Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Frustasi


__ADS_3

Happy reading ❤️


Sakti pun memasuki ruangan itu dan melihat kakak iparnya telah berdiri di depan meja kebesarannya dengan dua tangan terkepal kuat hingga terdengar bunyi tulang-tulang tangannya ketika kepalan itu makin kuat.


Sakti tahu kakak iparnya itu tengah bersiap untuk menghajarnya.


Tatapan matanya tajam dan penuh kebencian. Sakti terus berjalan mendekati begitu pula Robby.


"Ini balasan karena nyakitin adek gue," geram Robby yang langsung menghantamnya.


Buuuggghhhhh terdengar bunyi pukulan pada Bagian badan Sakti yang membuatnya terhuyung ke belakang dan terjatuh, tak lama air berwarna merah segar dan berbau amis keluar dari mulutnya.


"Dan ini karena Lo bikin dia hancur !" Geram Robby lagi .


Belum juga Sakti berdiri, sebuah tendangan mengenai kakinya. Membuat ia semakin tak dapat berdiri. Sakti meringis menahan nyeri.


"Bangun Lo ! Lawan gue ! Jangan berani nyakitin adek gue doang !! " Teriak Robby.


Sakti masih meringkuk di atas lantai menahan nyeri. Pikirannya melayang pada istrinya Kirana. Dalam kepalanya ia berpikir, Robby saja sudah se-marah ini karena sakit hati apalagi Kirana. Tentu dalam hati Kirana, ia merasakan lebih sakit lagi tapi tak dapat melampiaskan seperti ini.


"Lawan gue !!" Gusar Robby yang kini telah mencekal kerah jas Sakti dengan tangannya.


"Ini buat Lo yang sok playboy !"


Buuuggghhhhh satu pukulan mendarat di wajah Sakti. Membuat wajahnya tertoleh kesamping dan membuat sudut bibirnya pecah.


Ia tak melawan tak juga menangkis. Hanya diam dan menerima.


"Lawan gue !!" Gusar Robby sembari menyebutkan beberapa makian nama binatang pada adik iparnya itu.


Tak lama pintu terbuka, sekretaris Robby masuk karena terdengar suara gaduh dalam ruangan boss nya.


Terkejut luar biasa ketika mendapati Robby tengah berada di atas tubuh Sakti dengan segala caci maki dari mulutnya


"Pak ! Pak Robby, anda bisa membunuhnya," sekertaris nya itu mengingatkan.


"Dia emang pantas mati ! Seandainya Lo bukan ayah dari ponakan gue, udah gue hancurin hidup Lo dari kemarin-kemarin." Robby masih dalam gelombang amarahnya.


"Maaf..." Ucap Sakti lirih sembari menahan nyeri.


Robby melepaskan dengan kasar cekalan tangannya dan berdiri seraya mengibaskan jasnya seolah menghilangkan sesuatu yang kotor dari jasnya itu.


Dengan bersusah payah Sakti mulai bangkit dan mendudukkan  tubuhnya di atas lantai.


Robby melihatnya dengan pandangan merendahkan.


"Panggil dokter atau siapa saja secepatnya ! Jangan sampai dia mati disini" titah Robby pada sekretarisnya.


"A.. aku.. ma.. mau ngomong.. sama Kakak juga Ayah," ucap Sakti yang terbatuk-batuk dengan menahan sakit.


"Masih berani Lo manggil gue Kakak?" Tanya Robby dengan nada tak suka.


Sakti mulai berusaha berdiri dengan meraba-raba kursi yang ada di belakangnya.


"A... Aku mohon..." Ucap nya memohon.


Tak lama beberapa orang pria bertubuh tegap memasuki ruangan itu dan mencoba membawa Sakti keluar.


Tapi Sakti menolak, ia tak akan pergi sebelum bicara dengan kakak iparnya itu.


