
Happy reading ❤️
"Aku tak bisa... Maaf... aku tak bisa lagi hidup denganmu... Hatiku sudah tak sanggup lagi... Ku mohon mengertilah...." Ucap Kirana seraya membuka matanya dan menatap sendu lelaki yang tengah memeluknya erat.
"Sebaiknya kita berpisah saja..." Ucap Kirana lagi dan mulai menguraikan pelukan suaminya.
Sunyi...
Setelah pengakuan perasaan mereka masing-masing, tak ada seorang pun dari keduanya yang berbicara.
Sakti duduk di sofa terdiam, ia tak mau juga meninggalkan kamar hotel istrinya.
Kirana berdiri menghadap kaca besar seraya berpangku tangan, memandangi luasnya langit yang mulai berhiaskan sinar mentari pagi. Sesekali punggung tangannya menyeka air bening yang masih turun membasahi pipi.
Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tak lama bunyi ponsel Sakti terdengar, dan ia pun segera mengangkatnya. Terdengar oleh Kirana bahwa Sakti tengah berbicara dengan maminya.
Kirana terus berdiri, tak sedikitpun ia menoleh pada suaminya. Hingga ia tak sadar bahwa Sakti telah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati.
Kirana tersentak ketika belitan tangan kekar memeluknya dari arah belakang dengan begitu erat. Kirana hendak berontak namun Sakti semakin mengeratkan pelukan.
"Tolong dengerin aku Ki... Sekali ini saja" Bisik Sakti lirih tepat di telinga istrinya dan itu sukses membuat Kirana diam tak berontak lagi.
"Aku cinta kamu... Sangat cinta sama kamu...Aku jahat, aku akui itu dan aku sangat menyesal dengan segala yang pernah aku lakuin sama kamu tapi demi Tuhan tak ada wanita lain dalam hidup aku selain kamu." Ucap Sakti lirih.
Tetesan air mata terasa hangat di tangan Sakti. Ia tahu Kirana tengah menangis dalam diamnya.
"Maafin aku... Dan maafin jika yang aku katakan ini akan membuatmu kecewa," lanjutnya lagi namun Kirana diam tak mengeluarkan satu patah kata apapun.
"Aku tak akan pernah lepasin kamu Ki... Maaf jika aku egois, tapi aku gak akan pernah lepasin wanita yang paling aku cinta. Aku tak akan pernah menceraikan mu," ucap Sakti tenang namun tegas, tak serapuh sebelumnya.
Dapat Sakti rasakan tubuh Kirana yang menegang dalam pelukannya ketika mendengar itu, namun Sakti semakin mengeratkan pelukannya dan memasukkan wajahnya ke dalam ceruk leher istrinya itu. Ia benar-benar tak rela harus melepaskan Kirana saat ini.
"Aku cinta kamu... Aku sayang anak-anak kita... Aku sangat menyayangi kalian," lirih Sakti di ceruk leher Kirana.
Untuk beberapa saat mereka masih terdiam dengan Sakti yang terus memeluk istrinya itu. Sedangkan Kirana tak berkata apapun, tak menolak juga tak membalas pelukan suaminya itu.
"Aku harus pergi, Dareel terbangun dan menangis mencari aku." Ucap Sakti seraya memberikan sebuah kecupan di pipi Kirana dan kemudian menguraikan pelukannya untuk beranjak pergi.
Kirana tak bergeming, ia masih terdiam berdiri menatap langit pagi dengan beribu pikiran dalam kepalanya. Ia tak mengatakan apapun hingga terdengar suara pintu tertutup menandakan Sakti telah pergi meninggalkannya.
Ia membalikkan badan dan benar Sakti sudah tak ada disana. Semalaman mereka berbicara meluapkan perasaan masing-masing, tapi sepertinya tak menemukan titik terang.
"Sangat keras kepala !" Lirih Kirana yang ia tujukan untuk suaminya.
