Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 80 senang dan sedih


__ADS_3

Kasih menggeliat pelan setelah terbangun dari tidur nyenyaknya. Meskipun tidurnya hanya beberapa jam karena lewat tengah malam.


Dia merasakan tangan berat yang melingkar di atas perutnya serta hembusan nafas teratur yang bertiup di lehernya.


Tampak Arga yang tidur dengan begitu tenang. Semalaman mereka tidak melakukan kegiatan panas sama sekali. Keduanya menikmati cuddle dan bercerita tentang kehidupan masa kecilnya.


Berbicara dari hati ke hati yang tampaknya sudah lama sekali tidak Arga lakukan dengan seseorang.


Kasih mendengarkan dan merespon setiap cerita Arga. Masa kecil Arga yang tinggal di luar negeri terbilang sangat bahagia.


Jauh berbeda dengan masa kecil Kasih. Dia menceritakan bagaimana sang ibu angkatnya yang sering menyuruh Kasih melakukan banyak pekerjaan. Serta tidak memberi makan saat ayah angkatnya pergi ke luar kota hingga diam-diam diberi makan oleh tetangganya.


Arga sampai berkaca-kaca mendengar cerita Kasih. Dia langsung memeluk Kasih dengan erat. Dia juga berjanji jika kelak akan mengurus anak mereka dengan baik.


Kasih pun hanya bisa terkekeh. Bagaimana bisa Arga langsung membahas anak sedangkan menikah saja mereka belum.


"Mas.. Bangun.. Udah pagi nih" gumam Kasih sambil mengusap lembut pipi pria itu.


Arga tetap diam tak merespon. Bahkan suara deru nafasnya sama sekali tak berubah.


"Udah hampir siang nih mas. Kita harus ke kantor." ucap Kasih lagi.


Arga malah semakin mempererat pelukannya. Kasih pun mulai tahu bahwa pria itu sebenarnya sudah bangun sejak tadi.


"Cium dulu baru mau bangun." gumam Arga dengan matanya yang masih terpejam. Lalu dia memonyongkan bibirnya.


Kasih merasa geli sendiri melihat tingkah Aega yang seperti anak kecil begini. Kontras sekali dengan wajah maskulin dan tegasnya.


Kasih pun menjahili Arga dengan pura-pura membalas ciuman itu dengan tangannya.


"Ah, jangan bohong. Itu bukan bibirmu sayang." Arga lantas menjahili Kasih dengan menggelitikinya.


"Akh.. Ampun jangan.. Geli mas.. Udah.." Kasih pun langsung memekik dan menggeliat tak kuasa menahan geli.


Keduanya sama-sama tertawa. Saling berciuman tak peduli akan jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


...****************...

__ADS_1


Alvin sedang termenung sambil memegangi stir mobilnya. Dia masih berdiam diri basemen apartemen itu. Memproses segala pikirannya yang kacau balau.


Kecerobohannya semalam benar-benar membuatnya jadi tak waras. Dan bodohnya lagi dia tak sadar bahwa apartemen wanita itu berhadapan langsung dengan apartemen Ratna.


Niat hati berusaha memperbaiki hubungan dengan Ratna kini agaknya malah menuai jalan terjal lagi.


Apalagi saat tadi melihat wajah Ratna. Gadis itu tampak murung meskipun kaca mata hitam menutupi matanya. Alvin bisa melihat kesedihan itu.


Alvin memukul stir mobilnya sembari memaki dirinya sendiri. Kini dia harus memikirkan bagaimana caranya meyakinkan Ratna agar mau dekat dengannya lagi.


Melihat keadaannya yang sangat berantakan dan bau alkohol akhirnya Alvin memutuskan untuk segera pulang. Semalaman tak mengabari Kasih pasti adiknya itu sangat khawatir.


Sampai di apartemen dia melihat sepasang sepatu pria yang sudah tak asing untuknya. Rupanya Arga menginap di sini semalaman sehingga kekhawatiran Alvin sedikit berkurang.


Namun saat berjalan melewati ruang tamu dia melihat banyak paperbag juga box dengan berbagai merk kenamaan internasional tergeletak begitu saja.


Alvin sedikit mengintip barang-barang itu dan berdecak heran. tentu saja harganya bukan kaleng-kaleng. Tapi mereka malah meletakkan sembarangan. Untung saja apartemen itu memiliki keamanan ganda.


Kemudian dia menuju kamarnya karena jam segini mungkin mereka sudah berangkat ke kantor.


Tapi samar-samar Alvin mendengar suara gelak tawa dari dalam kamar Kasih. Rupanya mereka belum pergi.


