Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 111 malam tak terduga


__ADS_3

Nova terdiam saat melihat Kasih yang tampak begitu menyayangi janin di dalam perutnya. Meski dirinya sering merasa lemas namun Kasih masih saja merasa bahagia dengan kehamilannya.


Mungkin hal itu karena Kasih melakukannya bersama orang yang dicintainya. Tapi apakah mungkin jika wanita hamil dengan seseorang yang sama sekali tidak ada hubungan bahkan perasaan satu sama lain akan mendapatkan perlakuan yang sama. Nova jadi pusing sendiri memikirkannya.


Saat sedang melamun tiba-tiba Kasih menggoyangkan lengan Nova hingga gadis itu menjadi terkesiap.


"Nova, kamu kenapa?" tanya Kasih penasaran.


"Eh, emm enggak apa-apa mbak." Nova tersenyum singkat.


Tiba-tiba ponsel Nova kembali berbunyi. Ada pesan masuk kembali di ponselnya.


Nova membaca pesan itu. Dia langsung terdiam dengan tatapan yang tampak begitu bingung.


"Mbak Kasih bisa bantu saya nggak?" tanya Nova ragu-ragu.


"Iya ada apa Nova?" jawab Kasih.


"Mbak aku ada urusan penting sekarang. Tolong mbak Kasih nanti kalau ada yang nyariin aku. Terutama Mama dan Mbak Ratna bilang aja aku ketiduran di kamar mbak ya." ujar Nova.


"Tapi kamu mau kemana?" tanya Kasih.


"Ini menyangkut masa depan aku mbak. Aku belum bisa cerita sekarang tapi ini sangat penting buat aku." ujar Nova dengan penuh permohonan.


Akhirnya Kasih pun menyanggupinya. "Tapi janji ya kamu harus hati-hati. Dan jangan aneh-aneh nanti aku kena marah orang-orang." ujar Kasih.


"iya mbak siap." ucap Nova.


Kemudian Nova keluar kamar Kasih. Dia berganti pakaian lebih santai dan pergi melalui pintu belakang.


Beruntung tak ada seorangpun yang melihatnya sebab hari itu sudah semakin gelap.


Nova akhirnya sampai juga di jalan. Dia membuka ponselnya dan menelpon seseorang.


"Kak aku sudah di jalan. Kakak di mana?" ucap Nova.


Tak lama kemudian sebuah mobil mewah berwarna hitam menghampirinya. Nova melihat ke segala arah memastikan tidak ada seseorang yang melihatnya. Kemudian dia baru masuk ke dalam mobil tersebut.


Nova menghempaskan tubuhnya di jok mobil yang empuk tersebut. Namun saat menatap pria yang tengah duduk di kemudi itu membuatnya semakin gemetar.


Dia teringat akan kejadian malam itu yang benar-benar tak terduga.


"Nova, maaf ya harus menemuimu dengan cara seperti ini. Saya nggak enak jika harus bertemu di acara pernikahan Ratna." ujar pria itu.


"i-iya kak, nggak papa kok." ujar Nova.


"Ya sudah kita berangkat ya."

__ADS_1


Akhirnya mobil itu pun melesat pergi menjauhi tempat itu. Nova hanya bisa pasrah menuruti pria itu kemana saja.


Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah hotel. Nova yang sebenarnya merasa gugup sekaligus canggung terpaksa mengikuti setiap langkah pria itu. Mereka langsung memasuki lobi dan berjalan menuju lift. Tepat di hotel yang sama. Mungkin tetap kamar yang sama.


"Kamu sudah makan Nova? Atau kita cari makan dulu baru ngobrol?" tanya pria itu.


"K-kita langsung ngobrol saja kak. Waktuku nggak banyak." ujar Nova gugup.


Sedari tadi Nova tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Dia sangat gelisah apalagi harus berada di hotel yang sama. Hatinya masih berdebar saat mengingat malam yang tak terlupakan dalam hidupnya itu.


Nova langsung ikut masuk ke sebuah kamar suite terbaik di hotel tersebut. Kamar yang begitu luas dan mewah dengan pemandangan kota yang terlihat dari tembok kaca yang membentang besar.


Hatinya terasa diremas saat melihat interior ruangan itu. Apalagi saat melihat ranjang king size yang bertengger di tengah ruangan itu.


Nova teringat pergumulan panas dirinya yang sungguh, tak akan terpikirkan akan terjadi hal itu.


"Nova." suara panggilan pria itu langsung membuatnya terkesiap.


"eh, iya Kak Jody." jawab Nova dengan nada kagetnya.


"Maaf ya Nova, atas kejadian yang lalu. Sungguh saya minta maaf. Tapi tenang saja aku akan bertanggung jawab." pria itu adalah Jody. Yang tak lain merupakan mantan calon suami kakak sepupunya sendiri.


Nova menundukkan kepalanya. Hatinya bergemuruh hebat apalagi saat mengingat malam itu.


"Kak, aku takut. Sungguh aku sangat takut. Bagaimana kalau aku hamil?" air mata meleleh dari sudut netra Nova.


"Tapi bagaimana dengan kuliahku? Aku baru saja masuk kuliah juga dengan orang tuaku. Apa mereka akan setuju?" Nova menjawab dengan ragu-ragu.


