
"Sejak kapan memeriksa suhu seperti ini, dan gimana kalau kamu tertular flu,"
"Sejak sekarang dan ini hanya berlaku untuk kamu dan aku saja. Aku juga tak peduli jika tertular," jawab Fabian seraya kembali membenamkan bibirnya diatas bibir Renata.
Renata kembali membulatkan matanya sungguh yang dilakukan Fabian membuat darahnya berdesir.
Renata mendorong pelan dada Fabian untuk memisahkan tautan bibir mereka sungguh Fabian menciumnya dalam keadaan minim percaya diri.
"Kurasa demam mu gak terlalu tinggi Re, hanya sekedar hangat," ucap Fabian dengan suara parau setelah tautan bibir mereka terpisah.
"Bi, serius kalau kamu tertular Flu gimana ? Kamu ini ada-ada aja," ucap Renata dengan wajah merona.
"Kalau tertular maka aku akan bergelung dalam selimut bersamamu biar sekalian bareng sakitnya Re. Jadi tinggal Wulan yang rawat kita," jawab Fabian dengan senyuman jahil nya.
"Iiisshhh beneran Bi mulai ngaco. Kayanya kamu yang demam bukan aku,"
"Iya aku demam gegara kamu Re,"
"Udah ah Bi, aku mau tidur. Kamu diajak ngomong gak nyambung aja," Renata merajuk karena hatinya terasa mau meledak dengan apa yang dilakukan dan diucapkan Fabian.
"Ckckckckck, gitu aja marah Re. Ayo makan dulu. Kalo gak nurut aku ukur suhu lagi nih,"
"Aku makan diluar aja lah Bi, nanti banyak semut makan di kamar," Renata beralasan, padahal dirinya merasa begitu sulit bernafas bila hanya berdua dengan Fabian di dalam kamarnya yang tak seluas dulu.
Fabian menuruti asal Renata bersedia memakan makanannya.
Kini mereka tengah duduk diruang keluarga sembari menonton film di atas sofa besar.
"Mau aku suapin Re?
Renata menggelengkan kepalanya tanda tak mau. Tentu saja Renata menolak, entah bagaimana hatinya bila Fabian melakukan itu.
Renata berusaha menghabiskan buburnya karena Fabian terus memperhatikan nya. Ia hapal betul bagaimana Fabian akan menyuapinya jika Renata tak mau makan. Fabian memang seperehatian ini jika ia sakit.
"Kok bisa sakit Re ? Berarti waktu aku vc itu rambut mu basah karena kehujanan bukan karena cuci muka,"
Tiba-tiba Renata merasa tak enak hati karena telah membohongi.
"Aku hanya kehujanan sedikit Bi. Mmmm waktu itu Jamie mengajakku makan malam karena ingin memberikan Celia oleh-oleh," ucap Renata tanpa memandang wajah Fabian. Dirinya merasa Fabian telah menangkap basah berselingkuh padahal ia dan Fabian sudah tak ada ikatan apapun.
"Hemmm iya aku tau, Celia yang cerita. Kak jamie bawa anaknya juga ya ?"
"Iya Bi. Katanya sih sekalian lagi liburan."
"Sampai kapan ?"
"Ya mana aku tahu Bi, kamu tanya sendiri kamu kan saudaranya," jawab Renata ketus.
"Bukan obrolan seperti ini Bi yang aku inginkan, bukan mengenai orang lain. Tapi mengenai kita. Kita Bi... Apa masih ada jalan bagi kita untuk kembali merajut asa. Apa dengan tidak menolak ciuman mu saja kamu tidak mengerti bahwa yang aku harapkan itu kamu," batin Renata dalam hatinya.
"Kok diam Re ? Maafin aku kalau bertanya di luar batasan ku," ucap Fabian.
"Dasar gak peka," gumam Renata kesal.
__ADS_1
"Apa Re ?"
"Gak apa-apa aku kenyang,"
"Oh ya udah, ayo minum obat dulu." Ujar Fabian yang kemudian membukakan obat yang biasa Renata minum ketika terserang Flu.
"Besok kita ke dokter,"
"Ga usah Bi, besok kan libur jadi aku tinggal tidur seharian cukup kok,"
"Ya kita lihat dulu besok. Ada air susu jahe kamu mau ?"
"Bentar Bi, baru minum obat. Mmm kamu gak kemalaman ini Bi ?"
"Aku nememin kamu boleh kan Re ? Janji gak ngapa-ngapain" ucap Fabian dengan mengangkat ke dua jarinya tanda berjanji dan senyuman menghiasi wajahnya.
"Ada Wulan juga kan jadi kamu gak usah khawatir akan terjadi hal yang sangat kita inginkan," goda Fabian dan berhasil membuat wajah Renata merona.
