
Happy reading ❤️
Aku takkan jatuh cinta lagi.
- Fabian-
Renata POV
Sudah terbilang 3 bulan semenjak perpisahan ku dengan Fabian. Kini aku tinggal di sebuah rumah yang tidak semewah rumah sebelumnya dan letaknya tak jauh dari tempat aku bekerja sebagai akuntan. Rumah yang telah disediakan Fabian untukku dan Celia. Bahkan Fabian pun menyediakan sebuah mobil untuk kami.
Bi sumi dan mbak Wulan pengasuh Celia pun ikut tinggal denganku. Fabian kembali tinggal di apartemen nya. Rumah kami yang dulu hanya di tempati asisten rumah tangga yang baru dan sesekali Fabian memeriksa nya kesana.
Sedangkan aku belum berani menginjakkan kakiku disana. Rumah itu penuh kenangan manis hingga badai hebat menerjang rumah tangga kami.
Pernah Fabian bertanya apa sebaiknya dijual ?namun sepertinya kami berdua berat melepaskan begitu saja kenangan yang ada, meski tak terucap tapi kami berdua merasa tak rela melepaskan nya.
Fabian akan datang menjemput Celia di akhir pekan untuk tinggal bersamanya tak pernah sekalipun dia melewatkan itu. Akupun memberikan kebebasan penuh bagi Fabian untuk menemui anaknya. Karena bagaimanapun Fabian berhak melakukan itu.
Oh iya Fabian pun masih memberikan uang bulanan yang sedikit pun tak ia kurangi jumlahnya meski kami telah berpisah.
Bagaimana perasaan ku bila bertemu Fabian ? Aku masih merasakan debaran itu. Debaran hati setiap bertemu dengannya. Ternyata berusaha move on tak semudah itu. Aku sering merasa kesepian tanpa kehadirannya.
Perpisahan ternyata se-sakit ini.
Tak ada perpisahan yang tak meninggalkan luka.
Ini hari pertama ku bekerja sebagai tenaga keuangan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi.
Telah bertahun-tahun tak bekerja membuat ku sedikit gugup.
Oh iya, setelah Jamie mengetahui perpisahan ku dengan Fabian. Jamie mulai menghubungi ku lagi. Meski hanya sekedar bertukar kabar melalui pesan tapi hanya sebatas itu tak lebih.
Aku juga belum bisa melangkah kan kaki ke dalam hubungan baru. Belum bisa karena bayang bayang Fabian masih ada dalam hati. Hanya waktu yang dapat menghilangkan nya.
"Morning Princess mommy. Ayo nak makan dulu," ucapku pada Celia yang telah duduk manis di dapur dengan seragam TK nya. Setiap pagi aku selalu menyediakan sarapan dan bekal untuknya.
"Sayang, hari ini hari pertama mommy kembali bekerja. Nanti mbak Wulan yang akan jemput Celia. Mommy akan pulang di sore hari jadi Celia baik-baik dirumah bersama mbak Wulan dan bibi Sumi ya," ucapku pada Celia.
"Oke Mom," jawab Celia sembari memasukkan roti yang telah diolesi selai coklat ke dalam mulutnya.
Sungguh aku beruntung memiliki anak semanis Celia. Tak rewel tak banyak menuntut juga selalu menuruti apa yang aku katakan. Ku kecup puncak kepala Celia yang harum buah strawberry menguar dari rambutnya.
Ting tong... Bel pintu berbunyi.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini," tanyaku dalam hati.
BI Sumi telah berjalan menuju pintu namun aku halangi.
"Biarkan sama aku aja bi. Tolong bereskan bekal untuk Celia saja," ucapku pada Bi Sumi.
"Dengan ibu Renata Oktalia ?" Tanya seorang kurir dengan buket bunga mawar putih ditangannya, begitu aku membuka pintu.
"Hemm iya, saya sendiri Renata," ucapku.
"Ada kiriman bunga untuk ibu, tolong tanda tangani tanda terimanya," ucap sang kurir sembari memberikan selembar kertas untuk ku tandatangani. Kemudian ia menyerahkan buket bunga itu.
Sangat harum dan cantik. Mawar putih memang bunga kesukaan ku. Terdapat sebuah kartu di dalamnya
"Wish you best of luck on your first day"
__ADS_1
( Semoga beruntung di hari pertama mu)
Ku baca kartu tanpa nama pengirim itu.
Satu nama terlintas dalam pikiranku "Fabian," bisikku lirih.
Tak lama terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari ponsel yang berada di kantong celana kerjaku.
Tertera nama Jamie disana
Jamie : semoga sukses di hari pertama mu bekerja :)
Ah... Apakah Jamie yang telah mengirimkan bunga untukku ?
Renata : thanks, makasih bunganya aku suka.
Jamie : bunga ? Ah iya syukurlah kalau kamu suka :)
Renata : suka sekali. Terimakasih. Have a great day Jamie.
Jamie : you too.
