
Happy reading ❤️
Celia : aku dikasih gelang cantik ini dari om Jamie ketika makan malam tadi.
Ucap Celia seraya memamerkan gelang itu pada daddy nya dan itu membuat Fabian terdiam membeku.
Sepertinya Renata tak mendengar percakapan Celia dan Fabian karena dirinya tengah mengambil air minum.
Fabian : gelangnya cantik sekali. Makan dimana?
Celia : makan di cafe Rainbow yang ada tempat mainnya jadi aku bisa main sama Collin juga.
Fabian : Collin ?
Celia : anaknya om dokter.
Fabian merasa dadanya begitu sesak seperti terhimpit batu. Sakit rasanya mengetahui laki-laki lain mendambakan mantan istrinya yang masih sangat ia cintai itu.
Fabian : baiklah sayang ayo cepat tidur, besok daddy jemput ya pulang kerja.
Celia : oke Daddy. Can't wait to see you.
Dan Fabian pun mengakhiri panggilan itu.
Renata kembali ke kamarnya ketika panggilan itu telah berakhir.
"Daddy sudah telponnya ?"
"Udah mom, kata daddy besok akan jemput aku sepulang kerja,"
"Ooh, apa daddy gak nanyain mommy lagi ?"
"Nngak mom,"
Renata sedikit merasa kecewa, semenjak pengakuan cintanya di hadapan penyidik membuat Renata ingin lebih dekat dengan mantan suaminya itu.
Sementara itu di apartemen nya Fabian merasa terancam dengan yang Jamie lakukan terhadap Renata bahkan Jamie telah mengenalkan anaknya pada Renata dan Celia. Tentunya ada maksud lain di balik ini semua.
"Tetapkan hati Renata hanya untuk aku ya Tuhan..." Lirih Fabian dalam kesendiriannya.
***
Pagi itu Renata terbangun dengan kepala yang sedikit pusing, sepertinya karena efek kehujanan tadi malam.
Ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan karena bi Sumi sudah seminggu ini pulang kampung. Mau tak mau ia harus mengambil alih tugas bi sumi karena mbak Wulan hanya bertugas menjaga Celia dan membantu Renata sebisanya.
Celia turun setelah bersiap untuk sekolah dan sarapan telah tersaji.
"Are you oke Mom ? Mommy terlihat pucat"
"Mommy baik-baik saja mungkin hanya kelelahan saja. Ayo makanannya di habiskan. Hari ini diantar mbak Wulan lagi ya. Mobil mommy masih belum dibetulkan soalnya daddy masih sibuk banyak kerjaan,"
Ya untuk urusan mobil dan kebutuhan rumah selalu Fabian yang mengurusi namun karena seminggu ini Fabian berurusan dengan hukum sehingga ia lupa untuk membawa mobil Renata ke bengkel.
"Oke mom," jawab Celia dengan mulut nya yang penuh.
Renata tersenyum melihat ulah anaknya itu.
Celia menghabiskan sarapannya dan kemudian bersiap pergi bersama pengasuh nya dengan taksi online yang sebelumnya telah Renata pesankan.
Renata kini bersiap pergi meskipun ragu karena kepalanya yang semakin terasa pusing.
__ADS_1
Renata mengambil satu tablet obat pereda nyeri dan meminumnya berharap dapat mengurangi sakit kepala yang tengah menyerang nya.
***
Siang itu Renata merasa tubuhnya semakin tidak nyaman, badannya terasa demam dan kepala nya masih terasa pusing hingga akhirnya meminta izin untuk pulang lebih awal.
Beruntunglah Renata mempunyai atasan yang baik hati sehingga mengizinkannya untuk pulang.
Sebuah pesan masuk ketika Renata berada di taksi online menuju kembali ke rumahnya. Tertera nama Fabian disana dan dengan cepat Renata membaca nya.
Fabian : Re, nanti sore aku jemput Celia ya.
Renata yang membaca itu sedikit kecewa, hanya Celia yang selalu Fabian tanyakan bukan dirinya.
Renata : iya.
Renata kembali berfikir "sungguh menggelikan cemburu pada anakku sendiri, dari dulu Fabian memang sangat dekat Celia kenapa aku harus iri," ucap Renata dalam hatinya.
Fabian : kamu udah makan Re? Awas pilek semalam rambut kamu keliatan basah.
Mata Renata berbinar membaca itu, Fabian memang selalu memperhatikan nya.
Renata : sudah, aku baik-baik saja. Jangan khawatir.
Renata berbohong hanya tak ingin membuat Fabian khawatir karena Fabian cukup banyak masalah akhir-akhir ini.
Fabian : syukurlah kalau begitu. Sampai ketemu nanti sore.
***
Sore itu sesuai yang Fabian janjikan dirinya datang menjemput Celia. Namun ketika datang Celia telah siap dan hanya di temani pengasuh nya. Tak seperti biasanya Renata selalu menemani Celia dan mengantarkan putrinya itu hingga pintu bila akan pergi menghabiskan waktu bersama Fabian.
