
Happy reading ❤️
Telah berlalu hampir 2 Minggu setelah Kirana dan kedua anaknya melihat suaminya Sakti memeluk seorang wanita di sebuah mall.
Selama itu juga Kirana selalu tertidur di kamar anaknya dan setiap malam Sakti harus memangku istrinya itu untuk pindah ke kamar mereka. Kirana pun tak banyak bicara sekarang. Bila Sakti mengajaknya berdebat, maka ia hanya diam tak menjawab.
Hubungan dengan kedua anaknya pun kini merenggang, telah Sakti tanya berulangkali pada Kirana tentang perubahan perilaku anaknya namun Kirana mengatakan ia tak tahu apa-apa.
Hubungan dengan adiknya Fabian pun merenggang karena sindiran Fabian waktu itu bagai sebuah tamparan baginya dan Sakti tak menyukai itu.
Lalu bagaimana hubungannya dengan Vanya ? Tentu saja masih berlanjut meskipun belum sampai ke atas ranjang namun mereka kerap bermesraan ketika bertemu.
"Aku pulang telat malam ini," ucap Sakti seraya mengenakan jasnya setelah Kirana memasangkan dasi.
Kirana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu gak mau tahu aku pergi ke mana malam ini ?" Tanya Sakti.
Tak ingin berdebat Kirana pun bertanya.
"Mas Sakti mau kemana malam ini ?" Tanya Kirana masih dengan senyuman menghiasi wajahnya yang cantik.
"Aku akan menghadiri acara peresmian kantor baru salah satu klienku," jawab Sakti dan Kirana masih setia mendengarkan dengan wajah yang tenang.
"Oh iya... Malam ini setelah membacakan buku cerita anak-anak, kamu langsung pindah ke kamar kita. Jangan selalu tertidur disana. Kewajiban mu adalah menemani aku tidur. Kamu mengerti?" Ucap Sakti yang kini mendekati Kirana dan mengangkat dagu Kirana untuk memandang nya.
"Iya Mas," jawab Kirana dengan tersenyum lembut.
Sakti menundukkan wajahnya dan meraih bibir Kirana dan menyesap nya dengan penuh penghayatan.
Meskipun ia belum merasa puas tapi tautan bibir itu harus Sakti lepaskan karena waktu telah menunjukkan saatnya pergi.
"Aku pergi," ucap Sakti pada Kirana.
Kirana menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Namun... Kirana mengelap bibirnya dengan punggung tangan, menghilangkan sisa ciuman Sakti dan senyuman di wajahnya pun surut berganti tatapan mata muak melihat kepergian suaminya.
"Sabar Kirana... Sebentar lagi..." Gumam Kirana lirih hampir tak terdengar.
Setelah mengantarkan kepergian Sakti dan kedua anaknya hingga pintu, Kirana pun berjalan menaiki undakan tangga menuju kamarnya dan mengambil sebuah benda pipih berwarna rose gold.
Ia menyalakan benda itu dan menghubungi seseorang.
Kirana : halo, apa semua berkasnya sudah selesai Kak ?
( Lawan bicara Kirana pun menjawab)
Kirana : hmmm baiklah. Aku juga sedang mengurus surat-surat sekolah anak-anak. Aku tunggu kabar selanjutnya. Makasih banyak ya kak.
Dan Kirana pun mengakhiri panggilannya.
***
Malam itu Sakti dan kekasihnya Vanya menghadiri sebuah pesta peresmian sebuah kantor cabang perusahaan baru. Tak hanya Sakti dan Vanya yang hadir sebagai pengusaha namun banyak lagi pengusaha muda yang lain datang.
Saat ini Vanya tengah mengobrol dengan beberapa kenalannya yang berjarak beberapa meter dari Sakti kekasihnya. Sedangkan Sakti sedang menikmati segelas minuman.
"Woohh Bro, udah lama gak ketemu," sapa seorang pria menyapa Sakti dan memeluknya hangat.
Sakti pun menyambut baik sapaan itu, ternyata ia adalah rekan bisnis Sakti yang juga teman kuliahnya dulu.
