
"Tapi bagaimana caranya?" suara Ratna terdengar gamang.
Meski kini Jody telah berlapang dada menerima penolakan Ratna, namun tak serta merta membuat Alvin dan Ratna berbahagia begitu saja. Sebab mereka belum mendapat restu dari kedua orang tua Ratna.
"Aku punya ide, pernikahan ini harus tetap berjalan sesuai tanggal yang ditentukan. Kita akan tetap mempersiapkan semuanya Ratna. Tapi saat tiba harinya aku akan membuat pernyataan seolah menolak pernikahan ini dan kabur. Saat itu lah Alvin yang akan menggantikan aku." meski berat Jody berusaha tegar mengungkapkan idenya.
"Dan kau Alvin, jangan sia-siakan kesempatan ini. Waktumu tidak banyak, jika kau tidak datang hari itu maka bersiaplah Ratna akan ku nikahi." ucap Jody kepada Alvin.
"Iya.. Terimakasih Jody. Sungguh terimakasih banyak" Alvin tak kuasa menahan rasa bahagianya. Rupanya hati Jody benar-benar sangat baik.
"Jody.. A-aku bingung mau mengatakan apa lagi selain terimakasih. Dan aku tak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu. Kamu sungguh pria yang sangat baik.." jika tadi Ratna menangis karena sedih kini dia kembali menangis. Tapi menangis bahagia.
Jody mendekati Ratna, mengelus puncak kepalanya.
"Tak perlu membalas apapun. Melihatmu bahagia aku pun ikut bahagia Ratna. Oh ya, kalau boleh kenalkan aku kepada perempuan yang sekiranya cocok untukku. Aku tak pandai mengenal wanita apalagi sekarang mungkin mama sudah tak sudi menjodohkan aku lagi" Jody terkekeh meski tampak sekali kesedihan yang tersimpan dalam hatinya.
Kemudian, Jody meraih tangan Ratna dan Alvin untuk disatukan.
"Kalian mungkin sudah ditakdirkan bersama, dan anggap saja aku hanya sebuah iklan yang lewat dalam hubungan kalian. Berbahagialah."
Kini Alvin dan Ratna sama-sama memeluk Jody. Tak menyangka bahwa kisah mereka terjadi seperti ini. Memang menyakitkan tapi Jody tahu bahwa lebih menyakitkan jika memaksa Ratna menjalani hubungan yang tak dia inginkan.
"Aku akan memberi tahu Kasih, dia pasti akan sangat senang." ujar Alvin kepada Ratna.
Ratna pun juga menyetujuinya. Dan mereka sama-sama dimabuk kebahagiaan.
...****************...
Hari-hari Kasih kini agaknya mulai terasa menjengkelkan terutama saat di kantor.
Keberadaan Laura benar-benar menguras kesabarannya. Bagaimana tidak, wanita itu terus merecoki Kasih dan Arga. Bahkan sekedar istirahat makan siang saja Laura terus mengikutinya.
Saat ini mereka baru saja menyelesaikan rapat dengan bagian marketing.
"Arga, kayaknya aku mau pindah satu tuangan denganmu deh, aku capek harus bolak-balik ke ruanganmu. Banyak pekerjaan yang ingin aku tanyakan." rengek Laura.
Belum sempat Arga menjawab kini Kasih langsung menjawabnya.
"Kenapa harus di ruangan Pak Arga? Bukankah satu ruangan dengan direktur utama itu tidak sopan? Aku kan sekretarisnya jadi butuh apapun bisa lewat aku" jawab Kasih sinis.
"Tapi nggak enak aja kalau nggak langsung tanya ke Arga." elak Laura.
__ADS_1
"Laura, kau ingin belajar bisnis kan? Harusnya itu menjadi pelajaran penting untukmu mengenal setiap orang. Karena berbisnis itu melibatkan banyak orang. Setidaknya belajarlah berinteraksi dengan banyak orang. Relasi dan public speaking itu penting. Jangan monoton hanya dengan satu orang. Dan ya, Pak Arga tidak suka diganggu saat bekerja" balas Kasih.
"Kasih, Loe cemburu sama gue?" tiba-tiba Laura menyeletuk.
"Laura, ingat ini jam apa? Ini masih jam kerja jadi tolong bedakan kepentingan pribadi dengan urusan kantor. Prinsip utama dalam berbisnis itu adalah profesionalisme. Jadi tolong mulai sekarang kamu profesional dalam mempelajari semua pekerjaan ini. Kalau kamu mau belajar sama aku juga silahkan. Apa mau satu ruangan denganku? Masih ada tempat kosong dan silahkan tinggal di ruanganku" damprat Kasih.
Laura yang awalnya berusaha menjatuhkan Kasih justru dia yang terkena imbasnya. Cepat-cepat dia memotong pembicaraan dengan dalih pergi ke toilet.
"Wow.." Arga tak bisa banyak berkata selain takjub sekaligus kaget.
Tak disangka Kasih bisa setegas ini dengan Laura. Biasanya wanita itu selalu penurut dan pemalu. Namun yang dilihat Arga sekarang seperti singa betina yang siap menerkam.
"Apa? Mau seruangan dengan Laura? Awas saja" ujar Kasih sewot.
