Terikat Dusta

Terikat Dusta
Bolehkah Aku Merasa Rindu ?


__ADS_3

Happy reading ❤️


Karena rasa bersalah ku, akhirnya aku memindahkan Lea ke sebuah apartemen di pusat kota Bandung. Aku pun memintanya berhenti dari pekerjaannya.


Karena kini aku yang akan menjamin hidupnya. Ku berikan kartu debit juga kartu kredit tentu dengan menggunakan limit. Bahkan ku sediakan seorang asisten rumah tangga untuknya.


Semua kulakukan untuk menebus segala rasa bersalah ku padanya. Aku benar-benar menyesal telah melakukan itu semua. Inilah jalan damai yang kami sepakati bersama.


Akan kulakukan semampuku untuk menjadikan kehidupan Lea lebih baik, bahkan aku menawarkan kursus dan pendidikan informal lainnya untuk menambah keahlian Lea, sampai dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Maka aku akan melepaskannya.


"Bian, boleh aku panggil Bian ?" Tanyanya sendu.


"Ya, tentu apapun yang kamu mau," jawabku.


"Apa malam ini kamu pergi lagi ? Apa aku boleh minta kartu namamu?"


"Ya aku harus kembali ke Jakarta Lea, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu di sini ada bi Inah yang menemani. Untuk kebutuhan sehari-hari bisa menggunakan kartu yang aku berikan. Namun gunakan secara bijak. Mulai pikirkan kursus yang mau kamu ambil nanti aku carikan tempat yang bagus," ucapku menjelaskan panjang lebar.


"Kapan kamu kembali ?" Tanyanya dengan tatapan sendu.


"A..aku nanti menjenguk mu bila ada waktu luang," jawabku terbata. Terus terang aku kaget dengan pertanyaannya. Aku telah merenggut kehormatan nya tapi dia masih ingin bertemu denganku ?


Apa tak salah? Tanyaku dalan hati.


"Apakah pekerjaan mu menyita waktu ?" Tanyanya lagi.


" Ya kadang menyita waktu. Apalagi aku ada proyek baru yang harus aku kerjakan. Jadi aku mohon mengertilah bila aku tak bisa selalu menjenguk mu,"


"Apa kamu punya kekasih ?" Lanjutnya


Aku terkejut dengan pertanyaan nya yang semakin menuntut.


"A..aku mempunyai seseorang yang sangat aku sukai," jawabku tegas.


Seketika wajah Lea berubah masam seolah terlihat kecewa.


"Aku mau istirahat, kamu boleh pergi." Ucapnya ketus.


"Apa aku salah bicara Lea ?"


"Kamu pikir aja sendiri," jawabnya dengan nada marah. Kemudian memasuki kamarnya dan meninggalkan aku begitu saja.


"Bi, tolong jaga nona Lea. Bila ada apa-apa hubungi aku," ucapku pada bi Inah yang akan menemani Lea. Kemudian aku pun pergi meninggalkan apartemen itu untuk kembali ke Jakarta.


***


Aku tiba di Jakarta dini hari. Begitu lelah fisik, hati dan pikiran. Begitu memasuki apartemen ku lemparkan jas dan sepatu ke sembarang arah. Mengambil minuman di bar mini ku dan duduk dalam kegelapan. Pikiran ku melayang entah kemana." Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanyaku dalam hati.


Ddrrrtt ddrrrtt ddrrrtt ponsel ku bergetar entah sudah berapa kali. Ku lihat ada 7 panggilan tak terjawab. Ada nomor yang tak aku kenali dan ada nomor Sakti disana. Kulihat jam di nakas menunjukkan pukul 09.09 " oh **** aku terlambat," makiku. Sakti sangat tak suka bila aku berlaku semauku. Dengan tergesa aku memasuki kamar mandi untuk bersiap.

__ADS_1


Pukul 10 tepat aku sudah berada di gedung tempat aku bekerja. Ketika memasuki lobby kantor ku sempatkan mataku untuk melayangkan pandang pada gedung perkantoran di sebrang jalan. Berharap orang yang aku sukai, Renata berada di sana. Lama ku amati namun tak ada. "Ah bodoh sekarang kan jam kerja, tentu dia sedang bekerja," gumam ku. "Selamat bekerja sayang, aku merindukanmu," lirihku sembari meninggalkan tempat aku berdiri.


Aku mulai berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang telah tersedia di meja kerjaku. Tak lama terdengar ketukan di pintu ruanganku, kemudian kakakku Sakti menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Gue masuk ya Bi," ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepala sebagai tanda memberi izin.


"Om Johan udah ngomong ma gue, katanya bisa damai tapi lo sekarang urusin dia," ucap Sakti seraya mendudukkan dirinya di kursi depan mejaku.


"Temen lo, Alex nemuin gue kemarin. Minta maaf karena pestanya lo jadi kena kejadian ini. Ya emang udah takdir lo begini. Harus gimana lagi ?"


Aku hanya diam mendengarkan Sakti tak menjawab tak menanggapi.


