Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab. 21 Bercerita


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Namun masih tidak ada tanda-tanda dari Arga untuk bangun. Bahkan sarapan yang disiapkan Kasih sejak pagi sampai dingin.


Sementara Alvin kini harus membatalkan semua pertemuan Arga dengan alasan sakit.


Hanya beberapa rapat yang sudah dipelajari materinya oleh Alvin barulah dia bisa menghandle nya.


"Kasih, bagaimana Pak Arga sudah bangun?" tanya Alvin melalui sambungan teleponnya.


"Belum kak, padahal dia juga belum sarapan. Aku jadi khawatir dengannya." ujar Kasih.


Tak dipungkiri jika saat ini Kasih sangat khawatir karena sejak satu bulan ini tinggal dengan Arga tak pernah sekalipun pria itu terlihat minum alkohol apalagi sampai teler begini.


Semalam Alvin menemukan Arga yang mabuk berat di club. Saat itu Alvin baru saja datang bersama teman-temannya langsung dikejutkan dengan sosok bosnya yang tengah lemas di depan meja bar.


Alvin langsung mengamankan Arga dan mengantar ke apartemen Kasih. Selama di perjalanan Arga tak berhenti meracau. Dia terus mengumpati Felicia.


Alvin menduga pasti Arga bertengkar lagi dengan Felicia.


Kembali ke kamar Arga saat ini. Kasih yang mulai bosan menunggu Arga akhirnya mencoba membuat berbagai macam kudapan manis. Ada pudding, brownis serta salad buah.


Kasih berharap dengan makan yang manis-manis bisa memperbaiki mood Arga.


Kasih pun kembali menengok arga di kamarnya. Namun pria itu masih saja terlelap bahkan posisinya tidak berubah sama sekali.


Akhirnya Kasih mencoba untuk mendekati Arga. Dia menatap wajahnya yang terlelap. Terlihat lelah dan sendu. Berbeda sekali dengan Arga biasanya yang penuh pesona yang membara.


Kasih meraih tangan Arga dan menggenggamnya lembut. Merasakan kehangatan telapak tangan pria itu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Tapi melihat Mas Arga begini hatiku jadi ikut sedih. Apapun yang terjadi semoga masalah Mas Arga segera selesai" gumam Kasih lirih.


Namun tiba-tiba Tangan Arga menggenggam erat dan menarik Kasih hingga terjatuh dalam pelukan Arga.


Pria itu masih memejamkan matanya. Wajah mereka begitu dekat hingga Kasih dapat mencium bau alkohol yang masih menyengat di mulutnya.


"M-mas Arga.." panggil Kasih pelan.


"Hmm.." Arga hanya menggeram.


"Mas gak papa kan?" tanya Kasih khawatir.


Arga tak menjawab hanya memeluk Kasih semakin erat. Kasih bisa merasakan debaran jantung Arga yang terasa lebih kencang. Meski jantung Kasih sekarang juga berdebar kencang.


Membiarkan pria itu mencari titik kenyamanan. Menyelami pikirannya yang tengah berkecamuk.

__ADS_1


"Saya mau cerai" ucapnya lirih.


"K-kenapa? Karena aku ya?" Kasih sangat terkejut hendak bangkit namun pelukan Arga menahannya.


"Bukan, saya sudah tidak kuat menjalani pernikahan ini. Melelahkan sekali Kasih" ujar Arga dengan suara seraknya. Kepedihan itu semakin tampak membuat Kasih ikut merasa sedih.


"Mas... Kalau Mas mau cerita silahkan. Aku siap mendengarnya" ujar Kasih sembari menempelkan keningnya ke dada Arga.


Arga menghela nafasnya. Kemudian membuka kedua matanya yang terasa berat. Mengerjapkan perlahan karena ruangan itu terasa sangat terang.


"Jam berapa ini?" tanya Arga.


"Jam dua belas siang" jawab Kasih.


"Ah sial.. Kenapa tidak membangunkan ku?" protes Arga.


"Sudah mas, berkali-kali bahkan. Tapi Mas Arga tidur seperti orang mati" Kasih tak terima.


"Yaudah. Saya mandi dulu"


Seketika Arga langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang. Mengumpulkan segala kekuatannya untuk berdiri.


Kemudian pria itu berjalan menuju toilet. Kasih segera ke dapur menyiapkan makanan untuk Arga. Dia tahu pria itu pasti lapar.


