
Happy reading ❤️
"Ki, bisakah kita bertemu lagi ? Sebentar seperti waktu itu pun tak apa-apa. Anakku masih sering menanyakan mu."
Isi pesan itu membuat Sakti membulatkan matanya tak percaya. Ia klik profil sang pengirim ternyata lelaki yang datang ke pernikahan mereka meski tak diundang.
"Sudah 10 tahun berlalu dan mereka masih berhubungan ?" Geram Sakti menahan amarahnya.
Sakti terduduk di tepian ranjang, sejak awal menikah ia telah meminta Kirana untuk tak berhubungan lagi dengan laki-laki itu bahkan Sakti sempat mengatakan bila dirinya paling tidak mau dikhianati.
"Dasar jal*ng" umpatnya, Sakti mengakses semua media sosial istrinya melalui ponsel miliknya mengganti kata sandi hingga istrinya tak bisa mengakses media sosial nya sendiri.
Hatinya begitu terasa sakit karena merasa telah dikhianati. 10 tahun pernikahan tak pernah sekalipun Sakti berpaling pada wanita lain tapi lihatlah yang Kirana lakukan padanya. Dibalik wajah polosnya perempuan itu menghancurkan hati Sakti dan ia tidak bisa menerima itu.
"Asal kamu tahu, aku pun bisa lakukan seperti yang kamu lakukan padaku," ucap Sakti dengan senyuman miring di wajahnya.
"Mas... Sudah siang ini !" Teriakan Kirana menyadarkan Sakti dari pikirannya. Ia pun bergegas turun menuju lantai bawah.
"Sarapan dulu," Kirana menyodorkan satu piring roti bakar dengan telur dan keju seperti kesukaan suaminya itu tapi Sakti malah memandang piring itu dengan tatapan matanya yang kosong.
"Mas," ucap Kirana seraya menyentuh bahu suaminya.
"Jangan sentuh !" Ucap Sakti refleks dan menghempaskan tangan Kirana dari pundaknya. Sontak kejadian itu membuat kedua putranya melihat dengan penuh tanda tanya.
"Ada yang salah ?" Tanya Kirana terheran.
"No, enggak aku sudah telat. Ayo anak-anak kita berangkat," Sakti berdiri tanpa menyentuh sarapan yang telah disediakan.
Kirana terheran melihat itu.
"Mau di bekal ke kantor ?" Tanya Kirana.
"Gak, aku makan sama Fabian aja nanti," jawab Sakti tanpa memandang wajah istrinya.
Kirana mengantarkan suaminya hingga ke pintu, bila biasanya Sakti akan memberikan kecupan mesra di dahinya tapi tidak kali ini. Ia pergi begitu saja, padahal kedua anak lelaki mereka menyalami dan memberikan pelukan pada ibunya itu tapi Sakti pergi tanpa sepatah kata pun. Kirana terdiam menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dengan penuh tanda tanya.
"Nanti Mama jemput kalian," ucap Kirana pada kedua anaknya itu.
"Oke Ma, sampai ketemu nanti siang," jawab Davin anak tertua mereka.
__ADS_1
Meskipun sudah masuk ke dalam mobilnya Sakti tak menolehkan lagi wajahnya pada istrinya itu. Sepertinya rasa kecewa sudah menjalar dengan cepat dalam hatinya, sedangkan Kirana masih tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
***
Sakti duduk di kursi kebesarannya dengan benda pipih ditangan, ia tengah membuka media sosial istrinya. Lelaki itu kembali mengirim pesan. "Ki ?" Meski hanya seperti itu tapi melihat bahasa tidak formal yang di gunakan bisa dipastikan kedua orang itu sering bertukar pesan.
"Salah gue yang terlalu percaya sama lo Ki," Sakti meraup wajahnya frustasi.
Hari ini pikirannya benar-benar kacau, ia tak dapat berpikir apapun selain tentang apa yang dilakukan istrinya di belakangnya.
Ia tak bisa menerima bahwa dirinya telah dikhianati, "perempuan sial*n !" Umpatnya lagi. "Gue juga bisa lakuin apa yang Lo lakuin di belakang gue," geramnya seraya melemparkan beberapa kertas yang ada di meja kerjanya.
"Sialan !" Sakti terus mengumpat dan keluar dari ruangannya.
"Sari, tolong bereskan meja saya," ucapnya pada sekretarisnya dan Sakti berjalan menuju ruangan adiknya Fabian.
Fabian tengah duduk dengan kertas ditangannya, ia sedang mengamati neraca-neraca yang ada dalam kertas tersebut. Tanpa permisi Sakti duduk di hadapannya.