"Biarkan dia di sana ! Panggil seseorang untuk mengobatinya." Ucap Robby sebelum ia keluar dari ruangannya sendiri untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar satu jam untuk Robby menenangkan diri. Ayah Kirana yang telah pensiun pun datang karena seseorang memberitahukannya ada sebuah keributan yang berkaitan dengan Robby anaknya.


"Ada apa Rob ?" Tanya ayah Kirana begitu ia sampai.


Robby berpikir sejenak sebelum menjawab, ia tak mau ayahnya yang sudah tua itu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Sakti datang untuk menemui kita," jawab Robby pada akhirnya.


Ayah Kirana terkejut, "di mana dia sekarang ?" Tanyanya.


"Di ruangan aku," jawab Robby.


Tanpa menunggu ajakan Robby, ayah Kirana telah berjalan menuju ruangan anaknya itu.


Ia terkejut melihat Sakti yang terduduk di sofa dengan perban di sudut bibirnya dan wajahnya yang lebam.


"A... Ayah..." Lirih Sakti dan dengan bersusah payah berusaha berdiri untuk menyambut kedatangan mertuanya itu.


"Sudah, sudah.. duduk lah  !" Ucap ayah Kirana.


Melihat keadaan Sakti, ayah Kirana tahu siapa yang telah melakukan ini padanya.


Ia pun menghela nafasnya yang terasa sesak mengingat putri kesayangannya yang terluka karena lelaki yang ada di hadapannya kini, maka ia pun tak bisa menyalahkan Robby karena tak bisa menahan emosi.


"Kirana tidak ada disini. Mereka sedang berada di Indonesia. Apa kamu gak tahu ?" Tanya ayah Kirana yang kini telah duduk di hadapan Sakti.


"Sa... Saya tahu," jawab Sakti.


"Terus kamu mau apa datang kemari?" Tanya ayah Kirana sedangkan Robby diam dan mengawasi.


"Saya datang mau minta maaf pada ayah dan kakak atas apa yang telah saya lakukan pada Kirana," jawab Sakti lirih menahan sakit.


"Ayah tahu, kamu beberapa kali datang untuk bertemu kami. Tapi maaf kami belum bisa bertemu denganmu waktu itu. Jujur, kami merasa sakit hati dan kecewa dengan sikap kamu."ucap ayah Kirana.


"Sa... Saya.. benar-benar minta maaf pada ayah juga kakak karena telah menyakiti Kirana. Saya menyesal telah melakukan itu semua," ucap Sakti tulus.


"Saya juga datang untuk memberi tahukan bahwa saya akan berusaha memperbaiki diri dan rumah tangga saya. Saya tak akan pernah menceraikan Kirana,"


"Kalau Lo datang buat minta dukungan, Lo gak akan dapat !" Jawab Robby.


"Benar apa yang dikatakan Robby. Kami tak dapat memberikan bantuan apapun. Semua keputusan ada di tangan Kirana . Dan asal kamu tahu, Kirana berhak bahagia. Kalau kamu memang sudah gak sayang Kirana, sebaiknya kamu lepaskan dia," ucap ayah Kirana pada Sakti.


"Saya tak akan menceraikan Kirana, karena saya sangat  mencintainya. Saya datang tidak untuk meminta dukungan. Saya datang untuk meminta maaf pada ayah karena telah menyakiti Kirana padahal ayah sudah menitipkannya pada saya semenjak saya sah menjadi suami nya." Ucap Sakti penuh sesal


"Saya sangat mencintai Kirana dan juga kedua anak saya. Semoga ayah dan kakak menerima permintaan maaf saya,"


***


Sakti tiba kembali di Jakarta ketika hari telah  berganti malam. Ia berjalan dengan tertatih-tatih menahan nyeri. Tubuhnya mulai menggigil dan keringat dingin mulai membasahi.


