Terikat Dusta

Terikat Dusta
Lembaran Baru


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Baiklah Sarah, tolong jelaskan kegiatan saya hari ini apa saja,"


Dewi menjelaskan jadwalku hari ini dengan rinci tapi pikiran ku telah melayang lagi pada dia yang selalu aku rindukan.  Renata...


Apa kamu pun masih mikirin aku, Re ?


***


Fabian POV


Siang ini aku ada janji temu dengan teman-teman ku Alex dan Stefan. Ada proyek yang akan kami kerjakan bertiga. Sebenarnya dalam rangka membantu Stefan. Apapun akan kami lakukan untuk membantu sahabat asal masih dalam koridor yang benar. Semenjak kejadian yang menimpaku dulu kini kami bertiga berusaha hidup lurus.


"Weeiiiss duren udah datang," ucap Alex ketika aku datang menghampiri mereka.


Aku benar-benar benci sebutan itu. Aku lebih suka di panggil suami atau daddy.  Ingin rasanya ku jahit mulut laknat Alex.


"Diem lu ******. Gw doain jadi duda baru nyaho lu," jawabku sembari menampar halus bahunya.


"Amit-amit Bi, lo asal aja ngutuk gue," ucap Alex dengan mengetuk-ngetuk meja dihadapan nya.


Alex yang dulu begitu player dengan koleksi mantan yang tak terhitung kini  menjadi bucin akut pada istrinya yang dijodohkan oleh ibunya.


"Dasar bucin," ledekku pada Alex.


"Perlu kaca Bi ?" Jawab Alex telak.


"Ah sial ! " Ucapku. Yaa aku pun tak jauh dari Alex begitu dalam mencintai seorang wanita yang kini telah menyandang predikat mantan.


Ingat pertama kali berpisah secara  resmi dengan Renata, aku benar-benar terpuruk. Bahkan tak malu aku menangis di hadapan mereka berdua.


"Makanya kadang gue takut mo kawin," ucap Stefan.


"Liat lo pada kayanya menderita,"


Hanya Stefan yang belum menikah diantara kami padahal usianya sudah menginjak 32 tahun. Bukannya tak laku tapi Stefan sedang menjalani cinta rumit dengan anak bosnya yang masih berusia 20 tahun.


"Tapi jujur ya gue dari pada jadi single, gue lebih suka kehidupan berkeluarga. Gue lebih suke pulang ke rumah dimana ada wanita yang gue cintai lagi nunggu gue balik. Dan ada anak yang selalu bisa menghilangkan segala lelah gue," ucapku membayangkan hari hari dimana aku pulang ke rumah disambut oleh Renata dan Celia. Rasa ngilu di hati kembali kurasakan.


"Semoga lo masih ada jodoh ma Renata, Bi. Sedih gue liat lo begini," ucap Alex.


"Apa lo gak mau coba buka lembaran baru Bi ? Mungkin ada wanita lain yang ditakdirkan buat lo," ucap Stefan.


"Lembaran baru ? Wanita lain? Aku bahkan sudah tak ingin jatuh cinta lagi," jawabku dalam hati.


"Belom kepikiran," jawabku singkat.


"Tapi lo masih minat ma cewek kan ?" Tanya Alex sembari menjauhkan kursinya dariku.

__ADS_1


"Ah sialan lo ****** ! Iyalah lo gak tau gimana tersiksanya gue nahan hasrat liat mantan bini tiap jemput anak gue," jawabku kesal.


Dan mereka hanya tertawa meledek penderitaan ku.


Kemudian kami pun membicarakan rencana kerja proyek kami bertiga.


"Lembaran baru ?cinta yang baru ? Apa Renata pun berpikir demikian?" Tanyaku dalam hati.


Hanya berpikir seperti itu saja sudah membuatku cemburu. "Renata, siapa kah yang akan menjadi pengganti ku di sisimu ?"


"Ya Tuhan, bila mencintai akan sesakit ini aku mohon jangan biarkan aku jatuh cinta lagi," pintaku dalam hati.


***


Author POV


Waktu terus berjalan tak terasa ulang tahun Celia yang ke 6 telah hampir tiba.


Oma Celia begitu heboh ingin menyiapkan pesta. Kali ini akan diadakan secara meriah mengundang semua teman kelas Celia, para saudara, bahkan para tetangga pun ikut diundang padahal biasanya mereka hidup acuh tak acuh.


Tentu saja sebelum mengadakan acara ini, Mami Fabian meminta izin dulu pada Renata selaku ibu dari Celia. Renata tak menolak, ia merasa bahagia Celia begitu di kelilingi orang-orang yang mencintainya.


Akhir pekan itu seperti biasa Fabian menjemput Celia di kediaman Renata.


