
Happy reading ❤️
"Tidak, Mama kan harus menyiapkan makan malam," jawab Sakti seraya menolehkan wajahnya melihat Kirana yang terlihat begitu menyedihkan.
"Ayo kita turun dan pergi," ajak Sakti menggiring kedua anaknya dan meninggalkan Kirana begitu saja.
Kirana meluruhkan tubuhnya dan terduduk dilantai dengan kepala tertunduk dan menangis hebat. Dirinya begitu merasa putus asa. Hubungan dengan Sakti kian memburuk. Bahkan setelah berusaha berbicara pun tidak membuahkan hasil apa-apa
Sakti mengakui kepergiannya ke Singapura dengan seorang wanita membuat hati Kirana begitu terluka.
Ingin Kirana menjelaskan yang sebenarnya terjadi tapi Sakti tak memberikan kesempatan baginya untuk berbicara.
Entah apa lagi yang harus Kirana lakukan untuk membuka hati dan pikiran suaminya itu.
***
Sakti tiba di salah satu mall ternama di daerah Jakarta Selatan dengan kedua anaknya. Dareel terlihat begitu antusias dan terus berceloteh tentang mainan yang ingin dibelinya. Berbeda dengan Davin yang lebih banyak diam semenjak mereka pergi bersama.
"Bang Davin mau beli apa ?" Tanya Sakti berusaha mendekati anaknya yang besar.
Davin menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan ayahnya itu.
Sakti sadar Davin menjadi lebih pendiam akhir-akhir ini. Apa karena ia telah beberapa kali memergoki dirinya dan Kirana berselisih paham ?
Ah Kirana... Pikiran Sakti melayang pada wanita yang baru saja berdebat hebat dengannya.
Kirana adalah wanita yang Sakti kagumi sejak dulu kala. Sebenarnya mereka telah saling mengenal sejak masih kecil hingga remaja karena kedekatan orang tua Kirana dan Sakti.
Sakti selalu mengagumi kecantikan Kirana, namun karena Kirana begitu pemalu membuat mereka tak pernah dekat. Sehingga pada akhirnya kedua orang tua mereka memutuskan untuk menjodohkan, Sakti menerimanya dengan suka hati meskipun ia tahu perjodohannya itu untuk menjauhkan Kirana dari kekasihnya.
Sakti ingat dengan jelas bagaimana ia mencuri sebuah ciuman dari Kirana di hari pertama mereka dipertemukan untuk perjodohan. Sakti melakukan itu karena ia begitu terpesona dengan Kirana. Sakti tersenyum ketika mengingat itu.
Kemudian Sakti kembali mengingat Kirana yang berpelukan dengan mantan kekasihnya tepat di hari pernikahan mereka, kemudian pesan di media sosial Kirana dari lelaki yang sama membuat Sakti berasumsi bahwa selama ini Kirana dan lelaki itu ternyata masih saling mencintai dan Sakti hanya penghalang bagi mereka.
"10 tahun bersama, dan Kirana tak pernah mencintai aku," batin Sakti dalam hatinya. Sakti tersenyum kecut memikirkan itu semua.
Segala yang Sakti lakukan pada Kirana adalah sebuah hukuman karena perlakuan tak adil Kirana padanya. Sakti mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.
"Papa kenapa diam aja ? Kita udah sampai," ucap Dareel menyadarkan Sakti dari lamunannya.
Mereka telah sampai di sebuah toko mainan ternama. "Ayo Papa," Dareel menarik-narik tangan Sakti untuk memasuki toko itu.
" Iya-iya tunggu," jawab Sakti mengikuti anaknya itu.
Mereka memilih kado untuk Celia terlebih dahulu. Kemudian Dareel memilih beberapa mainan yang ia inginkan sedangkan Davin terlihat tak berminat untuk membeli apapun.
"Abang belum beli apa-apa. Ayo pengen apa ? Papa akan belikan yang Abang mau," bujuk Sakti.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya Davin memilih sebuah buku dongeng cerita pengantar tidur.
"Abang yakin mau ini aja?" Tanya Sakti.
"Iya, biar Mama yang bacain nanti sebelum tidur," jawab Davin datar.
"Oh ya sudah. Sebentar Papa bayar dulu," ucap Sakti seraya membawa semua barang yang telah di pilih menuju kasir.
***
Kirana telah menyiapkan makan malam di atas meja makan. Ia duduk menunggu kedatangan suami dan anak-anaknya.
Kirana telah merapikan diri, sedikit berdandan untuk menutupi matanya yang sembab. Ia tak mau kedua anaknya tahu bila dirinya tengah dalam keadaan yang buruk.
Tak lama Sakti dan kedua anaknya datang dengan banyak sekali kantung belanja.
Setelah menyimpan dan merapikan apa yang telah di beli kini mereka duduk bersama di meja makan menikmati makan malam. Kirana dan Sakti pun terlihat biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga perasaan kedua anaknya.
"Kalian beli apa?" Tanya Kirana pada kedua anaknya.
"Aku beli 3 mainan," jawab Dareel antusias.