"Yang bikin gue kecewa, kenapa lo begitu teledor Bi? Lo baru aja dapat kerjasama yang sangat penting, dan kalau skandal ini mencuat habis lah nama lo, secara lo sebentar lagi akan diumumkan sebagai wakil direktur," lanjut Sakti.


"Iya kak, makanya gue kasih apapun yang wanita itu butuh biar bisa damai. Untungnya dia mau. Gue udah ada rencana buat kursusin dia dan coba bantu dia cari pekerjaan yang layak. Seudah itu gue lepas dia juga gak ada beban," ucapku.


"Dan semoga dia ga hamil," ucap Sakti.


Seketika aku begitu merasa lemas tak bertulang. " Jangan Tuhan, jangan sampai," ucapku dalam hati.


Kemudian Sakti meninggalkan ruanganku setelah mengatakan hal yang menakutkan itu.


Ddrrrtt ddrrrtt ddrrrtt ponsel ku bergetar lagi dari nomor tak dikenal. Karena tak berhenti bergetar akhirnya kuangkat panggilan itu.


Fabian : Halo, maaf ini dengan siapa ?


Lea : Aku, ini aku. Kenapa kamu menghindari aku Fabian ? Apa salahku?


Fabian : maaf ini siapa ?


Lea : Lea. Aku Lea. Apa kamu lupa?


Aku meraup wajahku frustasi.


Fabian : tentu saja aku tak lupa tapi nomormu belum aku simpan. Makanya aku gak tahu. Ada apa Lea ?


Lea : tidak apa apa hanya ingin dengar suaramu.


Aku terkejut bingung harus menanggapi apa.


Fabian : A.. aku sedang banyak sekali pekerjaan. Bila tak ada hal penting aku akhiri ya. Nanti bila sudah tak begitu sibuk aku hubungi.


Lea : aku mengganggu ya ? Apa aku begitu mengganggu?


Lea berteriak kemudian menutup panggilan itu.


Aku menjambak rambutku frustasi. Masalah ini sungguh membuatku pusing.

__ADS_1


Aku kembali berkutat dengan pekerjaan. Namun kepalaku terasa berdenyut hebat, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih sedikit. Kulangkahkan kaki untuk mencari udara segar tanpa ku sadari langkah kakiku membawa aku ke coffee shop tempat aku bertemu dengan Renata.


Ku cari tempat duduk paling dekat dengan kaca sehingga aku bisa dengan leluasa memandang ke arah luar.


Secangkir kopi telah tersaji di meja, kopi tanpa krim dengan hanya sedikit gula terasa pahit dan sedikit manis. Sangat sesuai dengan keadaan ku saat ini dalam masa yang begitu pahit namun terasa sedikit manis ketika wanita yang ku rindukan tiba tiba melintas. Wajahnya, senyumannya masih secantik pertama bertemu. Tampilan yang sederhana namun begitu mempesona. Untuk beberapa saat aku begitu menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini.


Hanya dengan melihatnya dari jauh saja mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat. "Renata, apa yang telah kamu lakukan pada hatiku ?" Lirihku.


***


Pukul tujuh malam aku sudah sampai di apartemen. Ada beberapa pesan dari temanku Stefan yang menanyakan kabar, dan Alex yang berkali kali meminta maaf.


Aku kira aku tak bisa menyalahkan siapapun. Ini memang kesalahan ku sendiri, sudah takdirku. Aku berusaha menerima ini semua.


Malam kian larut, ku coba menutup mata untuk beristirahat. Semoga dengan tidur aku bisa melupakan sebentar masalahku.


Terdengar notifikasi pesan dan ku ambil ponselku. Tak sempat ku buka namun terlihat di pop up layar.


Lea : bolehkah aku merasa rindu padamu Fabian ?


Tanpa ku buka pesan itu, aku simpan kembali benda pipih itu diatas nakas.


"Ya Tuhan... Ku mohon jangan begini, aku tak mau menyakiti nya," batinku dalam hati.


Tbc...


Thank you for reading ❤️


Haiii genks mau promo novel baru boleh yaa.


janji gak sad lah 😂😂 tapi slow update karena mau namatin Fabian.


My ( Un ) Perfect Wife


Blurb


Mario Bastian memiliki segalanya.


Uang, kedudukan dan wajah sempurna.


Mario adalah seorang cassanova dengan model-model papan atas yang tentunya cantik paripurna sebagai koleksi kekasihnya.


Apa yang terjadi ketika Mario di jodohkan dengan seorang gadis biasa karena harus menebus kesalahan orangtuanya.


Rossy Andrian seorang gadis yatim piatu biasa dengan impian sederhana menjadi istri seseorang yang dicintainya kelak.


"Ku rasa kita harus menuntaskan nya sekarang," Ucap Mario dengan tatapan mata dingin.


"Apa maksudmu? bukannya aku bukan selera mu ?" Tanya Rossy sembari memegang erat kain kimono yang menutupi dirinya.

__ADS_1


"Aku ini suami mu dan aku hanya ingin merasakan bagaimana tidur dengan wanita jelek seperti mu," jawab Mario dengan tatapan merendahkan.


Kisah fiktif belaka yaa... No baper baper club ya genks 🙏😂


__ADS_2