Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Sakit


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kirana membelai lembut wajah Sakti sehingga lelaki itu membuka matanya dengan perlahan.


"Ki... Kirana... Kamu pulang sayang ?" Ucap Sakti lirih.


Kirana menganggukkan kepalanya dengan senyuman terukir di wajah cantiknya. Mata Kirana yang meneduhkan memandang Sakti dengan penuh kasih sayang.


"Ki... Kirana sayang... Maafkan aku.. maafkan aku..," lirih Sakti dengan lemah.


Kirana menyentuh bibir Sakti dengan telunjuk tangannya mengisyaratkan agar suaminya itu tak banyak bicara.


Mata mereka saling menatap, waktu seolah terhenti.


Kirana bergerak untuk berdiri, dan Sakti menggenggam tangan istrinya itu untuk tetap tinggal di sisinya namun dengan lembut Kirana melepaskan genggaman itu kemudian berdiri dan berjalan menjauhi.


"Ki, Sayang kamu mau kemana ?" Panik Sakti ketika Kirana terus berjalan menjauh.


Ingin Sakti berlari mengejar istrinya itu namun seluruh tubuhnya terasa sangat sulit untuk digerakkan.


Dengan susah payah Sakti terus berusaha.


"Ki... Kirana tunggu aku... Ki.. Kirana"


Seketika mata Sakti terbuka, nafasnya terengah-engah. Ia mengedarkan pandangannya dan tersadar jika dirinya bukan berada di atas sofa seperti tadi malam.


Ia melihat sebuah jarum infus tertancap di tangannya. Kini ia berada diatas ranjang rumah sakit.


"Apa Kirana yang membawaku kemari ?" Tanya Sakti dalam hati.


"Ki... Kirana...," Ucapnya lirih.


"Ka, Ki ! ka, Ki ! Giliran sakit begini baru ingat istri," omel mami Sakti yang tiba-tiba muncul dari balik tirai yang menutupi ranjangnya.


"Mami, kok aku bisa ada di sini?" Tanya Sakti lemah, terheran bagaimana ia bisa berada di rumah sakit.


"Untung semalam penjaga rumah kamu lihat pintu depan terbuka lebar dan memeriksa ke dalam dan ternyata kamu gak sadarkan diri dengan suhu badan yang tinggi," jelas maminya.


Sakti teringat tentang kedatangan Kirana yang membelai wajahnya dengan lembut.


"Lalu Kirana mana?" Tanya Sakti seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan istrinya itu.


Mami Sakti menghela nafasnya yang terasa berat. "Kirana ? ya lagi sama anak-anak kamu. Dia gak ada disini. Cuma mami sama Bian yang nungguin kamu,"


Sakti pun begitu merasa kecewa. Belaian itu ternyata hanya sebuah mimpi. Ia tersenyum kecut mentertawakan dirinya sendiri.


Tak lama Fabian memasuki ruangan di mana Sakti dirawat. "Lo udah sadar ? Syukurlah... Gue kira udah mau lewat aja Kak," ucap Fabian pada Sakti.


"Ini jam berapa Bi ?" Tanya Sakti.

__ADS_1


"Jam setengah 6 pagi. Kenapa ?" Jawab Fabian.


"Bisa tolong panggilin perawat buat buka infusan gue," jawab Sakti seraya berusaha bangkit.


"Lah, Lo mau ngapain ?" Tanya Fabian lagi.


"Gue mau pulang siap-siap buat kerja,"


"Gila apa gimana Lo ini ? Udah tau Lo tuh lagi sakit kaya gini. Masih aja mikirin kerja," omel Fabian.


"Tau nih kakak kamu Bi. Sok jagoan banget." Mami menimpali omelan Fabian.


"Harus bisa mengukur kemampuan diri. Sekiranya gak mampu buat selingkuh jangan lakuin. Nah sekarang ditinggal istri baru kerasa kan ? Berasa paling menderita dan paling teraniaya. Kerja di jadiin pelarian padahal kamu sendiri yang jadi biang masalahnya," mami Sakti kembali menambah omelan nya.


Sakti hanya terdiam, ia memang tak pernah berani membantah perkataan mami nya itu.


