Terikat Dusta

Terikat Dusta
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Di depanku bukanlah Renata tapi seorang wanita asing yang tak aku kenali dan  memiliki mata berwarna coklat yang hampir serupa dengan Renata.


Aku menelan saliva ku berkali kali merutuki kebodohan yang telah aku lakukan. "Sungguh pesta laknat," makiku dalam hati.


Dak dak dak terdengar gedoran di pintu. "Bi, buka ini gue Stefan. Fabian buka," ucap Stefan di balik pintu. Ku ais pakaianku yang berceceran di lantai dan mengenakannya. "Cepat tutup tubuhmu," ucapku pada wanita itu.


Ku buka pintu kamarku, terlihat wajah Stefan yang penuh kecemasan. Aku menabrakkan tubuhku ke dekapan Stefan, dan ia mengajakku untuk keluar dari kamar itu.


" I did something stupid," ( aku telah melakukan hal yang bodoh). Ucapku terisak. Ya.. aku menangis. Menangisi kebodohan ku.


"Gw udah coba gedor pintu lo semalaman, gimana cewek itu?" Tanya Stefan cemas.


"Gue nidurin dia. Ya Tuhan gue nidurin dia," ucapku frustasi.


"Semalam lo manggil manggil dia Renata. Parah lo emang," ucap Stefan.


Aku menyugar rambutku dan sedikit menjambaknya berusaha mengurangi rasa sakit di kepalaku.


"Tunggu gue ambilin obat sakit kepala," ucap Stefan dan beranjak pergi.


Tak lama Stefan datang dengan 2 pil penahan sakit dan satu botol air mineral.


Ku minum ke dua pil itu langsung.


"Easy man, tenang Bi," ucap Stefan menenangkan.


"Bi, dia kan penari telan**** mungkin saja wanita pekerja ***. Kenapa gak lu coba tawarin damai pake duit," ucap Stefan memberikan saran..


Aku berfikir sejenak, ada benarnya yang dikatakan Stefan. Ada sedikit harapan untuk terlepas dari masalah ini.


"Iya bener, Fan. Gue coba damai. Berapapun yang dia mau gue kasih asal mau damai," ucap ku penuh harap.


Aku dan Stefan pun berjalan beriringan untuk kembali ke kamarku.


"Mana Alex ?" Tanyaku penasaran dari tadi Alex tak terlihat batang hidungnya.


"Masih hangover( masih dalam pengaruh minuman beralkohol) emang parah lo pada," ucap Stefan.


Aku hanya menganggukan kepala tanda mengerti.


Ku buka pintu kamarku, wanita asing itu masih membelitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Ah iya semalam dia hanya memakai baju yang minim bahan.


Aku memberikan satu buah kaos dan celana boxer untuk dia pakai. Tak lama wanita itu keluar dari kamar mandi setelah berpakaian.

__ADS_1


Kami pun duduk bertiga dan suasana terasa canggung.


"Ehem... Begini mbak, pertama saya minta maaf dengan apa yang teman saya lakukan," ucap Stefan membuka pembicaraan. Wanita itu hanya diam tak merespon tatapan matanya kosong.


"Jika kalian mau menawarkan uang maka aku tak mau. Aku bukan pela***," ucapnya lirih.


"Ini pertama kali aku lakukan hal seperti ini, dan teman anda berjanji akan bertanggung jawab," lanjutnya.


Aku tersentak kaget bukan main.


" Saya rasa ada kesalahpahaman, teman saya yang bodoh ini mengira anda adalah kekasihnya, makanya dia bilang akan bertanggung jawab. Tapi mbak dan teman saya tidak saling mengenal bukan ? Tak mungkin bila melanjutkan ke hal yang lebih jauh," ucap Stefan.


Wanita itu mendengus dan memutar bola matanya malas.


"Aku bosan diperlakukan hina, aku ini manusia biasa dan punya hati. Kalian para orang kaya breng*** menganggap manusia seperti aku rendah," ucapnya terisak.


"Dan kamu, seharusnya bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan," teriaknya sambil menunjuk mukaku.


"Kita bisa menyelesaikan nya di pihak yang berwajib," ucapnya menahan marah.


Aku memijat kepalaku yang masih berdenyut hebat ditambah kenyataan yang harus aku hadapi membuatnya semakin sakit.


