Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Menghantui


__ADS_3

Happy reading ❤️


Pikiran Kirana melayang... Bagaimana ayahnya yang tinggal di Singapura bisa melihat Sakti disana, sedangkan Sakti sedang dinas kerja di Sulawesi. Tak mungkin bukan ?


Ayah Kirana : halo nak ? Masih disitu ?


Kirana : ah iya ayah, aku baik-baik saja.


Ayah Kirana : anak-anak bagaimana?


Kirana : mereka juga baik ayah.


Ayah Kirana : kamu dan suamimu Sakti baik-baik saja kan nak ?


Kirana : ba.. baik ayah. Jangan khawatir


Jawab Kirana menitikkan air matanya.


Ayah Kirana : ah syukurlah nak, ayah bisa tenang sekarang. Ya sudah ayah akhiri dulu. Sudah malam beristirahatlah.


Kirana : iya, ayah juga selamat beristirahat. Salam untuk ibu. Kirana sangat rindu kalian.


Ayah Kirana : kamu bisa datang kapanpun nak, kami pun selalu merindukanmu dan anak-anak.


Kirana : iya ayah... Aku dan anak-anak pasti akan menemui kalian nanti.


Ayah Kirana : baiklah nak.


Dan panggilan telepon itu pun berakhir.


Kirana mendudukkan dirinya di atas ranjang. Menahan tangis yang dengan lancang terus turun di pipinya.


Pikirannya melayang pada hubungannya dan Sakti akhir-akhir ini yang kian memburuk.


Sakti sangat sinis padanya, hanya baik bila di depan anak-anak saja. Ponsel Sakti selalu di bawa kemanapun ia pergi bahkan ke kamar mandi seolah ada yang disembunyikan. Percintaan pun seperti suatu hukuman, tak ada kelembutan dan perasaan. Sakti menghentakkan tubuhnya dengan begitu keras dan kasar.


Tubuh Kirana menggigil memikirkan itu semua.


"Masih kah kamu menyayangi aku, Mas?" Batin Kirana dalam hatinya.


"Meskipun aku tahu, kamu menikahi ku bukan karena cinta tapi adakah sedikit rasa dalam hatimu untukku ?" Gumam Kirana lirih diantara isak tangisnya.


"Mungkin kamu bisa hidup tanpaku, aku tahu kamu bisa. Jika memang sudah bosan denganku, kenapa tak lepaskan saja aku." Kirana meraup wajahnya frustasi membayangkan suaminya Sakti telah menemukan wanita yang memang dia cintai. Pikiran buruk terus menghantui Kirana saat ini.


"Tahukah kamu Mas ? Aku mencintaimu... Ya aku mencintaimu," lirih Kirana yang kini meringkuk di atas ranjangnya.


***


Flashback beberapa jam ke belakang.


Sakti, Hendrik dan klien mereka telah tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta Sabtu pagi. Mereka terbang dari Sulawesi dengan penerbangan pertama.


Kedekatan Sakti dan Vanya selama dinas rupanya berlanjut. Sakti yang muda dan penuh wibawa membuat Vanya begitu terpesona. Sedangkan Vanya yang begitu pintar dan supel membuat Sakti kagum pada gadis muda itu.


Bagi laki-laki dewasa seperti Sakti tentu sudah dapat menilai bahwa Vanya tertarik padanya lebih dari sekedar rekan bisnis. Terlihat dari bahasa tubuh yang sesekali menggodanya.


Bahkan mereka makan malam berdua tadi malam dan memutuskan menghabiskan akhir pekan untuk berlibur bersama. Singapura adalah tujuan mereka kali ini.


Tanpa rasa bersalah Sakti meneruskan perjalanan mereka ke Singapura. Toh Kirana juga melakukan hal yang sama dengannya, bertemu mantan kekasih di belakang suaminya. Jadi apa yang dilakukan Sakti tak ada yang salah.


Benar bukan?


