Terikat Dusta

Terikat Dusta
Happiest B'day Papa Sakti


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kirana menopang kepalanya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain membelai lembut rambut suaminya. Kadang ia menyisirnya dengan jari. Sekarang ini, Kirana sedang terbaring di ranjang menghadap suaminya yang tengah tertidur pulas.


Wajah tirus itu kini berisi lagi, cekungan di matanya pun sudah tak terlihat lagi dan tangan kekar tanpa guratan urat berlebih itu terlihat lebih kokoh. Sakti terlihat lebih baik dari sebelumnya.


Kirana perhatikan dengan seksama lelaki yang hampir 11 tahun ini mengisi hatinya. Lelaki yang hari ini genap berusia 37 tahun. Memang tak muda tapi pesonanya tak luntur sama sekali.


Kirana teringat pertama kali dipertemukan dalam sebuah perjodohan oleh orang tuanya. Meskipun ia dan Sakti memang telah saling mengenal sebelumnya namun ketika acara pertemuan itu terjadi, dada Kirana berdebar lebih kencang di hari itu.


Bagaimana ia bisa menolak dijodohkan dengan lelaki muda yang begitu mempesona. Ketika Sakti mencuri sebuah kecupan dari bibirnya di hari itu, tak ada satu hari pun Kirana lewati tanpa memikirkannya.


"Bibir ini bahaya banget," gumam Kirana lirih sembari meraba bibir suaminya yang masih tertidur itu.


Sentuhan-sentuhan halus Kirana akhirnya membangunkan Sakti dari tidurnya, ia tersenyum melihat Kirana terbaring di sisinya, sungguh Sakti merasa bahagia saat ini.


"Selamat ulang tahun cintaku," ucap Kirana seraya menatap Sakti dengan penuh perasaan cinta.


Sakti terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang Kirana ucapkan. Ia pun tersenyum ketika mendengar itu.


"Terimakasih, Sayang." Jawab Sakti seraya membelitkan tangannya pada tubuh Kirana dan berusaha membawanya dalam pelukan.


"Apa kamu dari tadi terus berada disini untuk menunggu ku bangun?" Tanya Sakti.


Kirana menganggukkan kepalanya. Sakti pun memberikan kecupan di puncak kepala Kirana yang kini tengah menelusup ke dalam dadanya.


"Rasanya aku ingin ulang tahun setiap hari kalau kamu perlakukan aku kaya begini." Ucap Sakti lagi seraya mengeratkan pelukannya.


"Kamu nanti cepat tua dong," Kirana terkekeh ketika mengatakan itu.


"Aku suka banget kamu manis begini sama aku, Ki."


Kirana sengaja menggerilyakan tangannya ke bawah sana, membelai lembut ketegangan tubuh bawah Sakti yang masih terbalut celana.


"Nghhhh... Dan yang ini aku lebih suka lagi," erang Sakti yang menikmati sentuhan istrinya itu.


Kirana melepaskan belaiannya, namun Sakti menahan tangan itu agar tetap berada di sana dan memanjakannya.


"Jangan berhenti,Sayang." Ucap Sakti lirih. Sakti kembali memejamkan matanya, menikmati apa yang Kirana lakukan pada tubuh bawahnya dan mengerang ketika belaian itu terasa makin nikm*t saja.


Keduanya telah saling menginginkan lebih, sepertinya hormon feromon banyak terpancar pagi ini.


"Sayang, aku sangat menginginkanmu." Bisik Sakti lirih.


Kirana pun mengangkat wajahnya dan menelusupkan diri ke dalam ceruk leher suaminya dan memberikan sebuah kecupan di sana.


"Eunghh... Kamu selalu membuat aku gila, Kirana." Lenguh Sakti yang kini mulai memberikan sentuhan yang menggoda pada tubuh istrinya itu.


Suasana semakin memanas, keduanya telah saling menginginkan untuk berbuat lebih namun suara nyaring dari kedua anaknya menyadarkan mereka.


"Selamat ulang tahun Papa," Dareel Langsung menaiki ranjang dan menghambur pada tubuh Papanya itu.


Sontak Kirana serta Sakti langsung memisahkan diri.


Sakti langsung menutupi dengan bedcover apa yang sedang tegak berdiri namun bukan keadilan.


"Terima kasih,Sayang." Jawab Sakti dengan suara seraknya.


"Selamat ulang tahun Papa," ucap Davin yang berdiri di sisi ranjang karena ia belum begitu leluasa bergerak.


Sakti pun mendudukkan dirinya dan membawa Davin dalam pelukannya.


"Terimakasih, Sayang." Ucap Sakti seraya mencium puncak kepala anaknya.


