
Happy reading ❤️
Terdengar suara Kirana yang menangis tersedu diujung telepon, tak lama cangkir kopi Sakti pun terlepas begitu saja dari tangannya dan terjatuh ke atas lantai.
***
Sakti memarkirkan mobilnya asal, ia segera turun dan berlari menuju UGD sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan.
Tangannya terasa dingin, ia berlari dengan perasaan kacau.
Terlihat Kirana tengah menangis di tempat duduknya. "Ki..." sapa Sakti yang membuat Kirana bangkit dari tempat duduknya dan menabrakkan dirinya ke dalam dada Sakti dan memeluknya erat.
"Davin... Davin...." Ucap Kirana di sela isakkan tangisnya.
Sakti memeluk Kirana yang tengah menangis hebat. Anak mereka, Davin baru saja mengalami kecelakaan.
"Da.. Davin mendribble bola di tro.. trotoar. Bolanya menggelinding ke tengah ja... Jalan.. Davin mengambilnya dan mobil itu pun menabraknya," jelas Kirana sembari terisak dalam pelukan suaminya itu.
"Ini salahku... Ini salahku yang tidak mengantarnya tadi. Ini salahku...." Isak Kirana dengan hidung memerah dan matanya yang sembab. Ia mendongakkan kepalanya melihat wajah Sakti.
"Tenanglah sayang... Kita tunggu apa kata dokter dan ini bukan salahmu." Sakti berusaha menenangkan istrinya itu padahal sesungguhnya ia pun takut luar biasa saat ini.
Selama menunggu dokter, keduanya saling berpelukan seolah saling menguatkan. Kirana masih menangis dalam pelukan suaminya itu, Sakti memberikan banyak ciuman di puncak kepala Kirana untuk menenangkan.
Keduanya menunggu cukup lama hingga dokter yang menangani Davin keluar dari ruang UGD.
Sakti menguraikan pelukannya, ia menuntun Kirana untuk segera menemui dokter itu.
"Dia mengalami luka yang cukup parah pada bagian kepala dan juga ada tulang yang patah. Kami harus segera melakukan tindakan pembedahan namun pasien membutuhkan banyak darah dan kebetulan persediaan darah di rumah sakit sedang kosong."
"Ambil darah saya, Dok. Saya ayahnya dan golongan darah kami sama,"
Sang dokter menatap wajah Sakti yang terlihat kelelahan.
"Baiklah bapak akan kami periksa dahulu, namun sembari di periksa minta tolonglah untuk mencari stok darah ke PMI. Ayo mari ikuti saya." Ucap dokter itu.
"Kamu tunggu di sini sayang. Bian sedang menuju kemari. Jangan khawatir." Sakti membelai wajah Kirana dengan tangannya sebelum ia pergi meninggalkan.
"Selamatkan dia kumohon... Selamatkan anakku Davin... Selamatkan anakku..." Kirana memohon pada Sakti dengan mengatupkan kedua tangannya.
Hati Sakti terasa hancur melihat keadaan Kirana yang begitu rapuh, matanya memancarkan rasa cemas dan takut yang teramat sangat dan itu membuat Sakti begitu iba melihatnya.
"Davin anakku juga, Ki. Aku akan berusaha semaksimal mungkin berusaha menyelamatkannya. Percayalah padaku" Jawab Sakti sebelum ia meninggalkan Kirana.
Kirana menganggukan kepalanya dengan lemah, "aku percaya padamu." Jawabnya lirih. Sakti tersenyum dan pergi meninggalkan istrinya itu.
Semua terjadi begitu cepat, akhirnya Sakti dapat mendonorkan darahnya meski awalnya dokter itu ragu karena keadaan Sakti yang cukup lemah.
"Tolong dok, pasti anda juga akan melakukan hal yang sama. Akan anda lakukan apapun untuk menyelamatkan anak kita sendiri." Sakti meyakinkan dokter itu.
Sakti diizinkan untuk memberi donor dengan sarat harus ia harus istirahat total dalam beberapa waktu dan segera mengkonsumsi makanan yang bergizi agar keadaan tubuhnya segera pulih.
