Terikat Dusta

Terikat Dusta
Membujuk


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Atau bila dilihat dari namanya seperti nya seseorang sedang tak ingin dilupakan." Lanjutnya lagi.


"Fabian...." Lirih Renata nyaris tak terdengar.


Nama itulah yang pertama kali muncul ketika ia mendengar makna dari bunga itu.


Dalam hati kecil Renata yakin Fabian lah yang mengirimkan buket bunga mawar putih setiap minggunya. Rasa bersalah meliputi hati Renata karena telah mengatakan Jamie lah yang memberikan buket bunga itu.


Renata pun mengambil benda pipih dari saku celana kerjanya, mencoba menghubungi seseorang yang kini memenuhi kepala nya.


Bi.... Ketik Renata melalui aplikasi pesan chat nya. Namun pesan itu masih menunjukkan tanda centang 1 pertanda sang penerima tidak mengaktifkan ponsel nya.


Renata baru teringat Fabian tengah menjalani pemeriksaan kembali.


"Mbak, kalau temannya yang satu lagi masih lama ya ?" Tanya Renata pada wanita yang kembali merangkai bunga itu.


"Mungkin sekitar 2 jam lagi atau lebih, temanku sedang mendekor ruangan untuk acara pesta pertunangan," jawab wanita itu


Dengan menghela nafas berat Renata memutuskan untuk kembali ke kantornya karena tak mungkin dirinya menunggu selama itu.


"Mbak, nanti saja saya kembali lagi. Terimakasih banyak info tentang bunganya,"


"Sama-sama mbak, semoga bisa membantu,"


Renata pun berjalan kembali menuju mobilnya dengan buket bunga Forget Me Not yang di bawanya.


Renata mulai menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan toko bunga itu. Tanpa Renata sadari seseorang membuntutinya semenjak dari kantor dan selalu memperhatikan gerak gerik Renata.


***


Fabian tengah melakukan pemeriksaan kembali, polisi mengkroscek ulang pernyataan para saksi dan keterangan yang Fabian berikan.


Pemeriksaan berlangsung selama berjam-jam menguras tenaga dan emosi.


Satu hal yang mengganjal dokter Bima belum mengakui anak yang dikandung Lea adalah anaknya dan ini sedikit memojokkan Fabian.

__ADS_1


"Memang benar Lea tengah mengandung ketika kecelakaan itu terjadi. Tak ada pertengkaran diantara kami, seperti hasil visum waktu itu semua luka diakibatkan karena kecelakaan," jelas Fabian.


"Dan saya bukanlah ayah dari anak yang dikandung Lea." Ucap Fabian tegas.


Pernyataan Fabian menutup serangkaian penyidikan hari ini.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam ketika Fabian keluar dari kantor polisi. Ingin Fabian segera menemui Renata untuk menyelesaikan hal yang belum mereka bicarakan juga. Ingin Fabian segera menyatakan cintanya, namun rasanya tak etis bila melalui pesan atau panggilan telepon.


Banyak yang ingin Fabian ucapkan selain pernyataan cintanya, namun sepertinya harus menunggu saat yang tepat karena malam ini juga Fabian akan menemui dokter Bima sebelum yang bersangkutan kembali pulang ke Bandung.


Fabian mencari benda pipih yang seharian ini ia matikan daya. Ia menekan tombol on ketika benda itu berada ditangannya. Banyak pesan masuk namun yang pertama mencuri perhatian nya pesan dari Renata yang hanya menulis kata "Bi..."


Fabian pun segera melakukan panggilan telepon namun segera ia urungkan karena masih berada di lingkungan kantor polisi tentu akan membuat Celia bertanya dan Fabian belum siap menjawabnya.


Fabian pun memilih untuk mengirim pesan.


Fabian : Re, aku baru selesai menjalani pemeriksaan. Maaf baru ngasih kabar. Gimana kabar kamu hari ini ? Gimana kabar Celia ?


Fabian memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana kerjanya dan berpamitan kepada pengacara nya untuk undur diri.


Fabian tidak memberi tahukan dulu kedatangannya, ia langsung menuju kamar dimana dokter Bima berada.


Fabian mengetuk pintu berkali-kali dan menunggu beberapa saat hingga akhirnya pintu itu terbuka.