"Abang payah Ma, gak Mau beli apa-apa," lanjut Dareel lagi.
"Kenapa Abang gak beli mainan?" Tanya Kirana.
"Aku beli buku cerita. Mama nanti bacakan ya ?" Ucap Davin.
Sakti memperhatikan kedekatan Kirana dengan kedua anaknya dalam diam dan Kirana menyadari itu.
"Papa hebat kan beliin kalian banyak mainan. Bilang apa sama Papa ?" Tanya Kirana.
"Terimakasih Papa. Papa memang yang terbaik," ucap Dareel dengan wajah bahagianya.
"Terimakasih," ucap Davin datar.
Sakti hanya tersenyum menanggapinya.
***
"Mama ayo bacakan ceritanya," ajak Dareel ketika mereka telah selesai makan malam dan kemudian membersihkan diri mereka sebelum tidur.
Kebetulan kedua anaknya itu masih tidur dalam satu kamar hanya berbeda tempat tidur saja membuat Kirana bisa membacakan cerita untuk keduanya secara bersamaan.
"Ayo baiklah tunggu sebentar," jawab Kirana lembut.
Kirana pun berjalan beriringan menuju kamar kedua anaknya yang terletak tepat di sebelah kamarnya.
__ADS_1
Kirana memilih untuk merebahkan dirinya di atas ranjang bersama Dareel anaknya yang lebih kecil karena Dareel meminta Kirana untuk berada di sebelahnya, sedangkan Davin berada di ranjang yang lain.
Kirana membacakan buku dongeng itu dengan suaranya yang lembut dan perlahan, tak membutuhkan waktu lama Dareel telah jatuh tertidur tapi tidak dengan Davin sang kakak.
Kirana hendak pergi keluar ketika Davin mulai berkata.
"Mama tidur dikamar ini saja dengan adek atau aku. Abang gak mau liat mama nangis lagi karena Papa, Abang gak suka Papa jahatin Mama" ucap Davin mengejutkan Kirana.
Kirana menghampiri Davin dan duduk diatas ranjangnya. "Mmm.. orang dewasa memang kadang berselisih paham. Abang sama adek juga suka berantem kan ? Tapi nanti berbaikan. Begitu juga Mama dan Papa," jawab Kirana berusaha memberikan pengertian pada anaknya. Walaupun bagaimana Kirana tidak mau psikis kedua anaknya terganggu karena pertengkaran antara dirinya dan Sakti.
"Tapi aku gak pernah bikin adek nangis," ucap Davin dingin.
"Mama menangis karena Mama perempuan. Celia juga suka nangis kalau Abang atau Adek jahil kan?"
Davin menganggukkan kepalanya.
"Ayo Mama temanin Abang sampai tidur dulu," ucap Kirana seraya merebahkan tubuhnya di samping Davin.
Kirana memberikan usapan-usapan halus pada anaknya sehingga tanpa terasa Kirana pun ikut tertidur di sana.
Sakti memasuki kamarnya untuk beristirahat, tak ada Kirana disana. Sakti merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
Setelah beberapa lama dirinya tak bisa kunjung tidur hingga memutuskan untuk membaca sebuah buku sembari menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang namun membaca juga tak menolongnya sama sekali, Sakti meletakkan kembali buku itu di atas nakas.
Kini Sakti mengambil ponselnya, banyak pesan dari gadis bernama Vanya yang belum ia baca sama sekali tapi entah kenapa untuk sekedar membuka pesan itu saja ia enggan.
Sakti berdiri mondar-mandir di kamarnya. Ia merasa ada sesuatu yang kurang yang tidak bisa membuatnya tidur dengan tenang.
"Kirana" gumam Sakti lirih dan kemudian ia keluar kamarnya berjalan menuju kamar kedua anaknya.
Ia melihat Kirana tertidur memeluk Davin.
"Maaf Davin... tapi Mama harus tidur dengan Papa." Ucap Sakti bermonolog seraya membawa tubuh Kirana dalam pangkuannya.
Sakti memangku tubuh Kirana ala bridal style dan membawanya ke kamar mereka. Dengan perlahan ia membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang. Deru nafas Kirana yang teratur menandakan istrinya itu telah tertidur pulas.
Sakti menatap wajah Kirana yang tertidur dengan lekat. Kirana terlihat begitu cantik di mata Sakti. "Lihatlah Kirana walaupun aku membencimu saat ini tapi aku masih saja terpesona padamu," ucap Sakti lirih.
Setelah puas memandangi wajah Kirana, Sakti pun berguling ke sisi kosong di tempat tidur itu dan mulai memejamkan mata. Tanpa ia sangka Kirana membelit kan tangannya diatas tubuh Sakti.
Kirana tertidur dengan memeluk dirinya. Dengan ragu-ragu Sakti pun membalas pelukan itu.
Sungguh Sakti merasa nyaman luar biasa dan tak lama ia pun terlelap dalam mimpinya.
TBC...
Thank you for reading ❤️
__ADS_1
Terima kasih banyak yang sudah memberikan vote juga hadiah 😘😘😘
Kalian memang yang ter de best ❤️❤️❤️