Sakti memalingkan wajahnya ke arah Fabian seolah meminta pertolongan namun adiknya itu hanya mengacungkan 2 jempol sebagai tanggapan. Akhirnya ia pun hanya pasrah mendengar segala perkataan maminya yang terdengar kesal.


Untungnya seorang dokter dan perawat memasuki ruangan itu sehingga menghentikan mami sakti yang sedang berbicara dengan nada ketus pada kedua anaknya.


"Selamat pagi," ucap dokter itu.


"Pagi dok," jawab Fabian.


"Hasil pemeriksaan lab Bapak Sakti telah keluar. Bila melihat dari hasilnya, kadar glukosa dalam darah pak Sakti begitu rendah. Itu yang membuat tubuhnya menjadi lemah tak bertenaga. Apa bapak Sakti sedang melakukan diet ekstrim ?" Tanya dokter itu.


"Ya Bu, kadar glukosa yang rendah menandakan asupan makanan yang sangat kurang sekali kedalam tubuhnya."


Mami Sakti mendelikkan matanya pada Sakti.


"Kadar glukosa yang rendah dan kelelahan menjadi faktor utama yang menjadikan pak Sakti bisa mengalami kehilangan kesadaran. Untuk itu sebaiknya di rawat inap untuk beberapa hari." Dokter itu kembali menjelaskan.


"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya,"


Dokter itu menganggukan kepalanya dan berjalan mendekati Sakti untuk melakukan pemeriksaan.


***


Telah berlalu 4 hari semenjak Sakti dirawat di rumah sakit. Mami dan Fabian secara bergilir menemani Sakti sedangkan papinya tak sekalipun datang karena alasan kesehatannya sedang kurang baik juga.


Keadaan tubuh Sakti mungkin membaik, tapi tidak dengan hatinya. Terlihat dari kebiasaannya yang lebih pendiam dan beberapa kali tertangkap sedang melamun.


" Lo sebaiknya nyari bantuan buat diri Lo sendiri," ucap Fabian yang tak tega melihat keadaan Sakti yang seperti itu.


"Bi, bantu gue." Ucap Sakti.


"Cerita sama gue semuanya, biar gue bisa tahu apa yang bisa gue lakuin buat bantu Lo." Ucap Fabian.


***

__ADS_1


Sementara itu di Singapura, Kirana tengah membolak-balikkan halaman sebuah majalah yang ada di pangkuannya seraya menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


Terdengar ketukan di pintu dan munculah Robby kakaknya.


"Ki, kamu tau ? Suami kamu masuk rumah sakit." Ucap Robby.


"Otw mantan," jawab Kirana malas.


Robby tertawa kecil mendengar itu.


"Ki, katanya Sakti sampai gak sadarkan diri di rumahnya, untung ketahuan penjaga rumah kalian dan segera menelepon orangtuanya setelah itu langsung di bawa ke rumah sakit." Jelas Robby, tapi Kirana tetap terlihat tak acuh.


"Mungkin dia sangat kangen kamu dan anak-anak,"


"Kangen anak-anak aja kayaknya kak," jawab Kirana seraya menutup majalahnya.


Robby mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, mendekati Kirana.


"Kakak tahu dia brengs*k dan begitu menyakiti kamu, tapi sebagai sesama ayah juga suami kurasa Kakak ngerti gimana perasaan nya. Dia pasti sangat frustasi gak bisa ketemu anak-anaknya juga kamu. Apa gak sebaiknya kalian bertemu dan bicara ? Gugatan cerai kamu aja belum ditanggapi kan ?"


Kirana terdiam untuk sesaat, apa yang dikatakan kakaknya memang ada benarnya.


***


Setelah dirawat untuk beberapa hari akhirnya Sakti bisa kembali ke rumah. Namun kali ini ia kembali ke rumah orangtuanya agar ada yang mengawasi juga mengurusnya.


Saat ini ia sedang duduk di ranjang dengan sebuah laptop di atas pangkuannya.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Sakti, lihat siapa yang mau ketemu kamu." Ucap maminya ketika pintu itu terbuka.


Sakti menolehkan kepalanya dan terkejut hebat ketika ia melihat siapa yang mendatanginya.


Tak terasa air mata sakti pun jatuh membasahi pipinya.


To be continued...


Thank you for reading ❤️


Terimakasih untuk like, komen, hadiah juga vote nya.


You are so cool


You are so cool


You are so cool


❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2