Terikat Dusta

Terikat Dusta
Bonus Khilaf


__ADS_3

Khilaf lagi


Dahlah  🤣


Happy reading 🙃


"Yank, aku udah di bawah." Itulah isi pesan yang hampir setiap hari Kirana dapatkan dari suaminya Sakti.


Setiap hari Kirana  akan menemani Sakti untuk sekedar makan siang meskipun jarak kantor mereka terpisah cukup jauh tapi hampir tak pernah sekalipun Sakti melewatkannya. Ia akan menunggu Kirana dalam mobil atau terkadang Kirana telah lebih dulu menunggu kedatangannya.


Sebenarnya Sakti sedikit keberatan Kirana masih bekerja namun karena ada beberapa proyek yang telah melibatkan Kirana di dalamnya membuat Sakti tak bisa melarang Kirana begitu saja.


Meskipun Kirana harus kuat hati juga telinga karena sikap suaminya yang semakin posesif itu. Terlebih lagi ada satu proyek yang mengharuskan Kirana  bertemu dengan Adam. Walaupun Sakti mengizinkan, Kirana tahu lelakinya itu sering merasa cemburu. Kadang Kirana tersenyum geli bila ingat bagaimana Sakti begitu tergila-gila padanya saat ini.


"Sayang," ucap Sakti pada Kirana ketika istrinya itu memasuki mobil. Sakti  mendekatkan wajahnya  dan menyesap bibir istrinya itu dengan mesra. Wajah Kirana memanas seketika dan tubuhnya meremang.


"Hai cinta," ucap Sakti lagi yang kini mengusap perut Kirana yang semakin membuncit. Kehamilan Kirana telah memasuki Minggu ke 20 dan kini  kehamilannya telah terlihat begitu jelas.


"Mau makan dimana ?"


"Terserah kamu, Mas." Jawab Kirana.


"Aku gak ganggu meeting kamu kan ?" Tanya Sakti lagi seraya melirik Kirana dengan ujung matanya.


Kirana sedikit bingung ketika hendak menjawab itu. Sakti tahu hari ini Kirana ada janji temu dengan Adam tapi sepertinya suaminya itu sengaja datang lebih awal dari jam biasanya agar Kirana mempercepat pertemuannya.


"Eng... Enggak kok." Jawab Kirana ragu.


Sakti pun menolehkan wajahnya pada Kirana yang duduk di sebelahnya itu.


"Beneran ? Kok kamu jawabnya kaya gitu?"


"Iya bener... Sebenarnya tadi ada yang belum tuntas sedikit, tapi semua sudah di handle Megan." Jawab Kirana.


"Dia datang?" Tanya Sakti lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalan.


Kirana tahu, suaminya tengah merasa cemburu saat ini, " tapi lelaki mana yang akan tertarik pada wanita hamil" batin Kirana dalam hatinya.


"Yank, aku tanya... Dia datang ?" Kini Sakti bertanya sembari menatap wajah istrinya.


"Iya, tentu saja datang karena dia yang paling ikut terlibat dalam proyek ini." Jawab Kirana.

__ADS_1


"Bukannya dia itu investor doang ? Kok ikut terjun langsung?" Tanya Sakti lagi.


"Selain investor dia juga seorang  engineering jadi sedikit banyak dia ngerti hal seperti ini, jadinya Adam ikut terjun langsung dalam proyek ini,"


Mendengar nama Adam keluar dari mulut istrinya, Sakti pun diam tak mengatakan apa-apa lagi. Pandangan matanya lurus ke arah jalanan dan suasana pun hening seketika.


"Mati deh," gumam Kirana lirih.


"Sayang, aku ini sedang berbadan dua. Perut aku sudah membuncit. Mana ada lelaki akan tertarik sama aku ?" Tanya Kirana.


"Aku... Aku tergila-gila sama kamu, Ki. Kamu semakin terlihat cantik ketika hamil seperti ini," jawab Sakti langsung dan itu kontan membuat Kirana merona.


"Itu karena kamu Papanya. Pastilah kamu merasa begitu." Kirana berkilah.


"Seriusan Ki... kamu hamil begini terlihat lebih mempesona. Ada loh laki-laki yang tertarik dengan wanita hamil." Ucap Sakti lagi.


Kirana tak dapat menjawab lagi, ia malas berdebat. Diam menjadi pilihannya kali ini.


Sadar istrinya menjadi diam tak bersuara, Sakti membawa tangan Kirana pada genggamannya dan mencium punggung tangan Kirana dengan lembut.