***
Siang itu Dareel dan Davin telah kembali ke kamar hotel Kirana diantarkan oleh mertuanya.
Kedua anaknya begitu terlihat bahagia dan memamerkan ponsel baru yang dibelikan papanya tadi malam. Ponsel keluaran terbaru dengan gambar apel tergigit di bagian atasnya.
"Tapi ingat kata Papa, kalian pakainya harus dengan seizin mama," Ibu mertua Kirana mengingatkan kedua cucunya itu.
__ADS_1
"Iya aku tahu, Oma." Jawab keduanya bersamaan.
"Kamu baik-baik saja Ki ?" Tanya mami Sakti ketika mereka hanya berdua saja.
"Apa kamu habis nangis ?" Lanjutnya lagi kembali bertanya.
"Aku baik-baik saja Mi," jawab Kirana bohong.
"Tadi malam anak itu gak ada di kamarnya, dan baru kembali tadi pagi. Apa dia datang kemari ? Apa dia menyakiti kamu lagi ?" Tanya mami penuh selidik.
Kirana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Dia nyakitin kamu lagi? Maafin Mami Papi yang gagal mendidiknya," ucap Mami seraya menitikkan air matanya.
"Dia gak nyakitin aku kok Mi, kami hanya bicara. Mas Sakti gak mau ceraikan aku," jawab Kirana dengan tersenyum masam.
"Iya Mami tahu... Dia pun mengatakan itu pada kami tapi kamu jangan khawatir Ki.
Kami akan mendukung apapun yang membuatmu bahagia." Mami Sakti memberikan usapan-usapan halus di punggung menantunya itu untuk menenangkan.
***
Kirana memutuskan untuk memperpanjang waktunya di Semarang. Kedua anaknya masih rindu dengan sepupu mereka Celia. Bahkan Kirana menambahkan extra bed untuk malam ini karena Celia akan kembali menginap di kamar hotelnya.
"Mama habis nangis lagi ya" tanya Davin yang sedari siang terus memperhatikan wajah ibunya itu.
"Ah nggak kok, Mama gak bisa tidur semalam jadinya ngantuk," elak Kirana.
"Apa Papa bikin Mama nangis lagi? Semalam Papa bilang mau tidur sama kita tapi ternyata bohong, Papa gak tau pergi kemana. Dareel sampai nangis pas bangun pagi. Aku kira Papa akan berubah baik setelah belikan kita HP tapi ternyata nggak tuh Ma. Papa gak sayang kita lagi ya Ma? Aku benci sama Papa !" jelas Davin panjang lebar dengan raut wajah kecewa.
"Papa sayang kalian, jadi jangan benci Papa ya." Bujuk Kirana, ia tak mau kedua anaknya terganggu secara psikologis karena keadaan orang tuanya.
"Papa pura-pura baik aja kayanya Ma, tadi sore aja langsung pulang ke Jakarta katanya ada urusan penting." Ucap Davin lagi.
"Tapi kata Papa lusa mau jemput kita buat pergi ke Dufan. Papa mau libur kerja," sela Dareel.
"Aku ikuuuut ya bang," rengek Celia yang ikut mendengarkan pembicaraan itu.
"Kamu aja yang pergi ! Aku gak mau. Papa gak sayang sama aku, ngapain harus pergi sama Papa," kesal Davin.
"Sudahlah... Mungkin Papa memang sibuk. Kita lihat nanti Papa tepatin janji nya gak?" Ucap Kirana berusaha menenangkan. Sebenci apapun ia pada Sakti, Kirana tak ingin kedua anaknya kehilangan sosok ayah.
***
Sementara itu di Jakarta, Sakti baru saja tiba di bandara. Ia baru saja mendarat dan kini tengah menunggu barang bagasinya.
Ia melihat jam menunjukkan pukul 7 malam. Merasa lapar, Sakti memasuki restoran cepat saji yang berada disana. Ia teringat seharian ini belum makan apapun. Masalah dengan istrinya Kirana benar-benar menyita pikirannya.