"Kenapa lo Kak ?" Tanya Fabian terheran.
Sakti memandang kosong wajah adiknya yang kini telah menjadi seorang duda. Ya Fabian belum lama ini bercerai dari istrinya Renata karena adanya orang ketiga meskipun Fabian hanya sekedar bertanggung jawab karena perempuan itu mempunyai isu penyakit mental tapi Renata yang merasa dikhianati tak dapat menerima nya dan memutuskan bercerai.
"Mungkin Renata pun se-sakit gue, dikhianati oleh orang yang paling kita cinta itu ternyata sangat perih," pikir Sakti.
"Gak apa-apa," jawab Sakti bohong.
"Bi, ada yang ngajuin kerjasama dari PT. Utama Mandala. Lo mau nanganin? Perwakilannya anak perempuan dari direktur utama nya, masih muda dan cantik. Lo kan duren, kali aja minat," ucap Sakti terkekeh. Sakti tahu sekali bila adiknya itu benci dengan status barunya, Sakti tahu Fabian masih sangat mencintai mantan istrinya itu.
Fabian mendelik kan matanya tanda tak suka. "Lo aja deh yang handle, gue masih banyak kerjaan," jawabnya ketus.
"Dia ngajak liat lokasinya ke Mamuju Sulawesi,"
"Kapan ?" Tanya Fabian
"Minggu depan kayanya, tapi siang ini orangnya ngajak makan siang bareng. Temenin gue yu ?"
"Seminggu ini gue sibuk ngurusin Celia ulang tahun, siang ini gue janji makan siang ma Alex CS." Jawab Fabian.
"Ya udah gue jalan sendiri lah paling bawa Sari sekretaris gue atau Hendrik."
__ADS_1
"Heem," jawab Fabian.
"Ya udah kalo gitu gue pergi sekarang aja takut telat," ucap Sakti seraya meninggalkan ruangan adiknya itu.
Sakti memutuskan pergi dengan Hendrik yang merupakan orang kepercayaannya juga Fabian.
Makan siang itu dilakukan disebuah restoran mewah di pusat kota Jakarta, setelah menunggu 10 menit seorang wanita muda yang cantik dan modis datang bersama sekretarisnya.
"Perkenalkan saya Vanya dan ini sekretaris saya Merry," ucap wanita muda itu seraya menjabat tangan Sakti dengan penuh percaya diri.
"Maaf telah membuat anda menunggu," ucapnya lagi.
"Its oke, kita juga baru sampai. Silakan duduk," ucap Sakti penuh wibawa.
Dapat Sakti lihat mata gadis itu berbinar menatapnya.
"Saya gak nyangka direktur Nugraha Corps ternyata masih muda," ucapnya polos tak bisa menutupi kekagumannya.
Sakti tersenyum mendengar pujian itu. "Saya sudah tua, sudah punya anak dua loh" jawab Sakti.
"Wah, tapi tidak terlihat." Jawab perempuan itu masih dengan tatapan mata kagumnya.
Sakti tersenyum dan kemudian mulai membicarakan rencana kerjasama mereka. Vanya adalah seorang wanita muda yang cerdas, meski baru berusia 28 tahun tapi wawasannya luas dan cara berbicara nya pun sangat menyenangkan untuk sesaat Sakti begitu terpesona dengan wanita muda itu.
Sudah lebih dari satu jam mereka membicarakan tentang pekerjaan hingga akhirnya disepakati akan mengunjungi lokasi proyek itu bersama dalam 4 hari ke depan. Yang kali ini akan diwakili oleh Hendrik asisten Sakti. Terlihat sekali wajah kecewa Vanya ketika Sakti tak bisa ikut berkunjung karena kesibukannya. Padahal hanya ulang tahun ponakannya Celia.
Mereka pun berpisah kembali ke kantor masing-masing. Pikiran Sakti kembali pada persoalan Kirana.
Sakti meraih ponselnya dan tertera nama Kirana mengirimkan sebuah pesan.
Kirana : jangan lupa makan siang sayang, tadi kamu gak sarapan dulu.
Sakti langsung menghapus pesan itu tanpa membalasnya.
"Perempuan yang bermuka dua sungguh menjijikkan," ucapnya geram.
"Hendrik, biar aku sendiri yang cek lokasi proyek itu." ucap Sakti seraya memainkan ponselnya dengan wajah dihiasi senyuman iblisnya.
"Baik Pak," jawab Hendrik.
__ADS_1
TBC....
Thank you for reading ❤️