Bukan Sakti bila ia tak keras kepala, tanpa sepengetahuan perawat yang sedang menyiapkan obat Sakti menyelinap keluar dengan badan yang lemas ia berjalan. Bahkan ia harus berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya. Kepalanya terasa pening, namun ia tetap berjalan. Sakti tak mau membiarkan Kirana sendirian dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
Sakti tiba di tempat Kirana berada dan ia melihat istrinya itu tengah menangis dalam pelukan Renata. Renata memberikan usapan-usapan lembut pada punggung Kirana, mencoba untuk menenangkan.
"Lo dari mana ? Pucat banget. Lo gak apa-apa ?" Tanya Fabian pada kakaknya itu.
"Bi, beliin gue teh manis atau apa kek. Gue haus." Jawab Sakti.
"Ya udah tunggu disini." Jawab Fabian dan segera pergi membeli yang Sakti inginkan.
Sakti duduk di kursi yang berseberangan dengan Kirana, ia memandangi istrinya itu dengan rasa bersalah. Seandainya hal buruk terjadi pada Davin ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Ya Tuhan.. selamatkan anakku... Aku sangat mencintainya... Aku tak ingin istriku menderita seperti ini," ucap Sakti berulang kali.
Tak lama Fabian datang, ia melihat Sakti yang terus memandangi istrinya Kirana. Fabian tahu kakaknya itu ingin berada disana memeluk Kirana untuk saling menguatkan.
Fabian mengajak Renata untuk duduk bersama hingga Sakti yang kini menemani Kirana. "Jangan menangis, Sayang. Kita berdoa agar Davin selamat,"
Kirana yang mendengar itu membenamkan kepalanya ke dada Sakti dan memeluk erat suaminya.
"Aku takut Mas. Aku takut...." lirih Kirana.
"Aku di sini sayang, aku tak akan meninggalkan kalian," jawab Sakti dan membalas pelukan Kirana.
Sakti berusaha menguatkan dirinya walaupun kini pandangannya kadang terasa gelap dan tubuhnya gemetar.
Malam telah tiba namun operasi itu belum juga selesai. Kirana menidurkan kepalanya di pangkuan Sakti, dan suaminya itu menyisir halus rambut Kirana dengan jemarinya. Terdengar lantunan do'a dari mulut Kirana yang tak ada hentinya. "Istirahatlah biar aku yang menunggu Davin,"
Tangis Kirana kembali pecah, ia menggelengkan kepalanya. Sakti kembali menariknya dalam pelukan. Kirana membalas pelukan itu dengan erat. Keduanya saling berpelukan untuk saling menguatkan. Masalah besar antar mereka seolah menguap begitu saja.
Keduanya tampak hancur saat ini, menunggu kepastian hidup dan matinya seseorang yang sangat mereka cintai.
***
Jam 11 malam dokter keluar dari ruang operasi. Semua orang menghampiri dokter itu dengan perasaan cemas.
"Operasi berjalan lancar, putra Ibu dan Bapak telah melewati masa kritisnya.
Saat ini pasien berada di ruang pemulihan dan akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." Jelas dokter itu sebelum ia pergi meninggalkan ruang operasi.
Sakti dan Kirana dapat bernafas dengan lega sekarang, begitu juga keluarga mereka.
"Terimakasih sudah menyelamatkan Davin," ucap Kirana lirih seraya memandang wajah suaminya.
"Tentu saja akan kulakukan apapun untuk menyelamatkan anakku," jawab Sakti yang terlihat semakin pucat.
Pandangan Sakti mulai terasa gelap, kakinya yang terasa lemas tak kuat lagi menahan bobot tubuhnya. Sakti pun meluruhkan tubuhnya jatuh dan mulai hilang kesadarannya.
"Massss !" Teriak Kirana berusaha menahan tubuh Sakti yang meluruh jatuh.
Robby dan Fabian segera memangkunya dan meminta bantuan perawat untuk mengurusi Sakti.
***
Entah berapa lama Sakti jatuh pingsan. Ia terbangun dengan jarum infusan tertancap di tangannya dan Fabian duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Davin... Kirana..." Lirih Sakti ketika ia sadar.
Fabian segera menekan tombol pemanggil juru rawat ketika Sakti mulai tersadar.
