Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Memberikan Pengertian


__ADS_3

Happy reading ❤️


Seketika hati Sakti menghangat melihat kedatangan istrinya itu. "Apa benar yang Fabian katakan tadi, Ki ? Apa kamu juga butuh aku dalam hidupmu ? Apa aku masih boleh berharap akan cintamu lagi" pertanyaan itu berputar dalam batin Sakti tanpa terucap.


"Aku merasa jauh lebih baik sekarang," jawab Sakti. Mata sayunya sedikit berbinar melihat kehadiran Kirana di sisinya.


"Maafin aku yang gak sadar kalau kamu ternyata gak baik-baik saja." Kirana terlihat begitu merasa bersalah. Terlebih lagi wajah Sakti yang pucat dan lebih tirus, bibirnya yang kering membuat hati Kirana merasa lebih bersalah lagi.


"Aku gak apa-apa, kamu jangan berpikiran seperti itu. Bagaimana keadaan Davin sekarang ?"


"Masih belum sadarkan diri tapi menurut dokter keadaannya stabil." Jawab Kirana.


"Ah syukurlah... aku harap Davin segara sadar. Pukul berapa sekarang ? Sebaiknya kamu beristirahat. Aku gak mau kamu jatuh sakit juga, Ki."


"Hampir jam setengah 1 malam, aku masih belum bisa tidur. Mikirin Davin juga... Kamu," pipi Kirana merona ketika mengucapkan itu.


Sebuah senyuman terbit di wajah Sakti yang masih terlihat pucat. Seandainya tak ada jarum yang tertanam di tangannya dan kepalanya tak berdenyut Sakit sudah tentu Sakti akan melompat dan merengkuh tubuh Kirana dalam pelukannya.


"A... Aku khawatir karena kamu pingsan tadi." Kirana merasa malu dengan apa yang telah ia ucapkan sebelumnya.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku," perasaan Sakti begitu merasa di atas awan saat ini.


"Aku harus kembali menemani Davin. Berjanjilah, kali ini kamu akan beristirahat dan menuruti kata dokter," Kirana mengingatkan suaminya itu.


"Kalau kamu yang ngomong aku pasti nurut, Ki."  Ucap Sakti dengan manisnya, tangannya meraih jemari Kirana dan menautkan jarinya untuk sesaat. Kirana tersenyum malu-malu dengan apa yang suaminya lakukan.


Fabian memutar bola matanya malas mendengar ucapan dan melihat tingkah laku kakaknya itu.


"Bi, aku turun ya. Kamu nemenin mas  Sakti di sini kan?" Tanya Kirana memastikan.


"Iya malam ini aku tidur disini nemenin dia. Kalau ada apa-apa, kakak telpon aku aja," jawab Fabian.


Kirana menganggukkan kepalanya, kemudian dengan halus melepaskan tautan jari suaminya. "Aku turun ya.. kamu semoga cepat pulih." Ucapnya sebelum ia meninggalkan Sakti.


Sakti menatap kepergian Kirana dengan sebuah senyuman terukir di bibirnya yang pucat.


"Nih tisu, lap dulu ilernya." Fabian menggoda Kakaknya itu.


"Sial*n Lo, Bi!" Jawab Sakti.


"Lagian ngelihat bini sendiri kaya gitu amat,"


"Alah.... Lo juga sama ma Renata. Mupeng mulu muka Lo kalau deket dia," ledek Sakti pada adiknya itu.


Ya kakak beradik itu memang se-bucin itu pada istri mereka.


"Bi, Kirana masih sayang gue kan ya ?"


"Kalau dia masih merasa khawatir ma Lo udah pasti masih ada rasa. Makanya cepet sembuh biar bisa tanya langsung orangnya. Jangan putus asa dulu,"


Sakti menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Gue bakal rebut hati Kirana dan anak-anak lagi. Gue gak akan pernah nyerah Bi."


"Nah gitu dong jagoan !"


***

__ADS_1


Pagi telah menyapa, sinar mentari dengan malu-malu memasuki celah tirai. Menyinari wajah Kirana yang tertidur di kursi tepat sebelah anaknya Davin. Meski ada sofa besar di ruangan itu namun Kirana tak ingin berjauhan dengan anaknya. Tak lupa doa selalu terucap dari mulutnya.


Kirana meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, ia menolehkan kepalanya ketika ibu mertuanya memasuki ruangan itu.


"Mami udah datang ? Ini masih pagi sekali,"


"Di rumah pun Mami nggak bisa tidur kepikiran cucu Mami. Kamu beristirahatlah biar giliran Mami yang jaga."


"Mami sudah liat keadaan mas Sakti ?"


"Belum tapi kata Bian, Sakti baik-baik saja."


"Oh ya udah, aku cuci muka dulu ya Mi."


Kirana bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Pagi telah berubah siang, Lia dan Robby datang mengunjungi Davin yang masih terbaring tak sadarkan diri. Kirana masih setia menjaga anaknya itu meski ibu mertuanya telah meminta untuk pulang agar bisa beristirahat. Namun nalurinya sebagai ibu tak bisa meninggalkan anaknya yang masih belum sadarkan diri itu.


Siang itu Fabian turun menuju ruangan Davin karena Sakti yang memintanya.


Semua berkumpul di ruangan itu. Bahkan Renata pun berada disana. Hanya papi Sakti yang tak ada karena memang jantungnya yang lemah membuatnya tak bisa hadir disana.