...****************...


Ratna harus menebalkan telinganya saat beberapa karyawan membicarakannya dibelakang. Betapa tidak, Ratna yang setiap hari tampak selalu serius dan tak pernah berpenampilan macam-macam kini sama sekali tak melepaskan kacamata hitamnya.


Sebenarnya banyak yang penasaran dan ingin bertanya tapi belum apa-apa mereka sudah takut kena semprot oleh Ratna.


"Emm.. Mbak Ratna maaf. Tumben sekali pakai kacamata hitam?" tiba-tiba ada salah satu karyawan baru yang bertanya.


Tentu saja karyawan lain langsung memperingatinya diam-diam. Ratna menyadari hal itu. Apa segalak itu dia selama ini hingga tak ada yang mau dekat dan berinteraksi dengannya.


"Emm.. Gue lagi sakit mata. Sengaja pakai kacamata hitam biar nggak nular ke yang lain." ucap Ratna datar.


Reaksi yang sama sekali bukan Ratna biasanya. Para karyawan pun dibuat heran. Apa mungkin perlahan mulai mengurangi sifat ketusnya.


Apalagi senyum tipis Ratna fi akhir kalimatnya membuat semua orang tertegun. Gadis itu tampak cantik jika ramah begitu. Bisa-bisa Ratna jadi idola baru di kantor.

__ADS_1


Sementara Arga dan Kasih baru saja sampai di kantor. Mereka sengaja berangkat bersama dalam satu mobil sehingga orang lain mengira mereka sedang melakukan kegiatan meeting di luar.


Namun saat Kasih memasuki kantor dan tak sengaja melihat Ratna dia jadi heran. Wanita itu tampak murung dengan kacamatanya yang sama sekali tak dilepas.


"mbak Ratna nanti makan siang sama aku ya." Kasih mengirimi pesan kepada Ratna.


Ratna pun membalasnya dan mengiyakan. Dia tak bisa mengabaikan Kasih meski perasaannya sedang dongkol kepada Alvin.


Sampai tiba waktunya makan siang mereka pun bertemu di cafe langganannya.


"Maaf banget mbak sedikit telat. Tadi masih ada rapat sama Pak Arga." Kasih berjalan cepat dan segera duduk di kursi depan Ratna.


"Oke nggak apa-apa Kasih. Aku juga baru datang kok." jawab Ratna.


Kasih melihat Ratna yang tampak murung. Jelas dia sedang tidak baik-baik saja.


"Mbak Ratna baik-baik saja kan? Mbak Ratna sakit?" tanya Kasih berhati-hati.


Ratna pun menggeleng. " aku nggak papa Kasih" jawabnya lirih.


"Mbak Ratna kalau ada masalah boleh kok cerita ke aku. Ya mungkin aku belum tentu bisa bantu banyak tapi setidaknya bisa sedikit mengurangi beban." ucap Kasih.


"Thanks Kasih. Kamu selalu perhatian banget." Ratna kemudian melepas kacamata hitamnya.


Di situ Kasih tampak sangat terkejut melihat kedua mata Ratna yang bengkak dan sembab. Sepertinya dia habis menangis semalaman.


"Aku menyerah Kasih, sepertinya aku tidak akan mengharapkan Alvin lagi." Ucap Ratna lirih.


Rupanya hal itu yang membuat Ratna murung sejak tadi.


"T-tapi kenapa mbak? M-maaf aku sedih mendengarnya tapi apa mbak Ratna sudah benar-benar memutuskannya?" Kasih sangat terkejut dengan ucapan Ratna hingga dia berbicara terbata.


"Semalam aku ingin menyatakan perasaanku kepadanya. Tapi saat aku menghubungi Alvin rupanya dia sedang bercinta dengan wanita lain. Aku sangat kecewa." Ratna tak kuasa menahan air matanya. Lagi, dia harus menangis lagi di depan Kasih.


Sementara Kasih hanya bisa mengepalkan tangannya. Meratap pilu wanita yang ada di hadapannya juga miris memikirkan kakaknya yang seolah tak pernah peka terhadap perasaan Ratna.


Sampai kapan Alvin terus begitu? Tak pernah memiliki komitmen dan serius terhadap hubungan.

__ADS_1


Alasannya yang trauma terhadap masa lalunya perlahan membuat Kasih ragu. Sebenarnya yang dilakukan Alvin itu benar-benar karena trauma atau hanya ingin memanfaatkan para wanita.


"Brengsek Alvin." umpat Kasih tiba-tiba kepada kakaknya.


__ADS_2