"Apa yang akan terjadi bila aku berhubungan dengan hukum? Tentu akan mencoreng nama baik keluarga ku dan kerjasama yang baru ku rajut akan hancur," batinku lirih.


"Dan bagaimana dengan Renata ?" Aahhhh di saat aku seperti in pun, aku masih memikirkan nya.


Wanita itu memberikan kartu namanya.


"Lea Tamara," ku baca namanya dalam hati. Wanita itu pun pergi meninggalkan kami berdua.


"Lo baiknya pake pengacara Bi, coba jalan damai. Mau gak mau lo mesti bilang kakak lu," ucap Stefan.


Aku berpikir sejenak dan memang sepertinya itu yang harus aku lakukan.


Setelah mengumpulkan keberanian aku menghubungi kakakku Sakti dan menceritakan semua. Kudengar Sakti mengucapkan sumpah serapah mengatai aku bodoh dan kata lain yang tak enak si dengar meluapkan kemarahannya. Namun pada akhirnya dia mau membantu.


Sore itu semua orang beranjak pulang termasuk Alex dan Stefan karena mereka harus kembali bekerja esok hari.


Hanya aku yang masih tinggal di Bandung. Menginap di sebuah hotel yang terletak di daerah Cihampelas.


Sakti dan om Johan pengacara keluarga ku datang ketika langit sudah gelap. Aku pun bercerita tentang kejadian semalam dan om Johan bersedia membantu untuk memfasilitasi jalan damai dengan menawarkan uang damai yang cukup besar.


Om Johan meminta aku dan Sakti kembali ke Jakarta agar ayahku tidak curiga, dan untuk urusan Lea dia yang akan mengurus nya.


Hatiku sedikit lega, malam itu juga aku kembali ke Jakarta bersama Sakti. Masih bisa kulihat wajah Sakti yang menahan marah dan kecewa. Sepanjang perjalanan aku hanya diam tak mau menyulut kemarahannya.

__ADS_1


***


Senin pagi aku sudah melangkah kan kaki ku menuju kantor. Selalu ku cek benda pipih disaku jas ku menunggu kabar dari om Johan namun belum juga ada.


Pikiran ku benar-benar buntu tak bisa melakukan apapun. Harap harap cemas menanti berita.


Semua pekerjaan tak ada yang selesai. Aku benar-benar menyesali dengan apa yang telah aku lakukan. Bahkan kakakku Sakti enggan bicara padaku.


Ddrrrtt ddrrrtt... Ponsel ku bergetar. Tertera nama om Johan di sana. Dengan tangan gemetar ku angkat panggilan itu.


Fabian : Ha..halo om ?


Johan : Bi, kamu dimana?


Fabian : A..aku di kantor.


Johan : Bi, bisakah kamu datang ke Bandung sekarang juga ?


Fabian : Sekarang om ?


Johan. : Iya Bi, datanglah ke Rumah Sakit XXX di jalan YY. ( Johan menghela nafas ) segera ya Fabian. Lea masuk Rumah Sakit dan ingin bertemu denganmu.


Aku menutup panggilan itu begitu saja. Dada terasa sesak, hati begitu ngilu dan tangan mulai terasa dingin. Insting ku mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.


Ku langkahkan kakiku menuju basement dimana mobil ku terparkir tanpa berpamitan pada Sakti. Pikiran ku begitu kalut.


Ku kemudikan mobilku dengan tangan gemetar. Begitu menyakitkan ketika melewati gedung di mana wanita itu, Renata bekerja. Seharusnya hari ini aku mulai mengejar mu namun takdir berkata lain aku harus bertanggung jawab dengan kebodohan yang telah aku lakukan.


"Seandainya sore itu aku memutuskan untuk mulai berkenalan denganmu mungkin hal ini tak akan terjadi," sesalku dalam hati.


"Maafkan aku Renata, maafkan aku sayang," lirihku menahan pilu.


Tbc


Thank you for reading ❤️


Marhaban ya Ramadhan..


Mohon maaf lahir batin yaaa semuanya atas segala salah dan khilaf 🙏🙏


selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan bagi yang menjalankannya.


Semoga kita semua diberikan keberkahan dan kesehatan dalam menjalani ibadah puasa.


Untuk selanjutnya maaf kalau slow update yaa..

__ADS_1


much love ❤️❤️❤️


__ADS_2