Jody mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian dia duduk mendekati Nova. Dia meraih tangan nova dan menggenggamnya.


"Nova kamu jangan khawatir ya. Aku akan bicara dengan orang tua kamu. Kamu juga akan tetap kuliah. Apapun yang kamu inginkan lakukan saja. Aku akan tetap mendukung kamu. Jangan buat semua ini menjadi beban berat." Jody berusaha meyakinkan Nova.


Mendengar penuturan Jody perlahan Nova mengangkat wajahnya. Dia menatap pria yang ada di depannya yang tampak tersenyum manis. Meski dia tahu ada perasaan tertahan di balik senyumannya.


Perlahan Jody mengusap air mata yang mengalir di wajah Nova. Gadis berusia dua puluh tahun itu tak menyangka jika akhirnya dia akan menikah dengan Jody. Yang usianya terpaut sepuluh tahun dengannya.


Nova berpikir setidaknya Jody masih mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meski dia tak yakin dalam pernikahan mereka nanti akan tumbuh cinta di antara keduanya atau hanya pernikahan hampa tanpa cinta.


...****************...


Hari itu setelah Ratna gagal menikah ada insiden yang begitu mengejutkan untuk semua orang tak terkecuali Nova.


Dia sangat terkejut saat melihat Ratna yang hampir mengakhiri hidupnya. Sebagai saudara sepupu tentu Nova merasa kesal dan kasian terhadap Ratna. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya itu akan melakukan hal senekat itu jika tidak ada orang maka dia akan kehilangan nyawa.


Dengan emosi yang bergemuruh Nova berusaha mencari keberadaan Jody. Dia menghampiri Jody di hotel tempatnya menginap. Namun saat baru saja sampai di depan hotel dia melihat Jody yang melangkahkan kakinya dengan gontai.


Nova diam-diam mengikuti Jody hingga pria itu masuk ke salah satu kamar. Dengan tangan yang sedikit gemetar Nova mencoba mengetuk pintu itu.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari dalam. Namun saat ketukan kedua pria itu membuka pintunya.


Nova sempat terpaku sejenak menatap pria yang ada di hadapannya. Badannya yang tinggi tegap dengan tatapan sayu serta kulit putih pucatnya yang berpadu dengan wajah tampan itu.


"Siapa kamu?" tanya Jody.


"Kak Jody. Aku Nova, aku sepupu mbak Ratna." ucap Nova berusaha tenang.


Namun saat mendengar nama Ratna Jody langsung menarik tubuh Nova dan membawanya masuk kedalam kamar hotel tersebut.


Tanpa aba-aba Jody langsung memeluk tubuh mungil Nova dan menciumnya dengan brutal. Aroma Alkohol tercium kuat dari mulut Jody.


Nova berusaha meronta namun kekuatannya kalah jauh dengan Jody. Pria itu terus mencium Nova hingga gadis itu mulai kesulitan bernafas.


Jody membawa Nova ke atas ranjang. Dia mengunci tubuh Nova dengan tubuhnya. Tatapannya yang tajam menghunus membuat Nova ketakutan sendiri.


"Kak, hentikan. kenapa kakak melakukan ini? Kenapa kak Jody membatalkan pernikahan kalian? Tidakkah kakak memikirkan perasaan mbak Ratna?" tanya Nova dengan mata berkaca-kaca.


"justru yang harusnya dipikirkan utu perasaanku. Ratna tidak pernah mencintaiku. Padahal aku sudah memberikan seluruh perasaanku padanya. Dia begitu jahat. Dia menerima lamaran pria lain padahal sudah bertunangan denganku." Jody tampak mengeluarkan air mata. Terlihat sekali dari sorot matanya yang begitu kelam.


Nova terdiam dia mencoba untuk menyelami pikiran Jody.


Namun di saat dia terdiam tiba-tiba Jody menciumnya kembali. Jody bahkan tak hanya mencium bibirnya. Kini mulai menjalar di leher.


Tangan Jody yang menganggur langsung membuka pakaian Nova secara paksa.


Nova sempat meronta namun kekuatan Jody yang lebih besar membuat Nova kewalahan.


Perlahan namun pasti Jody sudah dikuasai nafsu tanpa sadar terus mencumbui Nova.


Nova terus menangis namun sialnya apa yang dirasakan tubuhnya berbanding terbalik. Diam-diam dia mulai menikmati setiap sentuhan Jody. Apalagi sejak awal Nova memang sudah mengagumi ketampanan pria itu.


Dan malam yang tak terlupakan itu benar-benar terjadi. Nova ternodai oleh Jody. Satu hal yang disesali Nova namun dia nikmati.


.


Keesokan paginya Nova merasakan tubuhnya terasa begitu remuk. bahkan sekedar bergerak saja rasanya tak mampu.


Perlahan dia membuka mata. Melihat kondisi tubuhnya yang tanpa sehelai pakaian dan kacau sekali membuat Nova menangis terisak.


Jody yang baru tersadar pun melihat dirinya juga terkejut. Keadaannya sungguh kacau. Tubuhnya yang polos terasa lengket dan bau alkohol bercampur keringat.


Dilihatnya wanita meringkuk di sebelahnya tengah menangis. Saat berusaha mencari tahu Jody sangat terkejut melihat gadis mungil yang menatapnya.


"Nova?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2