Terikat Dusta

Terikat Dusta
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Happy reading ❤️


Eps sebelumnya di kisah Romantis dan manis ini #dikeplakmasa 😂😂😂


"Aku pergi dengan kak Sakti dan Hendrik.  Kumohon jangan berpikiran buruk sayang," lanjutnya lagi setelah tak ada tanggapan apapun dari istrinya.


"Aku bingung harus bilang apa. Semoga semua pekerjaanmu lancar," ucap Renata dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku akan selalu mengabari mu, atau kamu bisa hubungi aku kapan saja," ucap Fabian.


Renata hanya tersenyum hambar tak menjawab apapun yang diucapkan Fabian.


Fabian sadar bahwa kepercayaan yang Renata berikan telah habis tak bersisa. "Tak ada harapan lagi kah ?" Batinnya dalam hati.


Fabian terbangun ketika semua terlelap. Memeriksa isi sebuah amplop coklat berulang-ulang dengan seksama dan teliti tak ada yang terlewat satu pun.


"Besok aku harus bisa," ucapnya meyakinkan diri sendiri.


***


Jam 7 pagi Hendrik sudah datang menjemput Fabian yang katanya akan melakukan perjalanan dinas yang entah akan kemana.


Renata pun sudah tak ingin tahu, merasa masa bodoh dengan semua yang akan dilakukan Fabian di luar sana.


"Ayo sarapan dulu Hendrik," ajak Renata pada Hendrik asisten Fabian. Kebetulan Hendrik datang ketika mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.


"Terimakasih nyonya, kebetulan saya sudah sarapan,"  Hendrik menolak halus ajakan Renata.


"Apa Sakti udah siap ?" Tanya Fabian pada Hendrik.


"Sudah pak, dan semua kebutuhan juga sudah diatur," jawab Hendrik.


Fabian menghabiskan sarapannya dan bersiap siap pergi.


"Daddy janji ya jangan seperti dulu, Celia gak mau daddy masuk Rumah Sakit lagi," ucap Celia terisak ketika melepaskan Fabian untuk pergi.


"Daddy janji pulang dengan selamat princess, perginya kan sama papa Sakti dan om Hendrik. Jagain mommy untuk Daddy ya," ucap Fabian seraya memberikan banyak ciuman di wajah anaknya.


"Aku pergi ya," ucap Fabian berpamitan pada Renata.


Bagai dejavu Renata membayangkan hari dimana Fabian meninggalkan nya untuk bertemu wanita lain.


Fabian menundukkan wajahnya hendak melabuhkan bibirnya ke atas bibir Renata, namun dengan gerakan reflek Renata menghindar dengan memalingkan wajahnya.


Perih... Itu yang Fabian rasakan ketika Renata menolaknya. Fabian hanya mengacak puncak rambut Renata dengan gemas kemudian pergi.


Renata diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Renata menemani putrinya di sekolah padahal biasanya hanya mengantar jemput saja. Entah kenapa perasaannya begitu kacau. Meskipun bibirnya mengucapkan tak peduli apa yang dilakukan Fabian tapi bayangan kejadian di waktu lalu masih menghantuinya.


Renata menghela nafasnya yang terasa berat, dan hatinya terasa kosong. "Kenapa waktu terasa lama berlalu?" Batinnya dalam hati.


***


Pukul 12 siang Celia telah keluar dari kelasnya, lari menghambur ke pelukan Renata.


"Apa daddy sudah telepon ? Mommy boleh gak pulang nya beli es krim di mall ?" Tanya Celia.

__ADS_1


Renata membayangkan hal itu lagi. Dulu pun seperti ini Celia meminta pergi ke mall dan kejadian itu pun terjadi.


Renata menggelengkan kepalanya berusaha menepis semua bayangan masa lalu yang menyakitkan.


"Mmm daddy belum telepon," jawab Renata, padahal ia sengaja mengubah ponselnya menjadi mode silent tanpa getar. Renata tak mau lagi menunggu Fabian untuk menghubungi nya.


Dengan cemas merogoh benda pipih itu dari tas tangannya. Kemudian mengusap layar benda pipih itu, terlihat ada 5 panggilan video dari Fabian. Entah kenapa hatinya merasa sedikit lega.


"Ayo pulang sayang. Nanti makan es krim di rumah saja, boleh makan 3 skoop es krim, mommy janji" bujuk Renata pada anaknya dan Celia pun menuruti.


Fabian kembali melakukan panggilan video ketika Renata dan Celia tengah asik makan es krim di dapur di rumah mereka.


"Celia, daddy telpon," ucap Renata seraya memberikan benda pipih itu pada anaknya. Dengan senyum penuh bahagia Celia menerima telpon itu.


"Hai Daddy, miss you so much," ucap Celia ketika panggilan video itu tersambung. Seketika wajah Fabian  memenuhi layar.


"Halo kesayangan daddy. Miss you more princess," jawab nya.


"Apa daddy sudah sampai di hotel ? Apa hotelnya bagus?" Tanya Celia beruntun.


"Yes daddy sudah sampai tadi jam 11 siang. Daddy telepon barkali-kali tapi tak dijawab. Apa mommy sedang sibuk ?" Tanya Fabian.


"No, mommy seharian ini temenin aku di sekolah. Mungkin gak kedengaran," jawab Celia.


