Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 69 memperjuangkannya


__ADS_3

Flashback:


Arga terhenyak ketika Wijaya mengatakan untuk meninggalkan Kasih.


"Apa maksud Papa? Kenapa aku harus meninggalkannya?" protes Arga seketika.


"Hubungan kalian ini tidak benar, kau hanya menggunakan Kasih sebagai pelampiasan karena sakit hatimu terhadap Felicia. Kamu belum sah bercerai Arga," ucap Wijaya.


"Tidak pa, aku mencintainya. Setelah resmi bercerai aku akan segera menikahi Kasih." ungkap Arga.


Wijaya menghela nafasnya dengan Kasar.


"Tapi dia seorang janda, dan asal usulnya pun tidak jelas. Dia tak dibesarkan oleh orang tuanya." ungkap wijaya.


Arga menatap tajam Wijaya. Tak menyangka Papanya akan mengatakan hal itu.


"Sejak kapan Papa jadi mempermasalahkan status seseorang. Dia jelas Pa, dia adiknya Alvin. Dan ya, soal dibesarkan orang tua kandung atau bukan itu bukan jaminan seseorang jadi baik. Papa lihat sendiri kan Felicia dibesarkan oleh orang tua kandungnya sejak kecil, tapi apa? Kelakuannya bahkan jauh dibandingkan Kasih." protes Arga.


"Tapi Arga.. Bagaimana kalau Kasih hanya memanfaatkanmu. Bagaimana kalau dia hanya mengincar hartamu?" elak Wijaya lagi.


Arga pun berdecak, heran dengan Papanya yang terus berusaha mencari kesalahan Kasih.


"Meski aku harus mengorbankan seluruh hartaku pun tak peduli, yang penting Kasih memberikan kenyamanan untukku. Alasan Papa terlalu klise, apapun itu aku akan tetap mempertahankan Kasih."


Wijaya semakin geram ketika Arga terus menolaknya. Dia tahu Arga sangat sulit ditaklukkan jika sudah bertekad begini. Persis seperti dirinya.


"Karena Kasih pernah menjadi menantu Bramantyo. Papa tidak bisa terima itu" ucap Wijaya lugas.


Arga hanya bisa terkejut sekaligus heran. Papanya terus mempermasalahkan Kasih.


"Kenapa? Papa merasa tersaingi dengan om Bramantyo? Kasih sudah berpisah jadi tidak ada lagi hubungan diantara mereka." Arga sejak tadi mencoba untuk menahan amarahnya. Apalagi keadaan Wijaya yang baru pulang dari rumah sakit.


Kemudian Wijaya beranjak dari ranjangnya. Meski dengan menahan sakit namun dia menolak dibantu Arga.


Wijaya berjalan dan mengambil foto istrinya yang terpajang di atas meja.


Dia mengusap potret wanita yang terbalut bingkai putih itu.


Kemudian Wijaya mendekap foto itu tepat di dadanya. Menyalurkan kerinduan yang telah bertumpuk didalam hatinya.


"Papa hanya tidak ingin nasibmu seperti kami nak" ucap Wijaya lirih.


Arga pun heran dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh papanya. Dia berjalan mendekati Wijaya.

__ADS_1


"Memangnya apa yang terjadi kepada kalian? Ada apa?" Arga semakin penasaran.


"Mama mu dulu adalah istri Bramantyo. Dia diceraikan dan diusir olehnya. Lalu Papa menemukan Mamamu dan akhirnya kami saling jatuh cinta. Papa pikir semua akan berjalan mulus namun rupanya Bramantyo yang licik tak pernah membiarkan kami bahagia. Bahkan dia terus mengusik kehidupan kami dan berusaha mengambil mamamu kembali. Bramantyo yang nekad terus mengejar mamamu saat itu hingga akhirnya dia mengalami kecelakaan." Wijaya akhirnya menceritakan semua yang dia alami.


"Arga, Bramantyo itu manusia picik, papa tidak ingin kamu mengalami kesulitan seperti Papa. Papa hanya ingin kamu bahagia nak" Wijaya memegang bahu Arga dan berharap putranya itu mengerti.


Ada jeda sejenak sebelum Arga menjawab pernyataan Papanya. Dia meresapi ucapan yang Wijaya lontarkan kepadanya.


"Pa, mungkin kisah Papa dan Mama hampir sepertiku dan Kasih, tapi sekali lagi, takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Justru dengan Papa menceritakan hal ini membuatku semakin termotivasi untuk memperjuangkan Kasih."


Wijaya seketika melepas tangannya dari bahu Arga. Dia kecewa sekaligus sedih dengan pendirian Arga yang nampak kokoh dan pantang menyerah ini.


"Arga.."


"Pa.. Please, akan aku buktikan bahwa aku akan bahagia dengan Kasih." ucap Arga penuh kemantapan.


