Terikat Dusta

Terikat Dusta
Terobsesi


__ADS_3

Lea : bolehkah aku merasa rindu padamu Fabian ?


Tanpa ku buka pesan itu, aku simpan kembali benda pipih itu diatas nakas.


"Ya Tuhan... Ku mohon jangan begini, aku tak mau menyakiti nya," batinku dalam hati.


Sudah satu Minggu sejak kejadian itu. Aku tak pernah membalas pesan yang Lea kirimkan, karena jujur saja aku tak mau memberikan harapan.


Dan semenjak minggu lalu aku mempunyai kebiasaan baru menunggu kekasih hatiku untuk melintas. Melihat nya dari jauh cukup sebagai pelipur lara ku. Cukup hadirnya menjadi kekuatan aku.


Aku coba jalani hari dengan biasa. Sudah bertemu Alex dan Stefan juga. Tak bisa marah tak bisa salahkan siapapun. Memang sudah kesalahan ku dan sudah takdirku juga, sebisa mungkin aku berdamai dengan keadaan dan menerima semua ini dengan lapang dada.


Siang ini aku kembali tenggelam dalan lautan pekerjaan setelah kembali dari coffee shop itu. Lebih tepatnya menenggelamkan diri dalam lautan pekerjaan untuk mengalihkan pikiran ku dari masalah pelik yang sedang aku hadapi.


Ddrrrtt ddrrrtt ddrrrtt benda pipih di atas meja kerjaku bergetar. Terlihat nomor telepon Lea tertera disana. Sejak malam itu baru kali ini Lea menghubungi ku lagi. Hati berdebar apa telah terjadi sesuatu.  Terus terang aku tak siap bila ternyata lea harus mengandung anakku. Katakanlah aku jahat dan egois tapi aku ingin memiliki anak dari wanita yang aku cintai.


Benda pipih itu bergetar lagi untuk kesekian kalinya. Akhirnya dengan perasaan takut aku angkat panggilan itu.


Fabian : Ha..Halo...


Lea.     : Fabian, aku sendiri tak tahu arah kemana.


Fabian : A..apa maksud mu Lea ?


Lea.     : Aku di stasiun Tebet sendiri, aku gak tau harus kemana untuk bisa ketemu kamu.


Fabian : ya Tuhan, Lea... Tunggu disitu cari tempat makan atau apa, aku kesitu sekarang.


Lea.     : Baiklah, aku ditempat makan cepat saji sekitar sini.


Fabian : oke, tunggu ya jangan kemana-mana. Jangan pergi kemanapun sebelum aku datang.


Lalu ku tutup panggilan itu. Ku raup wajahku frustasi. Segera ku sambar kunci mobil yg berada di meja dan dengan berlari kecil aku berusaha pergi ke tempat Lea berada.


Ku pacu dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai, jujur saja aku begitu khawatir karena dia sendirian. Dan terkejut hebat kenapa bisa datang ke Jakarta sendiri.


Tak lama akupun sampai. Dengan sedikit berlari ku cari wanita itu.


Terlihat dia duduk seorang diri di restoran cepat saji dengan segelas minuman di depannya.


"Le.. Lea," sapa ku terbata. Lea mendongakkan kepalanya ke arahku dan tersenyum.


"Ah Fabian, akhirnya bisa bertemu," ucapnya sendu.


"Kamu datang sendiri ?" Tanyaku sembari mendudukkan diriku di kursi di hadapannya.


"Huum, aku sendiri. Pesan ku gak kamu bales Fabian."


"Ah maaf, a.. aku sibuk," jawabku bohong. Aku tak tahu apa yang harus ku ucapkan.


"Apa se-sibuk itu ? Hingga aku, kamu abaikan?"


"Bagaimana dengan kursus yang aku tawarkan ? Apa sudah ada yang menarik minat mu ?" Tanyaku mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Belum, belum ada. Bagaimana kalau aku  ambil kursus di sini saja ? Jadi bisa terus dekat dengan mu ?"


Aku terkejut dengan apa yang dia ucapkan. Ya Tuhan... Ku mohon jangan seperti ini.


"Kok diam Bi ? Apa kamu gak mau dekat aku ?"


"Nanti aku pikirkan dulu ya," jawabku ragu.


"Kamu sengaja ke Jakarta hanya untuk ketemu aku ?" Tanyaku dengan dada berdebar hebat.


"Ya Bi, cuma kamu duniaku sekarang, cuma kamu yang terlihat di mataku," ucapnya tegas.


Hatiku terasa ngilu mendengar pernyataannya.


"Ayo Lea, sudah semakin sore.  Kita harus bergegas. Akan sangat macet bila sudah waktunya jam pulang. Ayo aku antar ke hotel."


"Aku gak mau ke hotel, aku maunya sama kamu Bi,"


Kepalaku terasa mau pecah mendengar keinginan Lea.


Akhirnya kami pun menuju apartemen yang aku tempati. Karena Lea begitu keras kepala tidak ingin tinggal di hotel.


Sesampainya di apartemen Lea melihat sekeliling. "Apa kamu tinggal sendiri ?" Tanyanya.


"Iya aku tinggal sendiri. Tas mu mana ? Sini kamu bisa tidur di kamarku. Apartemen ini cuma ada satu kamar," jawabku.


"Kita tidur bersama ?" Tanyanya lugu.


