
"Sayang capek nggak? Sini senderan di bahu aku. Pasti berat banget kan pake aksesoris sebanyak itu di kepala kamu." Alvin dengan santainya berbicara pada Ratna. Padahal saat ini mereka sedang jadi pusat perhatian di atas pelaminan.
"Ciye ciye.. Pengantin baru mesra banget. Ah jadi pengen nikah deh kalau gini." ujar salah satu teman Ratna sejak kecil. Kebetulan dia sedang datang menghadiri acara tersebut.
Ratna hanya bisa tersenyum malu-malu. Memang di acara prosesi ngunduh mantu ini Ratna memakai banyak sekali aksesoris di kepala. Cunduk mentul atau hiasan di atas kepala yang menjulang berjumlah tujuh buah serta sanggul besar yang terbuat dari irisan daun pandan yang dibalut rajutan bunga melati. Serta bunga melati yang menggantung di setiap sisinya.
Meski terkesan berat namun sebagian besar wanita Jawa memimpikan pernikahan dengan adat kental seperti ini. Alvin pun tak keberatan selama Ratna sendiri yang memintanya.
Sejak kecil tinggal di Surabaya dengan orang tua asuh asli Jawa memang membuat Alvin nyaris terbiasa dengan acara pernikahan seperti ini.
Bahkan saat kecil dulu Alvin sering terpesona dengan para pengantin dengan pakaian tradisional begini.
Melihat Ratna dengan balutan tradisional membuat Alvin merasa mendapatkan seorang bidadari di sisinya. Wanita yang telah sah jadi istrinya tersebut tampak begitu cantik dan memukau.
Bahkan Alvin berkali-kali membisikkan kata-kata gombalan di telinga Ratna. Ratna hanya bisa tersenyum geli kadang-kadang mencubit Alvin secara sembunyi-sembunyi.
"Sayang, kapan ini acaranya selesai? Aku nggak sabar pengen berduaan sama kamu." rengek Alvin ketika acara resepsi berlangsung.
Ratna pun langsung melotot dan berdecak sembari menatap tajam wajah Alvin. Pelototan Ratna sukses membuat Alvin langsung ciut.
Tapi entah kenapa meski Ratna lebih galak dari wanita pada umumnya justru membuat Alvin semakin jatuh cinta. Jika kata Arga galaknya Ratna itu bisa menyelamatkan Alvin dari sifat playboy nya. Terbukti semenjak dekat dengan Ratna, Alvin Tak berani macam-macam menggoda wanita lain.
Mengingat Arga membuat Alvin mulai merindukan mantan bosnya sekaligus pacar adiknya itu. Rasanya sedih sekali melihat pernikahannya tanpa di hadiri Arga. Padahal mereka sudah seperti saudara. Tapi Arga sendiri yang menolak untuk menghadiri acara pernikahan Alvin dengan alasan tak ingin menimbulkan masalah.
Sementara Kasih yang tubuhnya masih terasa lemas memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar.
Mumpung sendiri Kasih mencoba menghubungi Arga. Dia kembali melakukan panggilan video kepada Arga.
"Sayang, kamu kenapa pucat begitu? Sakit?" Arga langsung panik saat melihat Kasih tampak pucat.
"nggak papa sayang, ini cuma habis mual aja. Kan udah dipakai tiduran sama minum obat. Jadinya agak mendingan." ujar Kasih.
"Yaampun sayang, yaudah istirahat saja ya. Maaf Mas nggak bisa temani kamu di situ." jawab Arga.
__ADS_1
"Iya sayang, nggak apa-apa. Bisa video call an sama Mas gini udah seneng kok. Tapi aku juga kangen sih pengen ketemu langsung." ujar Kasih dengan nada sedikit memelas.
"Mas juga kangen banget, sayang banget sama Mama Kasih, hehe. Adek jangan nakal ya, jangan nyusahin Mama. Nanti ketemu papa ya" Arga meminta Kasih mendekatkan ponselnya ke perut.
Namun saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba Kasih mendengar suara pintu yang di ketuk.
"Kasih, ini Papa sayang, kamu baik-baik saja nak?" rupanya suara Aryo berada di balik pintu.
"Mas ada Papa. Udah ya jangan bersuara." Kasih langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.
