Terikat Dusta

Terikat Dusta
Love At First Sight


__ADS_3

I knew i loved you, long before i said it.


Aku tahu aku mencintaimu, jauh sebelum aku menyatakan nya.


- Fabian Nugraha -


Flashback 8 tahun yang lalu.


Fabian Pov.


Namaku Fabian Nugraha usiaku baru 24 tahun. Aku pewaris ke dua dari Nugraha Corps. Salah satu perusahaan besar di Indonesia dengan berbagai bidang usaha didalamnya.


Ayahku sebagai direktur utama, dan kakakku Sakti yang berusia 30 tahun menjabat sebagai wakilnya.


Baru 2 tahun ini aku kembali dari Amerika setelah menimba ilmu tentang bisnis dan manajemen nya. Selama 2 tahun ini pula aku mulai ikut bergelut dalam bisnis usaha keluarga. Belajar sedikit demi sedikit karena nanti aku dan Sakti lah yang akan meneruskan usaha ini begitu Papi mundur dari jabatannya.


Kali ini aku diberikan kepercayaan untuk mengerjakan salah satu proyek besar yang sangat berpengaruh untuk perusahaan kami. Sudah lebih dari 3 bulan aku mengerjakan ini semua seorang diri dan di bantu dengan Hendrik asisten ku.


Proyek ini ibarat tes kelulusan aku untuk menapaki bisnis keluarga. Bila proyek ini berhasil maka Papi sebagai direktur utama akan mundur, Sakti akan maju menggantikannya dan aku akan menjadi wakil direktur.


Demi keberhasilan proyek besar ini aku curahkan segala tenaga, pikiran dan waktu. Berharap dapat berhasil dengan baik karena aku tak mau membuat kecewa.


Hari ini adalah hari dimana presentasi yang akan aku bawakan sendiri. Berharap klien dapat menerima proposal yang aku kerjakan dan menjalin kerjasama.


Demi apapun aku sangat tegang dan gugup ini pertama kali untuk ku, dan sangat sangat tak ingin mengecewakan Papi dan kakakku.


"Kamu bisa Fabian," ucapku pada diriku sendiri. Kini aku sedang menikmati secangkir kopi hitam dengan sedikit gula untuk mengurangi sedikit kegugupanku di sebuah coffee shop yang terletak persis di sebrang kantor dimana aku mengabdikan diri.


Kulihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 08.37 pagi dan meeting presentasi akan dimulai pukul 09.00


Benda pipih yang berada dikantong jasku telah bergetar berkali-kali. Aku tahu siapa yang menghubungi tentu saja kakakku Sakti. Aku sengaja melarikan diri sejenak untuk menenangkan diri.


Karena getaran yang tak mau berhenti akhirnya aku cek dan ternyata nama papi yang tertera disana.


Papi : Halo, dimana kamu nak ? Ini sudah mau mulai. Kita sudah berkumpul di ruang meeting.


Fabian : Sorry Pi, aku lagi ngopi bentar. Aku naik sekarang.


Papi : cepat Fabian, akan sangat tidak etis bila kamu terlambat. Lagian kenapa gak ngopi di kantor aja sih?


Fabian : Gak enak kopi kantor pih

__ADS_1


Papi : pokoknya cepat kita tunggu.


Dan papi pun memutuskan panggilan itu.


Ku habiskan kopi di cangkir itu dengan cepat, dan beranjak pergi dengan setengah berlari.


Kubuka pintu coffee shop ini dengan tegresa dan kembali berlari kecil untuk keluar dari gedung perkantoran ini. Ya coffe shop ini terletak dalam sebuah gedung perkantoran juga.


Braaaakkkk


Sial, aku tak sengaja menabrak seorang wanita dengan begitu banyak map di dekapannya yang membuat map itu jatuh berceceran beserta isinya.


"Aaahhh sial, udah telat nabrak juga." Umpat ku karena kesal.


Seorang wanita dengan dress warna biru navy berjongkok memunguti semua berkas dan map nya. Aku sudah siap bila wanita itu memaki maki keteledoran ku.


Aku berusaha membantu memunguti dengan berdecak kesal karena memakan waktu.


Wanita itu mendongakan kepalanya, memperlihatkan wajah cantiknya dengan mata paling indah yang pernah aku lihat. Iris mata berwarna coklat karamel yang membuat aku tenggelam didalam tatapannya.


"Kalau sudah telat sebaiknya bapak pergi, biar ini saya bereskan sendiri," ucap nya lembut. Sungguh jauh dari pikiranku yang mengira wanita ini akan memaki maki. Untuk kehidupan keras di Jakarta sangat jarang orang baik seperti ini.


Aku malah terdiam. Tak membantu tak juga pergi seolah terhipnotis oleh kebaikan dan kecantikan nya. Waktu terasa membeku begitu saja.