"Udah sadar jagoan ?" Tanya Fabian.
"Anak gue Bi... Kirana..." Lirih Sakti lagi seraya berusaha bangkit dari tempat tidurnya, namun karena kepalanya yang berdenyut hebat membuat Sakti kesulitan melakukan itu.
"Mereka baik-baik saja. Lo jangan khawatir,"
Tak lama seorang perawat datang. Ia memeriksa dan menyuntik cairan obat pada infusan Sakti.
"Bapak harus benar-benar beristirahat kali ini," ucap perawat itu sebelum ia pergi.
"Lo ini kenapa sih Kak ? Nekad mulu kerjaan Lo, gak perhatiin kesehatan Lo sendiri. Mau mati muda apa gimana ?" Tanya Fabian yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Sakti.
"Diem Bi, gue sakit kepala." Jawab Sakti lirih dan memejamkan matanya kembali.
"Lo, harusnya udah donor itu istirahat total karena kondisi Lo lagi gak baik. Kecuali Lo emang udah bosen hidup. Lagian kondisi begini masih maksain segala," omel Fabian lagi.
"Gue akan lakukan apapun untuk selamatin anak gue meski nyawa taruhannya. Lo pasti akan lakukan hal yang sama kalau menyangkut anak." Jawab Sakti.
"Gue juga gak bisa lihat Kirana menderita seperti itu, gue gak bisa biarin dia lewatin ini sendirian. Davin adalah hidupnya Kirana. Lo bisa lihat gimana hancurnya dia tadi. Kalau Davin tak selamat aku yakin Kirana akan hancur beneran. Kalau gue mati karena selamatin anak gue, setidaknya hidup gue berguna untuk orang-orang yang sangat gue cinta." Sakti kembali berucap.
"Tapi gak gini juga caranya. Lo harus semangat hidup Kak, Kirana dan anak-anak butuh Lo." Ucap Fabian.
Sakti tertawa hambar.
"Kirana lebih membutuhkan anak-anaknya untuk bisa bertahan hidup. Davin dan Dareel adalah dunianya. Akan gue lakuin apa saja asal Kirana dan anak-anak bisa bahagia. Kalau aku mati jagain mereka ya Bi.... Dan katakan pada Kirana kalau gue bener-bener nyesel udah nyakitin dia. Bilang sama Kirana kalau gue cinta banget sama dia," ucap Sakti dengan pandangan kosong menatap langit-langit diatasnya.
"Nah kan mulai ngaco lagi pikiran Lo, bilang sendiri jangan nyuruh gue ! Kak Kirana juga butuh Lo. Ketika dia dalam keadaan terpuruk seperti tadi, dia terus meluk Lo untuk menguatkan dirinya sendiri. Kak Kirana gak meluk mami atau kakaknya Robby. Dia milih lo karena kakak lah yang paling kak Kirana butuhkan. Masa Lo gak bisa rasain itu sih ?" Fabian mengungkapkan kekesalannya pada Sakti.
"Benarkah Bi ?" Tanya Sakti.
"Iya tentu saja, makanya Lo harus semangat hidup. Kak Kirana dan anak-anak butuh Lo dalam hidup mereka."
"Davin benci gue," ucap Sakti dengan tersenyum kecut
"Gak akan lagi.... Percaya sama gue," jawab Fabian.
Sakti menghela nafasnya, ia berharap apa yang adiknya katakan itu adalah hal yang benar.
"Gimana keadaan kamu sekarang Mas ?" Tanya Kirana yang tiba-tiba muncul dari balik tirai rumah sakit dan menutupi ranjang dimana Sakti terbaring.
Seketika hati Sakti menghangat melihat kedatangan istrinya itu. "Apa benar yang Fabian katakan tadi, Ki ? Apa kamu juga butuh aku dalam hidupmu ? Apa aku masih boleh berharap akan cintamu lagi" pertanyaan itu berputar dalam batin Sakti tanpa terucap.
To be continued...
Thank you for reading ❤️
Terimakasih banyak atas support kakak2 reader yang baik hati...
Maaf gak bisa balas komen satu2
__ADS_1
Aku pada kalian pokonya 😭😭🥰🥰😘😘