
Happy reading ❤️
"Sudah Mas, sudah !" Kirana berusaha melerai
Sakti yang tengah gelap mata merasa istrinya itu lebih membela mantan kekasihnya dan itu membuat Sakti sakit hati.
"Kamu lebih membela dia huh ?" Teriak Sakti pada Kirana.
"Fine ! Uruslah dia," ucap Sakti seraya meninggalkan istrinya itu.
Kirana berjalan cepat berusaha menyusul suaminya itu, meski kesulitan karena hak sepatunya yang tinggi.
Suara panggilan dari mantan kekasihnya ia abaikan begitu saja. Kirana tak peduli, yang ia pedulikan hanya Sakti.
"Mas tunggu, itu gak seperti yang kamu lihat," ucap Kirana seraya menahan lengan Sakti.
Sakti menolehkan kepalanya terlihat rahangnya yang mengetat dan giginya yang gemeletuk menahan amarah.
"Kalian dari mana ?" Tiba-tiba Ibu dari Kirana menghampiri mereka yang baru saja tiba kembali di ballroom hotel.
"A.. aku," Kirana terbata ketakutan.
"Saya habis nemenin Kirana dari toilet Bu" jawab Sakti dengan tenang seolah tak terjadi apapun.
" Ya udah. Ayo cepat masa pelaminan nya kosong hanya ada kami saja orangtua yang duduk disana,"
"Iya Bu," jawab Sakti seraya menggandeng tangan Kirana untuk kembali ke pelaminan.
Malam resepsi itu akhirnya dapat dilalui dengan lancar meski terjadi insiden yang tak diinginkan.
Kirana dan Sakti menyalami semua tamu dengan senyuman di wajah mereka. Bahkan kedua mempelai berdansa di tengah lantai dengan mesranya membuat iri bagi siapa saja yang melihatnya. Tanpa mereka ketahui keduanya tengah berperang batin dengan hati dan pemikiran masing-masing.
Bahkan Sakti memberikan ciuman mesra setelah dansa itu usai, riuh tepuk tangan terdengar menggema.
Acara demi acara pun telah selesai dilaksanakan. Sakti dan Kirana pun meninggalkan ballroom dan pergi menuju ke kamar pengantin meraka di hotel tersebut.
"Nak Sakti, kami titip Kirana ya semoga bisa dibimbing menjadi istri yang baik," ucap kedua orang tua Kirana sebelum mereka berpisah.
"Tentu, Ayah dan Ibu tak usah khawatir," ucap Sakti seraya membawa pinggang Kirana dalam dekapannya.
"Kamu juga Nak, jadilah istri yang penurut bagi suamimu,"
"Iya ayah," jawab Kirana
"Udah jangan diganggu mereka mau malam pertama kan," Mami Sakti datang menghampiri.
Wajah Kirana merona seketika.
__ADS_1
"Ayo cepat naik dan beristirahat," lanjutnya lagi.
Sakti dan Kirana pun pamit undur diri untuk meninggalkan mereka. Sakti mengandeng tangan Kirana dengan mesranya.
Dada Kirana berdebar setiap Sakti melakukan hal itu.
Namun itu tak berlangsung lama, genggaman tangan itu Sakti hempaskan dengan kasar ketika tak ada siapapun juga diantara mereka.
Bahkan di dalam lift pun keduanya diam membisu berdiri saling berjauhan. Tatapan mata Sakti begitu dingin pada istrinya itu.
Kirana tahu urusan tentang kedatangan kekasihnya belum juga usai.
Sakti melangkah keluar lebih dulu meninggalkan Kirana. Tak peduli meski istrinya itu kesulitan berjalan karena sepatu dan gaun pengantinnya.
Kirana berjalan mengimbangi suaminya itu meski kesulitan.
Setelah memasuki kamar pengantin pun Sakti masih diam seribu bahasa. Ia segera melucuti tuksedo yang ia pakai dan melemparkannya sembarang arah.
Kirana hanya bisa memandangnya dalam diam. Dadanya berdegup kencang, telapak tangannya telah basah karena keringat. Kirana gugup luar biasa.
"Mas, Maaf..." Ucap Kirana lirih
"Untuk ?" Tanya Sakti dengan tatapan mata dinginnya.
"Untuk kejadian tadi. Aku gak tau dia hadir disana. Aku gak undang dia. Sumpah Mas,"
"Aku udah nolak Mas, aku berontak," ucap Kirana mulai menangis.
"Kamu seharusnya nolak aku kalau masih ada perasaan dengannya, aku masih bisa nyari perempuan lain diluar sana untuk jadi istri." Ucap Sakti seraya berganti baju.