Fabian mencoba berpikir positif mungkin Renata masih di kantor atau terhalang macet karena ini sudah memasuki akhir pekan.
Fabian tersenyum melihat keceriaan putrinya meskipun hatinya menahan pedih melihat gelang yang Celia kenakan.
"Mommy belum pulang ? Kok tadi hanya ditemani mbak Wulan ?" Tanya Fabian ketika sudah beberapa waktu kendaraannya berjalan.
"Mommy sudah pulang dari siang tapi mommy sakit jadi minum obat terus tidur. Waktu Daddy jemput aku, mommy belum bangun," jawab Celia.
Fabian terkejut mendengar jawaban Celia.
"Kenapa mommy bisa sakit?"
"Tadi malam kehujanan waktu pulang makan sama om dokter,"
Fabian mengepalkan tangannya karena kesal.
"Princess, Daddy antar ke rumah oma aja ya bagaimana ? Daddy mau lihat keadaan mommy dulu. Besok daddy jemput ke rumah oma,"
"Asiikkk mau dad," jawab Celia.
Fabian pun menghentikan mobilnya dan kemudian berputar arah menuju rumah orangtuanya untuk mengantarkan Celia.
***
Kini Fabian telah berdiri di depan pintu rumah Renata dengan paper bag berisi makanan dan juga minuman hangat.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pintu terbuka dan menampilkan renata dengan piyama tidurnya.
"Kamu sakit kok gak bilang sih Re ? Kemana kak Jamie ? Kamu sakit gini kok gak ngurusin ? Emang hal apa yang lebih penting dari kamu?" Sindir Fabian yang kesal karena Renata menemui Jamie dan menjadikannya jatuh sakit.
__ADS_1
Renata yang kesal dengan rentetan pertanyaan Fabian menjawab pertanyaan itu dengan nada meninggi "mana aku tahu dia pergi kemana dan ngurusin apa. Aku juga gak nyuruh kamu datang kemari Bi," jawab Renata sembari kembali ke kamarnya dan membiarkan Fabian begitu saja sedangkan Fabian berjalan menuju dapur dan menghangatkan makanan yang ia bawa.
"Perlu saya bantu Pak ?" Ucap Wulan yang datang menghampiri Fabian.
"Gak usah, kamu kembali istirahat saja,"
Wulan pun menuruti Fabian dan kembali ke kamarnya.
Fabian membawa makanan yang telah dihangatkan diatas nampan menuju kamar Renata.
Terlihat renata tengah bergelut di dalam selimut.
"Re, ayo makan dulu."
Tak ada jawaban, hanya gelengan kepala yang Fabian dapatkan.
"Re, ayooo makan dulu. Kalau gak mau aku paksa nih."
Renata masih tak bergeming, dirinya tak ingin menatap wajah Fabian yang sangat menyebalkan saat ini.
"Renata !" Sentak Fabian karena kesal.
Akhirnya Renata bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya.
Dapat Fabian lihat sisa-sisa air mata di wajah Renata dan itu membuatnya tak enak hati.
"Maaf... Maaf kalau ada kata-kata aku yang menyinggung perasaanmu," ucap Fabian seraya menyeka air mata Renata dengan ibu jarinya.
"Aku gak nangis kok," jawab Renata bohong dan Fabian tersenyum melihat itu.
"Kamu sakit begini makin gemesin Re, udah minum obat belum ?"
Renata menggelengkan kepalanya.
"Tuh kan, aku udah feeling kamu belum minum obat pasti belum makan juga," ucap Fabian seraya mengacak rambut Renata gemas.
Fabian menyodorkan segelas air putih dan Renata meminum nya.
"Aku suapin ya ?"
Renata menggelengkan kepalanya.
Fabian hendak memberikan suapan pada mantan istrinya itu tapi bukannya sesendok makanan yang sampai tetapi bibirnya yang lebih dulu sampai di atas bibir Renata.
Renata membulatkan matanya tak percaya.
Fabian memagut bibir Renata dengan lembut dan pelan menikmati nya dengan penuh perasaan rindu.
"A.. apa yang kamu lakukan Bi ?"
Tanya Renata ketika tautan bibir mereka terpisah dengan wajah semerah tomat.
"Aku hanya memeriksa suhu tubuhmu Re,"
"Sejak kapan memeriksa suhu seperti ini, dan gimana kalau kamu tertular flu,"
"Sejak sekarang dan ini hanya berlaku untuk kamu dan aku saja. Aku juga tak peduli jika tertular," jawab Fabian seraya kembali membenamkan bibirnya diatas bibir Renata.
Tbc...
Thank you for reading ❤️
__ADS_1
Like dan komen ya ka 😘😘😘
Terimakasih banyak yang sudah kirim vote dan hadiah ❤️❤️❤️