
Arga memandangi sebuah benda kecil di tangannya. Hatinya membuncah, senyum bahagia bercampur haru.
"Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini? Padahal aku sangat bahagia melihatnya." Air matanya terus menetes bersambut dengan senyuman bahagia terukir di wajahnya.
Kini Arga semakin semangat untuk memperjuangkan Kasih. Dia akan melakukan apapun asalkan bisa kembali bertemu pujaan hatinya.
...****************...
Semua orang kini sibuk dengan persiapan pernikahan yang akan diadakan kembali di kediaman Ratna. Semua kerabat juga kembali berkumpul.
Meski sempat diragukan namun Alvin dan Aryo tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan hal ini.
Mereka bahkan mencari jasa vendor terbaik dan akan melakukan acara pernikahan jauh lebih besar dan mewah dari yang sebelumnya.
"Ratna, ini sungguh calon suami dan mertua kamu serius melakukan semua ini?" kedua orang tua Ratna sempat meragukannya.
Ratna akhirnya memberitahu siapa sosok calon mertuanya itu. Ratna membuka internet dan mengetikkan nama calon mertuanya itu.
"H-hah.. Sepuluh besar orang terkaya di Asia?" ayah Ratna terbelalak tak percaya dengan siapa calon besannya itu.
Ratna hanya tersenyum melihat ekspresi kedua orang tuanya.
"Awalnya Ratna juga nggak nyangka kalau orang tua Alvin sekaya itu. Bahkan sebelumnya Alvin hanyalah seorang karyawan biasa. Ternyata dia CEO hotel ternama." ujar Ratna malu-malu.
"Ya sudah, apapun itu kalau kalian saling mencintai maka jalani pernikahan ini sungguh-sungguh. Jangan ada drama lagi. Mama pusing." ujar mama Ratna.
Saat ini Ratna begitu bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan terwujud. Sebentar lagi dirinya akan sah menjadi nyonya Alvin.
"Ratna, itu kenapa adik ipar kamu kelihatan sedih? Samperin sana kasian." ujar Mama Ratna yang melihat Kasih tengah duduk melamun dengan wajah yang tampak begitu sedih.
"Sebentar ya Ma, aku temani Kasih dulu." Ratna pun berjalan menghampiri Kasih.
"Kasih, ikut aku yuk." Ratna menarik lengan Kasih dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Kasih hanya bisa pasrah. Kini dia duduk di pinggiran ranjang masih dengan wajah murungnya.
__ADS_1
"Ini, bicaralah." Ratna menyodorkan ponselnya. Tampak di layar ada sebuah panggilan yang menyala tapi nomornya tak ada namanya.
"S-siapa kak?" tanya Kasih sedikit ragu.
Ratna tak menjawab dan hanya tersenyum.
"H-Halo.." Kasih mencoba berbicara dengan seseorang di telepon.
"Kasih.." Kasih terperanjat. Dia tahu betul itu suara siapa.
"M-Mas Arga.." Kasih sangat terkejut hingga menahan nafas untuk beberapa detik.
"Iya ini mas sayang.. Boleh video call?" ucap Arga.
"i-iya.. Iya mas boleh.." Kasih langsung menoleh ke arah Ratna yang duduk di sofa sembari mengulas senyum.
Akhirnya Arga langsung mengalihkan panggilannya menjadi video call.
Kasih sangat antusias dan langsung mengangkat panggilan video itu. Tampak wajah keduanya akhirnya saling menatap. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Genangan air mata sudah tampak di sudut netra dua insan manusia tersebut.
"mas juga kangen banget sayang, sabar ya sayang. Mas lagi berusaha buat kita kembali lagi seperti dulu. Kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan apalagi ada baby kita di dalam perut kamu." ujar Arga.
Kasih terkejut saat Arga mengatakan hal itu. Dia hendak memberitahunya tapi Arga malah sudah tahu.
"Mas sudah tahu?" tanya Kasih dengan ragu-ragu.
"Iya sayang, ini punya kamu kan? Aku menemukannya di bawah bantal kamar kamu waktu itu." sambil tersenyum Arga menunjukkan alat tes kehamilan milik Kasih.