"Tidak Arga, Bramantyo punya putra, dia akan melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Jangan gegabah kamu Arga."


Arga menghela nafasnya kasar. Sepertinya berdebat dengan papanya tidak akan berakhir baik. Akhirnya tanpa mengatakan apapun Arga beranjak pergi dari kamar Wijaya.


"Arga, mau kemana kamu? Arga.." Wijaya semakin sedih dengan sikap Arga. Dia hanya tidak ingin putranya terusik kehidupannya.


...****************...


"Eh.. Iya-Kasih.." Arga terkejut dengan keberadaan Kasih yang tiba-tiba saja berada di dekatnya.


Kasih mengernyitkan keningnya. Melihat Arga yang sejak tadi lebih banyak diam dan melamun.


"Mas Arga kenapa? Ada masalah ya? Maaf deh jadi bahas-bahas masalah. Tapi sejak tadi Kasih perhatiin Mas banyak ngelamun." ucap Kasih khawatir.


Arga pun menatap Kasih, menarik pinggangnya agar duduk dipangkuan Arga.


Kasih menatap wajah Arga dengan penuh khawatir. Kemudian mengusap pipi pria itu dengan tangan lembutnya.


"Mas, apa semua baik-baik saja?" tanya Kasih cemas.


Arga pun mengangguk kemudian mengangkat sudut bibirnya menjadi senyuman.


"Aku sudah resmi bercerai dengan Felicia, tadi suratnya baru keluar." ucap Arga lirih.


"Benarkah?" ucap Kasih antusias.


Arga pun menjawabnya dengan senyuman. Namun entah kenapa Arga tak terlihat bahagia. Hal itu membuat Kasih jadi dilema.

__ADS_1


"Mas kenapa? nyesel ya cerai sama mbak Feli?" tanya Kasih lagi.


"Hmm.. Ya, aku nyesel." jawabnya singkat.


Kasih terdiam. Terhenyak dengan jawaban Arga. Rupanya apa yang ada di pikiran Kasih selama ini tak sama dengan Arga. Pria itu masih mencintai Felicia.


Entah kenapa menatap Arga begini membuat matanya jadi panas, hingga tak sadar air mata pun hampir menggenangi seluruh pelupuknya.


"O-oh.." jawab Kasih dengan parau. Lalu hendak beranjak dari pangkuan Arga.


"Hey,.. Aku menyesal bukan karena perceraian ini. Tapi menyesal kenapa tidak dari dulu aku melakukannya. Jika saja kita dipertemukan lebih awal mungkin aku tak akan mengalami drama seperti ini." Arga terkekeh pelan.


Namun tidak dengan Kasih, seketika saja air mata yang sejak tadi menggenang langsung lolos membasahi pipinya.


"Hiks.. Hiks.." Kasih pun akhirnya terisak.


"Loh.. Kok nangis, sayang kamu kenapa nangis?" Arga seketika panik. Dia cepat-cepat menghapus air mata Kasih.


"Mas Arga sudah buat aku takut, aku takut Mas Arga masih menyukai mbak Feli, sedangkan aku... Hiks.." ucapan Kasih terputus akibat isakan tangisnya.


"Aku terlanjur mencintaimu. Bagaimana ini?" lanjutnya.


Arga terdiam sejenak. Melihat betapa polosnya wanita yang sedang berada di hadapannya ini. Kemudian Arga kembali tersenyum.


"Yaampun sayang, maaf.. Mas nggak bermaksud buat kamu sedih, kan cuma bercanda Kasih. Maaf ya" Arga langsung memeluk Kasih serta menciumi puncak kepalanya.


"Aku hanya mencintaimu sayang, bahkan aku sudah punya niatan untuk segera menikah denganmu." Arga sedikit tertawa membayangkan bagaimana angan-angannya menikah dengan Kasih.


Lalu Kasih beranjak dari pelukan Arga. Dia menatap Arga dengan tatapan yang tampak kesal, kemudian mencebikkan bibirnya.


"Apa mas Arga bilang? Menikahiku?" tanya Kasih.


"iya, kamu nggak mau?" jawab Arga santai.


"I-iya mau, tapi kan.. Masak Mas Arga ngomongnya gini?" Kasih bingung bagaimana mengatakannya,


"Terus gimana sayang? kamu mau aku mau udah deh beres kan?"


Kasih menghela nafas kasar, lagi-lagi Arga mengatakan begitu saja seperti saat dirinya mengajak pacaran.


Tak ada kejutan romantis. Bahkan pertanyaannya cenderung mengintimidasi.


Tak dipungkiri sifat bossy nya terbawa-bawa sampai momen seperti ini. Kadang Kasih merasa tak dibedakan antara ketika menjadi sekretaris atau pasangannya.

__ADS_1


__ADS_2