Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 125 kehidupan baru


__ADS_3

Hangatnya pelukan serta deru nafas yang stabil membuat Kasih semakin nyenyak tidur dalam pelukan sang suami.


Ya, sang suami. Impian yang sudah lama dia tunggu. Akhirnya keinginannya ini terkabul.


Arga sebenarnya sudah terjaga sejak tadi. Namun Kasih yang terus memeluknya sama sekali tak mau beranjak pun membuatnya mau tak mau ikut terbaring menunggu istrinya itu bangun.


"Hey, sleeping beauty. Bangun.." Arga mengusap pelan kepala Kasih.


Bukannya bangun justru Kasih semakin merapatkan dirinya mendusel ke dalam ketiak Arga membuat pria itu menjingkat kegelian.


"Akh.. Sayang jangan seperti ini. Kau membuatku on lagi." rengek Arga. Dia tahu bahwa Kasih sebenarnya sudah bangun.


"Hmmm... Kamu saja yang emang gampang on sayang." gumam Kasih pelan.


Dengan suasana yang begitu intim seperti ini apalagi tubuh polos sang istri yang hanya terbungkus selimut dan terus menempel pada tubuhnya tentu saja membuat Arga terus berusaha menahan gejolak nafsu dalam dirinya.


"Ini sudah sore sayang, apa kamu tidak ingin bangun? Atau kita lanjutkan saja 'kegiatan' kita." Arga nampak tersenyum smirk.


Niat Arga adalah menggoda Kasih agar lekas bangun. Namun tanpa di duga Kasih justru merespon ucapannya yang terakhir.


Tangan Kasih yang sejak tadi melingkar di tengkuk Arga pun mulai merayap ke bawah.


Mengusap perut sixpack nya serta menciumi leher Arga. Suara deru nafas yang mulai berat itu menandakan bahwa dirinya sudah mulai tera ngsang.


"Baby... A-apa yang kau lakukan.." suara Arga mulai gemetar.


"Katanya mau dilanjutkan. Ayo.." dengan santainya Kasih menjawab Arga.


Tentu saja Arga terkejut dengan ucapan sang istri yang begitu blak-blakan. Namun Arga sendiri ingat ucapan dokter bahwa seorang wanita hamil biasanya memiliki nafsu yang lebih tinggi sebab terjadi peningkatan hormon.


"Tapi apa kamu tidak lelah sayang.. Aakkhh.. " Arga terpekik ketika Kasih mulai memasukkan pusaka Arga ke dalam mulutnya. Hingga membuat Arga kelenjotan sendiri.


"Hmmm.." Kasih hanya menjawab dengan gelengan kepala sebentar kemudian tetap melanjutkan aktivitasnya.


Di dalam ruangan bernuansa pastel dengan kasur yang ukuran king size keduanya kembali bergelut dengan saling memanjakan satu sama lain.


Sejak kedatangannya di rumah baru mereka Arga tak berhenti mencumbui Kasih. Seolah menyalurkan semua hasratnya yang terpendam selama ini.


Kasih adalah wanita yang begitu dipuja oleh Arga. Kehadirannya perlahan mulai mengubah hidupnya yang kelam dan kesepian.


Untuk pertama kalinya Arga memiliki perasaan sebegitu besarnya terhadap seseorang selain kedua orang tuanya.


Mungkin inilah jawaban dari harapannya selama ini.


Kisah yang berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Dimana keduanya yang sama-sama terpuruk dan dicampakkan.


Perlahan saling menyembuhkan dan berbagi rasa sakit itu hingga akhirnya sama-sama mendapatkan arti sebuah kenyamanan dan kebahagiaan.


"Sayang, pelan-pelan. Ingat perut kamu." Arga mencoba untuk mengingatkan Kasih.


Sementara Kasih yang sudah begitu bernafsu terus memacu dirinya diatas Arga. Ada rasa khawatir jika istrinya itu terlalu bersemangat bisa membahayakan kehamilannya.

__ADS_1


"Eennghhh... Aku mau keluar sayang.. Ahh.." Kasih seolah tak peduli dengan ucapan Arga.


Akhirnya mau tak mau Arga harus mengambil alih permainan ini. Dia mengangkat tubuh Kasih dan membaringkannya.


Kini giliran Arga yang berada di atas. Dia memacu tubuhnya dengan pelan.


"Faster.. Agak cepat sayang." rengek Kasih.


"Jangan sayang. Ini tidak baik untukmu." Arga tetap melakukannya dengan hati-hati.


"Tapi aku kurang puas sayang. Ayolah.. please..." ucap Kasih penuh permohonan.


Sebenarnya Arga tak tega melihat sang istri yang tampak memelas begitu. Tapi dia juga harus tetap menjaga keadaan Kasih.


Sedikit dibuat pening dengan tingkah binal istrinya namun Arga pun tak kehabisan ide. Dia bisa memuaskannya dengan cara lain.


Tangan dan bibirnya pun mulai bekerja. Berusaha memberikan servis terbaiknya. Dan benar saja akhirnya usahanya membuahkan hasil.


Hingga tak berselang lama keduanya pun mencapai puncaknya. Arga segera menggeser tubuhnya dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Seharian memadu cinta dengan Kasih rupanya cukup membuat Arga sedikit kelelahan. Terlihat dari deru nafasnya yang tampak tersengal.


Kasih menggeliat memiringkan tubuhnya menghadap Arga. Mengusap lembut peluh yang ada di wajah sang suami.


"Apa kau puas?" tanya Arga.


