
Masih ada yang nunggu gak ya ?
Bonus Chapter terakhir ya πππ
__________________________________
Happy reading β€οΈ
Kirana dan Sakti tengah duduk berdua di sebuah ruang tunggu. Mereka akan mengikuti konseling pernikahan, meskipun hubungan telah membaik namun Sakti tetap mengikuti konseling ini hingga semua tahap selesai dilalui. Beruntung bagi Sakti, Kirana pun bersedia untuk mengikuti konseling itu. Bahkan Sakti pun meminta Kirana untuk menemui psikiater karena perlakuan buruk yang pernah Kirana dapatkan darinya. Tak ada satu hari pun yang Sakti lalui tanpa penyesalan. Untuk membayar semua kesalahannya, Sakti memperlakukan Kirana lebih mesra dan lebih manis dari sebelumnya.
Sesi pertemuan hari ini memakan waktu 1 jam. Keduanya mengungkapkan apa yang mereka harapkan dalam hubungan rumah tangga mereka, tak banyak perdebatan karena ternyata ia dan Kirana hampir memiliki keinginan yang sama.
Sakti menggenggam tangan Kirana ketika mereka berjalan beriringan keluar dari gedung itu, bahkan ia membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
"Mau kamana sekarang, Sayang ?" Tanya Sakti pada Kirana yang tengah memasang sabuk pengamannya.
"Kita jemput anak-anak aja yuk ?" Jawab Kirana, karena memang kebetulan kedua anak lelakinya itu tengah menghabiskan waktu bersama Celia di kediaman Fabian dan Renata.
"Gak mau pacaran dulu gitu ma aku ?" Tanya Sakti lagi dengan tatapan lurus pada jalanan.
"Gak bosen apa pacaran terus?" Kirana balik bertanya.
Sakti menghentikan laju mobilnya ketikaΒ lampu lalu lintas berwarna merah. Ia menolehkan kepalanya pada Kirana, mendekatkan wajahnya dan meraih bibir istrinya itu dengan bibirnya dan menyesapnya perlahan.
"Gak pernah bosen," jawabnya lirih.
Darah Kirana berdesir, tubuhnya meremang. Perasaan hangat mengalir dalam dadanya. Ia menarik nafasnya yang terasa berat. Sakti selalu bisa membuatnya seperti itu.
"Sayang, tahukah kamu ? Aku seperti jatuh cinta padamu dari awal lagi." Sakti mengungkapkan perasaannya.
"A... Aku juga," jawab Kirana terbata.
Sebuah senyuman menghiasi wajah Sakti saat ini, ia pun membawa tangan Kirana pada genggamannya dan mencium punggung tangan istrinya itu.
"Terimakasih," ucapnya seraya menjalankan kembali mobilnya.
Butuh waktu beberapa puluh menit hingga keduanya tiba di rumah Fabian. Kirana berjalan mendahului Sakti dengan beberapa kantong plastik berisi makanan.
"Supir baru ?" tanya Fabian pada Kirana. Karena sekarang ini Sakti hampir setiap waktu menemani Kirana kemana pun ia pergi. Kirana hampir tak diizinkan untuk membawa kendaraannya sendiri seperti dulu.
"Tau tuh ngintilin mulu,"Β jawab Kirana sembari tertawa.
"Sialan Lo, Bi." Sakti memelototkan mata pada adiknya itu.
Fabian terkekeh melihat kakaknya itu.
"Hai anak Papa," ucap Sakti dan ia pun membawa Celia pada pangkuannya.
"Papa beliin Celia, donat unicorn."
"Mana ? Mana ?" Celia begitu antusias.
"Kiss dulu baru nanti Papa kasih," Sakti merayu keponakannya itu.
Celia pun memberikan banyak ciuman pada wajah Sakti, hingga membuat ia tertawa kegelian.
__ADS_1
Kirana melihat itu dengan hati terenyuh.
"Kak, bawa makanan banyak banget." Renata mengalihkan perhatian Kirana dari Sakti juga Celia.
"Sengaja buat bumil," jawab Kirana.
Ya karena saat ini Renata tengah hamil anak keduanya bersama Fabian.
Jangan tanya bagaimana Fabian begitu memanjakan Renata. Jika mereka duduk bersama-sama dalam acara keluarga apapun. Fabian akan duduk di sebelah Renata dengan tangan yang selalu berada di atas paha istrinya itu. Jika Renata bergerak sedikit saja, Fabian akan langsung menanyakan apa yang diinginkan atau diperlukan Renata.
Dulu sekali... Kirana sering merasa iri karena perlakuan manis Fabian pada Renata.
Hal yang sangat manusiawi, karena wanita mana yang tak ingin diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Namun kini Sakti pun memperlakukan dirinya dengan begitu manis. Meskipun harus melewati hal yang menyakitkan terlebih dahulu namun sekarang Kirana menikmati manisnya perlakuan Sakti.
Kirana tersenyum mengingat itu semua.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Mikirin apa?" Tanya Sakti seraya membelitkan tangannya pada perut datar Kirana. Ia memeluk istrinya itu dari belakang dan menyenderkan dagunya di pundak Kirana.
Kirana tersentak karena kaget akan kedatangan suaminya itu.
"Aku perhatiin kamu loh dari tadi." Ucap Sakti lagi.
"Aku lagi mikirin kamu dan Celia. Kamu pasti pengen banget anak perempuan ya,Mas?" Tanya Kirana sembari terus memotong kue brownies. Sebenarnya bukan itu yang Kirana pikirkan, tapi pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak Kirana.