Aku begitu frustasi, apa Lea tidak takut denganku setelah apa yang aku lakukan padanya?


"Ka..kamu melakukannya dengan lemah lembut dan penuh perasaan Fabian, meskipun kamu sedang mabuk," jawabnya tersipu.


Ya Tuhan... Tentu saja aku lakukan itu karena aku kira dia Renata.


Ah Renata... Rasanya ingin ku hantamkan kepalaku ke dinding. Aaarrrgggggghhhh geram ku dalam hati.


"Bi, aku boleh kan datang terus kesini ? Kamu ingkar, kamu tak datang ke Bandung padahal kamu udah janji,"


"Aku bilang aku datang kalau tidak sibuk Lea. Maaf membuatmu menunggu,"


"Tahu kah Fabian ? Aku selalu mengingatmu dalam tiap tarikan nafasku," ucap Lea dengan menatap tajam mataku.


"Aku ini bukan orang baik Lea, aku saja menyakiti mu. Padahal aku memilki wanita yang aku cintai," ucapku berharap Lea mengerti.


"Aku tak peduli, akan aku singkirkan wanita itu bila perlu," ucapnya seraya meninggalkan aku terpaku.


Kini Lea menempati kamarku, aku sediakan makan malam di meja yang aku pesan melalui aplikasi online. Sejak pembicaraan terakhir kami. Lea tak menampakkan batang hidungnya lagi.


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan Lea. Ku tulis sebuah nota di meja makan bahwa aku menginap di salah satu temanku. Memang sudah niat aku untuk menginap malam ini di apartemen Stefan. Aku tak mungkin tidur satu atap dengannya.


***


Pagi sekali aku, sudah sampai di kantor. Karena kemarin aku meninggalkan begitu saja pekerjaanku untuk menjemput Lea.

__ADS_1


Ah Lea bagaimana wanita itu sekarang ? Belum ada kabar dan aku pun belum menghubunginya.


Stefan begitu terkejut ketika aku bercerita tentang Lea dan dia yang terang terangan menginginkan ku. Stefan bilang mungkin Lea jatuh cinta padaku ? Tapi tak mungkin bukan ? Aku telah menyakitinya.


***


Siang ini seperti biasa aku menghabiskan waktu di coffee shop untuk mengagumi dari jauh wanita yang aku suka, entah suka apa cinta tapi memandanginya menjadi candu bagiku.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt tiba tiba ponselku bergetar. Tertera panggilan masuk dari pengurus apartemenku.


Fabian : Halo


Pengurus apartemen : maaf mengganggu pak Fabian, ada seorang wanita yang terus berteriak histeris memanggil nama anda.


Fabian : hah ? Di kamarku ?


Pengurus apartemen : bukan pak, di lobby. Sepertinya ingin diantarkan ke tempat bapak bekerja.


Fabian : oh no, jangan saya yang akan pulang sekarang. Tolong katakan tunggu.


Ku angkat dengan malas tubuhku dari kursi ini, aku mulai lelah dengan masalah ini.


Butuh beberapa menit untuk sampai di apartemenku. Ku lihat Lea duduk di kursi lobby dengan air mata di pipinya. Aku pun segera menghampiri nya. 


"Lea," ucapku pelan.


Lea mendongakkan kepalanya kepadaku dan langsung menghambur ke pelukanku.


"Ssstt tenanglah, aku kan sudah kasih nota catatan kalau aku menginap ditempat temanku, dan pekerjaan ku sedang padat. Kenapa gak telepon? Kenapa begini ?" Tanyaku


"Aku gak mau telepon nanti kamu gak mau jawab, aku lapar" jawabnya sendu.


"Ayo naik ke kamar, aku pesankan makan siang. Kan sudah aku bilang di catatan kalau setiap pagi ada yang membersihkan apartemen dan kamu bisa meminta dibikinin makanan,"


Setibanya di kamar apartemen, makanan yang tadi malam pun belum Lea sentuh. Pantas saja dia merasa lapar. Bu Marni yang biasa membersihkan apartemen ku pun sudah tak ada di tempat. Aku menghela nafas berat.


"Pantas saja kamu lapar, kamu belum makan dari semalam," ucapku pada Lea.


"Sudah aku katakan aku mau dekat kamu FABIAN !!! " Teriak Lea padaku.


" Kamu tahu ? Aku sengaja datang karena ingin dekat. Akan aku lakukan setiap waktu datang kesini. Karena aku TEROBSESI padamu FABIAN !!!  Aku terobsesi padamu !!! " Teriaknya lagi dengan melayang kan beberapa benda yang dapat dia jangkau.


Sungguh aku kaget bukan main. Emosi Lea bisa berubah dengan begitu cepat.


Aku berusaha mendekati karena tak mau dia menyakiti dirinya sendiri.


"Ssssttttt, tenang Lea. Ku mohon tenanglah. Aku janji aku yang akan datang padamu. Jadi kamu gak usah repot-repot datang kesini," ucapku setelah bisa meraihnya dalam dekapanku.


Sungguh miris hidupku, wanita ini begitu terobsesi padaku. Sedangkan aku begitu terobsesi pada wanita lain yang bernama Renata.


Lea mulai tenang, nafasnya mulai teratur. Benda pecah belah begitu berserakan di lantai karena Lea.


"Apa yang harus kulakukan padamu Lea ?" Tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Tbc...


Thank you for reading ❤️


__ADS_2