Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 94 Bersabarlah sedikit lagi


__ADS_3

"Mas Arga kenapa?"


Arga hanya diam dan sejak tadi memainkan anak rambut Kasih yang menutupi keningnya.


"Kasih, maaf ya jika beberapa hari ini kita mendapat kendala lagi. Tapi aku mohon tetaplah bersamaku." Arga tersenyum getir. Tentu saja semua tampak tak baik-baik saja.


Kasih yang sejak tadi berbaring agak jauh dari Arga kini mulai mulai mendekat. Dia meletakkan kepalanya di lengan kekar pria itu.


"Ya kalau nggak sama Mas Arga aku mau sama siapa lagi?" Kasih menatap Arga yang tampak sendu.


"Tapi mau kan bersabar sedikit lagi. Nenek itu kadang sangat menyebalkan. Apalagi ada Laura juga, apapun yang mereka lakukan jangan diambil hati. Terutama sikap Laura nanti saat di kantor." meski sedikit berat namun Arga harus mengatakannya kepada Kasih.


Dia menceritakan semua tentang keluarganya, bagaimana sikap neneknya dan tujuan mereka datang kesini.


Meski awalnya takut membuat Kasih merasa sedih namun wanita itu menerimanya dengan lapang dada. Meski dalam hati Kasih pun masih merasa ragu. Tapi lagi-lagi Arga selalu berada di pihaknya.


"Apapun itu selama kita bersama aku nggak keberatan Mas, tapi ada satu hal yang aku tidak suka." ucap Kasih sambil menatap Arga.


"Aku tidak suka pria ku disentuh wanita lain. Apalagi saat Laura meluk Mas Arga. Ingin sekali ku jitak kepalanya." Kasih mencubit dagu Arga yang mulai ditumbuhi bulu tersebut.


Arga pun terkekeh. Dia semakin gemas melihat wanita yang dicintainya cemburu begini.


"Nggak akan lagi sayang, sebisa mungkin aku akan menjauhi dia. Ayo tidur, sudah malam ini. Besok pagi-pagi harus ketemu Pak Aryo loh." ucap Arga sembari membetulkan posisinya agar nyaman saat berbaring.


Mendengar nama Pak Aryo, entah kenapa hati Kasih merasa senang. Bukan apa-apa, Kasih merasa nyaman saja saat bersama pria itu. Seolah dia merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya.


****************


Pagi-pagi Kasih dan Arga sudah bersiap. Kasih yang memang harus bekerja setiap hari tak lelah bangun pagi dan memasak untuk sarapan.


Meski Arga melarangnya namun Kasih tetap melakukannya sebab memasak juga termasuk hobinya.


Tumis kangkung bercampur udang, ayam goreng bawang serta tempe goreng. Menu sederhana yang nyatanya bisa membuat Arga begitu lahap.


"Besok-besok aku harus semakin rajin nge gym ini. Semenjak kenal kamu berat badanku bahkan nggak pernah turun." ucap Arga sembari tangannya kembali mengambil nasi.


"Nah katanya nggak mau gemuk itu malah nambah nasi lagi. Udah piring ke tiga loh ini." protes Kasih.

__ADS_1


"Habis masakan kamu enak banget. Jarang-jarang mas ngerasain masakan rumahan gini." puji Arga.


Kasih hanya tersenyum melihat Arga yang begitu menikmati masakannya.


"Nanti kalau kita sudah sah menikah dan tinggal seatap tiap hari apapun yang mas mau aku masakin deh."


Mendengar ucapan Kasih, Arga pun mendekati wanita itu dan mengecup keningnya.


"Makasih sayang, gini aja Mas udah senengnya minta ampun"


Selesai sarapan mereka langsung meluncur ke kediaman Aryo. Aryo sengaja meminta Arga dan Kasih meeting di rumahnya.


Saat sampai di rumah itu Kasih dibuat takjub dengan kediaman Aryo.


"Ini sih bukan rumah lagi Mas, tapi istana" gumam Kasih.


Mereka memasuki rumah tersebut dan langsung disambut oleh para asisten Aryo. Mereka mengantarkan keduanya menuju teras belakang yang langsung menghadap lapangan golf pribadi milik Aryo.


Kasih bahkan terus takjub dengan istana yang dia tapaki saat ini. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia tinggal di rumah sebesar ini. Yang ada mungkin malah sering nyasar.


"Selamat Pagi Pak Aryo." sapa Arga.


Arga dan Kasih pun dipersilahkan duduk dan menikmati kudapan yang disediakan sembari membahas proyek.