Senyum kasih membuncah dibarengi dengan air mata yang mengalir semakin deras.
"Kenapa disembunyiin sayang? Kamu takut ya? Maaf banget udah bikin kamu seperti ini. Mas hanya menambah beban buat kamu. kamu sendirian menanggung semua ini bahkan diperlakukan tidak adil oleh keluargaku. Mas minta maaf. Mas belum bisa bahagiakan kamu." tatapan Arga tampak lesu.
"Mas..." Kasih sangat sulit mengucapkan sesuatu saking besarnya debaran jantungnya.
__ADS_1
"Mas akan terus perjuangkan kamu. Ada ataupun tidak adanya bayi kita. Kamu adalah tujuan hidup jangka panjang Mas. Kasih, lain kali jangan pendam apapun lagi ya. Kita hadapi semuanya bersama, mau kan?" ujar Arga dengan penuh harap.
Kasih sudah menduga bahwa reaksi Arga pasti akan sebegini hangatnya. Namun rasa trauma di masa lalu kadang masih menghantui Kasih dan membuatnya tidak percaya diri.
"Mau mas.. Aku mau.." ucap Kasih dengan senyum manis terulas di wajahnya. Tampak benar-benar cantik.
"yaudah, sekarang sabar dulu ya cantik, setelah pernikahan kakak kamu mas janji akan menemui kamu. Apapun yang terjadi kita akan bersama lagi." Kasih dibuat semakin bahagia kala Arga mengatakan hal itu.
Meski air mata masih menggenang namun senyuman yang terukir di wajahnya menunjukkan betapa lega dan bahagia dirinya saat ini.
"Awas aja kalau ada apa-apa nggak cerita lagi. Aku hukum kamu. Aku cium kamu sampai bibir itu bengkak." ucapan Arga yang frontal seketika membuat Kasih membulatkan kedua matanya. Apalagi saat ini ada Ratna yang sedang duduk memperhatikan mereka.
"Eh apaan sih ngomongnya. Ngajakin ketemu kok mau menghukum." ucap Kasih dengan salah tingkah.
"Habisnya kamu nakal sih, tapi nggak apa-apa nakalnya pas sama mas aja ya." tampak Arga tertawa melihat pipi Kasih yang mulai memerah.
"Mulai deh ngawur ngomongnya. Malu tau dilihatin sama mbak Ratna tuh." Kasih menunjukkan sekilas Ratna yang sedari tadi duduk di sofa.
"Eh. Kok ada dia sih. Yaudah deh maaf.. Kamu pasti lagi sibuk ya. maaf ya nggak bisa hadir di pernikahan kakak kamu dulu, mas nggak mau nanti menimbulkan masalah di sana" ujar Alvin.
"Iya mas, nggak papa. Makasih ya mas, aku sayang banget sama Mas Arga." ucap Kasih dengan tulus.
"Sama-sama cintaku, Mas juga sayang banget sama kamu. See you."
Kasih masih tersenyum menatap layar ponsel Ratna yang padahal sudah mati. Sebegini bahagianya bisa mendengar dan melihat kembali arga meski tak bertemu secara langsung. Setidaknya setiap kata-kata Arga sudah membuatnya kembali bersemangat. Rindu itu sedikit terobati.
Ratna yang sejak tadi memperhatikan Kasih pun ikut hanyut dalam suasana itu. Dia berkali-kali menyeka air matanya sendiri.
Salut dengan cinta kedua insan tersebut yang begitu kuat meski gelombang permasalahan selalu menghampiri mereka setiap saat.
Kasih berjalan menghampiri Ratna dengan senyum yang terukir indah di wajahnya.
"Mbak Ratna makasih banyak ya." Kasih langsung berhambur ke pelukan Ratna.
"Iya Kasih, sekarang jangan sedih lagi ya. Aku yakin setelah ini kalian akan bersatu. Aku akan terus membantu kalian semampuku." Ratna mengusap lembut rambut Kasih dan mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
Sejak awal dipertemukan mereka seolah sudah memiliki sebuah keterikatan dan kecocokan. Ratna selalu menganggap Kasih seperti adiknya begitu pula sebaliknya.
...****************...