"Oooh... Ya sudah gak apa-apa. Look Celia siapa yang ada sama daddy?" Tanya Fabian.


Seketika wajah Sakti  memenuhi layar benda pipih itu.


"Halo kesayangan, papa sama daddy lagi jalan-jalan. Lihat hotelnya juga bagus. Mau hadiah apa dari papa ?" Ucap Sakti pada Celia.


"Aku mau mainan yang bagus papa," jawabnya.


Dan Sakti terlihat mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Tak lama Fabian Kembali mengambil alih ponselnya.


"Mommy mana ?" Tanya Fabian.


"Ada ini sebelah aku lagi makan es krim," Celia menjawab dan kemudian mengalihkan ponsel itu pada ibunya.


"Lihat sayang, aku sama kak Sakti. Aku gak bohong lagi," ucap Fabian pada Renata.


"Hhhmmm jadi sebelum-sebelumnya bohong dong," jawab Renata sembari memasukkan satu sendok es krim kedalam mulutnya berusaha untuk terlihat tak peduli.


"Eng.. enggak juga, gak semua bohong sayang,"  jawab Fabian terbata dengan wajah memerah menahan perasaan malunya.


Renata enggan menanggapi, kemudian memberikan kembali ponsel itu pada anaknya. Celia pun menghabiskan waktu beberapa saat untuk mengobrol dengan ayahnya.


Renata mengaduk-aduk an es krim dimangkuknya tanpa berminat lagi untuk memakannya. Panggilan video dari Fabian membuatnya tak lagi bernafsu untuk memakan es krim. Perasaan nya menjadi kacau seketika.


***


Malam, ketika menjelang tidur ada sebuah notifikasi pesan masuk pada ponsel Renata. Terlihat nama Dokter Jamie tertera disana.


Dokter Jamie :  Malam Renata, besok ada waktu gak ? Bisa gak kita makan siang bersama? Nanti aku jemput.


Renata : Hai Jamie, yes sure boleh. Jemput di sekolah Celia saja ya... TK Pelita Jln. Xxxx


Dokter Jamie : ok, see u tomorrow. Thanks :)

__ADS_1


Renata : oke :)


Renata meletakkan ponselnya dan kemudian bergelung di bawah selimut memeluk anaknya untuk pergi ke alam mimpi.


***


Siang itu Renata menjemput Celia dengan diantar pak Wito supir mereka.


"Pak Wito, mobilnya bawa pulang kembali ke rumah ya. Setelah ini saya ada perlu dengan teman jadi dijemput menggunakan mobilnya," ucap Renata.


"Tapi kalau bapak tahu pasti marah bu," jawab pak Wito.


"Gak apa-apa, bapak juga lagi keluar kota dan saya hanya pergi sebentar cuma makan siang di dekat sini pak," jawab Renata. Akhirnya pak Wito pun setuju dan pergi meninggalkan Renata.


Tak lama setelah Celia keluar kelasnya, datang lah sebuah mobil putih mewah keluaran Eropa. Kedatangan nya menjadi pusat perhatian terlebih ketika sang pemilik keluar dengan wajah tampannya. Ya dokter Jamie telah datang menjemput.


"Hai princess," sapa dokter Jamie.


Celia tersenyum dengan manisnya menyambut dokter Jamie.


"Hari ini om mau traktir Celia dan mommy es krim," lanjutnya lagi.


"Yeaaayyyyy," Celia bersorak gembira.


" Kita makan dekat dekat sini aja ya, banyak tempat makan yang enak kok," ajak Renata pada dokter Jamie.


"Iya ok, aku ikut aja," jawab nya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Mereka pun berjalan beriringan mencari tempat makan yang dituju.


Kini meraka telah berada disebuah cafe yang menyediakan play ground ( arena bermain) bagi anak anak sehingga Celia bisa bermain selagi ibunya mengobrol dengan dokter Jamie.


Renata dan dokter Jamie duduk berhadapan dengan posisi pas dekat kaca sehingga siapa pun bisa melihat mereka dari arah luar sedangkan Celia asik bermain.


" Terapi Fabian hanya tinggal 1 kali lagi, dan itu akan dilakukan lusa," ucap dokter Jamie memulai pembicaraan.


"Iya, aku tahu. Terimakasih banyak atas bantuanmu Jamie. Kami berhutang banyak," ucap Renata.


Dokter Jamie terus memandangi wajah Renata seolah ingin mengingatnya terus.


"Aku akan kembali ke Jerman satu hari setelahnya. Tugasku sudah selesai," ucap dokter Jamie dan kemudian menarik nafas dalam.


"Renata, aku tahu ini hal yang sangat salah. Tapi maaf aku tak bisa memendamnya lagi. Aku jatuh cinta padamu. Aku tak bisa menghilangkanmu dari kepala dan hatiku. Hanya kamu yang  selalu aku pikirkan." ucap dokter Jamie seraya menggenggam tangan Renata hangat.


Renata terkesiap dengan apa yang dokter Jamie ucapkan. Untuk beberapa saat tak menjawab apapun.


Namun tanpa mereka sadari sepasang  mata tengah memandang  kedekatan mereka dengan tangan terkepal menahan marah.


TBC....


Thank you for reading 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa


Bagi hadiah juga boleh 😂😂


Much love ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2