Rasa canggung masih nampak di kedua nya. Bagaimana pun sisa sisa cinta masih belum hilang sepenuhnya.


"Masuk Bi, Celia masih di kamarnya. Tunggu ya," ucap Renata ketika ia membukakan pintu untuk Fabian.


Bagai orang yang baru pertama berkenalan, kedua telapak tangan Fabian saling meremas karena terasa gugup.


Renata menyembunyikan di balik wajah datarnya padahal dadanya pun berdegup lebih kencang setiap Fabian datang.


Padahal telah melewati waktu 3 bulan sejak perpisahan mereka. Tapi perasaan itu belum juga hilang.


"Daddy," teriak Celia ketika melihat Fabian.


"Hai sayang. Sudah siap ?" Tanya Fabian pada anaknya.


"Huum, tunggu sebentar aku ambil boneka poni ku dulu," jawab Celia dan kemudian menghilang memasuki kamarnya mencari boneka yang  dimaksud.


Hujan lebat turun ketika Fabian dan Celia hendak pergi dari rumah Renata. Meskipun Fabian membawa mobil namun hujan se-lebat ini sepertinya dapat mengganggu perjalanan.


"Masih hujan lebat, sebaiknya tunggu reda," ucap Renata.


Fabian bukannya tak ingin tapi sulit baginya menekan perasaan agar terlihat biasa saja padahal hatinya begitu merindu pada mantan istrinya itu.


"Makan malam disini aja Bi, aku masak banyak tadi." Ajak Renata.


Fabian menganggukkan halus kepalanya tanda setuju.

__ADS_1


Renata pun menyiapkan makan malam. Tangannya gemetar tanpa ia minta.


"Duh kenapa gugup begini," tanya nya dalam hati.


Untuk pertama kali mereka duduk bertiga di meja makan seperti dulu. Celia memperlihatkan wajah yang lebih ceria dari biasanya. Tentu saja ia merasa bahagia bila kedua orangtuanya bersama.


" Gimana kerjaan mu Re ?" Tanya Fabian memecahkan keheningan.


"Ba... Baik, sejauh ini baik baik saja," jawab Renata berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Ah syukur lah. Apa orang orangnya baik?" Ucap Fabian kembali bertanya.


"Baik kok, Bi. Semua baik. Membuat ku mudah beradaptasi meski sudah lama tak bekerja,"


Fabian tersenyum menanggapinya.


"Oh iya mengenai acara ulang tahun Celia. Apa ada yang kamu inginkan Re ?"


" Aku ikut mami mu aja gak apa-apa Bi. Aku senang Celia masih mendapatkan kasih sayang berlimpah meski kita tak lagi bersama,"


" Tentu saja Re, Celia akan selalu mendapatkan itu."


"Celia sayang mau hadiah apa ?" Tanya Fabian pada Celia yang tengah asik dengan makanannya.


Celia mendongakkan kepalanya ke arah Fabian. Dengan wajah polosnya menjawab "aku ingin seorang adik, Daddy. Bukannya daddy sudah berjanji akan memberikan aku adik ?"


Fabian terbatuk mendengar ucapan Celia.


Sepertinya Celia belum mengerti bila orang tuanya berpisah tentu tak bisa memberikan yang Celia inginkan.


"Mmm sayang, bisakah minta yang lain? Daddy belum bisa memberikan itu."


"Kapan daddy bisa beri aku adik ?"


"Mungkin nanti bila sudah waktunya. Daddy tidak tahu kapan. Tapi Daddy janji akan memberimu adik," ucap Fabian membujuk Celia.


"Baiklah, aku ingin mainan baru saja daddy. Mommy tahu, jadi Daddy minta antar mommy aja untuk membelinya,"


Sementara di kursi dimana Renata terduduk dalam diamnya. Meresapi kata kata Fabian bahwa tentu saja Fabian akan memberikan Celia seorang adik. Fabian akan membuka lembaran baru hidupnya. Dia akan menemukan cinta yang lain dalam hidupnya. Tentu saja hal yang mudah bagi Fabian karena  Renata yakin banyak wanita diluar sana yang mendamba mantan suaminya itu. Tapi kenapa hatinya merasa tak rela.


Begitu pun dirinya mungkin suatu hari nanti akan membuka lembaran baru hidupnya. Dengan cinta yang baru. Mampukah ia melakukan itu ?


"Bagaimana lembaran baru yang akan segera kita mulai Bi? Tentunya tak akan saling tertulis nama kita disana," batin Renata dalam hatinya dengan perasaan yang begitu tak menentu.


Tbc


Thanks for reading ❤️


Jangan lupa like dan komen ya 😘

__ADS_1


Hadiah juga boleh lah 😍😍😍


__ADS_2