"Sayang..." Arga terkejut saat tiba-tiba layarnya berubah gelap. Tapi lamat-lamat dia mendengar ada suara Aryo.
Kasih langsung memposisikan dirinya seolah sedang diam sejak tadi.
Aryo membuka pintu dan berjalan menghampiri Kasih. Pria itu duduk di pinggiran ranjang sambil menatap putrinya dengan khawatir.
"Sayang, kamu sakit nak? Mau papa panggilkan dokter?" tanya Aryo dengan nada cemas.
Kasih hanya menggeleng tanpa bersuara. Bahkan wajahnya pun tampak cemberut.
Lagi-lagi Kasih tetap menggeleng. Kemudian Kasih beringsut merebahkan kepalanya di atas bantal. Dia memiringkan tubuhnya membelakangi Aryo.
"nak, maafkan Papa. Jangan diemin Pap gini dong. Papa jadi makin khawatir sama kamu Kasih." ujar Aryo sembari mengusap rambut Kasih.
Kasih tetap tak bergeming. Sebenarnya didalam hatinya dia ingin sekali memprotes. Namun melihat wajah Papanya saja rasanya tidak sanggup.
"Nak, Kasih.. maafkan Papa ya sayang." ujar Aryo dengan suara yang begitu lembut.
"Pa, aku mau tidur." ucap Kasih dengan nada yang ketus.
"Baiklah, kamu istirahat ya sayang. Papa keluar dulu." akhirnya Aryo pun berjalan keluar dari kamar Kasih. Dia tahu putrinya itu sedang ngambek.
"ngambeknya saja persis sekali seperti kamu, Hana." batin Aryo.
__ADS_1
Saat baru keluar dari pintu kamar Aryo berpapasan dengan Nova. Tampak Nova menyapa Aryo dengan sungkan.
"Kamu sepupunya Ratna ya?" tanya Aryo.
"Iya om, saya Nova. Sepupunya mbak Ratna. Ini saya mau antar air jahe buat mbak Kasih." balas Nova.
"Terimakasih ya Nova sudah menjaga Kasih." ujar Aryo singkat kemudian pria itu pergi menjauh. Tampak sekali wajah ya begitu cemas.
Nova pun segera menghampiri Kasih. Dia melihat wanita itu sedang tidur menyamping sembari melakukan video Call.
"Sayang, maaf ya tadi Papa datang. Aku takut dia tahu kalau aku masih berhubungan dengan Mas Arga." ujar Kasih dengan air muka yang tampak kalut.
"iya sayang, mas ngerti kok. Yaudah sekarang istirahat ya. Jangan capek-capek. Mama sama dedek bayinya harus kuat." ucap Arga dengan begitu sayangnya.
"Iya Papa Arga. Yaudah aku tutup dulu teleponnya." kemudian Kasih mematikan panggilan video tersebut.
Nova yang sedari tadi menunggu menyelesaikan panggilan video itu pun akhirnya menghampiri Kasih.
"mbak, ini air jahe buat mbak Kasih." ujar Nova sembari menyodorkan gelas kepada Kasih.
"Makasih banyak Nova, kamu perhatian banget." ujar Kasih dengan senyum manis terulas di wajahnya.
Nova duduk di pinggiran ranjang. Kemudian memberanikan diri untuk bicara dengan Kasih.
"Mbak Kasih, meskipun hamil kelihatan disayang banget ya sama semua orang. Apalagi pacarnya kelihatan cinta dan perhatian." ujar Nova.
"Memang Nova, tapi meski begitu aku juga merasa sedih. Papaku tidak merestui hubunganku dengan Mas Arga. Padahal kami sudah tunangan. Dan rencananya bulan depan mau nikah." ucap Kasih sendu. Dia juga menceritakan sebab Aryo Membenci Arga.
"Sabar ya mbak, lambat laun pasti Papa mbak Kasih mau menerima pacar mbak. Apalagi bayi mbak kan butuh seorang ayah." ujar Nova.
Kasih pun tersenyum kemudian mengusap perutnya dengan pelan.
"Benar Nova, mungkin kehadiran bayi ini akan menjadi alasan aku bisa bersatu lagi dengan Mas Arga.
__ADS_1
...****************...
Di bab selanjutnya akan dijelaskan siapa pria yang bertemu dengan Nova. Ditunggu bab selanjutnya.