Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Maaf, maaf aku tak bisa melakukannya," ucap Sakti dan turun dari tubuh wanita itu.


Sungguh bayangan Kirana terus menghantuinya.


"Aku bisa menunggu jika Mas belum siap," ucap Vanya yang merasa terheran karena Sakti menghentikan aksi panas mereka yang hanya tinggal sejengkal lagi akan terjadi.


Sakti mengais kemeja nya yang telah berada di atas lantai dan mengenakannya.


"Mas mau pergi ?" Tanya Vanya.


"Apa aku melakukan kesalahan ? Ku bilang aku akan menunggu sampai kamu siap Mas," lanjutnya lagi.


"Tutupi tubuhmu, maaf aku tak bisa melanjutkannya. Bukan berarti aku tak mampu memuaskan mu. Hanya saja aku tak bisa," jawab Sakti seraya mengancingkan kembali kemejanya satu per satu.


"Apa aku kurang menarik bagimu Mas?" Tanya Vanya dengan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan kain berenda pada area paling sensitifnya.


"Tidak, kamu cantik. Hanya saja aku tak bisa. Maaf," ucap Sakti yang kemudian beranjak pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.


Sakti tiba di dalam kamarnya dan mulai melemparkan barang-barang yang bisa ia jangkau.


"F*ck F*ck !!! Sialan Kirana, lihat aku tak dapat melakukannya karena mu," maki Sakti penuh emosi.


Sakti merogoh ponselnya yang berada dalam saku celana dan menghubungi salah satu orang kepercayaannya.


Sakti : atur penerbangan paling pagi untukku dari Singapura ke Jakarta dan jemput aku di bandara. Oh iya satu lagi cari tahu dimana istriku berada. Kabari aku secepatnya.


Sakti menunggu dan menanti dengan cemas. Segera ia raih benda pipih itu ketika bunyi notifikasi pesan masuk terdengar.


"Penerbangan pukul 06.15 pagi, Kirana berada di rumah. Bagus !" Sakti membaca pesan itu dengan perasaan lega.


Segera ia berkemas karena pagi sekali ia akan kembali ke Jakarta.


"Kirana harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku malam ini," gumam Sakti seraya membereskan kopernya.


***


Pagi masih gelap ketika Sakti telah tiba di bandara Changi Singapura untuk kembali ke Jakarta. Sebelum pergi ia menitipkan selembar surat permintaan maaf untuk Vanya yang Sakti tinggalkan begitu saja.


Sakti tidak peduli dengan pandangan gadis itu mengenai dirinya nanti. Mungkin Vanya akan mengira dirinya tak mampu memuaskan wanita diatas ranjang, Sakti tak peduli. Karena selama ini dirinya mampu membuat Kirana mendapatkan pelepasannya. Ya Sakti dapat melakukan itu.


Sakti telah memikirkan ini, kedepannya Sakti akan meminta Bian atau Hendrik untuk menangani kerja sama ini karena tentu saja akan canggung bagi Sakti bertemu gadis itu lagi.


Sementara itu di Jakarta, Kirana baru saja terbangun dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis dan baju yang ternyata belum ia ganti dari semalam.

__ADS_1


Ya Kirana jatuh tertidur dalam tangisannya. Ia mencari benda pipih yang semalam Kirana letakkan sembarang, berharap Sakti menghubunginya dan mengatakan bahwa ia berada di Sulawesi bukan lah Singapura seperti kata ayahnya.


Namun harapan tinggallah harapan tak ada satu pesan atau panggilan masuk pun dari suaminya padahal Sakti telah meninggalkan Kirana selama hampir 3 hari.


Pesan Kirana tak ada satu pun yang dibalas suaminya itu. Kirana menghela nafasnya yang terasa berat dan menelan kekecewaannya sendiri.


Kaki telanjang Kirana menyentuh lantai kamarnya yang dingin dan dengan langkah gontai ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kirana bercermin, melihat pantulan dirinya dalam cermin begitu kacau. Tak ada semangat dan senyuman ceria di wajah itu. Yang terlihat hanya wajah lelah penuh beban. Kirana tersenyum getir memandang bayangannya sendiri.


Hari itu terasa begitu sepi karena kedua anak lelakinya tak ada. Kirana merasa begitu kesepian. Setelah selesai merapikan dirinya, Kirana turun ke dapurnya untuk sarapan.


"Mau sarapan apa Bu ?" Tanya bi Marni yang merupakan asisten rumah tangga Kirana.


"Em biar aku buat sendiri Bi, terimakasih." Jawab Kirana.


Kirana mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat juga menuangkan satu gelas jus jeruk instan. Ia duduk sendiri menikmati sarapannya, pandangan matanya kosong menatap sembarang arah.


"Ibu baik-baik saja?" Tanya bi Marni.