"Ayah dan Ibu, mungkin sore ini tiba di Jakarta. Ada yang harus diurus dulu di Singapura." Jelas Robby.


"Iya gak apa-apa Kak. Yang penting aku minta doanya saja," jawab Kirana yang tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Davin.


Tak Kirana sangka, Davin dengan halus menggerakkan tangannya.


Kirana yang berada di sisinya langsung menekan tombol agar perawat datang ke kamar Davin dirawat.


"Sayang mama disini," jawab Kirana seraya menitikkan air matanya.


Semua yang berkumpul pun terkejut, dan memberikan ruang ketika dokter dan perawat datang hingga hanya Kirana dan Fabian yang berada di ruangan itu.


Dokter memeriksa Davin dengan seksama. Mata Davin mulai terbuka walaupun dengan gerakan mata yang lemah. Ia mencari kehadiran mamanya juga seseorang yang ia harap hadir disana.


"Ma.. ma..." Lirihnya.


"Mama disini sayang..." Kirana mendekati anaknya itu dan menggenggam tangannya.


Dengan lemah Davin mengedarkan pandangannya, dan melihat Fabian lah yang berdiri tak jauh dari ibunya berada.


"Daddy Bi disini.. ayo cepat sembuh jagoan, kamu anak yang sangat kuat" Fabian mengacaukan 2 jempolnya pada keponakannya itu.


"Sejauh ini hasilnya baik, pasien mungkin akan mengalami kesulitan berbicara dan bergerak namun itu masih dalam tahap wajar karena butuh waktu untuk kembali pulih seperti sedia kala. Besok akan di adakan observasi lanjutan, untuk sementara masih di berikan obat pereda sakit dan masih dalam pengawasan ketat."


"Baik, terimakasih dok," jawab Kirana yang merasa sangat lega karena Davin telah tersadar.


Robby, Lia, Renata dan Mami Sakti memasuki lagi ruang perawatan Davin ketika dokter itu telah pergi.


Semua merasa bersyukur karena keadaan Davin yang menurut dokter menunjukkan hal yang baik.


Davin kembali mengedarkan pandangannya yang masih lemah itu. Seseorang yang ia harapkan tak ada disana. Hatinya merasa begitu kecewa. "Papa emang udah gak sayang aku dan mama lagi," batinnya dalam hati.


"Kenapa sayang ?" Tanya Kirana yang tersadar melihat raut wajah Davin yang sedih.

__ADS_1


"Gak pa-pa, aku hanya masih pusing Ma,"


"Oh... Nanti dokter beri obat kok biar Abang gak pusing lagi. Bagian mana lagi yang terasa sakit atau gak nyaman? Nanti Mama bilang sama dokter,"


"Gak ada, aku hanya pusing aja Ma." Jawab Davin dengan suaranya yang lemah.


Setelah melihat keadaan Davin yang membaik satu persatu mulai undur diri, tapi Kirana tetap di sana. Ia tak mau meninggalkan puteranya itu. Bahkan mbok Inah telah menyiapkan segala kebutuhannya untuk tinggal beberapa hari di rumah sakit.


"Apa Abang mau sesuatu ?" Tanya Kirana penuh kasih sayang pada Davin yang terlihat begitu sendu.


Davin menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Mau ketemu Papa ?" Tanyanya lagi seolah mengerti kegundahan yang dialami anaknya.


Davin kembali menggelengkan kepalanya.


"Kenapa ?"


"Papa juga gak peduli sama aku," jawab Davin dengan lemah


"Abang salah," jawab Kirana seraya membelai lembut wajah anaknya.


"Apa Abang tahu ? Kenapa Abang bisa melakukan operasi dan sadar kembali?"


Davin menggelengkan kepalanya lagi untuk kesekian kalinya.


"Karena darah Papa banyak mengalir dalam tubuh Abang." Ucap Kirana seraya mengusap lembut seluruh tubuh anaknya.


"Waktu Abang kecelakaan banyak sekali mengeluarkan darah sehingga Abang harus dioperasi dan untuk melakukan itu diperlukan banyak sekali darah untuk menggantikan yang hilang. Dan Papa lah yang memberikan darahnya agar Abang dapat selamat padahal Papa sendiri dalam keadaan yang kurang baik. Papa ada di lantai 4 sedang dirawat agar sembuh karena tubuhnya lemah setelah memberikan banyak darah untuk Abang." Jelas Kirana dengan lembut, berusaha memberikan pengertian pada anaknya itu.


"Jadi Papa nggak ninggalin aku, Ma ?"


"Tentu tidak, Sayang."


"Papa sayang aku, Ma ?"


"Sangat sayang... Malah sekarang darah Papa banyak mengalir dalam tubuh Abang, membuat Papa lebih dekat kan ? Jangan bersedih... Papa gak pernah ninggalin kita."


Davin mengangkat tangannya dengan perlahan dan memandangnya.


"Ditangan ini ada darah Papa juga ?" Tanyanya polos.


Kirana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tidak hanya di tangan, tapi di seluruh tubuh dan terutama di sini," Kirana menunjuk dada Davin.


"Papa selalu ada di hati." Ucap Kirana lagi.


Sebuah senyuman melengkung di bibir anaknya yang pucat itu.


"Nanti bila Papa sudah sembuh juga akan menemui Abang di sini. Jadi jangan bersedih dan benci Papa lagi ya? Kan sudah Mama bilang berulang kali tidak baik membenci orang tua."


Davin menganggukkan kepalanya.


To be continued


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2