderita.
Duka mendalam harus dialami oleh Alvin kecil. Yang masih berusia lima tahun kini menjadi anak yatim piatu. Hanya sang adik yang masih bayi menjadi satu-satunya keluarga yang dimiliki.
Karena tak memiliki kerabat lain maka Alvin dan adiknya yang bayi terpaksa di kirim ke panti asuhan karena tidak ada yang mengurus.
Alvin bertekad untuk selalu bersama adiknya namun saat itu sang adik yang masih bayi langsung diadopsi oleh orang lain.
Sejak saat itu Alvin tak pernah lagi melihat dan mengetahui keberadaan sang adik serta dirinya yang juga diadopsi oleh seorang pasangan suami istri berasal dari Surabaya.
Hanya sebuah foto saudaranya yang masih bayi itu menjadi kenangan terakhir. Masih tersimpan baik hingga sekarang.
...****************...
Alvin masih merenung sembari memandangi foto bayi saudaranya itu. Kejadian yang dia lihat kemarin benar-benar mengusik hatinya.
Ingin sekali dia mengorek informasi langsung dari Kasih. Dan juga membuktikan bahwa Kasih adalah saudaranya yang selama ini dia cari.
Kepalanya terlalu pening memikirkan hal ini. Hatinya terasa pilu tatkala mengingat kejadian di masa lalu.
Beruntung Alvin selama ini dibesarkan oleh orang tua angkat yang sangat menyayanginya. Bahkan memberi fasilitas dan pendidikan yang sangat baik.
Kasih sayang yang diberikan perlahan memulihkan hatinya yang dirundung duka karena kehilangan keluarganya.
Bahkan Kedua orang tua angkatnya rela ditinggal jauh oleh Alvin guna bekerja sembari mencari saudara kandungnya yang hilang.
Alvin menatap foto kedua orang tua angkatnya yang terpajang di atas nakasnya. Foto itu diambil ketika Alvin wisuda.
"Sudah lama aku tidak menjenguk kalian. Aku merindukanmu" gumam Alvin.
Ingin sekali Alvin pulang ke Surabaya, tapi dia masih ingin mengetahui bahwa Kasih benar-benar saudaranya atau bukan.
Untuk itu langkah pertama yang harus dia ambil adalah berkonsultasi dengan Arga. Karena bagaimanapun Arga sudah seperti keluarga baginya. Selama ini pula Arga selalu membantu Alvin.
"Pak, bisa kita bertemu sore ini jika tidak sibuk? Ada yang ingin ku sampaikan" pesan itu Alvin kirim kepada Arga.
Sementara Arga saat ini sedang makan siang bersama papanya dan Felicia. Dia sama sekali tidak merasa nyaman karena Felicia terus menunjukkan sikap sok baik ya di depan Wijaya. Serta papanya yang mulai terpengaruh terus mendesak Arga agar kembali bersama Felicia.
Mendapat pesan dari Alvin membuatnya mendapat ide.
__ADS_1
"Kita bertemu sekarang saja. Kau dimana? Cepat telepon aku. Aku harus segera menghindari Papa dan Felicia sekarang." balasan pesan Arga kepada Alvin.
Alvin pun segera mengerti. Dia segera menelepon Arga.
"Pa, maaf aku harus mengangkat telepon. Ini sangat penting" ucap Arga.
Arga pun menghindari meja itu dan berbicara kepada Alvin.
"Ada apa Vin? Kau dimana sekarang?" tanya Arga melalui sambungan teleponnya.
"Saya masih di apartemen Pak" jawab Alvin.
"Baiklah, tunggu di situ aku akan menghampirimu" Arga langsung menutup teleponnya.
Dia berjalan mendekati Wijaya dan Felicia.
"Pa, maaf aku ada urusan mendadak. Jadi aku harus segera pergi" Arga langsung menjabat tangan berpamitan kepada Papanya. Dia sama sekali tak menoleh ke arah Felicia.
Dia begitu lega akhirnya bisa menghindari wanita penjilat itu. Sebenarnya Arga hendak mengurus perceraiannya namun papanya terus meminta Arga memikirkannya lagi. Felicia terlalu baik di mata Wijaya karena dia belum tahu perbuatan busuknya.
Arga sendiri belum tega membeberkan aib Felicia karena kesehatan papanya yang masih belum stabil.