"Hmmm.. Lumayan. Tapi nanti mau lagi." Ucap Kasih dengan menggigit bibir bawahnya.


"kenapa istriku jadi binal sekali?" batin Arga.


...****************...


Suara alat EKG yang terpasang di ruang ICU tersebut terus menunjukkan detak jantung yang cukup stabil.


Sementara itu seorang wanita yang tengah terbaring lemas di atas brankar belum juga siuman. Sudah dua hari sejak dia ditemukan di tepian sungai dirinya langsung mendapatkan perawatan. Beruntung seseorang menemukannya dalam keadaan masih bernyawa.


"Bagaimana keadaannya?"


"Kondisinya masih lemah. Tapi kami berhasil mengeluarkan air yang ada di dalam paru-paru pasien. Beruntung pasien segera mendapatkan penanganan. Jika tidak mungkin nyawanya tak akan terselamatkan." ucap seorang dokter yang baru saja memeriksa kondisi pasien.


"Lalu bagaimana janinnya?"


"Janinnya dalam kondisi yang baik. Namun ibu hamil ini kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhan janin sedikit kurang berat badan." ujar dokter lagi.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Menatap Felicia yang terbaring lemas di ruangan ICU di rumah sakit tersebut.


Dengan menggunakan pakaian APD lengkap pria itu duduk termenung di pinggiran brankar menatapi wajah sendu wanita yang malang tersebut.


Dia mengusap pelan tangan yang tertancap jarum infus.


"Kenapa kau begitu tak sabaran. Ku bilang tunggu dulu. Kau terlalu gegabah, bahkan tak mau mengurus dirimu sendiri. Bahkan semua fasilitas yang kuberikan kau tolak mentah-mentah." gumam pria itu.

__ADS_1


Tiba-tiba tak berselang lama terlihat sebuah pergerakan di tangan Felicia. Begitu juga dengan kelopak matanya yang tampak bergetar.


Nafasnya tampak mulai tersengal dan tak lama kemudian Felicia mulai membuka matanya.


Pria yang sejak tadi menunggunya segera bangkit dari duduknya dan memeriksa keadaan Felicia.


Tak lupa dia segera menghubungi dokter dan perawat agar memeriksa keadaannya.


"Kondisi pasien sudah mulai pulih. Ini sangat bagus sebab pemulihan terjadi begitu cepat. Selamat tuan." ujar dokter itu.


Setelah memeriksa keadaan Felicia dokter dan perawat pun kembali undur diri. Kini tinggal ada Felicia bersama pria itu.


"A-aku dimana? Kenapa aku disini? Apa aku sudah mati?" tanya Felicia.


"Kau belum mati. Kau masih selamat Feli." ujar pria itu.


Tanpa diduga Felicia kembali terisak. Dia semakin histeris membuat pria itu langsung beringsut memeluknya.


"Tenanglah, kau jangan takut aku disini." ucap pria itu pelan.


"Kenapa? Kenapa kakak menyelamatkan aku? Kenapa tidak membiarkan aku mati?" ucap Felicia dengan suara paraunya.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku ingin kau tetap hidup Felicia. Jangan sia-siakan dirimu." ucap Pria itu lagi.


"Tapi aku lelah. Semua orang disini mencampakkan aku. Aku muak tinggal disini. Aku ingin pergi jauh dari sini." ucap Felicia lagi.


Kemudian pria itu menunjukkan sesuatu di layar smartphone nya.


"Kanada?" ucap Felicia.


Pria itu menunjukkan sebuah tiket pesawat atas nama dirinya menuju Kanada.


"Bukankah ini megara impianmu? Kau mau tinggal disana?" ucap Pria itu.


Felicia pun kembali terisak. Namun tangisannya kali ini disertai sebuah senyum menghiasi wajahnya.


"Feli, mulailah kehidupan baru di sana. Bahagialah dan nikmati hidupmu. Besarkan anakmu juga rawat dia dengan baik. Aku sudah menyiapkan semuanya disana." ujar pria itu.


"Kenapa Kakak masih peduli denganku? Padahal aku sudah jahat kepada semua orang. Aku sudah menyakiti kakak juga Kasih dan Mas Arga. Aku hanyalah pecundang." ujar Felicia dengan memelas.


"Karena kakak menyayangimu Feli. Kau juga adikku meski aku sudah menemukan adik kandungku. Maka berjanjilah padaku untuk menjaga dirimu. Hiduplah dengan jalan yang benar. Kau mau kan berjanji padaku?" ucap pria itu.


"Iya.. Iya kak aku berjanji. Aku akan selalu mengingat ini. Hanya kakak yang masih peduli padaku. Makasih banyak kak Alvin." isak Felicia.


Akhirnya Alvin pun lega. Setidaknya dia masih bisa memberikan harapan hidup kepada Felicia. Ya, Felicia adalah cinta pertama Alvin. Namun karena dia yang lebih memilih mendiang Arka saat itu membuat Alvin mengubah perasaannya.


Dia menganggap Felicia seperti adiknya sendiri untuk menghibur dirinya yang tak kunjung menemukan saudara kandungnya. Hingga saat ini diam-diam Alvin terus memperhatikan Felicia. Meski harus kecewa dengan sikapnya yang sudah mengkhianati Arga.


Satu tugasnya kini sudah terselesaikan. Dia yakin setelah ini Felicia akan memulai kehidupan baru yang lebih baik. Sehingga sekarang Alvin bisa fokus mengurus seseorang terpenting dalam hidupnya. Yaitu Ratna, sang istri tercinta.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2