Kasih menatap Arga dengan begitu mengerikan seolah dia hendak menerkamnya. Kemudian dia berjalan cepat meninggalkan Arga.
"Eh, enggak sayang, maksudku Kasih.. Jangan marah dong" Arga pun segera menyusul Kasih di belakangnya.
"Wah.. Bibit-bibit suami takut istri nih" gumam beberapa staf yang melihatnya.
...****************...
Arga dan Kasih seperti biasa selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi Wijaya dan makan malam bersama di kediamannya.
"Loh, kok siapin banyak makanan? Emang ada apa bi?" tanya Laura yang baru saja bangun tidur.
"Bapak mau makan malam bareng Mas Arga dan Non Kasih." ucap Bibi.
"Apa? Mereka mau makan malam bersama?" Laura begitu terkejut.
Laura yang buru-buru naik ke atas mencari keberadaan neneknya.
"Nek.. Nenek. Arga mau makan malam di sini mengajak tunangannya" ujar Laura panik.
"Hah iya kah? Kok nenek tidak dikasih tahu? Yaudah kamu cepat siap-siap sana. Dandan yang cantik jangan sampai kalah cantik sama tunangan Arga." ujar nenek.
"Aku harus cari cara bikin wanita itu malu." gumam nenek.
Sementara itu Kasih dan Arga tiba di kediaman Wijaya, seperti biasa Kasih membawakan cheesecake buatannya untuk Wijaya, dia sangat menyukai kue buatan Kasih yang katanya rasanya sangat enak dibanding buatan toko.
Kasih yang sudah terbiasa berada di kediaman Wijaya langsung menemui bibi dan membantu mempersiapkan makanannya.
__ADS_1
"Loh, kalian sudah datang. Papa seneng banget akhirnya bisa dinner bareng lagi." Sambut Wijaya.
"Papa katanya kurang enak badan, ini Kasih bawakan Cheesecake kesukaan Papa." ujar Kasih.
"Terima kasih nak, sudah repot-repot dibuatkan kue segala. Kamu pasti capek." uajr Wijaya yang mulai mencicipi kuenya.
"Tidak juga Pa, tadi pekerjaan kantor tidak begitu banyak. Aku ijin pulang lebih awal buat bikin kuenya." balas Kasih.
"Kerja kok pulang-pulang awal. Mentang-mentang yang punya perusahaan tunangannya gitu?" tiba-tiba nenek Arga datang dn langsung menyeletuk.
"Nek.. Datang-datang kok nggak disambut baik sih" protes Arga.
Keduanya menyalami nenek meski Arga sedikit malas menghadapi neneknya itu.
"Sudah-sudah ayo kita makan malam, keburu masakannya dingin." ujar Wijaya.
"Laura mana sih. Lama banget." gumam nenek.
Tak lama kemudian Laura mendatangi mereka. Dia memakai gaun yang tempak sedikit terbuka menampilkan tubuhnya yang terlihat seksi.
"Hai Arga, seneng deh kamu disini." sapa Laura. Sementara Arga hanya menimpali sekenanya.
"Oh ya, Kasih orang tua kamu pengusaha juga? Atau karyawan?" tanya nenek di sela-sela menikmati makan malamnya.
"Kedua orang tua saya sudah tiada nek, saya tinggal dengan kakak laki-laki saya" ujar Kasih.
"Oh, lalu kakak kamu pengusaha juga? Rekan bisnis Arga?" tanya nenek lagi.
"Kakak saya bekerja buat Mas Arga. Memimpin anak cabang perusahaan Mas Arga." balas Kasih."
"Oh, masih karyawan? Kok bisa ya Arga mau sama kamu, sudah jelas nggak selevel dong. Aduh, atau jangan-jangan kamu ngincer harta cucu saya?" ucapan Nenek kali ini benar-benar mulai menyakitkan.
"Ma udah dong.. Kita makan dulu" ujar Wijaya.
"Bukan begitu Wijaya, mama ini cuma mau menyelamatkan cucu saja. Jaman sekarang itu banyak wanita yang hanya modal genit buat memikat pria kaya. Jangan-jangan kamu sengaja menggoda cucu saya hingga cerai ya? Arga saja baru beberapa bulan cerai nyatanya sudah tunangan dengan kamu." ujar nenek sinis.
"Nek, cukup ya. Ucapan nenek ini keterlaluan. Kalau nggak tahu apa-apa jangan nilai orang sembarangan." Arga yang sejak tadi diam mencoba menahan amarahnya pun kini tak terbendung lagi.
"Arga, nenek cuma nggak mau kamu salah pilih. Nenek sudah siapkan Laura sebagai calon pendamping kamu tapi nyatanya malah milih janda nggak jelas begini. memangnya nenek nggak tahu apa siapa wanita *** *** ini" nenek pun ikut berdiri menunjuk Kasih yang sejak tadi berusaha menguatkan hatinya.
Arga langsung beranjak dari kursinya. Dia menarik Kasih dan merangkulnya.
__ADS_1
"Sekali lagi nenek ngomong gak bener soal Kasih maka aku tidak akan tinggal diam. Siapapun, itu jangan pernah mengatai Kasih, apalagi menyakitinya. Sama saja itu menyakitiku." ujar Arga yang kemudian mengajak Kasih berjalan keluar dari rumah itu.