"Aku akan sangat bahagia bila punya anak perempuan, tapi sekarang pun aku juga merasa sangat bahagia karena telah memiliki 2 anak lelaki yang luar biasa. Tak masalah jika kita punya atau tidak punya anak perempuan. Ada Celia juga anak kakakmu Robby. Anak mereka kan serasa anak kita juga," jelas Sakti.
"Tapi katanya anak perempuan kan suka manja sama Papanya," ucap Kirana lagi.
"Cukup bagiku manjain kamu aja, dan aku tak keberatan untuk melakukan itu di sepanjang hidupku" jawab Sakti seraya mencuri sebuah kecupan di pipi istrinya itu.
"Kamar tamu kosong," ucap Fabian yang tiba-tiba berada disana.
"Lo Kak, nempel mulu. Daripada anu di sini. Tuh kamar tamu kosong," ucap Fabian lagi seraya menunjukkan kamar tamunya dengan mengangkat dagu.
"Tau nih Bi, nempel melulu." Jawab Kirana dengan pipi merona menahan malu.
Sakti melepaskan belitan tangannya dan berganti menggandeng tangan Kirana.
"Yuk?" Ajak Sakti pada istrinya itu
"Apa ?" Kirana balik bertanya sembari memelototkan matanya.
"Kamar tamu," jawab Sakti.
"Iiiihhh," Kirana menampar halus tangan suaminya itu.
Sakti terkekeh dan Fabian terlihat begitu jengah melihatnya sehingga ia memutuskan meninggalkan kakaknya itu dan berjalan menuju Renata berada.
"Lucu ya lihat kak Sakti, dia jadi bucin gitu sama istrinya," ucap Fabian pada Renata.
"Lah emang kamu nggak ?" Tanya Renata.
"Siapa ya yang kirim bunga mawar putih tiap hari Senin ? Terus siapa juga yang cek suhu pake bibir? " Renata kembali mengingatkan Fabian dengan apa yang telah lelaki itu lakukan padanya.
Bahkan sekarang bunga pavorit Renata bukan lagi mawar putih, melainkan bunga forget me not yang pernah Fabian berikan padanya sebagai tanda cinta. Bunga yang mewakili perasaan Fabian pada Renata yang waktu itu telah berpisah darinya.
__ADS_1
Fabian tersenyum mengingat itu semua, ia mendekatkan tubuhnya pada Renata. Menundukkan kepala, dan menyatukan bibirnya dengan bibir Renata. Ia menyesap bibir istrinya itu dengan begitu lembut.
"Itu karena aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu," ucap Fabian seraya menempelkan dahinya pada dahi Renata.
"Rasanya duniaku runtuh ketika berpisah denganmu,Re. Aku tak akan sanggup jika itu terjadi lagi."
"Sejujurnya, aku juga merasa hancur ketika berpisah denganmu," jawab Renata.
"Tapi pada akhirnya cinta membawa kita kembali bersama." Ucap Renata lagi seraya membelai lembut wajah Fabian.
"Aku cinta kamu, Re. Dulu, sekarang dan selamanya." Fabian mengungkapkan perasaannya.
"Love you more, Bi. Aku juga sangat cinta kamu tuan Fabian Nugraha," jawab Renata seraya memberikan kecupan di bibir Fabian.
"Kamu lah satu-satunya lelaki yang aku inginkan dalam hidupku," ucap Renata sungguh-sungguh.
"Kamu juga satu-satunya wanita dalam hidup aku dan akan selalu begitu," jawab Fabian. Seraya memberikan kecupan di puncak kepala istrinya itu.
-Tamat-
Terimakasih banyak yang sudah membaca novel ini ππ
Terimakasih banyak yang sudah like dan komen β€οΈ
Terimakasih banyak yang sudah memberikan vote juga hadiah β€οΈ
Mohon maaf jika ada kata atau bagian dari novel ini yang kurang berkenan di hati kakak reader semua π
Mohon maaf bila ada komentar yang belum aku balas atau balasan aku yang menyinggung perasaan kakak reader π
Semoga tak ada dusta di antara kita π€£
Sekali lagi terima kasih atas segalanya. Kalian reader terbaik β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Sampai ketemu di novel aku yang lain yaa π
Promo ah ππ
...
...
Apa yang terjadi jika lelaki yang menjadi calon suami melarikan diri bersama sahabatmu sendiri tepat di hari pernikahan ?
Setelah terlambat satu setengah jam dari jadwal akad nikah, akhirnya seseorang menjemput Sabina dari kamar hotelnya untuk menemui lelaki yang baru saja membacakan ijab kabulnya.
Sabina terkejut luar biasa ketika yang berada disana bukanlah Andre yang menjadi kekasihnya selama ini. Melainkan Gibran yang merupakan sahabat dari calon suaminya itu dan juga kekasih Amanda sahabatnya. Bahkan Minggu lalu Sabina membantu Gibran untuk memilihkan cincin yang akan digunakan Gibran untuk melamar Amanda.
Tapi sekarang cincin pilihannya itu melingkar indah di jari manisnya sendiri, tak ada nama Gibran yang terukir dalam lingkarannya. Mungkin memang sudah takdir ia terikat dengan lelaki yang tidak mencintainya.
Bagaimana nasib pernikahan yang tak diinginkan keduanya ini ?
Kira-kira ada yang mau baca gak ya ?
__ADS_1
__________________
Jangan tanya kapan launching yaaa... Gak tau kapan wkkwkwk.