Selama itu pula Aryo tak berhenti mencuri pandang kepada Kasih, dia benar-benar merasakan keberadaan Hana dalam diri Kasih.


Kerinduan yang selama ini dipendam Aryo nampaknya mulai muncul ke permukaan. Ingin sekali dia memberitahu Kasih dan memeluk putrinya itu. Tapi Aryo tidak ingin membuat Kasih tidak nyaman dan tertekan. Akhirnya dia harus mencari cara agar Kasih tidak terkejut dan tertekan.


Kurang lebih satu jam lebih mereka melakukan meeting. Karena Aryo lebih banyak mengajaknya ngobrol santai sebab setahun terakhir dirinya tinggal di Australia dan lama tak mengobrol dengan Arga.


Selesai dari rumah Aryo, keduanya pun kembali ke kantor. Dan benar saja ada Laura yang sudah menunggunya sejak tadi. Bahkan wanita itu tampak sekali uring-uringan di wajahnya.


"Arga kok telat-telat sih ke kantornya" protes Laura.


"Kan lagi meeting." jawab Arga cuek.


"Meeting? Kok aku nggak diajak. Kan janji mau ajarin aku bisnis."

__ADS_1


Arga menghela nafas. "Lo masih baru, dan di sini banyak pekerjaan lain yang harus lo pelajari dulu." sorot mata Arga yang tajam langsung membuat Laura ciut.


Sementara Arga dan Kasih kini sedang berjalan berdampingan menuju lift. Diiringi laura yang mengekor di belakangnya.


Keduanya tampak sibuk membahas proyek dan beberapa pekerjaan lain. Laura pun sejak tadi memperhatikan Kasih yang sepertinya memang begitu profesional dalam pekerjaannya. Apalagi sosoknya yang sangat cantik serta pembawaannya yang ramah dan sopan. Wajar kalau Arga sampai tergila-gila pada sekretarisnya tersebut.


Tapi bagaimanapun juga tujuan Laura sebenarnya adalah mendekati Arga. Jadi dia harus tetap fokus dan mencari celah agar bisa menjadi istri CEO perusahaan besar tersebut.


...****************...


Alvin dan Jody saling menatap dengan tajam. Sementara Ratna yang sejak tadi duduk di antara mereka pun mulai bingung harus apa.


"Ratna, jelaskan ini semua yang ku lihat tidaklah benar." ucap Jody dingin.


Sementara Ratna yang sejak tadi tak berhenti meneteskan air mata. Dia begitu takut menghadapi kedua pria ini. Tapi begitulah adanya jika tidak diselesaikan sekarang maka masalah ini akan terus berlarut-larut.


"Jody.. Kita bicara berdua ya." Ratna mengajak Jody untuk berbicara menuju balkon. Alvin pun hanya bisa menurutinya. Memberi mereka ruang untuk berbicara secara pribadi.


"Jody, maaf.. Maafkan aku.. A-aku.. Aku sudah berusaha membuka hati untukmu tapi_ tapi susah.." kini tangis Ratna kembali pecah. dengan terisak dia berusaha menjelaskan.


Meski saat ini hati Jody begitu sakit tapi lebih sakit saat melihat Ratna yang menangis seperti ini.


"Kau mencintainya?" ucapan itu muncul dari mulut Jody.


Ratna mengangguk dan masih terisak.


"S-sudah sejak lama aku menyukainya. Sejak pertama melihatnya. Dan kini perasaan suka itu lama-lama menjadi cinta. Dia melamarku.. Tapi Mama tak menyetujui hubungan kami. Aku harus bagaimana Jody?" keluh Ratna.


"Ratna, sebenarnya perasaanku padamu pun sama. Aku menyukaimu sejak dulu. Sejak kita kecil. Tapi apa daya, perasaan tak bisa dipaksakan. Aku sedih melihat cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapi aku lebih sedih saat melihatmu menangis seperti ini." Jody mengusap kepala Ratna dan memeluknya.


"Jangan bersedih Ratna. Aku ikut bahagia jika melihatmu bahagia. Tenang saja kamu pasti akan menikah dengan seseorang yang kamu cintai." Ucap Jody sambil mengusap lembut puncak kepala Ratna.


"J-jody.. Kamu.." Ratna menatap wajah Jody dengan tatapan tidak percaya.


Jody pun mengulas senyumnya. Meski tahu dalam hatinya terasa begitu hancur.


"Aku akan membantumu Ratna.. "

__ADS_1


"T-terimakasih Jody..." Ratna tak mampu mengucapkan banyak kata selain bersyukur.


__ADS_2