
Dusta yang dilakukan, apapun itu alasannya tak dapat dibenarkan.
- Renata -
Happy reading ❤️
"Baiklah sayang, mari kita saling berpikir dan saling introspeksi diri. Walaupun jelas dalam masalah ini aku yang sangat bersalah," lirih Fabian penuh sesal.
"Maafkan atas segala dusta ku Sayang.."
Lirih Fabian dengan dengan kepala tertunduk mengecupi punggung tangan Renata yang telah basah oleh air matanya.
Malam itu Fabian meninggalkan Renata untuk tinggal sementara di apartemennya yang dulu. Meskipun berat namun Fabian harus menerima keputusan Renata untuk saling berfikir.
Renata merasa dirinya hampa, tak menyangka Fabian menyembunyikan hal sebesar itu. Walaupun alasan yang Fabian berikan beserta bukti bukti memang tidak membuatnya sepenuhnya bersalah namun menyembunyikan sebuah dusta tak bisa dibenarkan.
Renata mengerti sisi manusiawi Fabian yang melakukan itu. Fabian tak bisa meninggalkan wanita yang semakin"sakit" karena ulahnya.
Renata menghabiskan malam dengan merenung dan berpikir.
Meminta ke pada Tuhan agar di beri jalan.
Di satu sisi dia merasa amat sangat kecewa dan bagaimana pun sebuah dusta apapun itu alasannya tak bisa dibenarkan.
Di sisi lain, tak bisa Renata pungkiri Celia akan sangat membutuhkan ayahnya.
Lalu bagaimana dengan perasaan nya pada Fabian ? Fabian adalah cinta pertama nya. Lelaki pertama dalam hidupnya. Bohong bila ia berkata sudah tak mencintai nya. Namun dusta yang Fabian lakukan terlalu mengecewakan nya.
***
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Renata.
Celia telah kembali kerumahnya namun Fabian masih tinggal di apartemen.
Renata mengatakan pada Celia bahwa daddy nya sedang melakukan perjalanan dinas sehingga tak bisa tinggal di rumah.
Hanya hari Sabtu dan Minggu Fabian menemui Celia. Itu pun dengan cara menjemput Celia kemudian membawa Celia ke rumah orangtuanya. Mereka menghabiskan waktu akhir pekan tanpa Renata. Dengan alasan Renata ada reuni kantor yang dulu atau alasan lainnnya agar orang tua Fabian tidak curiga. Atau Fabian mengajak Celia untuk menginap di apartemen nya.
Hal itu berjalan hampir 1 bulan lamanya.
Sabtu pagi itu Fabian datang untuk menjemput Celia seperti yang akhir-akhir ini sering ia lakukan.
Kebetulan Renata sedang memasak nasi goreng di dapurnya.
"Ah sorry sepertinya aku datang kepagian ," ucap Fabian sembari menggaruk leher belakangnya yang tak terasa gatal.
__ADS_1
Begitu canggungnya bertemu dengan wanita yang sangat Fabian rindukan.
Seandainya bisa, Fabian ingin membawa Renata dalam pelukannya dan menghadiahinya dengan kecupan kecupan manis memabukkan.
Namun sebisa mungkin menahan hasrat karena Fabian tak ingin melakukan kembali perbuatan yang sangat ia sesali.
"Duduk Bi, ayo ikut sarapan," ajak Renata dengan tulus.
Fabian pun mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Celia yang tengah asik mengaduk susunya dalam sebuah gelas bergambar Rainbow Dash salah satu karakter kuda poni paporit nya.
"Kenapa kita tak pernah lagi menghabiskan waktu bersama Mommy, Dad ?" Tanya Celia tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas susunya.
Baik Fabian maupun Renata merasakan ngilu di hati mereka ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Fabian berdehem untuk menetralkan suaranya sebelum menjawab pertanyaan Celia.
"Karena mommy dan daddy mempunyai kesibukan yang berbeda. Tapi satu hal yang pasti, kami sangat mencintaimu Princess tak berubah sedikit pun," jawab Fabian berusaha memberikan penjelasan terbaik nya seraya mengelus sayang puncak kepala anaknya.
Sedangkan Renata merasakan kesedihan dalam hatinya. Celia dapat merasakan jarak antara kedua orangtuanya.
Melihat situasi yang begitu mellow akhirnya Fabian memilih untuk mengajak pergi Celia.
"Ayo sayang hari ini kita akan pergi berenang kemudian kita akan melihat banyak ikan di akuarium raksasa kesukaan princess," bujuk Fabian.
"Apakah mommy boleh ikut ? Celia suka lihat mommy menangis sendirian, mungkin mommy ingin ikut juga," tanya Celia polos.
Rasa bersalah kembali menggerogoti hatinya yang nyeri.
"Emmm tentu bila mommy ikut akan lebih menyenangkan," jawab Fabian dengan senyum canggungnya.