"Mmm ayo, Papa harus mandi nanti telat ke kantor." Ajak Kirana pada kedua anaknya dan menggiring mereka untuk keluar kamar.


"Sayang... Ki, gimana ini?" Tanya Sakti dengan tubuh bawahnya yang masih menegang.


Kirana mengangkat bahu sebagai jawaban dan ia menunjuk kedua anaknya. Sakti mengerti akan hal itu, ia harus merelakan Kirana untuk pergi bersama kedua anaknya.


Sakti berdiri di depan cermin sembari menggosok gigi. Ia tersenyum puas ketika melihat tanda kemerahan yang Kirana tinggalkan pada lehernya.

__ADS_1


Seingat Sakti baru kali ini Kirana meninggalkan jejak yang begitu jelas terlihat. Ulang tahun kali ini dimulai dengan hadiah luar biasa dari sang istri dan Sakti tersenyum bahagia karenanya.


Sakti duduk di meja makan menunggu sarapannya, ia berbicara dengan kedua anaknya.


"Leher Papa kenapa ?" Tanya Dareel polos.


"Oh ini? Ini karena di gigit nyamuk cantik," jawab Sakti seraya meraba tanda cinta dari istrinya itu.


Kirana yang mendengar itu langsung menolehkan kepalanya dan melihat kearah Sakti dengan menutup mulutnya yang menganga.


Kirana berjalan mendekati Sakti dengan sepiring nasi goreng.


"Hai nyamuk," sapa Sakti. Menggoda Kirana hingga wajah istrinya memerah.


"Ya ampun Mas, aku gak tau akan terlihat jelas seperti itu. Sebentar aku tutupi pakai bedak atau yang lainnya," jawab Kirana yang terlihat panik.


"Bukan pake bedak Ma, tapi pake minyak kayu putih," kali ini Davin yang berkomentar.


Seketika Sakti tertawa, dan Kirana kehilangan kata-kata untuk menjelaskan pada kedua anaknya.


***


Sakti tiba di kantornya tepat waktu, ia duduk di kursi kebesarannya dan mulai bergulat dengan tumpukan kertas di hadapannya.


"Happy birthday, Jagoan !" Ucap Fabian ketika ia memasuki ruangan kakaknya itu.


"Elah, gak usah ngucapin tambah tua gue." Jawab Sakti malas tanpa melihat pada adiknya itu.


Fabian terkekeh dan mendudukkan dirinya tepat di hadapan kakaknya. Mau tak mau Sakti pun mengangkat wajahnya menatap Fabian yan berada di depannya.


"Njiiirrrr," ucap Fabian merasa geli.


"Apaan sih ?" Tanya Sakti yang tak mengerti.


"Lo gak malu apa ? Itu..." Fabian menunjuk pada tanda kemerahan di leher kakaknya itu.


"Oh ini ? Hadiah dari Kirana tadi pagi," jawab Sakti merasa bangga.


"Gak gini juga kali." Ucap Fabian lagi.


"Ya iyalah," ucap Fabian kesal.


"Bodo ah, yang penting gue happy. Nanti malam kita makan bareng yuk Bi. Bantu reservasi tempat dong,"


"Sorry gue udah ada acara nanti malam dan gak bisa batal soalnya udah gue rencanain dari jauh hari." Ucap Fabian.


Sakti mencebikkan bibirnya tanda tak suka.


"Udah sana pergi, gue males liat muka Lo. Gue marah," ucap Sakti yang di tanggapi oleh gelakkan tawa Fabian.


Fabian pun pergi sembari tertawa.


Entah apa yang terjadi dengan hari ini, tapi volume pekerjaan Sakti lebih banyak dari sebelumnya dan mengharuskan ia untuk pulang terlambat.


"Mas, malam ini teman aku ngadain acara di hotel XXX. Aku gak mau tahu kamu harus datang jam 8 malam dengan pakaian resmi." Isi pesan yang Kirana kirimkan padanya.


"Tapi kerjaan aku banyak, Sayang. Sepertinya gak sempat ganti baju dulu," balas Sakti.


"Gak mau tahu, aku kirimin aja baju kamu ke kantor," Kirana kembali membalas pesan itu.


"Baiklah Sayang, terserah kamu Saja."


***


Pukul set 8 malam Sakti bersiap dengan setelan jas yang Kirana kirimkan padanya, bahkan ia berganti dalam ruangannya.


"Kalau gak cinta, aku males banget ini Ki pergi. Aku Capek," Sakti bermonolog sendirian.


Setelah merasa siap ia pun melesat pergi ke hotel yang dituju. Acara itu diadakan di restoran mewah yang berada disana.