Dan benar saja saat Kasih sedang menata makanan di meja tiba-tiba tangan melingkar di pinggangnya.


"Eh, Mas.. Sarapan dulu ya, emm makan siang deng. Kan udah siang" ujar Kasih sedikit salah tingkah karena Arga sama sekali tak melepaskan pelukannya.


Arga duduk di kursi dan Kasih segera mengambilkan makanan untuk Arga. Setelah selesai Kasih hendak duduk di samping Arga namun pria itu langsung menarik ke pangkuannya.


"Suapi aku baby.." suara itu terdengar sangat manja membuat Kasih mengernyitkan dahinya.


Tapi wajah Arga itu benar-benar memelas. Ah entahlah, melihatnya antara gemas, geli atau apapun karena baru kali Ini Kasih melihat pria itu terasa aneh.


"Baiklah.. Aaakk" Kasih menyodorkan sendok berisi makanan kepada Arga.


Jika dilihat orang lain mereka seperti sepasang pengantin baru yang saling bermanja-manja nan romantis. Kasih yang membayangkan saja merasa salah tingkah sendiri.


Sampai suapan terakhir Kasih memberikan segelas air putih kemudian mengelap bibir Arga. Namun saat mengusap bibir itu Kasih mulai terpesona dengan wajah tampan Arga yang sama sekali tak pernah membosankan jika dilihat.


"Baby," panggil Arga membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya.. Apa?" Kasih terkejut.

__ADS_1


"Lama sekali memegangi bibirku. Minta cium ya?" ujar Arga blak-blakan.


"Enggakk.." Kasih langsung beranjak turun dari pangkuan Arga kemudian memberesi piring Arga sebelum dia berbuat lebih jauh.


Arga hanya bisa tertawa melihat kelakuan Kasih. Ya, pada akhirnya Arga bisa tersenyum setelah apa yang terjadi semalam.


.


Arga dan Kasih kini sedang bersantai di sofa sembari menonton TV. Sembari menyuapi Arga brownis juga puding yang masih utuh di atas meja.


"Baby, jika seperti ini berat badanku akan terus bertambah." Protes Arga namun mulutnya terus menerima suapan dari Kasih.


"Katanya mau cerita?" tanya Kasih.


Arga pun menghela nafas dan menghembuskan kasar. Memulai pembicaraan yang sebelumnya tak pernah diucapkan kepada Kasih.


"Aku akan menceritakan tentang keadaan rumah tanggaku" ujar Arga.


Akhirnya dia menceritakan semua kisahnya dari awal mengenal Felicia hingga kehilangan saudaranya dan harus menikah dengan Felicia. Serta semua konflik yang dia hadapi selama pernikahan itu. Termasuk kejadian semalam.


Panjang lebar Arga meluapkan semua isi hatinya.


Kasih tercengang mendengarkan semua kisah Arga. Bagaimana pria itu menahan semua rasa sakit seorang diri.


Tanpa sadar air mata keluar dari netra Kasih. Sekejap memikirkan masalah ya sendiri.


Betapa setiap orang yang terlihat baik-baik saja padahal mereka memiliki sebuah masalah dan beban yang harua dipikul dalam pikirannya.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Arga sembari mengusap air mata Kasih.


"Mas Arga ternyata sekuat itu. Padahal istri Mas udah berkali-kali berselingkuh. Dan Mas sama sekali tidak pernah menyentuhnya." ucap Kasih sendu.


Arga pun tersenyum. Mengusap puncak kepala Kasih.


"Kamu sendiri, aku yakin masalahmu juga tak jauh beda beratnya denganku. Tapi kamu pandai menyembunyikannya" ujar Arga.


"Sebenarnya aku juga ingin bercerita, tapi aku masih belum yakin Mas Arga mau mendengarkanku" ujar Kasih terus terang.


"Aku mau kok mendengarkan ceritamu. Bahkan aku penasaran kenapa kamu sering sekali mengigau dan menangis." ujar Arga santai.


Aku? Baru saja Arga mengucap Aku, bukan saya. Bahasa yang nampak sederhana itu nyatanya sangat mengena di hati Kasih.


Akhirnya Kasih menebalkan hatinya dan membulatkan tekad untuk bercerita.

__ADS_1


"Aku pernah diperk*sa orang tak dikenal saat suamiku tak di rumah. Dan hal itu pula menjadi alasan dia menceraikanku"


"Apa?"


__ADS_2