Tak lama seseorang yang bertugas menjemputnya telah datang menghampiri. Sakti sudahi makan malamnya yang hanya sedikit itu padahal dokter sudah memperingatkan dirinya untuk menjaga pola makan.
"Atur penerbangan paling pagi untukku dengan tujuan Singapura," ucap Sakti pada lelaki yang menjemputnya tadi.
"Iya Pak. Sekarang langsung menuju rumah?" Tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Jangan, ke apartemen xxx di jalan Kuningan," jawab Sakti.
***
Kini ia telah berdiri di depan pintu apartemen yang telah beberapa kali ia datangi. Dengan tanpa ragu ia menekan bel pintu itu berkali-kali.
Terbukalah pintu itu dan Vanya berada di baliknya.
"Mas, kamu datang ?" Ucap wanita itu dengan mata berbinar.
"Boleh aku masuk ?" Tanya Sakti.
"Tentu saja," Vanya membuka pintunya semakin lebar mempersilahkan Sakti untuk masuk. Ia menjinjitkan kakinya untuk memberi ciuman namun Sakti bergerak menolaknya.
"Kita harus bicara," ucap Sakti dengan mimik wajah serius.
"Duduklah, aku ambil minuman."
Tak lama Vanya datang dengan secangkir kopi di atas nampan.
"Aku gak akan lama." Ucap Sakti mulai berbicara.
"Kamu mau ngomong apa? Kalau soal putus aku gak mau," jawab Vanya memotong pembicaraan Sakti.
"Vanya, maafin aku yang membawa kamu dalam masalah rumah tangga aku. Tapi aku tak ingin menyakiti hati Kirana lagi, aku sangat mencintainya dan kamu tahu itu. Aku juga gak mau nyakitin kamu. Mari kita sudahi baik-baik."
"Kamu hanya peduli sama dia ! Aku hanya korban pelampiasan kamu, padahal kamu tahu aku benar-benar jatuh cinta sama kamu mas ! Kamu lelaki gak berperasaan !!" Ucap Vanya dengan nada suara tertinggi.
"Kalau aku tak berperasaan, sudah ku sebarkan siapa aja teman tidurmu di kalangan para pengusaha dan salah satu dari mereka adalah suami dari seseorang yang baru saja menginvestasikan dana begitu besar di perusahaan mu. Bayangkan jika itu terjadi, aku yakin ia akan membatalkan investasi nya,"
Seketika wajah Vanya memucat.
"Jangan kira aku tak tahu apa-apa tentangmu. Jadi, ayo kita sudahi semua dan jangan saling menghancurkan. Aku juga tak pernah meniduri mu, kamu tak merasa dirugikan bukan ?" Ucap Sakti lagi dan pergi meninggalkan Vanya yang terdiam dan mulai menitikkan air matanya ketika Sakti telah benar-benar pergi.
***
Senin menjelang siang Sakti telah berada di gedung pencakar langit yang berlokasi di Singapura. Ia sengaja berangkat pagi untuk bertemu mertua juga kakak iparnya.
"Pak, ada yang ingin bertemu." Ucap seorang wanita pada Robby yang merupakan kakak kandung Kirana.
"Siapa ? Saya tak ada janji bertemu dengan siapapun hari ini," jawab Robby.
"Pak Sakti dari Indonesia, ia bersikeras untuk bertemu Bapak dan tak akan pergi bila Bapak tak menemuinya."
Robby berpikir sejenak.
"Suruh dia masuk !" Ucap Robby seraya berdiri dan meregangkan kedua tangannya.
Sakti pun memasuki ruangan itu dan melihat kakak iparnya telah berdiri di depan meja kebesarannya dengan dua tangan terkepal kuat hingga terdengar bunyi tulang-tulang tangannya ketika kepalan itu semakin kuat.
Sakti tahu kakak iparnya itu tengah bersiap untuk menghajarnya.
To be continued...
__ADS_1
Thank you for reading ❤️