Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Meninggalkan


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Pukuli dia, Sakti !!! Pukuli dia sampai mati !  Kamu boleh membunuh nya karena aku tak pernah peduli sedikit pun padanya ! Seperti aku yang tak akan peduli lagi padamu," geram Kirana seraya menunjuk dada suaminya.


Seketika kesadaran Sakti kembali pada tempatnya.


"Apa maksudmu Ki ? Apa maksudmu gak peduli lagi sama aku ?" Tanya Sakti dengan paniknya.


"Ya aku tak akan peduli lagi sama kamu ! Aku lelah !" Jawab Kirana dengan suara meninggi.


Sakti pun menatap Kirana dengan tak percaya, dan memandang kedua anaknya yang menangis ketakutan dan berlindung di balik badan Kirana.


"Ah, sayang maafin Papa," ucapnya merasa menyesal telah melakukan hal buruk di hadapan kedua anaknya.


Tanpa mereka sadari beberapa orang telah berkumpul mengerubungi, hingga pihak keamanan sekolah pun berada disana.


Sakti mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang mulai berkerumun. Pihak keamanan sekolah pun tak bisa berbuat banyak pada Sakti, karena mereka tahu bahwa Sakti merupakan salah satu penyumbang dana terbesar disekolah itu.


"Urus dia !" Ucap Sakti pada keamanan sekolah seraya memberikan uang dari dompetnya dengan jumlah yang cukup besar.


Setelah urusannya selesai, Sakti berniat untuk kembali berbicara pada Kirana namun istrinya itu sudah tak ada disana.


"F*ck !!!" Geram Sakti yang harus kehilangan jejak istrinya lagi.


Sakti pun kembali ke tempat mobilnya terparkir, tak lama ia meninggalkan sekolah anaknya itu.


Sakti mencoba menghubungi Kirana melalui ponselnya berkali-kali namun tak jua mendapatkan jawaban.


"F*ck f*ck f*ck," maki Sakti seraya memukuli setir mobilnya.


"Angkat telpon aku,Ki !" Ucapnya bermonolog.


Setelah berputar-putar tanpa arah, akhirnya ponsel Sakti berdering. Dengan tergesa ia menerima panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di layarnya.


"Kamu di mana Ki ? Apa maksudmu tidak peduli lagi padaku ? Jangan katakan itu Kirana !"  Ucap Sakti ketika menerima panggilan itu.


"Ma... Maaf ini saya Sari... Saya hanya ingin memberitahukan bahwa pak Santoso sudah menunggu Bapak selama 30 menit," jawab Sari sang sekretaris.


"Oh ****," umpat Sakti. Ia lupa hari ini ada pertemuan penting dengan calon kliennya.


"Katakan aku akan segera datang," jawab Sakti yang terpaksa harus kembali ke kantornya.


***


Sementara itu Kirana tengah memeluk kedua anaknya di dalam mobil.


"Mama aku takut," isak Dareel yang belum berhenti menangis.


"Aku takut lihat papa begitu," isaknya lagi.


"Tenanglah sayang... Semua akan baik-baik saja. Papa hanya sedang kesal," ucap Kirana berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Papa emang jahat," gumam Davin.


"Tidak boleh bicara seperti itu sayang. Papa hanya tidak suka mama di dekati orang itu. Papa takut orang itu berniat jahat sama  Mama," ucap Kirana lembut.  Bahkan Kirana masih membela suaminya itu didepan anak-anaknya. Kirana tidak mau kedua anaknya kehilangan sosok ayah.


Sakti hanya bermasalah dengannya, tidak dengan kedua anak mereka. Itulah yang selalu Kirana tancapkan dalam pikirannya.


Setelah melakukan perjalanan dalam beberapa menit sampailah mereka di bandara.


"Ke arah sini Bu," ucap asisten Kakaknya itu seraya menunjukkan jalan.


"Kita nggak chek in barang tiket dulu ?" Tanya Kirana.


"Pak Robby mencarter 1 pesawat jet untuk menjemput anda dan anak-anak," ucap lelaki itu sopan.


Kirana membulatkan matanya tak percaya.


"Ayo jangan sedih, papa Robby kasih kita kejutan," ucap Kirana berusaha menghibur kedua anaknya.


Kedua anak Kirana sedikit terhibur dengan menaiki pesawat yang berisikan mereka berempat ditambah pilot dan awak kabin.


Deru suara mesin pesawat  mulai terdengar, secara perlahan pesawat itu mulai bergerak di landasan pacu bersiap untuk lepas landas.


Kirana terus memandang kearah luar jendela. Saat ini dia duduk sendirian di dalam pesawat. Kota Jakarta makin lama makin terlihat kecil ketika pesawat itu telah lepas landas.