Dan chat pesan kami pun berakhir. Dulu Fabian yang selalu memberikan perhatian padaku, tapi sekarang orang lain yang melakukan itu. Ada sedikit rasa aneh yang kurasakan dalam hatiku.
Di sudut hatiku yang lain berharap Fabian lah yang melakukan nya.
Apakah aku masih dalam ingatanmu, Bi ?
***
Fabian POV
Sudah terbilang 3 bulan aku berpisah dari wanita yang paling aku cintai. Karena ulahku sendiri telah berdusta padanya. Tak pernah sehari pun aku lalui tanpa rasa penyesalan.
Aku masih saja mencintainya, aku masih saja selalu merindukannya seperti dahulu. Ternyata berusaha move on itu tidaklah mudah. Renata apa kamu merasakan hal yang sama denganku ?
Hari ini hari pertama ia bekerja, rasa khawatir, rasa takut menghantui diriku. Takut ia bertemu laki laki lain yang akan menggantikan aku.
Lihatlah Renata belum apa-apa aku sudah cemburu.
Dan aku begitu cemburu melihatmu bahagia tanpaku.
Tapi bagaimana pun aku selalu berdoa agar kamu selalu bahagia.
Meskipun dalam sudut hati terdalam aku masih berharap kamu mau kembali.
Titel baru yang orang-orang berikan padaku terutama para wanita di kantorku adalah "Duda Keren" membuatku mual setiap kali mendengar nya.
Sering kali ku lihat tatapan para wanita yang melihatku penuh puja, penuh damba. Bukannya aku besar kepala tapi memang seperti itu. Para wanita melirik dan melihat ku dengan tatapan lapar mereka. Jujur saja itu membuatku bergidik ngeri bukannya tergoda.
Tahukah kalian para wanita ? Aku lebih suka terikat dalam pernikahan dengan wanita yang sangat aku cintai daripada seperti ini. Aku lebih suka di panggil suami atau daddy.
Tahukah kalian ? Aku sudah memutuskan untuk takkan jatuh cinta lagi.
Aku sudah tak ingin memulai cerita cinta baru.
Aku sudah tak ingin memberikan hatiku pada wanita yang lain.
Aku sudah tak ingin menyentuh, memeluk, mencium wanita yang lain.
__ADS_1
Aku enggan untuk menyebutkan nama wanita lain penuh damba dari bibir ini.
Ya... Aku sudah tak ingin jatuh cinta lagi.
Karena dunia ku terus berputar tapi hatiku tidak. Hatiku tak bisa berpaling dari seorang wanita yang selalu ada disana. Renata...
"How pathetic i am" lirihku. Ya diriku ini sangat menyedihkan.
"Seandainya Renata bekerja di sebrang kantor ku lagi mungkin aku akan kembali mengejar nya," gumam ku
"Ya Tuhan, bolehkah aku mengejarnya lagi?"
Tok tok tok. Bunyi ketukan di pintu menyadarkan aku dari lamunan.
"Masuk," kataku
Muncullah seorang gadis cantik yang masih muda dengan dandanan modis dan make up natural.
"Selamat pagi Pak, perkenalkan saya Sarah yang akan menjadi sekretaris baru bapak karena ibu Indri sekretaris bapak yang terdahulu telah mengambil cuti melahirkan," ucapnya sopan.
Ya selama ini aku memiliki sekretaris bernama Indri yang telah lama bekerja padaku selain asistenku Hendrik. Biasanya Indri mengurusi hal hal yang berbau administrasi dan Hendrik bagian lapangan.
"Oh oke Sarah. Semoga kita dapat bekerjasama dengan baik. Apa Indri telah menjelaskan semua job desk yang harus kamu kerjakan ?"
"Sudah Pak, sebetulnya sudah dua Minggu ke belakang saya bekerja bersama ibu Indri sebelum beliau melaksanakan cutinya. Tapi sepertinya bapak tidak memperhatikan keberadaan saya," ucapnya penuh sopan santun.
Tiba tiba aku merasa bersalah, ya duniaku sedang jungkir balik karena urusan cinta lebih tepatnya karena urusan patah hati. Sehingga aku tidak begitu memperdulikan masalah sekitarku.
"Oh maafkan saya, Sarah. Saya kurang fokus akhir- akhir ini," ucapku merasa menyesal.
"Tidak apa-apa Pak, saya mengerti kesibukan Bapak," ucapnya dengan senyuman yang sulit aku artikan.
" Baiklah Sarah, tolong jelaskan kegiatan saya hari ini apa saja,"
Sarah menjelaskan jadwalku hari ini dengan rinci tapi pikiran ku telah melayang lagi pada dia yang selalu aku rindukan. Renata...
Apa kamu pun masih mikirin aku, Re ?
TBC...
Mau rilis Visual dari kemarin kemarin lupa mulu wkwkkwkwkw.
visual versi author ya... bila kurang berkenan silahkan pakai imajinasi sendiri
Fabian Nugraha
Renata Oktalia
Dokter Jamie
__ADS_1
Sarah