Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Dinas Kerja


__ADS_3

Happy reading ❤️


Sungguh ia tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Sakti. Dan apabila harus seperti ini, berpura-pura seolah dia baik-baik saja. Apa ia akan sanggup ?


Kirana bangkit dan mulai membereskan meja.


"Biar saya yang bersihkan Bu," asisten rumah tangga Kirana datang dan membantu.


"Makasih Bi, saya naik dulu ya," Kirana melangkahkan kakinya menaiki undakan tangga menuju kamar. Ia meraih ponsel dan menuliskan pesan, rencananya hari ini akan bertemu Renata untuk makan siang bersama.


Setelah pesan terkirim, Kirana membuka media sosialnya sudah beberapa hari terakhir ini ia tak pernah membuka aplikasi sosmednya karena masalah dengan Sakti menyita pikiran dan  hatinya.


Tampilan semua sosial media Kirana kembali ke tampilan awal, harus daftar kembali terlebih dahulu sebelum melanjutkan.


Kirana mengkerut kan dahinya tak mengerti, biasanya laman utama langsung terpampang di layar ponselnya namun kini setelah mencoba login pun tak bisa. "Ya ampun siapa yang mau nge hack akun ibu rumah tangga?" gumamnya kesal.


Tak mau ambil pusing, Kirana meletakkan ponselnya dan kembali melakukan aktivitasnya.


***


Malam itu seperti biasanya mereka makan malam bersama penuh sandiwara. Sakti hanya akan baik bila berada di depan anak-anaknya bahkan memanggil Kirana dengan kata 'sayang' seperti biasanya.


"Pa, berapa lama Papa pergi dinas ? Celia kan ulang tahun hari Sabtu ini," ucap Davin.


"Hmm Papa belum tau sayang, semoga bisa pulang ketika Celia ulang tahun. Kamu bisa pergi sama Dareel dan Mama dulu. Beli hadiah yang paling bagus buat Celia ya,"


"Sakti mau dinas ?" Batin Kirana dalam hatinya merasa terheran karena Sakti tak mengatakan apapun padanya.


"Papa gak ikut gak seru, aku gak suka," timpal Dareel kesal dengan mencebikkan bibirnya.


"Nanti Papa pulang kita jalan-jalan, ajak Celia juga. Gimana kalau kita pergi berenang ?" Bujuk Sakti pada kedua anaknya.


"Oke, Papa memang yang terbaik" ucap kedua anaknya berbarengan dan memeluk Sakti.


Kirana hanya bisa memandang dalam diam tak berani berkata, karena apapun yang ia ucapkan akan salah dimata suaminya itu.


***


"Kamu mau pergi dinas mas ?" Tanya Kirana ketika melihat Sakti berkemas di kamarnya.


"Hemm," jawab Sakti tanpa melihat ke arah istrinya itu.


"Kemana ?"


"Sulawesi," jawab Sakti singkat.


"Berapa lama ? Kok bawa koper yang besar?"


"Gak tau, sepertinya Senin aku langsung ke kantor."


"Lama sekali, apa Bian juga ikut ?"


"Bukannya kamu lebih suka kalau suami gak ada di rumah ?" Tanya Sakti dengan nada suara yang sinis.


Kirana tak menjawab, ia diam. Kirana tahu apapun yang akan ucapkan akan Sakti jawab dengan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi.

__ADS_1


"Kenapa diam ? Benar kan ?" Sakti kembali bertanya dengan memandang tajam Kirana yang berdiri tak jauh darinya.


"Aku gak tau harus jawab apa Mas, karena yang aku katakan akan salah di matamu. Jadi silahkan terserah apa pikiranmu," jawab Kirana dengan tersenyum kecut dan hendak beranjak pergi ketika Sakti tiba-tiba mencekal lengannya.


"Jangan pernah berani tinggalin aku kalau aku lagi ngomong," gusar Sakti.


Kirana diam dengan dada berdebar, ia takut Sakti akan menyakitinya lagi dan benar saja apa yang ada dalam pikiran Kirana.


Sakti menarik Kirana dalam dekapannya dengan begitu kasar dan mulai ******* bibirnya dengan begitu penuh paksaan. Kirana memukul-mukul dada suaminya meronta ingin dilepaskan namun Sakti semakin kasar menciumnya.


Kirana terpaksa mengigit bibir suaminya itu agar dapat terlepas.


"Dasar perempuan sialan !" Maki Sakti mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.


Sakti hendak memaksakan kehendaknya lagi namun beruntung bagi Kirana kedua anaknya datang memasuki kamar mereka.


"Papa kan mau dinas ke luar kota, jadi malam ini tidur berempat boleh gak ?" Tanya Davin.


"Ten.. tentu boleh ," jawab Kirana terbata.


"Mama nangis ?" Davin kembali bertanya.


"Mmm, Mama cuma sedih papa mau pergi jauh," jawab Kirana berusaha tersenyum menutupi kesakitan nya.


"Bibir Papa kenapa ?" Tanya Dareel menunjuk bibir Sakti yang sedikit membengkak.


"Papa kepentok lemari waktu beresin baju. Kenapa gak tidur di kamar kalian ? Papa juga pergi gak akan lama."


"Maunya tidur disini."


