Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Se-biru Lautan


__ADS_3

Happy reading ❤️


Mata mereka bertemu dan saling memandang dari kejauhan untuk beberapa saat, hingga Kirana memutuskan kontak mata itu lebih dulu dan itu membuat Sakti sedih dan kecewa.


"Gue yakin sekarang Lo yang lebih tegang dari gue," bisik Fabian meledek kakaknya itu.


"Diem Bi !" Jawab Sakti dengan suara bergetar.


"Kan apa gue bilang? Gitu aja gemetaran." Fabian semakin menggoda kakaknya itu.


***


Flash back beberapa hari yang lalu.


Kirana dan kedua anaknya menginjakkan kembali kakinya di Jakarta.


Ini pertama kali untuk Kirana kembali ke Jakarta semenjak ia memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya Sakti.


Ada rasa perih menyusup dalam hatinya ketika ia tiba. Sudah hampir 3 bulan sejak waktu itu namun rasa sakit tak jua pergi.


"Mama hp aku jatuh !" Teriakan Dareel membuyarkan lamunannya.


Kirana menolehkan kepalanya ka arah Dareel dan melihat ponsel itu sudah berceceran di atas lantai.


"Jangan menangis," ucap Kirana kemudian membungkukkan tubuh agar dapat berbicara  sejajar dengan anaknya.


"Its oke. Kita perbaiki di rumah." Ucap Kirana lagi dengan lembut. Ia berusaha menenangkan anaknya.


Dareel terus menangis sedangkan Davin memunguti ponsel yang telah tercerai berai itu dan memasukkannya ke dalam tas yang ia gendong.


"Are you oke ? Apa kalian baik-baik saja ?" Tanya seorang pria asing menghampiri mereka.


Pria dengan mata se-biru lautan, rahang yang tegas rambut coklatnya terlihat berkilauan dengan hidung yang tegak sempurna membuat Kirana terpukau untuk sesaat.


Bukannya menjawab pertanyaan itu, Kirana malah sibuk memandangi wajah pria tampan di hadapannya.


Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya dan membuat Kirana tersadar.


"Ah... Maaf, kami baik-baik saja." Jawab Kirana dengan senyuman manis di wajahnya.


"Are you sure ? ( Apa kamu yakin ?)" Pria itu memastikan.


"Yes we are fine. ( Ya, kami baik-baik saja)" jawab Kirana yang hendak pergi.


"Tunggu !" Ucap lelaki itu menahan kepergian Kirana.


Kirana menolehkan kepalanya pada lelaki asing itu. "Ada apa? Apa kamu memerlukan bantuan?" Tanya Kirana.


"Bolehkah kita berjalan bersama menuju pintu keluar ? Aku telah melihat kalian dari semenjak di Singapura. Kalian. Terlihat sangat menggemaskan," jawab lelaki itu.


Kirana langsung memeluk ke dua anaknya seolah memberikan perlindungan.


"Oh no... Jangan salah sangka. Aku bukan penjahat" ucap pria itu.


"Dimana ada penjahat mau mengaku ! Dan kamu kenapa begitu fasih berbahasa Indonesia?"  Tanya Kirana penuh selidik.


"Aku bersumpah aku bukan penjahat. Aku sedang melakukan perjalanan bisnis. Bagaimana aku bisa berbahasa Indonesia ? Yang pertama karena dalam tubuhku mengalir darah Indonesia, nenekku berasal dari Bandung, dan aku sudah sering pulang pergi ke Indonesia." Jelas lelaki itu.


Meski lelaki itu telah menjelaskan namun rasa curiga masih Kirana rasakan.

__ADS_1


"Maaf, suamiku sudah menunggu. Aku harus segera menemuinya," ucap Kirana bohong.


"Suami?" Ah tentu saja wanita cantik ini sudah mempunyai seorang suami. Ia Saja bepergian dengan kedua anaknya dan di Indonesia jarang sekali seseorang mempunyai anak di luar ikatan pernikahan. Tiba-tiba lelaki itu merasa kecewa.


"Mmm, baiklah... Semoga harimu menyenangkan," ucap lelaki itu dengan raut wajah kecewa.


"You too," jawab Kirana santun dan meninggalkan lelaki yang sedang memandang nya takjub.


"Ah... Memang wanita Indonesia itu sangat ramah," batin lelaki itu dalam hatinya.


Kirana pun pergi meninggalkan lelaki itu yang terus memandangi kepergian Kirana.


Lama menanti, supir pribadi orang tuanya belum sampai juga tanpa kabar berita. Kirana pun berdecak kesal.


"Mama aku lapar." Ucap Davin sembari memegang perutnya.


"Hmm bagaimana kalau kita makan pizza dulu ?" Bujuk Kirana.


Mereka pun menganggukkan kepala tanda menyetujui ajakan Kirana.


" 1 large pan pizza dan 3 minuman lemon tea," pesan Kirana pada kasir saat mereka telah sampai di sebuah restoran yang menyediakan pizza secara instan.


"Ada tambahan lainnya ?" Tanya pelayan itu.


"Es krim coklat dua mangkuk," jawab Kirana menambahkan pesanannya.


"Oh ya Tuhan, kurasa kita memang berjodoh." Ucap seorang lelaki yang duduk tak jauh darinya dan ternyata lelaki asing yang  telah ia temui sebelumnya.


"Mana suami mu?" Tanya lelaki itu penuh selidik.


"Itu bukan urusan mu," jawab Kirana ketus.


"No, tentu saja tidak. Bahkan aku datang lebih dulu kesini," Jawab lelaki itu tak terima atas tuduhan Kirana.


