Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Batas Hati


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Apa maksud kamu, Ki?" Tanya Sakti dengan perasaan yang kacau.


"Wanita yang akan menjadi pendamping mu kelak pasti akan sangat bahagia. Namun sayangnya wanita itu bukanlah aku," jawab Kirana tanpa melepaskan tangannya dari wajah Sakti.


"Apa maksud kamu, Ki? Apa maksudmu?" Sakti berulang kali bertanya, suaranya bergetar menahan sesuatu dalam dirinya.


Matanya pun mulai mengembun, air bening telah siap untuk terjatuh membasahi pipinya.


"Semoga kamu mendapatkan wanita yang mencintaimu lebih dari aku, carilah wanita baik-baik karena ia  nantinya akan menjadi ibu dari kedua anak kita juga. Cintai dia, dan perlakukan dengan baik." Ucap Kirana seraya terus menatap dalam mata suaminya itu.


"Gak mau Ki ! Aku gak mau ! Aku gak mau yang lain ! aku cuma mau kamu. Aku mohon... Aku cinta kamu, aku sangat cinta sama kamu" Sakti memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Lihatlah sayang... Kamu membelikan Celia banyak hadiah. Lebih banyak dari biasanya. Mungkin saja kamu sedang ngidam, bisa saja kamu sedang mengandung anakku sekarang ini, anak perempuan kita," ucap Sakti yang terlihat begitu frustasi, berusaha mencari jalan apapun agar Kirana tak meninggalkannya.


"Aku tidak hamil..." Jawab Kirana tenang.


"Aku baru saja selesai mendapatkan tamu bulanan ku. Jadi kamu jangan berpikir terlalu jauh." Lanjutnya lagi.


"Katakan apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus bersujud di kakimu? Akan aku lakukan asal kamu gak ninggalin aku." Air bening mulai membasahi pipi Sakti.


Kirana terdiam...

__ADS_1


"Kemarin siang, kamu masih rapikan dasi aku Ki. Apa itu namanya? Apa maksudnya? Bukankah itu berarti kamu masih peduli sama aku?" Tanya Sakti beruntun.


"Tahukah kamu? Selama ini aku begitu takut untuk ketemu sama kamu. Apa yang aku lakukan kemarin hanya untuk memastikan diriku sendiri bahwa aku bisa hadapin kamu, bahwa aku akan baik-baik saja. Tak usah berlari lagi untuk menghindarmu, dan ternyata aku bisa... Jadi aku mohon jangan artikan lain," jelas Kirana.


"Kenapa kamu tak mau beri aku kesempatan buat aku Ki? Sudah 10 tahun kita bersama... Jika bukan buat aku, setidaknya bertahanlah untuk anak-anak kita." Ucap Sakti lirih.


"Apa kamu memikirkan itu juga? Apa kamu memikirkan 10 tahun kebersamaan kita saat kamu mengasari dan memaki aku dengan sebutan jal*ng setiap kamu menyentuhku dengan paksa? dan meninggalkan aku begitu saja setelah dirimu merasa puas. Sampai aku pernah berharap agar aku ini jadi seorang pelac*rmu saja, agar aku bisa melayani mu tanpa melibatkan hati juga perasaan. Agar aku tak merasakan sakit hati ketika kamu merendahkan aku. 10 tahun kita bersama tapi tiba-tiba kamu terasa asing bagiku" Ucap Kirana dengan suara bergetar karena tangis dan kedua tangannya yang memeluk dirinya sendiri memperlihatkan ketakutannya.


"Apa kamu memikirkan anak-anak mu ketika kamu berselingkuh dan bermesraan dengan kekasihmu? Berbagi ciuman dengan tanganmu yang memberikan sentuhan diatas setiap inchi tubuhnya? Tentu tidak bukan? Apa kamu pernah mikirin gimana sakitnya aku juga kedua anakmu?" Tanya Kirana diantara isakkan tangisnya.


Sakti terdiam tak dapat berkata-kata.