Sakti menghubungi Kirana berkali-kali namun Kirana tak menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Sayang kamu di mana sih ?" Sakti mulai kesal karena tak bisa menghubungi Kirana.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke restoran itu, tapi terasa sedikit aneh karena biasanya suasana disana cukup ramai tapi hari ini begitu sepi. "Sepertinya restorannya gak buka," batin Sakti dalam hatinya.


Dan anehnya tak ada seorang pun yang berjaga disana.


"Kamu dimana ? Aku udah di dalam." Kirana kembali mengirimkan pesan.


Dengan perasaan ragu, Sakti membuka pintu restoran itu yang ternyata tak terkunci.


Suasana begitu gelap dan sepi namun sedetik kemudian berganti terang dan ucapan semuanya membuat Sakti begitu kaget.


"Surprise !!!" Teriak semua yang berada disana.


Kirana, kedua anaknya, orang tua Sakti dan Fabian serta keluarganya pun berada disana. Bahkan beberapa kerabat dan keluarga dekat pun hadir disana.


Kirana yang begitu anggun Dengan balutan gaun berwarna hitam berjalan mendekati suaminya itu.


"Selamat ulang tahun, Sayang." Ucap Kirana seraya memberikan sebuah kecupan di pipi Sakti.


"Terimakasih," jawab Sakti dengan mencuri sebuah kecupan di bibir istrinya dan diiringi sorakan dari orang-orang yang melihatnya.


Kini mereka duduk bersama dalam satu jamuan makan malam. Ternyata tempat itu sudah Kirana booking untuk acara ulang tahun suaminya.


"Gila, pantesan kerjaan gue banyak banget hari ini. Gak bisa kemana-mana." Ucap Sakti yang kini sadar bahwa dirinya telah dikerjai.


"Ini semua ide kak Kirana," ucap Renata membocorkan rahasia, dan Kirana tertawa mendengar itu.


"Jangan senang dulu Nyonya Sakti, aku akan menghukum mu malam ini," bisik Sakti lirih dengan penuh maksud.


"Hukum aku Papa, aku siap." Jawab Kirana lirih dan begitu seduktif.


Sakti menatap Kirana dengan kilatan mata penuh gair*h dan Kirana menyadari itu.


Sakti menarik nafasnya dalam, berusaha menenangkan diri.


***


Sakti menunggu Kirana di atas tempat tidurnya. Kini ia telah bertelanjang dada, menanti Kirana yang telah siap akan 'hukumannya'


Kirana datang menghampirinya dengan gaun tidur satin berwarna maroon dan berpotongan dada rendah yang berhiaskan renda. Sakti menelan Salivanya dan menarik nafas dalam ketika melihat penampilan Kirana malam ini.


Kirana menaiki ranjang dengan perlahan dan Sakti yang sudah tak sabaran segara menarik Kirana dalam pelukannya dan mencumbu mesra bibir ranum istrinya.


"Sabar Sayang," Kirana menahan dada suaminya itu.


"Aku udah gak tahan Sayang," bisik Sakti lirih.


"Ini kejutan terakhir buat kamu," Kirana memberikan sebuah kotak kado yang berhiaskan pita pada suaminya itu.


"Sayang, kamu telah memberikan banyak hadiah. Aku jadi malu karena aku jarang sekali melakukan itu." Ucap Sakti yang merasa tak enak.


"Bukalah," ucap Kirana seraya tersenyum.


Dengan perlahan sakti membuka kotak kado itu dan terkejut luar biasa ketika terdapat hasil tes kehamilan yang menunjukkan tanda positif juga sebuah photo hasil USG di dalamnya.


Tanpa Sakti sadari air matanya terjatuh begitu saja. Ia tertawa dan menangis secara bersamaan. Namun tangisan bahagia yang ia rasakan saat ini.


"Ki... Sayang... Kamu hamil ?" Tanya Sakti yang tak bisa menutupi rasa bahagianya.


"Iya sayang... Aku sedang mengandung anakmu. Menurut dokter usianya sekitar 9 Minggu," jawab Kirana.


Sakti mendekatkan wajahnya pada Kirana dan dengan perlahan menyatukan bibirnya dengan bibir Kirana dan mengulumnya lembut.


"Terimakasih Sayang. Ini adalah ulang tahun terindah di sepanjang hidupku," ucap Sakti seraya menatap mata Kirana dengan penuh perasaan cinta.


Extra bonus yaaa...


Bonus terakhir beneran 🙈🙈🙈


Part ini dibuat karena Visual papa Sakti ultah tanggal 29 Agustus kemarin.

__ADS_1


Happiest bday Papa Sakti ❤️


Terimakasih yang sudah baca 😍💞


__ADS_2