Setelah Sakti berkemas mereka pun menaiki tempat tidur yang berukuran king size itu dengan kedua anak lelakinya yang tidur di antara mereka.


Tak butuh lama kedua anaknya telah tertidur pulas. Sakti mencium dan membenarkan bedcover yang menutupi kedua anaknya itu.


Kirana membalikkan badannya memunggungi Sakti, berusaha menutup matanya untuk tertidur. Dapat Kirana rasakan kasur yang bergelombang menandakan Sakti turun dari tempat tidur mereka.


"Bangun ! Aku tahu kamu belum tidur," ucap Sakti seraya mengguncang tubuh istrinya itu.


"Kamu mau apa lagi Mas ? Aku cape berdebat tentang hal yang aku tak mengerti dimana letak salahnya," jawab Kirana malas.


"Aku tak akan mengajak mu berdebat,"


"Lalu apa mau mu ?" Tanya Kirana membuka matanya.


"Aku menginginkanmu sekarang juga, jangan sampai aku memaksamu Kirana," ucap Sakti dengan membelai wajah istrinya itu.


"Aku tunggu kamu di ruang kerjaku, jangan lama." Ucap Sakti dengan tatapan mata penuh maksud dan kemudian keluar dari kamar menuju ruangan kamarnya.


Kirana terduduk di atas ranjangnya. Berpikir tentang apa yang baru saja Sakti ucapkan. Dirinya begitu merasa serba salah dengan permintaan Sakti jika ia menolak tentulah Sakti akan meledak marah. Bila ia menuruti hatinya belum siap.


Dengan menghela nafasnya yang terasa berat Kirana berjalan menuju ruang kerja suaminya itu.


Kirana mengetuk pintu ruang kerja suaminya dan membukanya perlahan, terlihat Sakti duduk di kursi kerjanya. Mata Sakti begitu lapar menatap Kirana.


"Puaskan aku," ucapnya penuh titah.

__ADS_1


***


Hari ulang tahun Celia pun telah tiba. Sabtu siang itu suasana begitu ramai. Renata pun ada di sana datang lebih awal begitu juga Kirana, mereka membantu mempersiapkan pesta. Meskipun Fabian dan Renata telah bercerai tapi mereka masih berhubungan baik demi anak mereka Celia.


"Terimakasih sudah datang Kak, Sakti mana ?" Tanya Fabian ketika dia menemui Kirana.


"Loh kan pergi dinas ke Sulawesi. Emangnya kamu gak tau Bi ?" Kirana berkerut alis tak mengerti kenapa Fabian bertanya.


"Oh ya ? Belum kembali ?" Tanyanya lagi.


Kirana menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Mungkin urusannya belum selesai," jawab Fabian yang terlihat canggung.


"Aku tinggal dulu ya Kak," ucap Fabian yang kemudian menghubungi seseorang melalui ponselnya.


Fabian memandang Kirana dari kejauhan sembari terus berbicara dengan ponselnya.


Kirana menepis segala pikiran buruk dengan menyibukkan diri.


Pesta telah usai, Kirana tengah duduk bersama Renata dan saling berbicara.


"Sekertaris baru Bian ya Re ?" Tanya Kirana pada Renata ketika melihat seorang wanita yang sangat sok akrab dengan ipar dan mertuanya.


"Iya," jawab Renata yang terlihat sedih. Kirana tahu tentu berat melihat mantan teman hidup dekat wanita lain.


"Kak Sakti gak keliatan. Kemana?" Tanya Renata.


"Dinas," jawab Kirana singkat.


"Kok tumben dinas di akhir pekan?" tanya Kirana lagi.


"Aku juga gak tau... Re, aku boleh tanya gak ?" Kirana ingin bertanya bagaimana Fabian dulu sering berbohong tentang dinas luar kota namun ternyata menemui wanita lain.


Kirana mengurungkan niatnya bertanya, ia tak ingin membuat Renata kembali mengingat hal yang sangat menyakitkan itu.


Waktu pun bergulir, Kirana kembali ke rumahnya pada pukul 9 malam sedangkan kedua anaknya tinggal bermalam dengan mertuanya.


Ponselnya berbunyi ketika Kirana baru saja sampai dirumahnya. Tertera nama ayahnya disana. Dengan mata berbinar Kirana menjawab panggilan itu karena telah lama mereka tak bertukar kabar.


Kirana : halo Ayah


Ayah Kirana : halo nak, ayah panggil kamu kok gak nengok.


Kirana : panggil ? Ayah panggil aku dimana ? Kapan ?


Ayah Kirana : baru saja. Kamu dan suamimu Sakti baru saja keluar dari butik Louis Vuitt*n kan ?


Kirana : butik ? Ah ayah mungkin salah lihat. Sakti lagi dinas ke Sulawesi.


Ayah Kirana : oh ya? Tapi ayah yakin tadi lihat Sakti. Ah... Tapi bisa jadi mata ayah yang sudah tua ini salah melihat. Ya sudah apa kabarmu nak ?


Pikiran Kirana melayang... Bagaimana ayahnya yang tinggal di Singapura bisa melihat Sakti disana, sedangkan Sakti sedang dinas kerja di Sulawesi. Tak mungkin bukan ?


Tbc...

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


__ADS_2