"10 tahun kita bersama. Apa kamu tak bisa mempercayai aku sedikit saja? Sehingga kamu lebih memilih untuk menyakiti aku dan memuaskan nafsumu dengan kasar hanya untuk menghukum aku. Hanya agar kamu merasa puas, agar kamu merasa lebih baik karena kamu berpikir pengkhianat seperti aku pantas mendapatkan itu," Kirana melanjutkan ucapannya dengan senyuman muak menghiasi wajahnya.


"Kamu gak pernah tahu berapa kali aku terbangun di tengah malam dengan keringat dingin membasahi tubuh ketika mimpi buruk itu datang. Mimpi tentang kamu yang memaki dan memaksa aku untuk melayani mu layaknya seorang pelac*r bukan sebagai istri.


"Maafin aku... Maafin aku..." Lirih Sakti dengan suara bergetar.


"Ada wanita yang berulang kali disakiti namun tetap bertahan karena terlanjur mencinta hingga tanpa sadar dirinya telah mati rasa. Ada juga yang mencoba bertahan setelah beberapa kali disakiti tapi pada akhirnya memilih pergi karena hatinya sudah tak tahan lagi. Ada juga yang pertama kali disakiti namun telah memilih pergi, karena sakit yang ia rasakan amat luar biasa. Itulah batasan hati... Setiap orang memiliki batasannya sendiri."


Sakti menundukkan kepalanya tak dapat mengatakan apapun pada Kirana.


"Dan aku orang itu... Orang yang langsung memilih pergi... Karena aku tahu batasan hatiku sendiri, aku tahu kemampuan ku sendiri dalam menghadapi hal ini. Aku bukan seorang wanita yang akan tetap tinggal dengan lelaki yang membuat sakit dan menangis. Aku tahu, seandainya aku memilih bertahan tapi bayangan saat kamu menyakiti aku akan selalu menghantui dan pada akhirnya itu akan menghancurkan diri kita berdua. Tentunya anak-anak akan lebih menderita bila itu terjadi." Jelas Kirana.

__ADS_1


"Jadi aku mohon... Lepaskan aku.." lirih Kirana memohon.


"Gak bisa Ki... Aku gak akan sanggup... Aku mohon ampuni aku...," Ucap Sakti lirih seraya membawa tubuh ringkih Kirana dalam pelukannya.


Sakti begitu menyesal telah menorehkan luka yang terlalu dalam untuk istrinya. Sehingga ia berpikir pantas jika Kirana meninggalkannya, tapi di sisi lain Sakti pun sadar ia tak akan bisa hidup tanpa istrinya itu. Ingin rasanya ia terjatuh saja ke dasar bumi dan tak usah bangkit lagi.


Pundak Kirana naik turun menandakan wanita itu tengah menangis hebat dalam pelukan suaminya.


Sakti memeluk Kirana dengan erat seolah tak ingin melepaskan wanita yang terluka hati dan jiwanya karena ulah bejatnya itu. Dengan air mata berhamburan, Sakti memberikan banyak ciuman di kepala Kirana. Ia mengangkat dagu Kirana perlahan, memberikan ciuman di seluruh wajah istrinya itu dengan terus mengucapkan kata maaf yang tiada hentinya.


"Ampuni aku... Ampuni aku sayang... Aku mohon..." Ucap Sakti lirih.


"Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu Kirana ... Aku tak bisa tanpamu... Ku mohon jangan tinggalkan aku" Ucapnya lagi. Tubuhnya bergetar hebat, Sakti begitu merasa ketakutan saat ini. Takut kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


Kirana memejamkan matanya ketika Sakti mengatakan itu, pikirannya melayang. Jika saja hatinya belum hancur pastilah pernyataan cinta suaminya ini akan menjadi hal paling indah dalam hidupnya.


Tapi....


Lihatlah kini... Pernyataan cinta Sakti sudah tak ada artinya lagi malah membuatnya merasa semakin tersakiti.


"Aku tak bisa... Maaf... aku tak bisa lagi hidup denganmu... Hatiku sudah tak sanggup lagi... Ku mohon mengertilah...." Ucap Kirana seraya membuka matanya dan menatap sendu lelaki yang tengah memeluknya erat.


"Sebaiknya kita berpisah saja..." Ucap Kirana lagi dan mulai menguraikan pelukan suaminya.

__ADS_1


To be continued...


Thank you for reading ❤️


__ADS_2