__ADS_1
"Wooow makin keren Wil, kemana aja Lo?" Tanya Sakti akrab dan mereka pun terlibat dalam pembicaraan seputar bisnis.
"Lo sama Vanya sekarang ?" Tanya Willy temannya.
Willy tahu bahwa Sakti telah menikah dan memiliki 2 orang anak, karena itu Sakti tak menjawab pertanyaan temannya itu. Ia hanya tersenyum menanggapinya.
"She's good right ?" Tanya Willy seraya mengangkat gelas dan menyesap minumannya.
"Sorry ?" Sakti bertanya tak mengerti.
"In bed... Lo paham lah maksud gue," ucap Willy lagi.
Pffftttt, Sakti sedikit terkaget dan menyemburkan minumannya.
"Come on, jangan pura-pura kaget. Udah jadi rahasia umum kalo cewek Lo jago di atas ranjang," ucap Willy lagi.
"Maksud Lo ?" Tanya Sakti.
"She is a player. Ma gue juga pernah," jawab Willy tanpa dosa.
"Maksudnya Vanya mantan Lo ?" Tanya sakti.
"No, big no. Cuma teman tidur. Gila aja Lo, buat jadiin pacar gue nyari cewek bener lah,"
Sakti terdiam.
"Lo ga tau ? She is famous. Banyak mantannya dari kalangan kita dan itu kaya udah jadi rahasia umum."
Sakti tersenyum kecut.
"Gue kira laki kaya Lo yang udah punya bini cantik dan anak pengusaha terkenal gak akan kegoda cewek kaya Vanya. Tapi gue ngerti bro... dengan duit, orang kaya kita bisa lakuin apa aja yang kita mau." Ucap Willy lagi.
"Kirana..." Batin Sakti dalam hatinya. Tiba-tiba bayangan Kirana melintas dalam benaknya.
"Mas, malam ini tinggal ya... Aku tak ingin sendiri," ucap Vanya ketika tautan bibir mereka terpisah.
"Aku tak ingin jauh darimu malam ini, aku tak ingin kamu terus menolak ku" bisik Vanya seduktif.
Entah kutukan apa yang Kirana berikan pada Sakti karena selama ini Sakti tak jua menyentuh kekasihnya Vanya karena bayangan Kirana yang terus menghantuinya ditambah ucapan temannya Willy di pesta tadi tentang Vanya semakin membuat Sakti enggan untuk melakukan hubungan yang lebih intim.
"Maaf tapi tak bisa, Kirana sedang menungguku pulang," jawab Sakti seraya mengenakan kembali jasnya.
Vanya terdiam dengan wajah kecewa.
"Selalu itu alasanmu. Kirana Kirana Kirana !!!" Teriak Vanya terbawa emosi.
"Sehebat apa dia dalam melayani mu ?" Tanya Vanya berteriak pada Sakti.
Sakti terdiam, ia membayangkan istrinya Kirana yang lembut dan polos namun akan berubah liar ketika sedang bercinta dengannya. Seketika tubuh bawah Sakti berkedut membayangkan bagaimana Kirana bisa memuaskannya.
"Percayalah... Dia sehebat itu," jawab Sakti yang entah kenapa malah membela istrinya.
"Sudahlah aku tak ingin berdebat, aku pulang dulu. Ini... Sebagai permintaan maaf. Beli lah apapun yang kamu mau," ucap Sakti seraya memberikan sebuah kartu kredit atas namanya.
Vanya terdiam dengan berpangku tangan, ia tak menerima kartu itu.
Sakti menunggu sesaat namun kekasihnya itu tak jua mengambil kartu itu dari tangannya. Sakti menyimpan kartu itu diatas meja dan tanpa berkata apapun lagi ia meninggalkan apartemen kekasihnya.
Sakti tiba dirumahnya dalam keadaan sudah begitu sepi. Semua orang telah terlelap dalam mimpinya.
Sakti tersenyum ketika melihat Kirana telah terbaring diatas tempat tidurnya. Sakti terus memandangi wajah istrinya tanpa henti seraya membuka pakaian kerjanya.
__ADS_1
"Cantik," ucap Sakti ketika terus memandangi Kirana.