Setelah menyetir beberapa saat kemudian Arga sampai di apartemen Alvin. Dia langsung memencet bel pintunya.
Alvin segera membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Arga untuk masuk.
Arga menyadari perubahan Alvin. Sepertinya pria itu benar-benar sedang mengalami masalah.
"Ada apa Vin? Katanya mau ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Arga sembari mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Begini, ini soal saudara kandungku Pak?" ucap Alvin sembari menyuguhkan sebotol minuman dingin ke meja Arga.
"Kenapa? Dia sudah ketemu?" tanya Arga antusias.
Alvin hanya menunduk. Dia meremas botol minumannya.
"Sepertinya Kasih adalah saudaraku" ucap Alvin memberanikan diri.
"Apa? Bagaimana bisa?" Arga terkejut.
Akhirnya Alvin menceritakan apa yang dia lihat kemarin secara mendetail. Awalnya dia ragu namun dia percaya bahwa Arga akan percaya kepada dirinya.
Lalu Alvin menyodorkan sebuah foto bayi dengan punggung yang memiliki tanda lahir sama persis dengan milik Kasih.
"Lihatlah Pak, tanda lahir ini sama persis kan seperti milik Kasih?" Alvin menunjukkan foto itu.
"i-iya.. Benar, ini sangat mirip" Arga sangat terkejut.
"Dan juga selisih usiaku dengan Kasih sama dengan saudaraku" Alvin menjelaskan.
__ADS_1
Arga terdiam sejenak. Dia berusaha mencerna apa yang dijelaskan oleh Alvin.
"Baiklah, jika itu keyakinanmu. Aku akan bantu bicara pelan-pelan kepada Kasih. Semoga dia mau mengerti" Arga mencoba untuk membantu Alvin.
Namun tampaknya kecemasan Alvin masih saja belum mereda. Dia takut Kasih tidak mau menerimanya.
Meski begitu Alvin harus tetap mencoba untuk tegar. Apapun hasilnya nanti dia harus terima.
...****************...
Akhirnya Arga mencoba untuk berbicara dengan Kasih, dia menjelaskan dengan pelan-pelan agar dia tidak terkejut.
"Kasih, boleh saya tanya?" Arga membuka percakapan.
"Boleh, kenapa Mas?" jawab Kasih.
"Dulu sebelum kamu di adopsi oleh orang tua angkatmu apakah tahu tinggal di panti asuhan mana?"
"Ayahku bilang dulu aku diadopsi karena temannya yang baru saja mengambilku dari panti asuhan meninggal dunia. Jadi aku tidak tahu pasti dimana. Kenapa mas?" Kasih menjadi penasaran kenapa Arga tiba-tiba bertanya tentang asalnya.
Arga mengulas senyum tipis. Kemudian pria itu meraih tangan Kasih dan menggenggamnya erat. Hal itu semakin membuat Arga semakin penasaran.
"Aku ingin memastikan saja, aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya" ucap Arga.
Kemudian Arga mengeluarkan foto bayi yang diberikan oleh Alvin. Dia memberikan kepada Kasih.
"Lihatlah, apa kamu mengenalinya?"
Kasih menerima foto itu dan memperhatikannya.
"Mas, i-ini.. Kenapa seperti fotoku saat kecil. Mirip sekali"
Kasih mengingat sesuatu. Dia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah foto yang pernah dia posting di sosial media miliknya.
Lalu mendampingkan foto tersebut.
"Kasih, ini sungguh mirip dengan foto masa kecilmu." Arga terkejut melihatnya.
"Dan tanda lahir di punggung bayi ini mirip sekali dengan punyaku. Mas dapatkan foto ini dari mana?" Kasih mulai meyakini bahwa foto itu adalah potret dirinya yan masih bayi.
"Alvin, ini adalah foto saudara Alvin yang dia cari selama ini"
Kasih sangat terkejut mendengar penjelasan Arga. Sebab selama ini dia tak pernah sekalipun kepikiran tentang saudara kandungnya.
"Ja-jadi, kemungkinan Kak Alvin itu saudara kandungku?"
Arga pun mengangguk. Kasih langsung memeluk Arga, dia tak tahu harus bagaimana. Namun Air matanya tak lagi bisa dia bendung. Ada perasaan entah sulit sekali digambarkan.
Jika memang benar Alvin adalah saudara kandungnya maka Kasih akan sangat bahagia.
__ADS_1