Sakti mencari alibinya sendiri.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang mereka berdua terbang ke Singapura. Sakti tahu dan sadar mertuanya tinggal disana. Tapi untuk negara seramai itu tak mungkin bertemu. Walaupun kebetulan harus bertemu tinggal katakan sedang bersama klien, pikir Sakti.


Mereka tiba di bandara Changi Singapura pada siang menjelang sore, dengan taxi mereka menuju hotel mewah Rit* Carlton Millenia Singapura.


Setibanya di hotel Sakti memesan 2 kamar untuk ditempati. Meskipun Vanya berkerut alis tak mengerti kenapa Sakti memesan 2 kamar karena Vanya sendiri tak keberatan bila harus tidur dalam 1 kamar.


Setelah membersihkan diri di kamar masing-masing, mereka berencana untuk makan malam bersama.


Sakti bersiap dengan menggunakan kemeja hitam dan menggulung tangannya sebatas siku. Kemeja itu membalut tubuh kekar dan tegapnya dipadukan dengan celana Chino mocca dan sepatu kets putih jangan lupa jam tangan mewah dan parfum wangi maskulin yang menyempurnakan penampilannya malam ini. Sakti terlihat lebih muda, begitu tampan dan modis.


Sakti menjemput gadis bernama Vanya itu di depan pintu kamarnya dengan sebuah buket bunga mawar merah.


Vanya tampil dengan mini dress merah yang begitu ketat membalut tubuhnya. Terlihat begitu menggoda dengan lipstik merah menyala dan rambut bergelombang yang ia gerai.


Untuk sesaat Sakti begitu terpesona, sudah 10 tahun ini ia tak pernah dekat dengan wanita selain istrinya Kirana.


Ya Kirana... Sakti berpikir dia tak akan pernah mengizinkan Kirana untuk berpakaian seperti ini, karena keindahan Kirana hanya untuknya.


"Sial kenapa saat seperti ini kamu masih dalam pikiranku," gumam Sakti lirih hampir tak terdengar.


"Mas Sakti bicara sama aku ?" Tanya Vanya dengan suara yang lembut dan manja.


"Aku sudah reservasi restoran terbaik di kota ini semoga kamu suka," ucap Sakti seraya memeluk pinggang wanita itu untuk lebih dekat dengannya.


"Tentu aku akan suka, asal dengan mas Sakti aku akan suka," jawabnya lembut dan bergelayut manja pada tubuh Sakti.


Makan malam itu berlangsung dengan begitu romantis dengan cahaya temaram dan diiringi lagu jazz lembut membuat suasana semakin cozy.


"Setelah ini kamu ingin kemana ?" Tanya Sakti.


"Terserah Mas,"


"Apa ada yang kamu inginkan? Mumpung kita disini,"


"As you wish, kita akan kesana nanti," jawab Sakti.


"Mas baik sekali, aku sangat kagum sama kamu." Ucap Vanya dengan semakin merapatkan kakinya pada kaki Sakti di bawah meja dan meremas paha Sakti dengan gemas.


Sakti terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu, tentu saja sebagai lelaki normal hasratnya bangkit.


Mereka pun memilih butik Louis Vuitt*n sebagai tujuan seperti yang diinginkan Vanya.


"Kamu pilih aja yang kamu mau, aku menunggu disini," ucap Sakti yang menikmati segelas sampanye yang disediakan manager toko karena kedatangan Sakti disambut sebagai pelanggan VIP.


Mata Vanya begitu berbinar, meskipun Vanya sendiri datang dari keluarga yang berada tapi mendapat tawaran seperti itu dari seorang pria tentu ia merasa senang.


"Terimakasih," ucapnya dan mencium pipi Sakti sebelum ia mulai memilih apa yang diinginkannya.


Sakti duduk di suatu ruangan khusus dengan segelas sampanye di tangan. Sudah lama ia tak mengajak Kirana belanja seperti ini. Kirana terlalu fokus dengan anak-anak sehingga jarang sekali meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Setelah menikah Kirana lebih mementingkan keperluan Sakti juga anak-anak.