Kirana memperhatikan meja lelaki itu, memang ada beberapa piring yang telah menyajikan makanan dan menandakan ia memang datang lebih dulu.


"Benar kan ?" Ucapnya sembari memperlihatkan pesanannya yang telah lebih dulu datang.


Kirana tak acuh dan kembali mengalihkan perhatian pada kedua anaknya.


Lelaki asing itu terus mencuri pandang pada Kirana meski ia sibuk dengan makanannya. Setelah beberapa waktu berlalu, seorang lelaki mendatangi meja Kirana. Ia membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan dan Kirana tersenyum pada lelaki yang baru saja mendatanginya. Lelaki asing itu menatap dengan tak suka.


Kirana dan kedua anaknya berdiri hendak pergi. Lelaki yang mendatanginya tadi membawakan barang-barang Kirana.


Lelaki asing yang duduk disebelahnya terus memperhatikan, merasa penasaran ia pun segera menyelesaikan makannya dan diam-diam mengikuti Kirana.


Kini mereka berdiri berjajar hendak menyeberang jalan. Lelaki asing itu sedikit membungkukkan tubuhnya yang jangkung agar ia bisa berbisik pada Kirana.


"Kurasa dia bukan suami mu," bisiknya


Kirana mendelik kan matanya tanda tak suka.


"Itu bukan urusan mu !" Jawab Kirana ketus dan bergerak untuk menjauhi.


"Nona, seandainya kita bertemu lagi suatu hari nanti berarti kita berjodoh. Dan aku tak akan segan untuk mengajakmu makan malam," ucap lelaki itu penuh keyakinan.


"Apa ini sebuah tantangan?" Tanya Kirana.


" Bisa dibilang seperti itu," jawab lelaki asing itu.

__ADS_1


Indonesia sangat luas, Kirana pun hanya beberapa hari disini tak mungkin ia bertemu lelaki itu.


"Oke deal ! Tapi tolong mulai sekarang berhenti bicara padaku !" Ucap Kirana dengan tersenyum miring.


Lelaki asing itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Kirana pun meninggalkan lelaki asing yang entah bernama siapa itu dengan menggandeng kedua anaknya.


***


Keesokan harinya Kirana telah bersiap untuk pergi ke kantor perusahaan keluarganya. Semenjak Kirana di Singapura ia telah diajarkan bagaimana untuk berbisnis.


Robby mengajak Kirana untuk ikut berkecimpung dalam dunia bisnis keluarga dengan maksud agar adiknya itu dapat mengalihkan perhatiannya dari masalah yang tengah ia alami.


"Mama pergi dulu ya," ucap Kirana pada kedua anaknya.


"Ma, ponselnya gak mau nyala." Ucap Davin.


"Ah iya mama akan sangat sibuk hari ini. Kalian bisa pakai tablet atau laptop mama dulu bila ingin main game. Nanti setelah sempat kita akan menggantinya dengan yang baru," ucap Kirana pada kedua anaknya.


Davin dan Dareel menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


Kirana merasa dirinya sangatlah beruntung. Kedua anaknya tak banyak menuntut dan tidak rewel selama masa perpisahannya ini hingga Kirana lebih mudah menjalani hari-harinya.


Kirana mencium puncak kepala kedua anaknya sebelum ia pergi.


***


Kirana sampai di kantor lebih awal. Ini pertama kali ia ditugaskan untuk menerima tamu yang merupakan seorang investor. Namun sebelumnya Kirana pun pernah menemani kakaknya Robby untuk menerima tamu seorang investor juga. Dengan berbekal sedikit pengalaman Kirana ditugaskan untuk pekerjaan ini.


Tamunya ini adalah seorang pria asing, ia akan menginvestasikan uang yang cukup besar untuk pembangunan sebuah hotel dan resort di Bali. Kirana yang fasih berbahasa Inggris tak merasa ini akan menjadi masalah baginya.


Suara hentakan sepatu stiletto yang Kirana kenakan terdengar begitu jelas, untuk sesaat Kirana melihat bayangan dirinya di pantulan kaca. Dengan mengenakan rok pencil berwarna coklat kopi, kemeja putih yang begitu pas membelit tubuhnya dan rambut nya yang ia biarkan tergerai, kontras sekali dengan penampilan Kirana pada kesehariannya. Ia tersenyum geli melihat itu.


"Aku pasti bisa !" Ucap Kirana menyemangati dirinya sendiri dan kemudian terus berjalan menuju ruangan yang telah di tentukan untuk pertemuan ini.


"Selamat pagi Bu," ucap seorang perempuan muda yang akan membantu Kirana pagi ini.


"Pagi," Kirana menjawab sapaan itu dengan tersenyum ramah. Dan mereka pun terlibat dalam pembicaraan seputar pertemuan yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi.


Kirana merapikan baju dan rambutnya, ia ingin penampilannya sempurna dalam tugas pertamanya ini.


Terdengar suara ketukan di pintu, munculah perempuan muda yang ternyata bernama Mega itu.


"Ibu, tamunya telah datang." Ucap Mega sopan.


"Persilakan masuk," jawab Kirana.


Tak lama seorang pria asing yang tampan dan bertubuh tegap memasuki ruangan itu. Ia terlihat begitu sempurna dalam balutan jas berwarna hitam. Ia berjalan penuh percaya diri menghampiri Kirana.


"Selamat datang di perusahaan kami," ucap Kirana seraya menelan saliva nya.


"Anda berhutang satu makan malam denganku nona Kirana," jawab lelaki dengan mata se-biru lautan itu tanpa mengindahkan sapaan Kirana.


To be continued....


Thank you for reading ❤️


Hepi wiken ❤️

__ADS_1


__ADS_2