"Ayo mommy kali ini saja ikut," Celia memohon pada Renata.
Tak enak hati melihat Celia memohon seperti itu akhirnya Renata memutuskan untuk ikut.
Kini mereka bertiga telah berada dalam mobil Fabian. Celia duduk di depan sedangkan Renata di bangku belakang. Beberapa kali Fabian mencuri pandang pada istrinya itu melalui kaca spion diatasnya. Tak bisa Fabian bohongi, dirinya begitu merindukan Renata.
Sadar merasa dirinya diperhatikan, Renata membuang arah pandangan ke luar jendela melihat lihat jalan yang dilaluinya.
Dulu ketika mereka pergi bertiga seperti ini suasana mobil akan terasa ramai tidak canggung dan sepi seperti sekarang. Celia akan bernyanyi dan Fabian sesekali akan meminta disuapi bekal yang telah Renata siapkan.
Renata kembali meneteskan air bening di pipinya dan semua itu tak luput dari pandangan mata Fabian.
"Ternyata Renata sangat se-tersiksa itu,"
Fabian pun menghela nafasnya yang terasa sangat berat, dan kenyataan ini begitu melekat dalam pikiran Fabian. Kenyataan bahwa Renata begitu menderita karena dusta yang ia lakukan.
__ADS_1
Tak lama mereka telah sampai di tempat tujuan. Celia dan Fabian bersiap berenang sedangkan Renata duduk di area piknik dengan berbagai macam bekal.
Dapat terlihat dari raut wajah Celia yang terlihat lebih ceria dan bersinar dari sebelumnya. Tentu saja Celia bahagia karena kedua orang tuanya dapat menghabiskan waktu bersama lagi. Meskipun Celia tidak tahu bahwa mommy dan daddy nya sedang berperang batin.
Berbagai wahana air telah Celia dan Fabian nikmati, anak dan ayah itu sesekali tertawa lepas menikmati waktu mereka berdua. Mereka kembali setelah perut mereka terasa lapar.
Berbagai bekal telah Renata siapkan dan mereka pun menikmati makan siang itu.
"Sekarang ini mommy dan daddy sedikit sekali bicara," ucap Celia dengan tatapan matanya yang kembali sendu.
"Eem itu karena tidak baik bila sedang makan terlalu banyak bicara," jawab Fabian cepat.
"Sudahlah sayang cepat habiskan makananmu dan nanti mommy mandikan. Celia ingin lihat ikan bukan ?" Ucap Renata.
Celia menghabiskan makanannya dalam diam. Membuat Fabian dan Renata semakin menahan sakit di dada melihat anak mereka seperti ini.
***
Mereka kembali ke rumah setelah langit berubah menjadi gelap. Celia malah sudah tertidur di pangkuan Renata. Untungnya sebelum kembali ke rumah, mereka terlebih dahulu menikmati makan malam bersama.
"Tadinya aku ingin mengajak Celia menginap di tempatku, tapi melihatnya tertidur seperti ini aku gak tega. Besok saja aku kembali lagi. Sini aku bantu gendong Celia ke kamarnya," ucap Fabian seraya mengambil alih Celia dari tangan Renata.
Bi Sumi menyambut kedatangan mereka dan hendak mengambil alih Celia namun Fabian menolak nya.
Fabian menidurkan Celia di kamarnya dan mencium kening gadis kecil itu sebelum beranjak pergi. "Maafkan daddy sayang, maafkan daddy bila akan menyakiti hati dan perasaan mu. Kamu anak yang cerdas, daddy yakin kamu akan mengerti," bisik Fabian ditelinga Celia. Kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
"Renata bisa kita bicara ?" Tanya Fabian ketika Renata hendak masuk ke kamarnya untuk meletakkan tasnya.
"Oh iya tentu," jawab Renata.
Kini mereka tengah duduk berhadapan di kursi dapur dengan secangkir kopi di hadapan Fabian.
Sakit dan ngilu Fabian rasakan bersamaan di hatinya sebelum ia memulai pembicaraan.
"Re, apa benar kata Celia bahwa kamu sering menangis ?"
"A...aku tak bermaksud menangis depan Celia, mung.. mungkin dia tak sengaja melihat ku menangis," jawab Renata terbata.
"Apa kamu menangis karena aku ?" Tanya Fabian dengan suara lirih.
Renata tak menjawab dan itu membuat Fabian mengerti dirinya lah yang membuat Renata menangis.
"Jika kamu se-menderita itu karena ku Renata," ucap Fabian dengan menghela nafas berat.
"Maka akan ku kabulkan permintaan mu untuk berpisah dariku, akan ku lepaskan ikatan mu padaku," Fabian kembali berucap diantara isakkan tangisnya.
__ADS_1
TBC......
Thank you for reading ❤️