"Oh Pak Fabian," ucap lelaki itu ketika pintu kamar hotelnya terbuka.


"Bisa kita bicara sebentar ?" Tanya Fabian.


"Oh tentu, silakan masuk."


"Bagaimana jika kita bicara sambil minum kopi di lantai bawah ?"


"Baiklah, tunggu saya ganti baju dulu."


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dokter Bima keluar dari kamarnya dan menemui Fabian yang telah menunggunya. Mereka pun


berjalan beriringan memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar dimana coffee shop itu berada.

__ADS_1


Fabian melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 10 malam dan dirinya belum menghubungi Renata juga Celia, tapi sayangnya situasi sekarang tak memungkinkan dirinya untuk melakukan itu.


"Apa yang ingin anda bicarakan Pak ?" Tanya dokter Bima ketika mereka telah duduk bersama saling berhadapan. Raut wajah penuh rasa gugup begitu kentara ditunjukkan oleh dokter Bima, dokter terakhir yang merawat kejiwaan Lea dan ayah dari bayi yang dikandung wanita itu.


"Dokter tentu tahu maksud kedatangan saya kemari." Jawab Fabian tanpa basa basi.


Dokter Bima menundukkan kepalanya dengan tatapan kosong sembari mengaduk kopinya, menelan saliva nya yang terasa berat sebelum mulai berbicara.


"Maaf Pak Fabian, saya tidak bisa mengakui bila bayi yang dikandung Lea adalah anakku, profesi saya dipertaruhkan disini. Saya membangun karir ini dengan sulit dan penuh perjuangan. Namun akhirnya berada diujung tanduk karena kebodohan yang saya lakukan. Ah bukan, bukan kebodohan... Saya melakukannya karena memang saya mencintai Lea," ucapnya sendu.


"Sebenarnya polisi tidak menitik beratkan masalah siapa ayah dari bayi yang dikandung Lea. Selama kematian Lea terbukti murni karena kecelakaan bukan karena menghilangkan nyawanya sendiri. Namun tetap pengakuan anda diperlukan karena itu dapat mempengaruhi pandangan mereka, dan aku pun ada satu hati yang harus aku jaga, satu hati yang ingin ku raih kembali. Bila anda tidak membuat pernyataan, saya tak mau orang yang paling saya cintai berpikiran lain terhadap saya. Masalah profesi anda sebisa mungkin akan kami lindungi. Saya dan pengacara saya akan bertanggung jawab menjaga reputasi anda. Dan tentunya anda bukan seorang pengecut yang mengingkari buah cinta anda sendiri bukan?" Ucap Fabian dengan perlahan dan jelas.


"Tentu saja saya bukan seorang pengecut dan bayi dalam kandungan itu benar buah cinta saya, karena saya memang sangat mencintai Lea," ucap dokter Bima dengan tersenyum hambar.


"Bila begitu buatlah pernyataan sebenar-benarnya. Anda memberikan pernyataan, saya menjamin reputasi anda tetap terjaga,"


Dokter Bima terdiam, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Saya berjanji profesi anda sebagai seorang dokter tak akan terganggu,"


"Aku begitu mencintainya, meski aku tahu dia sakit tapi aku tak dapat menahan diriku untuk terus mencintainya," ucap Dokter Bima terisak.


"Jika begitu akuilah keberadaan nya," ucap Fabian.


Dengan menghela nafas berat dokter Bima pun berkata. "Baiklah, besok aku akan membuat pernyataan pada penyidik bahwa akulah ayah dari bayi itu. Aku lakukan ini karena aku mencintai Lea," ucapnya lagi dengan terisak.


Sungguh Fabian merasa kasihan, dapat Fabian lihat rasa kehilangan yang besar dari dokter itu. Fabian merasa dirinya lebih beruntung meski kehilangan Renata tetapi dirinya masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya kembali.


"Boleh jadi kita mendapatkan masalah besar, tapi lihatlah semua orang di uji dengan masalah hidupnya masing-masing," batin Fabian dalam hatinya seraya menatap wajah lelaki di hadapannya yang terlihat sedih.


Tbc...


Maaf kalo partnya gaje 😢


Maaf juga slow update, orang rumah sakit giliran 😢😢


Makasih udah baca ❤️

__ADS_1


__ADS_2