Telah hampir 2 Minggu Sakti tak menyentuh istrinya itu, dan kini ia sudah tak tahan lagi. Sakti terus melucuti pakaiannya hingga hanya menyisakan celana boxer yang menutupi bagian sensitif tubuhnya.
Sakti berjalan menghampiri Kirana yang telah tertidur pulas. Ia rapikan rambut Kirana yang menutupi dahinya.
Kirana menggeliatkan badannya tanpa terbangun.
Sakti terus melakukan itu, memberi usapan halus di kepala istrinya.
Pada akhirnya Kirana terbangun dan begitu terkejut melihat Sakti yang telah berada di dekatnya dengan tubuh yang hampir polos.
"Aku sangat menginginkan mu Kirana," bisik Sakti dengan suaranya yang telah berubah serak.
Belum juga Kirana menjawab, Sakti telah menindih tubuh istrinya.
***
Waktu bergulir dengan begitu cepat, hubungan dengan Fabian kembali membaik setelah Fabian tersandung sebuah kasus, Sakti terus menemaninya.
Dengan menemani Fabian, Sakti dapat melarikan diri dari kondisi hubungannya dengan Kirana yang ia rasa terus memburuk.
Sikap Kirana semakin dingin walaupun istrinya itu tetap melayani Sakti seperti biasa.
Satu hal yang sangat gila, Kirana semakin menjadi candu bagi Sakti. Hampir setiap malam Sakti menyentuhnya meski Kirana kini seperti mayat hidup bila diatas ranjang. Dulu Kirana akan meneriakkan nama Sakti ketika pelepasannya datang namun kini tidak lagi, ia hanya akan diam menahan lenguhannya dan itu membuat Sakti merasa semakin gila.
Hubungan dengan Vanya juga masih berlanjut, Sakti mencari kepuasan pada kekasihnya itu tanpa menidurinya. Ia akan terus membayangkan wajah Kirana ketika Vanya berusaha memuaskannya.
Saat ini Sakti tengah duduk sendirian di kantornya. Pikiran tentang Kirana hampir membuatnya gila. Dan Vanya yang semakin menuntut rasa cinta darinya membuat Sakti semakin merasa jengah. Ia putuskan malam ini akan mengakhiri hubungannya dengan Vanya dan fokus pada masalah Kirana.
Vanya berteriak histeris dan melemparkan beberapa barang dengan membabi buta, bahkan ia menampar wajah Sakti beberapa kali. Vanya tak terima Sakti memutuskan hubungannya begitu saja.
Terlebih lagi ketika Sakti mengakui hubungannya dengan Vanya hanya sebatas pelampiasan dan balas dendam untuk istrinya Kirana. Sungguh Vanya membenci Kirana meskipun belum pernah bertemu.
Sakti meninggalkan apartemen Vanya dengan kondisi kekasihnya yang amat menyedihkan itu dan Sakti tak merasa peduli sedikitpun.
"Lihat lah bajingan, aku tak akan diam," gusar Vanya ketika Sakti telah meninggalkannya.
***
Sore itu Kirana tengah membawa kedua anaknya untuk berjalan-jalan di sebuah taman bermain.
Dengan terengah-engah ia mengejar kedua anaknya yang berlarian.
"Pelan-pelan sayang, Mama tak bisa menyusul kalian," ucap Kirana yang kemudian berhenti sejenak karena bunyi notifikasi masuk di ponselnya yang berada dalam saku celana.
"Tunggu, mama ada pesan masuk dulu," ucap Kirana yang kini memilih untuk duduk dan membaca pesan itu.
0857233**** : mbak Kirana, perkenalkan saya Vanya.
Tak lama nomor telepon itu mengirimkan beberapa photo pada Kirana.
Kirana menatap layar ponselnya dan melihat photo itu satu persatu.
0857233**** : mbak Kirana, bisakah kita bertemu ?
Kirana : tentu bisa, beritahu saja kapan dan dimana.
To be continued...
Thank you for reading ❤️
__ADS_1
Like dan komen yaaa 😘😘😘
Thanks alot ❤️