"Aku milih kamu Mas, aku gak ada hubungan lagi sama dia. Kontaknya saja aku sudah gak punya," Kirana terus membela diri.
"Lo tau apa yang bikin sakit ? Keluarga lo yang datang ke orangtua gue, Ki. Mereka yang minta buat jodohin lo ma gue tapi disini kesannya gue yang jadi orang ketiga antara Lo ma lelaki brengsek tadi," hardik Sakti tak bisa menahan amarahnya lagi dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Kirana di kamar pengantinnya.
"Mas.. Mas.. mau kemana?" Kirana berusaha menyusul suaminya itu.
"Gue pergi kemana bukan urusan Lo," geram Sakti seraya menghempaskan cekalan tangan Kirana.
Akhirnya Kirana menyerah membiarkan Sakti pergi meninggalkannya di malam pertama pernikahan mereka.
***
Kirana membersihkan diri dengan susah payah. Air bening terus menggenangi pipinya. Berganti baju hanya dengan menggunakan gaun tidur berbahan satin dengan potongan dada begitu rendah dan berhias renda Gaun satin berwarna hitam itu begitu kontras dengan kulitnya yang terang.
Sebenarnya Kirana enggan menggunakan ini namun ia tak ada pilihan lain. Karena hanya itu yang disediakan untuk baju gantinya.
Semalaman Kirana tak bisa tidur hanya mondar-mandir di dalam kamarnya. Menelpon Sakti berulang kali namun ponselnya terus dimatikan. Tak mungkin juga Kirana mencari Sakti dengan penampilannya yang seperti itu.
__ADS_1
Pukul 12 malam, Sakti belum juga datang. Begitu pun jam-jam berikutnya. Hingga pada akhirnya pukul 2 pagi seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kirana segera menutup tubuhnya dengan kimono mandi dan membuka pintu.
Terlihat Sakti tengah dibopong oleh seorang pegawai hotel. Rupanya Sakti tengah mabuk karena terlalu banyak minum, tercium dari aroma khas minuman yang menguar dari tubuhnya.
"Terimakasih," ucap Kirana pada pegawai hotel itu dan memberikan uang sebagai imbalan. Kirana mengalungkan tangan Sakti untuk membantunya berjalan tapi seketika Sakti menolak.
"Jangan sentuh ! gue masih bisa jalan." Sakti berjalan sempoyongan menuju ranjang mereka.
Melemparkan tubuhnya ke atas ranjang masih dengan mengenakan sepatu.
Kirana membuka sepatu suaminya itu dengan perlahan. Membetulkan posisi tidurnya dan memandang wajah lelaki itu lekat-lekat.
"Aku telah memilihmu, hidupku hanya untukmu. Kenapa kamu begitu tidak percaya?" ucap Kirana lirih.
Kirana hendak naik ke atas ranjang untuk beristirahat namun ingat Sakti tak mau berdekatan dengannya akhirnya Kirana memutuskan untuk tidur di atas sofa.
Kirana selimuti suaminya itu, membelai rambut Sakti dengan lembut menatapnya sesaat dan kemudian merebahkan dirinya di atas sofa.
***
Sakti terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Ia pijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit dan mulai mengumpulkan kesadarannya.
Ia lihat jam di nakas menunjukkan pukul 4 pagi. Melihat ke sebelah ranjangnya tak ada Kirana disana.
Sakti mengedarkan pandangannya dan menemukan Kirana terbaring di atas sofa dan Sakti pun berjalan ke arahnya.
"Bangun," Sakti menggerak-gerakkan tubuh istrinya itu.
"Bangun, ngapain kamu tidur di sofa ?" Tanya Sakti ketika Kirana telah mengerjapkan matanya.
"Mas udah bangun ? Butuh sesuatu?" Kirana balik bertanya.
Bukannya menjawab, Sakti lebih memperhatikan penampilan Kirana yang menggoda nalurinya sebagai lelaki. Mata Sakti berkilat karena tergoda, tubuh bawahnya mulai menegang.
"Ya, aku mau hak aku sebagai suami," ucapnya dingin.
Kirana masih tak mengerti, ia hanya mengerutkan alisnya.
"Aku mau tidur sama kamu Kirana,"
"Ta.. tapi kamu lagi mabuk," jawab Kirana terbata.
"Aku cukup sadar untuk melakukan itu, atau mungkin kamu gak mau lakuin sama aku ? Karena kamu sudah pernah melakukannya dengan lelaki breengsek itu?" Tanya Sakti penuh selidik.
Mata Kirana membulat mendapat pertanyaan seperti itu.
TBC...
__ADS_1
Thank you for reading ❤️