Tak banyak yang ia dapatkan dari mertua dan Kakak iparnya, bahkan kedua orang itu tak berkata apapun ketika Sakti berulang kali memohon maaf. Sakti tahu, mereka pasti sangat kecewa padanya.


Namun sesuatu yang lega dalam diri Sakti yaitu ia telah meminta maaf dan mengakui segala kesalahannya. Setidaknya sedikit beban telah menguap dari hatinya.


Sakti menyenderkan tubuhnya di kursi tunggu, ia tengah menanti seseorang yang ditugaskan untuk menjemputnya.


Beruntung lagi Sakti orang itu segera datang.


"Bapak baik-baik saja ?" Tanya orang itu karena melihat lebam di wajah bossnya itu dan wajah Sakti yang memucat di hiasi peluh di dahinya.


"Saya baik, ayo cepat pergi" ucap Sakti sembari berusaha berdiri dengan susah payah.

__ADS_1


Di dalam mobil keadaan Sakti semakin memburuk, tubuhnya menggigil dan demam mulai menyerang.


"Pak sebaiknya ke rumah sakit saja ya ?" Tanya orang suruhannya itu. Namun Sakti tak menjawab apapun.


Tak ingin hal buruk terjadi pada bossnya, orang itu pun langsung membawa Sakti ke rumah sakit yang telah menjadi langganan keluarga.


"Jangan kabari istri saya," ucap Sakti pada orang itu.


"Orang tua anda ?"


" Jangan juga. Biar saya sendiri," jawabnya.


Saat ini Sakti sedang tak ingin mendengarkan omelan maminya.


Orang itu pun menuruti perintah bossnya, tapi karena ia takut hal buruk terjadi dan ia takut  disalahkan maka ia pun menghubungi Fabian.


***


Sakti terbangun di atas ranjang rumah sakit dengan jarum infusan tertancap di tangannya. Ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 9.30 pagi. Entah berapa lama ia tertidur yang Sakti ingat semalam dokter memberinya obat penenang dan penahan rasa sakit.


Beruntung baginya tak ada tulang yang patah, kesakitannya hanya karena benturan benda tumpul yang keras.


Sakti memerlukan waktu untuk beristirahat hingga ia sembuh total.


Ingat akan sesuatu, Sakti pun menekan tombol pemanggil juru rawat.


Tak lama seorang perawat masuk ke dalam ruang inap Sakti.


"Apa ada sesuatu Pak ?" Tanya perawat itu.


"Ya tolong bukakan infusan ini. Saya harus pergi," ucap Sakti.


"Maaf Pak, saya tidak dapat melakukan itu karena harus dengan sepengetahuan dokter," perawat itu menolak.


"Tolong lah ! Ada hal penting yang harus saya kerjakan," Sakti terus berusaha namun perawat itu tetap menolak.


Sakti mulai berusaha melucuti infusan itu dengan tangannya sendiri hingga seseorang menahannya.


"Lo gila apa gimana sih ?" Berang Fabian yang telah berada disana dan menahan aksi nekad kakaknya itu.


"Bi, bantu gue. Gue harus pergi. Gue udah janji bawa anak-anak ke Dufan hari ini," Sakti mulai panik.


"Lo gila apa ? Keadaan gini mau pergi ?"


"Gue gak mau anak-anak kecewa dan makin benci ma gue," Sakti masih bersikukuh.


"Lo nyampe sana bukannya maen tapi mati mau Lo ?" Fabian mulai tersulut emosi.


Sakti menundukkan wajahnya, dalam hati ia bertanya. Kenapa begitu sulit untuk memperbaiki semua? Bahkan untuk mendekati anaknya pun ada saja halangan.


Sakti meraup wajahnya frustasi.


"Apa lebih baik gue mati ya Bi?" Tanya Sakti pada adiknya itu.


To be continued...


Thank you for reading ❤️


Terimakasih banyak yang sudah memberikan hadiah juga vote.


Tons of love for you guys ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2