"Apa sih Bi," jawab Renata dengan memukul lengan Fabian.
Fabian terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Ayo tidurnya di kamar jangan di sofa. Biar aku yang tidur di sofa sambil nonton TV. Kalau kamu butuh apa-apa tinggal panggil aku,"
"Aku jadi gak ngantuk Bi."
"Ya udah nonton TV dulu," ucap Fabian seraya mengelus puncak kepala Renata dan membawa ke dalam dadanya.
Tak lama dengkuran halus terdengar oleh Fabian.
Renata jatuh tertidur dengan memeluk dirinya. Entah sudah berapa banyak ciuman yang Fabian berikan di puncak kepala Renata. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Biarkan aku mencintaimu lagi Re," lirih Fabian di sela ciumannya
***
Renata terbangun di dalam kamarnya ketika sinar matahari mulai menyambangi bumi dan hangatnya merambat masuk melalui celah tirai.
Keadaan nya jauh lebih baik pagi ini. Sepertinya Fabian memindahkan nya ke dalam kamar tadi malam.
"Fabian mana ?" Lirih Renata.
Renata melihat ke luar jendela mobil mantan suaminya itu masih terparkir di halaman rumah nya. Sumpah demi apapun perasaannya begitu lega.
Renata bergegas membasuh muka, menggosok gigi, dan merapikan rambutnya. Menilai penampilan nya depan cermin sebelum bertemu Fabian pagi ini.
" Tadi malam pasti aku terlihat kacau sekali," lirih Renata teringat keadaannya ketika berciuman dengan Fabian semalam.
"Iiihh kan aku malu," rengeknya tanpa terdengar.
Renata berjalan menuju dapur karena terdengar suara-suara dari arah sana.
Renata menyenderkan tubuhnya di pintu dapur memandangi Fabian yang tengah memotong motong buah segar. Rambut Fabian yang diikat menandakan telah lama lelaki itu tak mengurusi dirinya sendiri.
__ADS_1
Mungkin sudah menginjak hampir 2 tahun sejak kecelakaan waktu itu. Dari situlah Renata tak pernah memperhatikan penampilan mantan suaminya itu meski mereka sempat hidup bersama saat Fabian tak dapat berjalan.
"Eh Re bentar aku bikin salad buah, kamu duduk dulu," ucap Fabian ketika menyadari kehadiran Renata.
Renata pun menurutinya.
"Buat sarapan Wulan udah bikin nasi goreng jadi aku bikin salad aja," ucap Fabian seraya mencuri ciuman dari pipi Renata.
"Bi.."
"Aku cek suhu Re, syukurlah udah gak demam," ucap Fabian yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Rambut kamu panjang Bi. Orang kantor gak komplain ?"
"So far gak ada sih. Kamu gak suka ? Kalo iya aku potong siang ini juga Re."
"Eeng suka aja sih Bi, tapi pendek lebih rapi,"
"Oke pendek aja kalau begitu,"
Renata tersenyum mendengar ucapan Fabian.
"Re, setelah sarapan aku pulang ya. Celia sudah kirim pesan karena mau jalan jalan ke SeaWorld hari ini. seandainya kamu gak sakit kita pergi bersama.
"Iya its ok, makasih Bi udah nemenin aku disini."
"Kalau ada apa-apa telepon aku ya Re,"
"Iya,"
"Oh iya itu buket bunga udah layu gak kamu buang ?" Tanya Fabian yang menunjuk pada sebuah buket bunga mawar putih yang sudah terlihat sangat layu.
"Oh iya aku lupa biasanya bi Sumi yang suka buangin. Aku dan Wulan benar-benar lupa," jawab Renata yang merasa tak enak.
"Bunga.."
"Eng.. bu.. bunga dari Jamie. Dia terkadang mengirimkan aku bunga setiap hari Senin," ucap Renata bohong memotong pembicaraan Fabian. Padahal buket itu rutin datang setiap hari Senin semenjak dirinya mulai bekerja beberapa bulan lalu. Seperti yang tertulis di pesan Jamie waktu itu, ia mengakui sebagai pengirim nya.
"Oh, kamu sungguh beruntung Re," ucap Fabian seraya berdiri dan berjalan menuju tempat dimana ia tadi membuat salad dan mulai membersihkannya.
Dapat Renata lihat air muka Fabian yang berubah sendu dan Renata sungguh merasa tak enak hati karenanya.
Tbc...
Thank you for reading ❤️
Like dan komen ya 😘
Terimakasih yang sudah kasih hadiah dan vote... Aku pada kalian gak ada obat pokonya ❤️❤️❤️
Sampai ketemu Senin insyaallah.
__ADS_1