"siaaalll !!! Kenapa Kirana selalu muncul dalam kepalaku," kesal Sakti dengan mengepalkan tangannya.


Setelah hampir satu jam Sakti menunggu, Vanya datang dengan 3 buah tas yang menjadi pilihannya.


"Kata Mas bagus yang mana buat aku ?" Tanya Vanya seraya memperlihatkan ke tiga tas tersebut pada Sakti.


"Bagus semuanya. Ambil saja semua," ucap Sakti yang tak mau pusing memberikan pendapat.


"Bolehkah Mas ?" Tanya Vanya dengan manja.


Sakti menganggukkan kepalanya dan menyerahkan sebuah kartu hitam pada gadis itu. Vanya menerima kartu itu dengan mata berbinar.


Setelah pembayaran selesai mereka keluar dari butik itu.

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu inginkan ?" Tanya Sakti.


"Sebenarnya aku pengen beli lipstik." Jawab Vanya manja.


"Ya udah ayo sekalian"


Mereka memasuki toko dengan line kosmetik yang mewah tentunya.


Vanya memilih beberapa lipstik warna merah menyala, Sakti memperhatikan wanita itu.


"Kirana pasti akan memilih lipstik dengan warna pink atau coklat yang lembut," pikir Sakti.


Sakti meraup wajahnya frustasi karena Kirana selalu ada dalam pikirannya.


Setelah selesai berbelanja mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Sakti mengantarkan Vanya sampai dengan pintu kamarnya.


"Terimakasih atas segalanya,Mas."


"Hmm ya sama-sama. Aku senang kalau kamu suka," jawab Sakti.


"Selamat beristirahat, aku jemput pagi untuk sarapan," lanjut Sakti.


"Baik," jawab Vanya yang kemudian menjinjitkan kakinya, meraih pipi Sakti dan menciumnya.


Sakti membalas ciuman itu dengan membenamkan bibirnya diatas bibir Vanya dan mengulumnya dengan lembut. Vanya yang terkejut membalas ciuman itu dengan suka hati.


Lama-lama ciuman itu semakin dalam dan penuh tuntutan. Vanya membuka pintu kamarnya dengan terburu dan Sakti ikut memasuki kamar itu tanpa memisahkan tautan bibir mereka.


Vanya menyimpan kantong belanja dengan sembarang dan terus meladeni ciuman Sakti yang semakin terasa panas.


Tangan mereka mulai saling melucuti pakaian yang dikenakan hingga Vanya telah tampil hampir polos ketika Sakti menggiringnya ke atas tempat tidur.


Suara decapan has orang berciuman memenuhi kamar itu.


Jemari Vanya sudah berada di sabuk Sakti dan mulai membukanya.


Ciuman Sakti telah merambat turun menyusuri rahang dan ceruk leher gadis itu. Meninggalkan jejak kemerahan disana.


"Ngh Maaass," lenguh Vanya di telinga Sakti.


Seketika bayangan Kirana melenguhkan namanya terbayang di kepala Sakti. Bayangan Kirana dengan dahi penuh peluh dan mata berkabut ketika mendapatkan pelepasannya terbayang jelas dalam kepala Sakti.


"Siaaalll," geram Sakti.


"Kenapa mas ?" Tanya Vanya yang merasa heran karena tangan Sakti menahan jemari gadis itu untuk membuka celananya.


"Maaf, maaf aku tak bisa melakukannya," ucap Sakti dan turun dari tubuh wanita itu.


Sungguh bayangan Kirana terus menghantuinya.


TBC...


Thank you for reading ❤️


Tahan emosi genks....


Kabooooooorrrrrrr ah 😂😂


Jangan lupa like, komen dan sumpah serapah wkwkkwkwkwkw


genkssss.. aku lagi nyoba bikin novel digital. yang berkenan tolong subscribe like dan komen videonya di YouTub* (yutup) dengan nama akun Mee Gorjes.


thanks alot ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2