"Mmm aku gak apa-apa, cuma kangen anak-anak aja Bi. Sepi banget gak ada mereka," jawab Kirana.


"Iya pasti Bu. Saya juga merasa kehilangan. Biasanya pagi-pagi begini den Davin dan den Dareel sudah minta dibuatkan susu."


"Haha iya ya Bi,"


"Waktu rasanya lama banget berjalan," gumam Kirana yang merasa kesal.


Dengan malas Kirana mengganti-ganti saluran TV yang nampaknya tak ada satu acara pun yang menarik perhatiannya.


Tak lama bel pintu rumahnya berbunyi. Bi Marni berjalan menuju pintu namun Kirana cegah.


"Biar aku aja yang buka Bi," ucap Kirana seraya berjalan menuju pintu dan membukanya.


Berdirilah Sakti di hadapannya ketika pintu itu terbuka.


"Loh mas sudah pulang ? Bukannya besok ?" Tanya Kirana terheran karena sepagi ini Sakti telah kembali dan satu hari lebih awal dari yang telah ia katakan sebelumnya.


"Kenapa ? Gak suka suami pulang ?" Tanya Sakti kesal dan menerobos masuk melalui istrinya begitu saja.


Kirana menghela nafasnya, apapun yang dia ucapkan selalu salah sehingga Kirana memilih diam tak berkata apapun lagi.


Sakti memandangi wajah Kirana dan memperhatikan matanya yang terlihat sembab. Sakti sadar Kirana sepertinya habis menangis.


"Kenapa kamu ?" Tanya Sakti dingin.

__ADS_1


"Hah?" Kirana berkerut alis tak mengerti apa yang ditanyakan suaminya itu.


"Kamu habis nangis? Kecewa lelaki kamu gak datang ?"


"Lelaki ?" Kirana balik bertanya.


"Aku gak tau apa maksud kamu Mas dan aku tak ingin berdebat. Aku lelah," ucap Kirana.


Sakti diam tak menanggapi perkataan Kirana. Yang ia pikirkan Kirana harus membayar apa yang semalam terjadi padanya.


"Tadi kamu bertanya kenapa aku pulang hari ini bukan?" Tanya Sakti seraya mendekati istrinya itu.


"Aku hanya kaget karena sebelumnya Mas bilang akan kembali hari Senin dan langsung ke kantor. Maaf bila itu menyinggung mu,"


"Aku pulang karena aku membutuhkanmu Kirana," ucap Sakti seraya merapikan rambut Kirana dan memasukkan anak rambutnya ke dalam lengkungan daun telinga.


Kirana menelan salivanya, ia tahu yang Sakti inginkan.


"Kamu berhutang padaku Kirana, aku begitu tersiksa karena mu," ucap Sakti lagi seraya melabuhkan bibirnya diatas bibir Kirana dan mengulumnya dengan lembut. Kirana terdiam tak membalas juga tak menolak ciuman itu.


Sakti memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya, "balas ciumanku Kirana" bisik Sakti yang tak tahan karena Kirana hanya terdiam.


Kirana membalas ciuman itu sesuai keinginan suaminya. Ciuman Sakti semakin dalam dan menuntut penuh dengan pagutan lidah yang saling membelit dan menghis*p


"Puaskan aku seperti malam itu," bisik Sakti lirih dengan suara yang telah berubah serak. Dan kemudian menggenggam tangan Kirana untuk mengikutinya menaiki tangga menuju kamar mereka.


***


Kirana meringkuk diatas ranjangnya, entah berapa kali Sakti menggeluti tubuhnya dengan begitu buas. Sakti menghentak-hentakkan tubuhnya dengan begitu kuat membuat tulang Kirana terasa luluh lantak. Bahkan lelaki itu memberikan tanda gigitan di bahu Kirana.


Kirana memandang kosong langit-langit diatasnya, hatinya begitu terasa hampa. Sedangkan Sakti tertidur memunggungi nya.


Terdengar dengkuran halus pertanda Sakti telah tertidur, Kirana bangkit dan dengan kaki yang gemetar ia kembali mengenakan pakaiannya dan pergi membersihkan diri.


***


Kirana duduk di kursi dengan secangkir teh dihadapannya, ia berusaha untuk menenangkan diri.


Bi Marni datang menghampiri dengan beberapa lembar kertas ditangannya.


"Saya mau mencuci baju bapak yang kotor dan menemukan kertas ini di saku celananya. Takutnya penting Bu," Bi Marni menyerahkan lembaran kertas itu pada Kirana.


Kirana menerima dan membaca kertas itu, ia menitikkan air matanya ketika sadar yang ia terima adalah bukti pembayaran tas dan lipstik. Kirana membacanya dengan seksama itu adalah bukti pembayaran 3 buah tas dan juga lipstik bermerek dengan alamat butik di Singapura.


TBC...

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


Like dan komen ya 😘


__ADS_2