"Maaf," ucap Sakti lirih tanpa melepaskan genggamannya.


"Lagian kamu ada-ada aja sih, Mas. Harusnya aku yang merasa insecure. Aku yakin banyak perempuan di luar sana yang mendamba untuk memilikimu,"


"Kamu... Hanya kamu yang aku inginkan, Kirana. Tak ada yang lain di dunia ini. Hanya kamu...," Ucap Sakti memotong pembicaraan istrinya.


Sakti selalu sukses membuat Kirana merona dengan perasaan senang yang membuncah. Bagai gadis yang baru saja merasakan jatuh cinta, dada Kirana berdebar dan dipenuhi bunga cinta. Ia merinding setiap Sakti menyatakan perasaannya.


Sakti mengehentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah. Ia mendekatkan wajahnya pada Kirana dan menyatukan bibir mereka dengan sempurna. Sakti memagut bibir istrinya itu dengan lembut dan penuh perasaan.


"Cinta banget sama kamu, Ki." Ucap Sakti ketika tautan bibir mereka terpisah dan tak lama lampu pun berganti hijau. Sakti pun menjalankan mobilnya kembali.


Tak lama mereka pun sampai di sebuah restoran cepat saji yang cukup ternama. Sakti berlari membukakan pintu untuk Kirana dan mengulurkan tangannya untuk Kirana raih.


Mereka berjalan seraya bergandengan tangan memasuki tempat itu dan memilih tempat duduk yang letaknya cukup tertutup dari pengunjung lain.


Sakti dan Kirana tengah menanti pesanan mereka ketika seseorang datang dan menyapa.


" Loh Nona eh maksudku nyonya Kirana." Sapa Adam yang ternyata akan menikmati makan siang disana juga. Ia tak datang sendiri melainkan bersama seorang wanita cantik yang menemaninya.


"Mr. Nugraha, senang bisa bertemu lagi." Sapa Adam pada Sakti.

__ADS_1


"Tuan Bradley." Sakti berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan disambut hangat oleh Adam.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini. Tadi Kirana pamit lebih dulu dari pertemuan ternyata untuk pergi berkencan," Adam tertawa ketika mengatakan itu.


"Hmm iya. Maaf." Jawab Kirana yang merasa tak enak karena ia tak mau Adam berpikiran bahwa ia tak profesional.


"Its oke, meeting tadi sudah selesai kok. Anda sudah bekerja dengan baik." Ucap Adam seolah mengerti apa yang menjadi beban pikiran Kirana.


"Oke saya harus pergi menemani Grace makan siang." Adam berpamitan tanpa memperkenalkan perempuan yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"Oh iya silahkan," jawab Kirana dan Sakti secara bersamaan. Adam pun tersenyum dan kemudian berlalu pergi.


Makanan yang dipesan pun telah tiba, keduanya menikmati makan siang mereka dalam diam.


"Mmm... Yank... Kamu jadi sekertaris aku aja mau gak ?" Tiba-tiba Sakti bertanya.


Uhuk uhuk uhuk Kirana terbatuk-batuk ketika mendengar itu. Ia sungguh terkejut dengan apa yang baru saja Sakti ucapkan.


Lelaki pencemburu di hadapannya ini sungguh keras kepala.


"Mas... Katanya kamu akan percaya sama aku." Jawab Kirana seraya mengangkat gelas untuk meminumnya.


"Aku udah coba tapi ternyata sangat sulit untuk gak overthingking soal kamu." Jawab Sakti lirih.


Kirana ingat bagaimana cemburu suaminya itu hampir saja membuat rumah tangga mereka hancur.


Begitulah Sakti dengan pikiran batunya dan hatinya yang serapuh kaca. Ia benar-benar merasa takut Kirana berpaling darinya. Cintanya terlalu besar pada Kirana sehingga ia merasa seperti itu.


"Kalau aku jadi sekretaris kamu, kerjanya bagaimana ?" Tanya Kirana.


"Cukup duduk di pangkuan aku saja." Jawab Sakti dengan senyum penuh maksud.


Kirana memutar bola matanya malas dan Sakti tertawa melihatnya.


Oh iya selain cemburunya yang besar, jiwa mes*mnya pun kini meningkat pesat. Wajah Kirana merona merah ketika ia membayangkan bagaimana tubuhnya selalu dalam kuasa Sakti di setiap malamnya.


Thank you for reading ❤️


Semoga bisa jadi obat kangen yaa...


Karena tiap hari ada aja yang nanyain papa Sakti wkkwkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2