"Bapak sebaiknya pergi, saya beneran gak apa-apa," ucapnya lembut dengan senyum yang melengkung sempurna di wajah cantiknya.


Tak lama benda pipih disaku ku bergetar lagi. Aku sudah bisa menebak siapa yang menelepon.


"Ah mbak, saya benar-benar harus pergi. Maafkan saya ya mbak gak bisa bantu. Saya ada presentasi penting," ucapku pada wanita yang masih memunguti kertas kertas yang berserakan.


Sekali lagi wanita itu mendongakan kepalanya ke arahku.


"Iya gak apa-apa pak, dan semoga presentasi nya berhasil dengan baik dan sukses," ucapnya tulus.


Seketika hatiku terasa menghangat karena ucapannya.


"Terimakasih," ucapku dan mulai berlari kecil meninggalkan wanita itu. Ku tolehkan kepalaku ketika aku sudah keluar gedung perkantoran itu tapi sayangnya wanita itu telah pergi.


Dalam hati berharap semoga bisa bertemu lagi.


Meeting dan presentasi pagi ini berjalan lancar dan sukses. Semua orang terpukau dengan rencana kerjaku dan presentasi yang aku bawakan. Bisa aku lihat sorot mata Papi dan kakakku Sakti yang begitu merasa bangga.

__ADS_1


Klien begitu tertarik dengan proposal yang aku tawarkan dan akan segera mengajukan kontrak kerja sama.


"Pak Fabian sangat hebat, masih muda tapi potensinya luar biasa. Akan saya utus asisten saya untuk segera melakukan kontrak kerjasama," ucapnya dan itu membuat ku merasa senang. Hasil kerja keras ku terbayar manis.


Ada sesuatu yang aneh, sepanjang presentasi tadi aku begitu bersemangat karena aku merasakan wanita bermata coklat karamel itu seolah hadir disana dan memberiku semangat dengan senyumannya. Sungguh aku tak bisa keluarkan dia dari kepala. Senyum dan tatapannya terus menghantuiku. Anggap saja aku gila tapi aku benar-benar merasakan kehadirannya. "Apa benar cinta pada pandangan pertama itu ada ? Jika benar ada, maka ini yang aku alami sekarang." Batin ku dalam hati.


"Fabian ayo kita ngopi di bawah. Papi yang traktir. Ajak papi ke tempat kamu ngopi tadi pagi," ucap papi ku seraya menepuk pundak ku dengan sorot mata penuh rasa bangga.


Sakti memeluk pundak ku sembari melangkah kan kaki keluar dari ruang meeting. "Apa gue bilang Bi. Lo pasti bisa," ucapnya.


"Iya kak, makasih lo udah percaya sama gue kak," ucapku pada kak Sakti.


Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang ketika kami bertiga memasuki coffee shop yang aku datangi tadi pagi. Masih terlihat lenggang karena jam makan siang belum mulai.


Kami duduk bertiga secara melingkar. Setelah memesan kami mulai berbicara tentang meeting yang baru saja kami lalui. Seminggu kedepan adalah puncak dari kerja keras ku karena menyusun kontrak kerja dan faktor penunjang lainnya. Kami begitu serius mengobrol hingga tak kusadari meja sebelah telah diisi 4 orang wanita dan salah satu diantaranya wanita yang tadi pagi bertemu denganku. Aku benar-benar merasa beruntung.


Aku berusaha mencuri dengar dan mencuri pandang pada wanita itu tapi sepertinya dia tidak sadar akan kehadiranku.


"Re.. oy.. Renata kamu pesan minum apa?" Salah satu wanita itu bertanya.


"Aku pesan matcha latte aja lah" dan ternyata wanita itu yang menjawab wanita yang terus aku perhatikan dari tadi.


Namanya begitu cantik secantik orangnya. Pikirku.


"Fabian, apa kamu bisa perhatikan kalo Papi ngomong ? Dari tadi papi ngomong gak kamu tanggapin," ucap papi seketika mengalihkan perhatianku.


"Maaf Pi maaf," ucapku dan Sakti tertawa meledek.


Terpaksa aku harus kembali ke topik bisnis sembari terus memperhatikan wanita itu.


"Renata.. sepertinya aku tertarik padamu," batinku.


"Tapi melihat tatapan matanya yang meneduhkan sepertinya aku sudah jatuh cinta," hatiku berucap lagi.


"Fabian, papi harap seminggu kedepan kamu kerjakan dengan maksimal. Jangan main main dulu sampai kontrak kerjasama kita berhasil," ucap papi tegas.


"Baik Pi," jawabku singkat.


"Oke Renata, minggu depan setelah semua pekerjaanku selesai bersiaplah karena aku akan mengejarmu," ucapku dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga.


Tbc

__ADS_1


Makasih udah baca ❤️


__ADS_2