Tak dapat menahan perasaannya lagi, Kirana pun meneteskan air matanya. "Selamat tinggal," gumam nya lirih.


Bayangan wajah Sakti melintas dalam benaknya. "Selamat tinggal," ucapnya lagi seraya mengusap air matanya dengan punggung tangan.


"Kamu kuat Kirana, kamu harus kuat demi anak-anak mu," ucap Kirana menguatkan dirinya sendiri.


***


"Jadi bagaimana Pak ? Tawaran yang bagus bukan ?" Tanya lawan bicaranya.


Sakti mengerjapkan matanya berusaha mencerna pertanyaan orang yang berada di hadapannya. Sungguh ia tak bisa konsentrasi selama pembicaraan tadi.


"Hhmmm, sangat menarik. Namun tolong tinggalkan proposal anda agar saya dapat mengkaji ulang," jawabnya beralasan.


"Baiklah, saya harap dapat mendengar kabar baik dari Anda," ucap lelaki itu dan tak lama ia berpamitan.


Sakti kembali pada ponselnya setelah kepergian calon kliennya itu. Ia berharap Kirana menghubunginya namun harapan tak sesuai dengan ekspektasi tak ada nama Kirana tertera disana.


Sakti pun berusaha  menghubungi Kirana kembali tapi kini ponsel Kirana telah berubah menjadi tidak aktif.


Sakti pun menghubungi rumahnya tapi asisten rumah tangganya mengatakan Kirana belum kembali.


Pikiran buruk mulai menghantuinya.


"Dimana kamu Ki ?"


Dengan tergesa Sakti pun keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Sar, saya duluan pulang. Tolong handle pekerjaan yang belum selesai," ucap Sakti pada sekretarisnya ketika ia akan meninggalkan kantornya.


"Baik Pak," jawab Sari.


Di dalam mobilnya, Sakti kembali menghubungi Kirana berkali-kali namun tetap tak dapat terhubung.


"Di mana kamu Kirana ?" Sakti mulai frustasi.


Sakti bahkan menghubungi Renata untuk menanyakan keberadaan Kirana, namun


Renata menjawab tidak tahu.


Sakti pun mulai menghubungi teman-teman Kirana yang ia kenal. Jawaban yang sama mereka berikan tak ada satupun yang mengetahui di mana istrinya berada.


Sakti kembali menghubungi rumahnya, namun tak ada yang menjawab panggilannya.


Akhirnya Sakti memutuskan untuk kembali ke rumahnya ketika hari telah berganti malam.


Ia merasakan ada sesuatu yang lain, rumahnya terasa sepi ketika ia memasukinya.


Dengan tergesa ia menaiki undakan tangga menuju kamar kedua anaknya namun tak ada siapapun di sana.


Perasaan tak enak mulai menyusup dalam hati.


Dengan perasaan takut luar biasa ia pun memasuki kamarnya. Begitu sunyi, tak ada siapapun di sana.


"Ki... Kirana... Kamu di mana?" Ucapnya terbata. Pikiran buruk mulai menghantuinya.


Sakti berjalan ke arah kamar mandi, berharap Kirana berada di dalamnya. Rasa kecewa kembali Sakti rasakan ketika tak ada siapapun di sana.


Sakti hendak pergi keluar ketika ia melihat benda mengkilat di atas nakas.


Ia pun menghampirinya.


Dengan tangan bergetar Sakti mengambil beberapa lembar kertas dengan sebuah cincin berlian di atasnya. Itu adalah cincin pernikahan Kirana.


Sakti baca dengan perlahan kertas yang kini berada ditangannya. Dirinya menegang ketika mengetahui itu adalah surat gugatan cerai dari istrinya.


Seketika tubuhnya terasa lemah bagai tak bertulang, ia pun mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.


"Jangan tinggalin aku, Ki. Kumohon jangan tinggalin aku," ucapnya lirih.


Sakti pun melihat beberapa kartu debit dan kartu kredit atas nama dirinya telah Kirana tinggalkan disana.


Ia berjalan ke arah lemari dan membukanya. Masih banyak baju dan benda lainnya milik Kirana yang ditinggalkan. Bahkan kotak perhiasan nya masih berada di sana.


Seketika Sakti sadar, tak ada satu benda pun pemberiannya yang Kirana bawa.


"Apa aku begitu menjijikkan bagimu, Kirana?" Tanya sakti bermonolog.


"Jangan tinggalin aku, Ki. Aku mohon... Aku bersalah, aku sangat bersalah... Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku..." Ucapnya lagi seraya meluruhkan tubuhnya di atas lantai dan meraup wajahnya frustasi.

__ADS_1


To be continued ❤️


Thank you for reading ❤️


__ADS_2